Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Bermain game.


__ADS_3

Selesai makan malam, Rista mengajak Farhan untuk belajar bersama. melihat kedekatan keduanya membuat hati Widia terasa hangat, apalagi Rista memperlakukan Farhan layaknya adik kandungnya sendiri.


Usai belajar Rista mengajak Farhan bermain video game sejenak, Widia yang melihat hal itu berjalan mendekati keduanya.


"Anak anak mama lagi ngapain nih??." tanya Widia seraya duduk di tengah tengah keduanya.


"Ini nih ma, kak Rista lagi ngajak Farhan main video game, tapi Farhan sudah belajar kok ma." jawab Farhan, takut mamanya akan marah jika ia tidak belajar.


"Ayo dong mama ikutan main bareng kakak sama Ade!!." Arista nampak mengajak ibu sambungnya tersebut ikut bersenang senang bersama, namun Dengan lembut Widia menolak, dengan alasan ia tidak mengerti dengan permainan yang sedang di mainkan oleh kedua anaknya.


"Kakak, bukannya mama nggak mau, tapi mama nggak ngerti sayang." jawab Widia menolak ajakan putrinya.


Sementara Gunawan yang sejak tadi duduk di sofa, terus memperhatikan ketiganya. melihat sikap lembut Widia, tidak heran putrinya begitu sayang pada wanita itu, bahkan kata Rista saat bertemu Widia untuk pertama kali Widia bahkan sudah bersikap begitu lembut pada putrinya.


"Kalau mama nggak ngerti, minta di ajarin dong sama ayah, ayahkan paling jago main gamenya!!." mendengar namanya disebut Gunawan langsung membuang pandangan, tidak ingin ketahuan jika sejak tadi ia terus memperhatikan ketiganya, atau lebih tepatnya memperhatikan sang istri.


"Kesini ayah, ajarin mama main game!!." pinta Arista, sebab sejak tadi Widia terus saja kalah.


Mendengar seruan putrinya membuat Gunawan beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri istri serta anak anaknya.


"Masa sih mama kalian nggak bisa mainnya??." ucap Gunawan yang kini duduk di belakang Widia seraya melihat layar permainan melalui LED TV.


"Bukan gitu mainnya." Kata Gunawan, kemudian mengajarkan Widia cara bermain dengan benar, bukannya paham Widia malah semakin bingung akibat canggung. bagaimana tidak, saat mengajarinya cara bermain pria itu hampir memeluknya dari belakang, saking dekatnya posisi keduanya sampai sampai Widia bisa merasakan hembusan napas suaminya.


Barulah sesaat kemudian Gunawan menyadari posisi keduanya yang begitu dekat.


"Saya melakukan ini demi anak anak." ucap Gunawan dengan nada lirih tepat di telinga Widia, saking lirihnya sampai kedua anak mereka tidak menyadari jika Sanga ayah tengah mengajak ibu mereka berkomunikasi. sementara Widia hanya bisa mengangguk tipis.


Perlahan Widia kemudian memperhatikan saat suaminya mengajarkan cara bermain game padanya, sampai untuk pertama kalinya ia bisa mengalahkan kedua anak anaknya. saking senangnya Widia Sampai lupa keberadaan Gunawan di belakangnya, ia pun bersorak sampai tak sengaja kepalanya membentur hidung mancung suaminya.


"Awrg." sampai Widia Menyadari perbuatannya saat mendengar suaminya meringis


Pria itu nampak memegangi hidung mancungnya, yang nampak mulai memerah akibat tak sengaja terbentur kepala Widia.


"Astaga, maaf mas aku nggak sengaja." ucap Widia, secara spontan ia hendak memegangi hidung suaminya, namun seketika ia menghentikan tangannya di udara saat mengingat salah satu perjanjian pernikahan, yang melarangnya untuk menyentuh tubuh pria itu. sementara Gunawan di buat bingung, saat wanita itu malah kembali menarik tangannya tak jadi menyentuhnya.


Sampai timbul prasangka dalam hati Gunawan.


"Apa hidungku semenjijikan itu sampai ia tak Sudi menyentuhku??." dalam hati Gunawan berprasangka demikian, saat tangan Widia malah berhenti di udara dan tak jadi menyentuhnya.


"Kalian lanjutkan mainnya, ayah mau ke kamar sebentar." karena kesal Gunawan memutuskan kembali ke kamar, sementara Widia yang merasa bersalah perlahan ikut menyusul langkah suaminya. meski saat itu Widia mulai berkeringat dingin, takut pria itu akan mengamuk seperti macan.

__ADS_1


"Apa mas Gunawan akan membunuhku, jika aku masuk ke kamar sekarang??." Widia nampak ragu saat hendak membuka handle pintu kamar mereka.


Sampai kemudian wanita itu mengumpulkan semua keberanian dalam diri untuk melanjutkan langkahnya.


"Terserah deh, mau diapain juga, memang aku yang salah." dalam hati Widia, kemudian membuka pintu kamar dengan menutup matanya. namun saat membuka pintu kamar tapi tak mendengar Suara suaminya, Widia lantas membuka matanya perlahan.


Betapa terkejutnya Widia, saat melihat suaminya sudah berdiri tepat di depan matanya.


"Arghh." saking kagetnya Widia sampai berteriak, kalau saja Gunawan tidak cepat membungkam mulut wanita itu dengan telapak tangannya, mungkin anak anak serta seisi rumah lainnya akan bergegas menuju kamar keduanya akibat mendengar teriakan Widia.


"Ngapain kamu teriak teriak begitu, kamu pikir saya hantu?." kata Gunawan seraya melepas bungkaman tangannya di mulut Widia.


"Maaf mas, habisnya mas bikin kaget aja." tidak sadar Widia memukul pelan lengan Gunawan, sama seperti yang ia lakukan kala Putri mengejutkan dirinya.


Sampai beberapa saat kemudian, barulah Widia menyadari tindakan gilanya yang telah berani berani memukul lengan seorang tuan Gunawan Wicaksono.


Widia hanya bisa tersenyum kecut saat pandangan pria itu terus menatap lekat ke arahnya.


Belum habis kecerobohannya secara spontan memukul lengan pria itu, kini ia malah mengelus lengan Gunawan bekas pukulannya tadi.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuhku!!." kata kata yang terdengar begitu dingin terlontar dari mulut pria itu, sehingga membuat Widia jadi serba salah di buatnya.


"Aku janji tidak akan melakukannya lagi, maafkan atas kecerobohanku tuan." saking takutnya, Widia sampai kembali memanggil Gunawan dengan sebutan tuan.


"Tadinya aku tidak berniat memarahimu, tapi karena kamu kembali memanggilku dengan sebutan yang aku tidak suka, maka terpaksa aku harus menghukummu." mendengar kalimat Suaminya, membuat Widia langsung menengadahkan wajahnya.


"Hah??." ucap Widia menyesal dengan kalimatnya tadi.


Widia masih melongo melihat suaminya dengan santainya melenggang naik ke atas tempat tidur, kemudian pria itu nampak tidur terlentang.


"Kenapa kamu masih diam di situ??." mendengar nada bicara suaminya yang terdengar agak ketus membuat Widia spontan menjawab.


"Lalu apa yang harus saya lakukan mas??." tanya Widia spontan.


"Naik sini!!." titah Gunawan, seraya menepuk ranjang kosong di sebelahnya.


Melihat Widia masih diam tak bergeming sedikitpun dari tempatnya, membuat Gunawan kembali menegaskan.


"Sudah Jangan berpikir yang aneh aneh, aku hanya ingin kamu memijat lenganku yang sakit akibat pukulan tangan kekarmu itu." mendengar pria itu mengatai tangannya dengan tangan kekar, membuat Widia yang kini tengah melangkah hendak naik ke ranjang memperhatikan jari jarinya yang tadinya di katai tangan kekar oleh suaminya.


"Perasaan jari jari tanganku masih lentik sama seperti jari wanita pada umumnya, masa iya sih akibat pukulan sekecil itu bisa sampai membuatnya sesakit ini." dalam hati Widia.

__ADS_1


"Mas." panggil Widia, saat sudah duduk di samping pria yang kini tengah berbaring terlentang itu sembari memejamkan matanya.


"Hemt." sahut Gunawan tanpa membuka matanya.


"Apa mas lupa, di dalam surat perjanjian itu bukankah aku tidak boleh menyentuh kamu mas??." tanya Widia, karena ia masih ingat betul dengan isi perjanjian yang mereka tanda tangani berdua.


"Apa kamu juga lupa, jika Isi perjanjian itu tidak akan berlaku jika aku yang menginginkannya." jawab Gunawan dengan santainya.


Mendengar kalimat suaminya membuat Widia terpaksa melakukan permintaan pria itu, meski menurutnya sebenarnya itu tidak adil.


Beberapa saat kemudian Gunawan kembali memulai obrolan.


"Kapan persidangan tentang hak asuh Farhan akan di gelar pengadilan??." tanya Gunawan setelah Widia beberapa saat memijat lengannya.


"Besok mas." jawab Widia lesu, ketika mengingat ia harus menghadiri persidangan yang akan membuat jantungnya berdebar tak menentu, takut jika suaminya yang akan memenangkan kasus tersebut.


"Kamu jangan khawatir, saya sudah menyewa pengacara terbaik di negeri ini untuk menangani kasus hak asuh Farhan. menurut pengacara, kemungkinan besar kamu yang akan memenangkan kasus hak asuh Farhan, karena penyebab perceraian kalian adalah orang ketiga dari pihak mantan suami kamu." Widia mengeryit heran saat suaminya tersebut bahkan mengetahui semua tentang dirinya. sampai sampai penyebab perceraiannya dengan mantan suami terdahulu pria itu bisa tahu.


"Bagaimana mas bisa tahu semua itu??." cecar Widia.


Gunawan nampak tersenyum menyeringai dengan mata masih terpejam, sebelum mengatakan.


"Apa yang saya tidak tahu tentang kamu, bahkan jika kamu bertanya tentang ukuran pakaian dalamku pun kemungkinan besar saya juga tahu." jawab Gunawan, meski sebenarnya ia hanya asal bicara, tentang masalah pakaian dalam istrinya, sementara wajah Widia langsung merah padam menahan malu.


"Menurutku Mantan suami kamu adalah pria paling bodoh sedunia. bagaimana tidak, dia sudah menyia-nyiakan wanita yang sudah bertaruh nyawa melahirkan putranya." mendengar empati pria itu membuat Widia tanpa sadar menitihkan air mata, namun dengan segera ia mengusap air matanya agar tak nampak oleh Gunawan. namun sayang saat itu Widia lupa jika saat ia mengusap air matanya, ia kembali memijat suaminya. sehingga Gunawan bisa menebak jika saat ini istrinya tengah menangis, karena lengannya terasa lembab.


"Tidurlah!!." titah Gunawan seraya membuka matanya.


"Baik mas." Widia pun beranjak turun dari tempat tidur, namun saat hendak beranjak Gunawan kembali bersuara.


"Sebaiknya kamu tidur di ranjang biar saya yang tidur di sofa, karena sofa sangat tidak nyaman untuk di tiduri." mendengar tawaran suaminya membuat Widia menolak dengan halus.


"Tidak perlu mas, sofa sudah cukup nyaman bagiku, sofa milik mas bahkan jauh lebih nyaman ketimbang tempat tidur di kontrakanku." jawab Widia dengan polosnya, mendengar itu Gunawan pun tak ingin memaksa lagi.


Widia pun segera turun dari ranjang kemudian merebahkan tubuhnya di sofa. mungkin karena lelah, tidak butuh waktu lama untuk membuat wanita itu terlelap dalam mimpinya.


Saat menyadari hembusan nafas istrinya mulai teratur, Gunawan pun turun dari tempat tidur kemudian menyelimuti tubuh Widia dengan selimut miliknya.


"Mengapa kamu begitu berbeda dengan wanita di luar sana, dengan wajah kamu yang cantik tidak sulit bagimu untuk mendapatkan pria kaya di luar sana, untuk mencukupi kebutuhanmu. namun kamu tidak melakukannya, kamu bahkan lebih memilih menghidupi Farhan dengan hasil keringatmu sendiri." dalam hati Gunawan, saat menatap lekat wajah cantik Widia yang kini tengah terlelap.


"Astaga, kenapa aku bisa kagum pada wanita ini??." Gunawan nampak menggelengkan kepalanya, tidak ingin mengkhianati istrinya dengan memikirkan wanita lain, meski sebenarnya wanita lain tersebut kini telah sah menjadi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2