
"Kamu yakin Gun, akan berbohong pada ibumu tentang kondisi istri kamu saat ini??." tanya Dr Beni memastikan sahabatnya.
"Jika tidak yakin untuk apa saya pagi pagi datang kesini." cetus Gunawan kesal saat mendengar pertanyaan sahabatnya yang terdengar konyol baginya.
"Sebenarnya kamu khawatir terjadi sesuatu pada calon anakmu atau kamu tidak sanggup jauh dari istrimu??" Dr Beni yang tadinya duduk segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati sahabatnya.
"Widia istriku, tentunya sebagai seorang istri dia harus melayani kebutuhanku sebagai suaminya ."
Dr Beni terlihat menarik napas dalam lalu menghembusnya perlahan sambil melangkah kembali ke kursi kebesarannya, sementara Gunawan masih stay duduk di kursi berhadapan dengannya, hanya ada meja kerja dr Beni sebagai perantara.
"Kebutuhan apa yang kamu maksud??." pertanyaan yang di lontarkan sahabatnya itu membuat Gunawan jadi salah tingkah sendiri.
"Jika hanya karena untuk kebutuhan biologis Gun, kamu bisa mencari wanita manapun yang kamu inginkan untuk memuaskanmu di ranjang tidak harus Widia." lanjut Dr Beni layaknya seorang sahabat yang tengah berbincang santai dengan sahabatnya, Beni sengaja berkata demikian hanya untuk melihat bagaimana reaksi sahabatnya tersebut.
"Gila kamu, kamu pikir saya tipe pria seperti itu, pria yang bisa men*duri wanita mana saja demi memuaskan nafs*." cetus Gunawan yang tak sadar mulai terpancing oleh pertanyaan sahabatnya.
"Aku tahu Gun, bahkan aku sangat mengenal dirimu sahabatku. kamu adalah tipe pria yang tidak bisa bercinta dengan wanita tanpa adanya rasa. dari itulah aku bisa menebak jika saat ini kamu sudah jatuh cinta pada istrimu, namun keras kepalamu yang tak memberikan izin untuk dirimu untuk mengakui perasaanmu padanya." dalam hati dr Beni yang masih berniat memancing reaksi dari sahabatnya itu.
"Jangan berbohong kawan, buktinya tanpa cinta pun kamu berhasil melakukannya dengan istrimu, bahkan sekarang istrimu sedang mengandung anakmu." kali ini lidah Gunawan seakan keluh tak sanggup lagi menimpali kalimat sahabatnya, pria itu hanya bisa diam lalu melirik ke arah dr Beni.
"Kenapa diam, kamu keberatan dengan ucapanku?? jika kamu memang keberatan dengan kalimat yang baru saja aku katakan, itu artinya_" dr Beni sengaja menggantung kalimatnya.
"Kita sama sama sudah menikah Kawan, sebagai seorang istri pasangan kita pastinya membutuhkan ungkapan rasa dari pasangannya. jangan sampai pasangan kita berpikir jika mereka hanya di jadikan sebagai pelampiasan nafs* sek* semata, karena itu sungguh menyakitkan bagi seorang wanita. sebagai seorang pria tentunya kita tidak akan tega melihat orang yang kita cintai merasa di sakiti, apalagi oleh suaminya sendiri." secara tidak langsung Dr Beni ingin menyampaikan pada sahabatnya itu, jika ungkapan cinta sangat di butuhkan di dalam sebuah hubungan.
__ADS_1
Sementara Gunawan langsung teringat kala setiap malam usai dirinya dan sang istri berhubungan suami-istri, tak sengaja beberapa kali ia melihat istrinya menitihkan air mata. jika ia bertanya wanita itu selalu memberikan jawaban yang sama yaitu matanya kelilipan sehingga tak sengaja mengeluarkan air mata. dan bodohnya Gunawan percaya begitu saja, tanpa berpikir sejauh itu.
"Apa Widia berpikir seperti itu setiap kali aku memintanya memenuhi kebutuhan biologisku, itu sebabnya usai melakukannya ia seringkali aku dapati diam diam menangis di kamar mandi??." dalam hati Gunawan menyesali kebodohannya selama ini.
"Gun." sapaan Dr Beni menyadarkan Gunawan dari lamunannya kemudian kembali beralih menatap sahabatnya tersebut.
"Jika kamu memang berat berpisah dengan istrimu kenapa harus membuat berbagai macam alasan. apa salahnya jika kamu jujur saja padanya, katakan padanya jika kamu tak ingin jauh darinya!!." dengan wajah yang nampak serius dr Beni mencoba menyadarkan sahabatnya itu agar tidak mementingkan egonya.
Gunawan terlihat memijat pelipisnya seolah sedang meredakan sakit kepalanya, mungkin karena semalam ia kurang tidur akibat kepikiran tentang hal ini.
Sehingga pria itu seperti tak sabar untuk menunggu pagi, agar bisa segera menemui sahabatnya yang berprofesi sebagai dr kandungan istrinya tersebut, untuk sekedar membuat buat alasan tentang kondisi istri yang saat ini tidak di perbolehkan untuk melakukan penerbangan apalagi ke luar negeri.
Di pernjanjian menuju perusahaannya Gunawan nampak tak fokus, pria itu terus kepikiran dengan ucapan sahabatnya saat di rumah sakit tadi.
"Apa sudah saatnya untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Widia, tapi bagaimana jika dia tahu tentang perasaanku padanya, apa dia juga akan pergi meninggalkanku sama seperti Rahma yang dulu kekeh ingin meninggalkan aku demi melanjutkan mimpinya menjadi seorang model internasional??." frustasi dengan berbagai macam pemikiran yang berputar di benak dan pikirannya, Gunawan pun segera memutar Balik arah untuk kembali ke rumah.
Pria itu bergegas mencari keberadaan istrinya.
"Di mana istriku??." tanya Gunawan dengan wajah panik, saat berpapasan dengan salah satu ART yang bekerja di rumah mewah miliknya.
"Bukannya ibu lagi di kamar tuan?." Gunawan nampak kesal saat mendengar Jawaban Bi Atun yang tak sesuai dengan keinginannya.
"Jika istriku ada di kamar mana mungkin saya bertanya sama kamu." cetus Gunawan dengan nada yang mulai meninggi.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan." Bi Atun hanya bisa menunduk tak berani menatap wajah majikannya yang kini nampak panik bercampur kesal.
"Apa dia benar-benar sudah pergi??." perasaan Gunawan kini semakin tak menentu.
"Siapa yang pergi mas??." tiba tiba suara seseorang membuat Gunawan menoleh ke arah sumber Suara.
Tanpa aba aba Gunawan berlari ke arah wanita itu kemudian memeluknya erat, sementara yang kini di peluk hanya terlihat bingung dengan sikap suaminya. namun begitu Widia membiarkan pria itu memeluk tubuhnya, karena wanita itu pun merasa pelukan suaminya terasa begitu hangat baginya.
Setelah beberapa saat kemudian, Gunawan yang baru menyadari apa yang kini tengah dilakukannya segera melonggarkan pelukannya lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Maaf saya pikir terjadi sesuatu padamu." Gunawan yang memiliki gengsi setinggi gunung tak berterus terang pada Widia, jika sebenarnya ia begitu panik sebab berpikir jika istrinya tersebut telah pergi bersama ibunya pagi tadi.
"Dari mana saja kamu??." Widia tersenyum saat mendengar pertanyaan dari suaminya.
"Aku di teras belakang mas menyiram tanaman." jawab Widia yang sebenarnya masih nampak bingung dengan sikap suaminya yang tadi nampak begitu panik.
Seketika Widia teringat pagi tadi saat ibu mertua serta anak gadisnya hendak berangkat ke bandara, karena hari ini keduanya akan berangkat ke Singapura.
"Aku merasa tak tega tadi saat menolak ajakan jbu mas, bukannya aku ingin menjadi menantu durhaka tak menurut pada perintah ibu, tapi_" Widia nampak menunduk tak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kenapa??." cecar Gunawan penasaran.
"Tapi aku tak ingin jauh dari kamu mas, mungkin karena anak yang ada di dalam kandunganku tak ingin jauh dari ayahnya." jawab Widia dengan hati hati sembari menutup kedua matanya perlahan, khawatir jika pria yang kini menatap lekat ke arahnya tersebut malah suka dengan pengakuannya.
__ADS_1
Sampai dengan beberapa detik Widia tak mendengar pria itu memarahinya akibat pengakuannya tersebut, sehingga membuat wanita itu perlahan membuka matanya lalu memberanikan diri mengangkat kepalanya.
"Maaf mas." ucap Widia saat melihat suaminya yang menatapnya dengan tatapan Sulit di artikan.