
Keesokan harinya Widia bangun lebih awal guna menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya. saat Arista turun dari kamarnya, nampak gadis itu mengendus aroma masakan yang begitu menggugah selera.
"Mama masak apa sih, baunya enak banget??." tanya Arista saat mendekati meja makan.
"Ini sayang, mama masak kangkung tumis saos tiram." jawaban Widia membuat Gunawan langsung menatap lekat ke arah istrinya, yang kini tengah menata menu terakhir di meja makan.
"Ada apa mas, apa ada yang salah dengan masakan aku??." tanya Widia saat mendapat tatapan tak biasa dari suaminya.
"Bagaimana kamu bisa tahu masakan kesukaan Arista dan mendiang istriku??." tanya Gunawan dengan tatapan tak biasa.
"Aku juga tidak tahu mas, jika ini masakan kesukaan Arista dan mendiang istri mas Gunawan. aku hanya memasak ini karena kangkung tumis saos tiram adalah masakan kesukaan aku mas." Widia tidak menyangka dari beberapa menu masakan yang di buatnya, justru masakan kesukaannya dengan menu sederhana tersebut, ternyata adalah salah satu masakan favorit mendiang istri dari Suaminya.
Sementara Gunawan yang melihat masakan itu kembali teringat mendiang istrinya, sehingga membuatnya kembali bersedih Sampai tak berselera makan.
"Mas mau kemana??." Widia memberanikan diri bertanya, saat Gunawan meninggalkan meja makan.
"Saya tidak lapar." jawab Gunawan kemudian kembali ke kamar, meski kini ia sudah mengenakan stelan jas lengkapnya, karena ia hendak ke kantor.
Beberapa saat setelah Gunawan kembali ke kamar, setelah melayani kedua anaknya untuk sarapan, Widia pun memberanikan diri untuk menyusul suaminya ke kamar.
Dengan pelan dan hati-hati agar tak bersuara, Widia membuka handle pintu. saat baru beberapa langkah, nampak Gunawan Tengah menangis sembari memeluk sebuah bingkai foto, foto yang Widia sendiri tidak tahu milik siapa.
Widia masih setia berdiri menyaksikan suaminya yang tengah bersedih dengan memeluk bingkai foto tersebut, sampai nampak wajah seorang wanita saat Gunawan hendak meletakkan kembali foto tersebut ke dalam nakas.
__ADS_1
Saat menyadari suaminya hendak berbalik badan, Widia segera bersembunyi di samping lemari, namun tanpa sengaja Gunawan melihat Widia dari pantulan cermin meja rias.
"Apa yang kamu lakukan bersembunyi di situ??." seketika bola mata Widia membulat sempurna, saat dirinya ketahuan ngumpet di samping lemari.
"A_ku sebenarnya aku_" Widia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat Gunawan menyela.
"Sebaiknya kamu segera bersiap, karena beberapa jam lagi sidang perdana untuk hak asuh Farhan akan segera di gelar!!." titah Gunawan dengan raut wajah datar seperti biasanya, seolah tak terjadi apa apa dengannya, padahal baru saja Widia memergoki dirinya yang tengah menangis sembari memeluk bingkai foto seorang wanita, yang bisa di tebak Widia jika wanita dalam foto tersebut adalah foto mendiang istrinya.
"Baik mas." jawab Widia sebelum pria itu benar benar menghilang di balik pintu.
Kurang dari setengah jam, Widia nampak menuruni anak tangga. Gunawan tidak sengaja melihat istrinya berjalan menuruni anak tangga, tak bisa di pungkiri pria itu terpesona saat melihat kecantikan istrinya. namun dengan segera Gunawan menepis perasaan itu, seraya memalingkan pandangannya.
Ketiganya kemudian berangkat menuju pengadilan tinggi guna menghadiri sidang perdana atas kasus hak asuh Farhan, sementara Arista tidak ikut serta karena harus berangkat sekolah.
Pria itu nampak terkejut saat melihat pria yang datang bersama mantan istrinya. bagaimana tidak, pria yang datang bersama mantan istrinya merupakan pimpinan di perusahaan utama tempatnya bekerja.
"Mengapa Widia datang bersama tuan pimpinan, apa hubungan Widia dengan tuan Gunawan Wicaksono???" dalam hati Hardi putra, saat melihat Widia serta Farhan turun dari mobil mewah milik Gunawan Wicaksono.
Meski hatinya bertanya tanya tentang hubungan keduanya, namun Hardi tetap dengan ramah menyapa pria yang merupakan pemilik perusahaan cabang tempatnya bekerja.
"Selamat siang pak." sapa Hardi, sebab berpikir pria itu pasti mengenali dirinya, sebab sudah dua bulan terakhir ia di angkat menjadi kepala bagian pemasaran di perusahaan tempatnya bekerja.
"Selamat siang." jawab pria yang nampak gagah dengan mengenakan stelan jas serta kacamata hitamnya tersebut. Gunawan menjawab sapaan Hardi tanpa menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Pria itu nampak berjalan bersama sang istri serta Farhan, yang kini telah menjadi anak sambungnya.
Setelah kedatangan Gunawan wicaksono serta istri persidangan pun segera di mulai. awalnya Hardi dengan angkuhnya mengatakan jika ia sengaja ingin mengambil alih hak asuh putra mereka, karena menganggap mantan istrinya tak sanggup memberikan kehidupan yang layak untuk buah hati mereka.
Namun setelah Gunawan angkat bicara, bukan hanya Hardi dan keluarganya yang terkejut bahkan hakim pun merasa terkejut, tidak menyangka jika hari ini mereka sedang menggelar sidang dari anak sambung seorang pengusaha ternama di negeri ini.
"Saya rasa tidak ada lagi alasan untuk pihak mantan suami dari Widia Saputri, untuk menuntut hak asuh putra mereka. karena sebagai ayah sambungnya saya sanggup memberikan kehidupan yang layak bagi putra sambung saya. apalagi penyebab perceraian mereka dulu di sinyalir, karena adanya orang ketiga dari pihak mantan suami Widia Saputri." terang Gunawan padat dan jelas, sehingga persidangan cukup di gelar sekali. dan hak asuh Farhan mutlak jatuh ke tangan Widia Saputri, selaku ibu kandung dari seorang anak berusia sepuluh tahun yang bernama Farhan bin Hardin putra.
Setelah hakim membacakan hasil sidang, kini Widia bisa kembali bernapas lega. berbeda dengan Widia yang kini bisa bernafas lega, mantan ibu mertua dari Widia malah nampak semakin membenci mantan menantunya tersebut.
Sampai sampai wanita itu berniat menyerang Widia, saat hendak meninggalkan ruang sidang.
"Dasar wanita tidak tahu diri, Farhan juga cucu saya kenapa kamu melarangnya untuk ikut bersama dengan kami." seraya mengumpat wanita paruh baya tersebut juga nampak ingin menampar Widia, namun dengan sigap Gunawan menangkap tangan wanita itu kemudian berkata.
"Jangan coba coba anda menyentuh istri saya dengan tangan kotor anda!! karena jika sampai itu terjadi, saya khawatir kalau saya akan lupa jika anda adalah seorang wanita nyonya." tegas Gunawan setelah menghempaskan tangan wanita itu, kemudian meraih tangan Widia serta Farhan untuk ikut bersama dengannya.
Sementara Hardi yang kini berdiri di samping ibunya, hanya bisa berdoa agar setelah kejadian ini ia tidak di pecat dari tempatnya bekerja.
Melihat suaminya tersebut begitu membela dirinya membuat Widia terharu, sehingga ia yang kini telah berada di mobil bersama suami dan putranya, berurai air mata seraya berkata.
"Terima kasih mas sudah banyak membantu dan membela kami." ucap Widia yang terdengar begitu tulus di telinga Gunawan.
"Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi tugas seorang suami untuk melindungi istri serta putranya." jawab Gunawan seraya menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
Sementara buliran bening tak juga berhenti membasahi wajah cantik Widia. bagaimana tidak, selama sepuluh tahun menjadi istri dari seorang pria bernama Hardin putra tak sekalipun pria itu membelanya, bahkan dari sikap kasar ibunya sendiri. tapi kini baru beberapa hari menjadi istri dari seorang pria bernama Gunawan Wicaksono, untuk pertama kalinya Widia merasa begitu di lindungi.