
Sebelum kembali ke rumah Gunawan mengendarai mobilnya menuju sekolah Farhan, mengingat sudah waktunya anak itu pulang sekolah.
"Kenapa kita nggak langsung balik ke rumah mas??." tanya Widia saat mobil yang di kendarai Gunawan tak melewati jalan menuju rumah.
"Sekarang sudah waktunya Farhan pulang sekolah, kasian jika Farhan kelamaan menunggu mang Jaja." sahut Gunawan teringat akan mang Jaja yang masih berada di mall mengantar ibunya, jika harus menunggu mang Jaja sudah pasti akan membuat putranya menunggu lama.
Melihat Arista yang tertidur di bangku belakang, membuat Widia berterimakasih pada Gunawan.
"Terima kasih mas sudah perhatian pada putraku." ucap Widia tulus.
"Semenjak aku menikahi ibunya, itu artinya Farhan bukan hanya anakmu saja, tapi dia juga anakku." meski nada suara pria itu terdengar datar, namun Widia merasa senang sebab Gunawan juga begitu sayang dan perhatian pada Farhan.
Setelah tiba di sekolah Farhan tiba tiba Arista mengerjapkan matanya lalu memandang keluar jendela mobil.
"Kita lagi di sekolah adik ya ma??." gadis itu nampak bertanya padahal nyawanya belum terkumpul sempurna.
"Iya kak." sahut Widia sebelum turun hendak mencari keberadaan putranya. namun baru saja membuka pintu mobil, nampak Farhan berjalan menghampiri mobil mereka.
"Mah." Farhan berhamburan ke pelukan mamanya, sebelum beralih memandang ke arah kaca mobil yang baru saja di turunkan oleh Arista.
"Maaf ya kak, Farhan nggak bisa hadir di perlombaan kakak." dengan wajah menunduk sedih Farhan berujar pada Arista yang kini memandangnya dari balik kaca mobil yang terbuka setengah.
"Tara." Arista memperlihatkan piala serta penghargaan yang tadi baru saja di dapatkannya saat menjadi pemenang perlombaan melukis.
"Wah,,,kakak menang??." raut wajah Farhan nampak berubah seketika.
"Iya dek,,,, Alhamdulillah sayang." jawab Arista.
Kini mobil yang di kendarai Gunawan kembali melaju saat Farhan telah masuk ke mobil duduk di bangku belakang bersebelahan dengan Arista.
Untuk merayakan kemenangan putri tercinta, Gunawan mengajak keluarga kecilnya untuk menikmati sebuah hidangan di sebuah restoran ternama di kota tersebut.
__ADS_1
Namun saat memasuki restoran tersebut dua pelayan yang hendak melayani mereka nampak menatap sinis ke arah Widia, dari postur keduanya nampak tengah bergunjing.
Namun kedua pelayan tersebut nampak hanya bergunjing dengan nada lirih, namun Widia bisa menebak jika yang menjadi topik pergunjingan kedua mantan rekan kerjanya tersebut tak lain adalah dirinya. sebab saat bekerja di tempat itu keduanya memang tak pernah suka dengan kehadiran Widia bekerja di restoran tersebut ketika itu.
"Kakak mau pesan ini aja, kalau adek mau pesan apa??." ucap Arista seraya melihat lihat menu yang ada di buku menu.
"Farhan mau pesan yang sama dengan kakak aja." sahut Farhan seraya menunjuk ke arah buku yang bertuliskan steak.
"Kalau mama mau pesan apa??." tanya Arista.
"Samain aja sama punya kakak!!." jawab Widia agar kedua pelayan yang merupakan mantan rekan kerjanya tersebut berlama-lama berdiri di samping meja mereka.
Sementara kedua pelayan itu nampak gusar, saat mendengar gadis itu memanggil Widia dengan sebutan mama. dan hal itu mampu membuat raut wajah iri seketika kembali menghiasi wajah kedua pelayan itu, karena Widia sendiri bisa merasakan hal itu. sebab itu bukan pertama kalinya kedua pelayan tersebut merasa iri padanya, dulu saat masih menjadi pelayan di restoran tersebut Widia bahkan sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari kedua mantan rekan kerjanya tersebut.
Mungkin karena pemilik restoran itu memperlakukan Widia dengan baik. sebenarnya Widia sendiri tidak tahu mengapa pemilik restoran itu yang merupakan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun dengan status singel tersebut begitu baik padanya.
Bahkan pria yang merupakan pemilik restoran tersebut sempat beberapa kali menawarkan diri untuk mengantarkan Widia pulang usai bekerja.
Setelah beberapa saat mencari cari menu yang cocok akhirnya pilihan Gunawan jatuh pada kepiting asam pedas serta cumi saos pedas.
"Saya pesan yang ini dua porsi, jangan lupa minumnya jus jeruk." ucap Gunawan seraya menunjuk ke arah menu yang tersedia di buku menu.
"Baik tuan." pelayan tersebut nampak begitu ramah pada Gunawan, meski di dalam hati keduanya bertanya tanya ada hubungan apa antara mantan pegawai restoran tersebut dengan pria yang nampak berkelas itu.
Sehingga kedua pelayan tersebut sesekali menoleh ke arah meja mereka saat berjalan.
"Gue curiga tuh perempuan punya ilmu pelet, buktinya semua pria kaya takluk padanya. dasar perempuan nggak tahu diri." umpat salah satu pelayan tadi pada temannya.
"Gue rasa juga begitu, dulu saat masih bekerja di restoran ini pak bos bahkan begitu baik padanya. bahkan, gue pernah nggak sengaja mendengar jika pak bos menawarkan diri untuk mengantarnya pulang." ucap salah satu pelayan lainnya.
"Emang dasar si Widia nggak tahu diri." lanjut salah satu pelayan tadi saat berhadapan dengan meja koki, sehingga membuat salah satu koki yang kini tengah sibuk memasak menimpali obrolan keduanya.
__ADS_1
"Sebenarnya kalian di sini mau bekerja atau malah mau ngerumpi sih, sejak tadi saya dengar kalian asyik ngerumpi tentang Widia. memangnya dia salah apa sama kalian, sampai orangnya udah nggak ada di sini kalian masih saja membiarkan yang tidak tidak tentang wanita itu." timpal seorang koki pria di tengah aktivitasnya.
Ucapan pria paruh baya tersebut mampu membungkam mulut kedua wanita yang berprofesi sebagai pelayan restoran tersebut, sehingga keduanya tak lagi berani ngerumpi tentang Widia.
Sementara di meja depan saat menunggu pesanan, Widia merasa kebelet pipis sehingga membuat wanita pamit ke toilet.
"Mas aku ke toilet sebentar." ucap wanita itu sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Hemt." seperti biasa seperti itulah jawaban singkat dari Gunawan yang kini tengah memeriksa laporan pekerjaan melalui ponselnya.
Ketika hendak meninggalkan toilet beberapa saat kemudian, tak sengaja Widia berpapasan dengan seorang pria yang merupakan mantan bosnya yang tak lain adalah pemilik restoran tersebut.
"Widia." sapaan pria itu sontak membuat Widia segera menengadahkan wajahnya yang kini sedang merapikan pakaiannya.
"Pak Ridwan." Widia nampak menyapa balik pria itu, namun yang membuat Widia terkejut saat pria itu spontan menggenggam tangannya Seraya berkata.
"Bagaimana kabar kamu Wid, Dari mana saja kamu selama ini Wid, mengapa kamu menghilang begitu saja??." cecar pria itu seraya menggenggam tangan Widia, namun dengan cepat Widia menarik tangannya dari genggaman pria itu.
"Kabar saya baik pak lagipula saya tidak kemana mana masih tetap tinggal di kota ini." jawab Widia yang bingung harus menjawab seperti apa.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak, tidak enak suami saya sudah lama menunggu." Widia sengaja berkata demikian agar pria itu tak lagi berani menyentuhnya, meski tidak dengan maksud apa apa.
Sementara pria yang bernama Ridwan Azis tersebut seperti sedang bermimpi bisa bertemu kembali dengan wanita itu, namun yang membuat pria itu merasa kecewa saat Widia mengeluarkan kata kata suami.
Kini Widia pun nampak melanjutkan langkahnya menuju meja yang mereka tempati, namun di sana tak nampak sang suami, sehingga membuat wanita itu bertanya pada anak anaknya.
"Memangnya ayah kalian kemana anak anak??." tanya Widia pada kedua anaknya seraya mencari cari keberadaan sang suami dengan pandangannya.
"Tadi ayah keluar mah, katanya mau menerima panggilan dari sekertaris ayah di kantor." jawab Arista di sela aktivitasnya menyantap makanannya.
"Oh gitu ya." jawab Widia lalu kembali menarik kursi sebelum mendudukinya.
__ADS_1