
Seminggu kemudian.
Ibunya Hardi nampak tersenyum puas usai membaca beberapa lembar kertas yang baru saja di perlihatkan oleh notaris serta seorang pengacara kepadanya. sementara Gunawan nampak tersenyum remeh, melihat reaksi wanita paruh baya yang terkenal dengan sikap serakahnya itu.
"Jika saja sejak awal Anda melakukan semua ini tuan Wicaksono, tentu saya tidak akan berbuat sejauh itu. lagi pula saya sama sekali tidak tertarik mengambil hak asuh anak itu." Gunawan yang duduk berpangku kaki itu nampak mengepalkan tangannya geram, saat mendengar ibunya Hardi berkata demikian.
"Saya harap ini kali terakhir saya melihat wajah anda, jika anda masih berani menampakkan wajah anda lagi di hadapan saya dan istri saya serta anak anak saya, saya pastikan anda akan kembali kehilangan semuanya." dengan nada penuh penekan Gunawan memberi wanti wanti pada wanita itu, sebelum pria itu bangkit dari duduknya kemudian beranjak meninggalkan kantor pengacaranya, tanpa menunggu jawaban dari ibundanya Hardi.
Melihat tuannya beranjak, Gio pun ikut beranjak menyusul langkah Gunawan.
Seminggu terakhir ini Gunawan memerintahkan pengacaranya untuk mengatur pemindahtanganan harta warisan Farhan kembali ke tangan keluarga Hardi, Gunawan tak ingin harta warisan yang nilainya sangat tak seberapa jika di bandingkan dengan harta kekayaannya tersebut merebut keterangan rumah tangganya. bagi Gunawan saat ini Farhan sudah menjadi bagian dari kehidupannya, dengan begitu semua keperluan anak itu akan menjadi kewajibannya, dan sebagai seorang pengusaha kaya tidaklah sulit bagi pria itu untuk memenuhi kebutuhan serta keinginan Farhan.
Usai dari kantor pengacara Gunawan segera kembali ke rumah, dengan di antarkan oleh Gio sebelum pria itu kembali ke apartemen miliknya.
Saat tiba di rumah Gunawan menceritakan semuanya pada Widia, setelah sebelumnya menyembunyikan hal itu dari Sang istri. awalnya Widia sangat terkejut saat mengetahui ternyata niat dan tujuan dari mantan ibu mertuanya hanyalah sebatas warisan yang sebelumnya Widia sendiri tidak tahu jika di berikan pada putranya,Farhan. namun Widia juga merasa terharu sekaligus dan beruntung karena memiliki suami seperti Gunawan Wicaksono, pria dewasa penuh wibawa serta perhatian kepadanya serta putranya.
Widia bahkan memeluk erat tubuh Gunawan kemudian berkata "terima kasih sudah menjadi malaikat dalam hidup kami." Gunawan pun hanya tersenyum manis seraya membalas pelukan hangat sang istri. hingga akhirnya pelukan hangat itu kembali berakhir di ranjang.
Widia merasa sangat beruntung karena takdir telah mempertemukan dirinya dengan seorang pria seperti sang suami, seorang suami yang memperlakukan dirinya layaknya seorang ratu, meski proses yang tidak gampang harus di lalui oleh wanita itu.
Kini kehidupan Widia layaknya pepatah, tidak selamanya langit itu mendung, seperti itulah kehidupan Widia tidak selamanya wanita itu terus mengalami penderitaan.
****
Kini Gio harus menyelesaikan pekerjaan yang di tugaskan Gunawan untuknya, mengingat tuannya itu kembali ke rumah lebih awal.
__ADS_1
Entah apa yang ada di pikiran Gio saat ini, sehingga pria itu nampak tersenyum seorang diri. sampai kedatangan seseorang membuatnya menyadari lamunannya.
Ternyata Putri yang baru membuka membuka pintu ruang kerja Gio, setelah beberapa kali mengetuk tapi tak ada sahutan, maka wanita itu memutuskan untuk langsung masuk saja.
"Maaf mengganggu waktu anda pak Gio, saya hanya ingin meminta izin pada anda untuk tak masuk kerja beberapa hari mendatang, karena ada yang harus segera saya selesaikan." Putri meminta Izin pada Gio selaku asisten pribadi sekaligus bodyguard tuan pimpinan, mengingat saat ini Gunawan tak berada di kantor.
Gio nampak menarik napas dalam sebelum menimpali ucapan Putri.
"Berhubung saya bukanlah pemilik perusahaan ini, jadi saya tidak bisa memberi izin kepada anda Nona." Jawab Gio dengan nada datar.
Gio cukup tahu diri untuk tidak mengambil keputusan sesuka hati, sebab pria itu tahu betul jika ia tidak memiliki wewenang untuk itu.
"Tapi pak Gio, anda kan Asis_." Putri tak menuntaskan kalimatnya saat Gio lebih dulu menyela.
"Saya hanyalah seorang pegawai di perusahaan ini sama seperti anda Nona, jadi saya harap sebaiknya anda meminta izin langsung kepada tuan Gunawan!!." jawab pria itu sebelum kembali fokus menatap layar laptop Miliknya.
***
Tadi saat hendak meminta izin pada Gunawan, ban mobil Putri kempes, dengan terpaksa wanita itu menerima tawaran Gio untuk mengantarkan dirinya menuju kediaman Gunawan Wicaksono.
Barulah setibanya di kediaman Gunawan, Putri memecah keheningan dengan mengucapkan kata terima kasih sebelum beranjak turun dari mobil.
Baru beberapa langkah Putri menoleh, saat merasakan pergerakan pria itu di belakangnya.
"Mengapa anda masih mengikuti saya??.".dengan cetusnya Putri berkata demikian.
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya diri Nona, saya bukannya sedang mengikuti anda tapi tuan Gunawan yang meminta saya untuk menemui beliau." Wajah putri nampak memerah akibat memahami malu, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah bertemu dengan Gunawan untuk meminta izin tidak masuk kantor untuk beberapa hari ke depan, Putri nampak berbincang dengan Widia di ruang keluarga dengan di temani secangkir teh hangat serta sepiring Kue buatan Widia sendiri.
"Hah,,,,yang bener Put kamu akan segera menikah??." Saking kagetnya dengan berita yang baru di sampaikan sahabatnya, suara Widia terdengar begitu nyaring sehingga Gunawan serta Gio yang baru saja beranjak dari ruang kerjanya tak sengaja mendengar ucapan istrinya.
Baru saja Putri hendak membungkam mulut Widia dengan telapak tangannya, suara Bariton seseorang membuatnya menoleh ke arah sumber suara.
"Memangnya kapan kamu menikah Nona Putri??." suara bariton milik Gunawan yang di ikuti langkah Gio, membuat Putri bingung sendiri untuk menjawabnya.
Putri nampak menghela nafas berat sebelum menjawab.
"Saya sendiri juga tidak tahu tuan, orang tua saya yang mengatur semuanya." jawab Putri dengan wajah lemas.
Mendengar jawaban serta raut wajah Putri membuat Gunawan kembali melontarkan tebakan.
"Jangan bilang kamu sendiri tidak tahu siapa sebenarnya calon suami kamu??." Gunawan seperti mendapat jawaban mutlak dari raut wajah Putri.
"Terima saja, biasanya pilihan orang tua tidak pernah salah, buktinya secara tidak langsung ibu saya telah memilih seorang bidadari cantik untuk di jadikan istri." Seperti biasanya Gunawan pasti akan melontarkan pujian untuk sang istri, meski pujian kecil namun berarti dalam untuk membumbui kehidupan dalam berumah tangga.
"Mas bisa aja gombalnya." sahut Widia sembari menepuk pelan bahu suaminya dan justru di tanggapi senyuman oleh pria itu.
Sementara Gio hanya diam, tak berniat menimpali obrolan ketiganya.
"Kebetulan sekali kalian berdua meminta cuti secara bersamaan." lanjut Gunawan seraya memainkan jemari istrinya lalu sesekali memberi kecupan di pada jemari lentik Widia.
__ADS_1
Mendengar pernyataan Gunawan, Putri pun sekilas menoleh malas ke arah Gio.