Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Perjalanan ke Bogor.


__ADS_3

Seminggu setelah Gunawan mengungkapkan isi hatinya pada sang istri, Kini kehidupan keduanya semakin harmonis. Gunawan bahkan telah mempublikasikan hubungan pernikahannya dengan Widia.


Hampir semua pegawai dari pria tampan itu merasa iri dengan sosok Widia yang mereka anggap biasa saja. bahkan tidak sedikit yang menggunjing sosok Widia secara diam diam di belakang. salah satunya status Widia yang merupakan seorang janda menjadi topik pergunjingan di kalangan pegawai.


Sama seperti pagi ini saat Putri baru saja tiba di perusahaan ia tidak sengaja mendengar beberapa orang pegawai yang tengah bergunjing. Awalnya Putri tidak mau ambil pusing, namun saat nama sahabatnya yang di sebut oleh salah seorang pegawai wanita pada beberapa orang pegawai lainnya membuat Putri naik pitam dan mengamuk pada beberapa orang yang juga berprofesi sebagai pegawai di perusahaan tersebut.


Sehingga membuat salah seorang pria yang melintas di salah satu koridor gedung menghampiri kerumunan.


"Ada apa ini ribut ribut??." pertanyaan dari pria bersuara bariton tersebut membuat Putri dan ketiga wanita yang menjadi lawan tengkarnya terkesiap seraya menoleh ke sumber suara.


"Ini nih pak Si Putri datang datang ngajak ribut." tanpa rasa bersalahnya salah seorang dari ketiga wanita tersebut bersuara.


Pria yang tak lain adalah Gio yang merupakan bodyguard sekaligus asisten pribadi dari pemilik perusahaan langsung menatap dingin ke arah Putri. namun bukannya takut dengan tatapan Gio, Putri malah membalas tatapan Gio dengan tatapan sengit.


"Bisa anda jelaskan Nona, masalah apa yang membuat anda membuat keributan di Perusahaan??." dengan tatapan dingin bagai es, Gio melontarkan pertanyaan yang membuat Putri beralih menatap sengit ke arah wanita yang bernama Asya serta kedua sahabatnya.


"Jika wanita ini tidak menggunjing teman saya, saya tidak akan membuang energi saya untuk ribut dengan wanita tidak berotak ini." dengan tatapan sengit Putri berkata seraya menunjuk ke arah Asya.


Mendengar kalimat Putri seketika Asya menyadari kebodohannya, sebab saat ini ia tengah berhadapan dengan pria yang merupakan asisten pribadi dari pemilik perusahaan yang istrinya menjadi topik pergunjingan mereka tadi.


"Tapi pak, tadi kami tidak bercerita jelek tentang Nyonya Widia, kami hanya mengatakan status Nyonya Widia yang seorang janda sebelum menikah dengan pimpinan." tanpa sadar Saya telah mengakui kesalahannya di depan Gio, sehingga membuat Putri tersenyum seringai.


"Sekalipun Widia seorang janda sebelum menikah dengan tuan Gunawan lalu apa hubungannya dengan kalian hah??." dengan menahan emosi yang kini sudah di ubun ubun Putri melontarkan pertanyaan yang membuat Asya dan ketiga sahabatnya tak berani menjawab.


"Sekali lagi kalian berani bergunjing tentang sahabat saya, saya tidak akan segan segan menampar mulut busukmu itu." ujar Putri sebelum berlalu menuju ruang kerjanya, meninggalkan mereka yang masih diam di tempat termasuk Gio yang terus menatap kepergian wanita itu.


"Di zaman sekarang ini masih ada juga seorang sahabat seperti wanita itu." dalam hati Gio saat menatap Putri yang berlalu menuju ruang kerjanya, sebelum pria itu juga ikut berlalu meninggalkan wanita sewot bernama Asya serta ketiga sahabatnya.

__ADS_1


"Kembali bekerja!! kalian di sini digajih untuk bekerja bukan untuk bergosip." dengan nada sinis Gio bertitah sebelum benar benar berlalu meninggalkan ke empat wanita itu.


Di dalam ruang kerjanya Putri nampak menghela nafas panjang untuk meredakan rasa kesalnya ketika teringat sahabatnya yang menjadi bahan pergunjingan wanita bernama Asya, yang terkenal paling sewot dengan urusan orang lain.


"Seperti ingin kurobek mulut wanita itu karena sudah berani berani menghina Widia." Putri masih saja ngedumel sampai suara telepon di mejanya berdering.


Ternyata Gunawan yang menelepon dan meminta dirinya untuk segera keruangan kerjanya untuk membawakan perjanjian kerja yang telah di tugaskan padanya dua hari kemarin.


Setelah membuka dan membaca isi map Putri segera beranjak menuju ruang kerja pimpinan.


sebelum mengetuk pintu Putri nampak merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat kejadian tadi.


Beberapa saat setelah mengetuk pintu terdengar suara bariton Gunawan yang mempersilahkan dirinya masuk.


"Selamat pagi tuan." ucap Putri dengan sedikit menunduk hormat sebelum kembali melanjutkan langkahnya guna menyerahkan map yang di minta oleh Gunawan selaku pimpinan perusahaan.


Saat berdiri di depan meja kerja pimpinan seraya menunggu Gunawan untuk mengecek berkas yang di maksud, tak sengaja beberapa saat pandangan Putri bertemu dengan seorang pria yang kini berdiri tegak di samping kursi kebesaran tuannya.


"Bagus, saya rasanya hasil kerja kamu cukup memuaskan. untuk memastikan kesempurnaan dari kerja ini, saya ingin kamu sendiri yang memeriksa langsung kondisi perusahaan cabang di Bogor." Titah Gunawan tak langsung di jawab oleh Putri, wanita itu nampak diam sesaat sebelum mengangguk patuh dengan perintah atasannya meski sebenarnya ia sendiri ragu harus bepergian seorang diri ke Bogor.


Seolah tahu dengan apa yang ada di dalam pikiran Putri, Gunawan kemudian memberikan solusi.


"Kamu tidak perlu Khawatir, karena Gio akan menemani kamu selama perjalanan ke Bogor." mendengar ide bos mereka itu keduanya pun langsung saling pandang untuk beberapa saat, sebelum Gio beralih pada atasannya itu ketika Gunawan berujar padanya.


"Gio hari ini kamu saya tugaskan untuk menemani Putri!!." ujar Gunawan.


"Siap tuan." dengan nada patuh seperti biasanya Gio menerima perintah dari tuannya.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kalian berdua bersiap siaplah!!." keduanya pun segera beranjak meninggalkan ruangan kerja pimpinan.


***


Di mobil nampak diam tak ada yang memulai obrolan. Gio yang fokus mengemudi sementara Putri sibuk menatap keluar jendela mobil.


Menatap hamparan pepohonan yang nampak begitu rindang lebih menyenangkan bagi putri saat ini jika di bandingkan dengan menatap ke arah pria yang kini tengah mengemudikan mobil tersebut.


Sampai suara Putri memecah keheningan.


"Apa yang terjadi??." ujar wanita itu saat merasa mobil yang di kemudikan Gio mulai tak beres, apalagi pria itu nampak menepikan mobil yang di kendarainya. Hal itu semakin membuat Putri yakin jika terjadi sesuatu dengan mobil yang mereka tumpangi.


Dengan mengerutkan kening Putri menatap ke arah Gio.


"Sepertinya ban mobilnya pecah." jawab Gio yang bisa menebak raut wajah Putri yang penuh pertanyaan, sebelum turun dari mobil untuk memastikan dugaannya.


Beberapa saat kemudian Putri pun ikut turun dari mobil saat pria itu tak kunjung kembali ke mobil.


"Kenapa harus pecah sih??." dengan raut wajah menyesalkan kejadian naas yang menimpa keduanya, Putri bergumam di hadapan ban mobil yang pecah.


"Tunggu apa lagi, cepat ganti bannya!!." ujar wanita itu saat melihat Gio masih diam, seperti sedang mencari solusi.


"Jangan bilang kalau kamu tidak membawa ban serep??." dengan raut wajah penuh harap jika dugaannya salah Putri bertanya pada pria yang sesekali berjongkok di depan ban mobil yang sedang pecah ban tersebut.


"OMG." ujar Putri saat melihat raut wajah Gio seakan membenarkan dugaannya.


"Terus sekarang gimana ini, ada ya bodyguard seperti kamu. untungnya kamu bukan bodyguard saya, kalau kamu bodyguard saya sudah pasti kamu saya pecat karena kebodohan kamu ini. sudah tahu mau jalan jauh, malah nggak bawa ban serep lagi." Saking kesalnya karena Gio lupa membawa ban serep, Putri nampak terus ngedumel.

__ADS_1


"Lagi pula siapa yang mau menjadi bodyguard kamu, lagi pula pegawai biasa seperti kamu mana mampu membayar saya menjadi bodyguard." sahut Gio tak mau kalah, dengan nada datar.


"Sialan nih orang." bathin Putri kesal, ingin rasanya wanita itu menimpali kalimat pria itu yang terdengar angkuh, namun apa daya ucapan Gio benar adanya. mana mungkin seorang pegawai biasa dengan gajih pas Pasan mampu menyewa seorang bodyguard pribadi. sehingga Putri hanya bisa menghela nafas panjang, dan itu terdengar jelas oleh Gio sehingga membuat pria itu menarik ke atas sudut bibirnya, karena merasa berhasil membuat wanita itu diam dan tak lagi mengomeli dirinya.


__ADS_2