Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Rumah sakit.


__ADS_3

Sementara di kamar perawatan VVIP, Widia nampak memikirkan kembali raut wajah khawatir serta panik suaminya tadi.


"Kamu sangat mengharapkan anak ini mas, meski tak mencintai aku tapi aku juga bahagia karena bisa membuatmu bahagia mas, maafkan aku jika aku tak sanggup menahan perasaanku padamu mas Gunawan. tetapi asal kamu tahu mas cintaku tulus, aku tidak berani berharap lebih padamu mas. hatimu terlalu sulit untuk ku gapai mas, meski tubuhmu bersamaku namun hatimu tetap milik mbak Rahma." Widia yang kini memejamkan matanya menitihkan buliran bening di sudut mata indahnya.


"Aku hanya berharap semoga kamu juga sayang pada anak yang akan lahir dari rahimku, sama seperti kamu sayang pada anak kamu yang lahir dari rahim mbak Rahma." mengingat hal itu semakin membuat buliran bening meluncur bebas di sudut wanita itu, sampai sebuah suara seseorang membuka handle pintu membuat wanita itu segera mengusap sudut matanya.


Widia sengaja tak membuka matanya tak ingin Suaminya tersebut sampai melihat matanya yang memerah akibat menangis.


Gunawan menggenggam tangan Widia yang saat ini disangkanya tengah terlelap karena efek obat yang tadi di berikan melalui injeksi.


Jujur saat itu Widia bisa merasakan kehangatan sikap pria itu, apalagi dengan lembut Gunawan mengecup punggung tangannya.


Meski suaminya tersebut tak mengeluarkan sepatah katapun, Namun Widia bisa merasakan hal itu.


Widia urung membuka matanya saat jemari suaminya mulia mengusap perutnya yang masih nampak rata sembari mengucapkan kalimat yang membuat hati sempat Widia tersentuh.


"Bagaimana kabar anak ayah, ayah tidak sabar ingin segera melihat kamu nak." perasaan Widia tersentuh, namun seketika wanita tak ingin berharap lebih.


"Tentu saja mas Gunawan tak sabar ingin bertemu dengan anak yang ada di dalam kandunganku, karena anak ini akan memberikan harapan bagi kesembuhan Arista." dalam hati Widia dengan mata terpejam.


Kini Widia tak lagi berpura pura tertidur sebab obat tidur yang di suntikan melalui selang infus benar benar telah membawa wanita itu terlelap dalam mimpi. sementara Gunawan masih setia menemani sang istri dengan terus menggenggam erat jemari wanitanya, sampai ia pun terlelap dengan posisi duduk.

__ADS_1


***


"Selamat pagi tuan." ucapan salah satu perawat membangunkan Gunawan yang semalaman tidur dalam posisi duduk.


"Selamat pagi." dengan suara berat Gunawan menjawab sembari mengusap wajahnya sebelum berdiri untuk memberi ruang pada perawat tersebut untuk melakukan tugasnya.


"Kami akan mengecek tekanan darah pasien karena sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa kondisi pasien." perawat tersebut kemudian mulai melakukan tugasnya untuk mengecek tekanan darah pasien, hal itu membuat Widia terbangun dari tidurnya.


"Silahkan!!." kata Gunawan yang kini telah beranjak dari duduknya kemudian berdiri di samping ranjang istrinya.


Selesai melakukan tugasnya perawat itu pun segera pamit undur diri dari ruangan tersebut, secara bersamaan seorang petugas rumah sakit yang membawa sarapan untuk pasien pun tiba.


"Ini sarapan untuk pasien tuan." seorang pria yang bertugas mengantarkan makanan untuk pasien tersebut meletakkan bubur di atas nakas sebelum keluar dan menuju ruangan pasien lainnya.


"Sayang sebaiknya kamu sarapan dulu, kasian anak kita mungkin dia sudah kelaparan!!." entah apa yang merasuki pikiran Gunawan menurut Widia, sampai sampai pria itu memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


"Apa kamu mau mas suapin??." Gunawan kemudian kembali duduk di kursi setelah mengambil nampan yang berisikan sarapan, sementara Widia masih diam membisu, wanita itu seperti sedang bermimpi ketika di perlakukan semanis itu oleh suaminya.


Beberapa saat kemudian Widia pun tersadar dari lamunannya tentang perubahan sikap suaminya.


"Mas, aku bisa makan sendiri." Widia hendak meminta nampan yang berada di tangan Gunawan, namun pria itu menolak dan tetap kekeh ingin menyuapi istrinya. melihat itu akhirnya Widia pun pasrah kemudian perlahan menerima suapan pertama dari sang suami.

__ADS_1


"Tidak baik menolak suami." kata Gunawan setelah memberi suapan pertama pada Widia, mendengar kalimat suaminya membuat Widia tersenyum getir, sebelum kemudian menimpali kalimat suaminya.


"Bukannya aku ingin menolak, aku hanya takut akan lupa diri kemudian lupa dengan perjanjian yang pernah mas buat, jika kamu memperlakukan aku semanis ini mas." jawaban Widia di sisa senyum getirnya membuat Gunawan baru teringat dengan pernjanjian bodoh yang pernah dibuatnya sebelum ia menikahi wanita itu.


"Mas tidak ingin membahas tentang hal itu lagi.". ucap Gunawan kemudian kembali memberi suapan pada sang istri, sementara Widia hanya bisa diam sembari mencerna maksud ucapan Gunawan. sebelum wanita itu bertanya pada suaminya mengapa masih menemaninya di sana sementara seharusnya pria itu ada jadwal meeting dengan klien penting.


"Sebaiknya mas segera pulang dan bersiap ke kantor, aku akan melanjutkan makan sendiri!!." ujar Widia yang kini tengah duduk bersandar di bahu ranjang rumah sakit.


"Mas tidak akan ke kantor hari ini, mas akan tetap di sini menemani kamu." ucap Gunawan yakin.


"Tapi mas, bukannya kemarin mas bilang jika pagi ini mas ada meeting dengan klien penting." lanjut Widia bingung saat pria itu malah ingin tetap menemaninya dan tak pergi ke kantor.


"Saat ini tidak ada yang lebih penting bagi mas selain kamu dan calon anak dalam kandungan kamu, karena anak ini sangat berharga dari apapun juga bagi mas." baru saja Widia merasa terbang ke awan saat mendapat perhatian kecil dari sang suami, namun semua itu seakan sirna bersamaan dengan kembalinya kesadaran wanita itu jika sang suami perhatian padanya karena adanya sang jabang bayi yang begitu di harapkan yang kini bersemayam di rahimnya.


"Bangun Widia Bangun,,,,ayo bangun,,,jangan mimpi terlalu tinggi, karena mas Gunawan hanya sebuah mimpi indah bagimu tidak akan pernah menjadi kenyataan." dalam hati Widia seperti sedang mengingatkan dirinya jika pria yang kini ada di hadapannya tersebut bersikap semanis itu karena kini ia tengah mengandung seorang anak yang begitu di harapkan oleh Gunawan demi menyelamatkan nyawa sang putri tercinta.


Sampai dengan lambaian tangan pria itu menyadarkan Widia dari lamunannya.


"Kamu kenapa sayang, apa perut kamu masih sakit??." mendengar pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang semakin membuat luka di hati Widia seperti menganga.


"please mas,,,, don't call me like that, karena itu hanya akan membuat aku semakin berharap lebih, aku takut tak mampu mengendalikan hatiku." Widia kemudian berbaring tak melanjutkan makannya usai berkata demikian, sementara Gunawan masih diam mencerna kalimat wanita itu sembari menatap lekat ke arah wanita yang kini berbaring membelakangi dirinya.

__ADS_1


"Kenapa takdirku begitu menyedihkan??." dalam hati Widia yang kini berusaha sekuat tenaga agar tak menitihkan air mata, meski saat ini ia merasa ingin sekali menangis di dalam dekapan seseorang, yang tak lain adalah ayah dari anak yang di kandungnya.


Sesaat kemudian dr Beni datang guna memeriksa kondisi pasien, sehingga membuat Widia mengubah posisinya terlentang, dengan begitu Gunawan dapat melihat wajah serta bibir cantik istrinya, yang begitu terlihat menggoda di matanya, Seolah bibir sang istri tengah memanggil untuk di nikmati.


__ADS_2