Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Bayangan wanita itu.


__ADS_3

Keesokan harinya setelah melihat putrinya selesai sarapan dengan di bantu oleh salah satu perawat, Gunawan kembali ke kamarnya.


Widia yang hanya mengenakan sebuah handuk untuk menutupi separuh bagian tubuhnya terkejut saat melihat sang suami melalui pantulan cermin, sehingga membuat wanita itu segera meraih sebuah handuk lainnya untuk menutupi bagian bahunya yang terbuka.


"Mas." Ujar Widia terkejut. saat melihat keberadaan Gunawan di kamar, sementara Gunawan segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah saat wanita itu menyadari keberadaannya.


"Sebaiknya kamu segera bersiap siap, karena pagi ini saya sudah membuat janji untuk berkonsultasi dengan sahabatku Dr Beni serta beberapa orang dokter lainnya, untuk membicarakan tentang program bayi tabung yang akan kita jalani" ujar pria itu sembari berjalan menuju kamar mandi setelah meraih sebuah handuk.


"Baik mas." jawab Widia pelan.


"Aku harus bisa melakukannya, semua ini demi Arista. lagi pula mas Gunawan sudah membantuku untuk mendapatkan hak asuh Farhan, kini saatnya aku yang harus berkorban untuk membalas kebaikan mas Gunawan" dalam hati Widia yang kini hendak melangkah menuju ruang ganti, untuk menguatkan hatinya.


"Wahai calon anak mama kelak, apapun dan bagaimanapun cara kamu hadir di perut mama nantinya sayang, percayalah nak mama akan tetap mencintai dan menyayangi kamu sama seperti saudara kamu yang lain." gumam Widia di depan cermin seraya mengelus perutnya yang nampak rata.


Membayangkan calon anaknya kelak yang akan lahir tanpa adanya rasa cinta dari sang ayah untuk sang ibu tercinta membuat mata Widia mulai berkaca-kaca. namun dengan segera wanita itu menengadahkan wajahnya agar air mata itu tak jatuh.


Hari ini Widia mengenakan sebuah dres berlengan yang berwarna navi, dres berbahan scuba dengan kombinasi brokat di bagian dadanya. melihat penampilan Widia pagi ini membuat wanita itu jauh lebih cantik dan nampak lebih muda dari usianya yang kini menginjak dua puluh sembilan tahun.


Saat keluar dari ruang ganti, Widia berpapasan dengan suaminya yang baru saja usai mandi, pria itu nampak mengenakan sebuah handuk berwarna putih yang di lilitkan pada pinggangnya. seperti biasa Gunawan nampak semakin seksi saat dalam keadaan seperti ini, apalagi aroma wangi sabun masih begitu melekat pada tubuh pria itu.


Saat berpapasan dengan Widia, pandangan Gunawan terus tertuju pada wanita itu, Gunawan nampak memandangi tubuh istrinya dari ujung kaki hingga ujung rambut. jujur hati Gunawan serasa tak rela jika istrinya mengenakan pakaian tersebut, sebab dengan pakaian yang kini di kenakan Widia membuat wanita itu nampak begitu cantik bahkan nyaris sempurna, apalagi di tambah dengan tatanan rambut sebahu Widia yang di blow Carlie sehingga membuat wanita itu nampak seperti wanita muda yang belum memiliki buntut.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini mas??." Widia bertanya pada pria yang sejak tadi terus memperhatikan penampilannya.


"Hari ini kita akan pergi menemui Dokter, bukannya akan menghadiri undangan resepsi." cetus Gunawan saat merasa penampilan Widia terlalu cantik menurutnya.


"Memangnya ke rumah sakit nggak boleh berpenampilan seperti ini ya mas??." tanya Widia dengan polosnya.


"Bukannya tidak boleh, apa kamu berniat menggoda semua dokter di sana?? apalagi kata Beni semua dokter yang akan melayani kita untuk berkonsultasi adalah dokter pria." jawab Gunawan seraya berlalu, sementara Widia di buat bingung dengan sikap suaminya yang terkadang bisa berubah drastis, seperti saat ini misalnya.

__ADS_1


"Dasar aneh, bagaimana bisa aku berpikir menggoda pria lain, sedangkan suamiku sendiri bahkan tidak tergoda padaku." gumam Widia lirih, namun gumaman wanita itu masih terdengar sampai di telinga Gunawan yang berada tak jauh dari dirinya, hanya sebuah dinding yang menjadi pembatas sehingga membuat pria yang kini tengah mengenakan pakaian tersebut, menaikkan sebelah alisnya saat mendengar gumaman istrinya itu.


Gunawan pun nampak sudah siap dengan mengenakan stelan tuksedo, dengan warna senada dengan dress yang kini di kenakan Widia.


Sebelum berangkat menuju rumah sakit, Widia mengunjungi Arista di kamarnya untuk sekedar pamitan pada anak gadisnya, yang kini tengah terbaring lemah.


"Kakak, mama dan ayah tinggal sebentar ya, soalnya ada sesuatu yang harus mama dan ayah selesaikan. kakak harus nurut sama perawatnya, nggak boleh telat minum obatnya!!." Dengan penuh kasih sayang Widia nampak menasehati putri sambungnya, dan gadis itu nampak mengangguk paham saat mendengar nasehat dari Widia.


"Iya ma." jawab gadis itu patuh.


"Kalau begitu mama pergi dulu kak." ujar Widia kemudian beranjak dari duduknya setelah gadis itu kembali mengangguk.


Gunawan yang kini berdiri di sebelah ranjang putrinya, nampak memperhatikan keduanya sebelum ikut berpamitan pada gadis itu.


"Kami pergi dulu ya nak, ingat, harus nurut sama apa yang di bilang mama!!." ujar Gunawan pada putrinya, sebelum keduanya benar benar berlalu meninggalkan kamar gadis itu.


Keduanya berangkat dalam diam sampai mobil yang di kendarai Gunawan tiba di rumah sakit.


Saat berjalan berdampingan tak sedikit mata memandang ke arah keduanya, ada yang menatap iri ada juga yang menatap dengan senyuman karena merasa keduanya merupakan pasangan yang sangat cocok menurut mereka, yang pria nampak begitu tampan dan berwibawa sementara wanita yang mendampinginya terlihat cantik bahkan bisa di bilang sangat cantik. sampai langkah kedua berhenti di depan pintu ruangan yang bertuliskan Dr Beni Yusuf SP.OG.


Gunawan nampak membuka pintu ruangan setelah ada sahutan dari dalam ruangan ketika ia mengetuk pintu. meski Beni merupakan sahabat dekat Gunawan, namun pria itu tidak nyelonong masuk begitu saja.


"Silahkan duduk!!." Beni nampak mempersilahkan keduanya duduk berhadapan dengan dirinya serta dua orang dokter lainnya.


"Terima kasih." ucap Gunawan sebelum menarik sebuah kursi yang akan di duduki sang istri, setelahnya pria itu pun menarik kursi lainnya untuk mendudukinya.


"Kebetulan saya sudah menceritakan pada kedua rekan saya, mengenai tujuan kedatangan anda ke rumah sakit ini tuan Wicaksono." ucap Beni dengan bahasa Formal seraya memandang ke arah dua dokter pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahunan, yang kini nampak duduk di sebelahnya secara bergantian.


"Oh iya tuan dan Nyonya Wicaksono, kenalkan ini dokter Arham dan yang duduk di sebelah kanan Dokter Arham adalah dokter Rama, sama dengan saya keduanya juga merupakan Dr SP.OG. mereka yang akan membantu saya dalam melaksanakan proses bayi tabung yang tuan dan nyonya inginkan." lanjut terang Beni kemudian Gunawan nampak mengangguk paham, berbeda dengan sang suami Widia lebih banyak diam.

__ADS_1


"Kira kira Berapa persen tingkat keberhasilan dalam melakukan proses bayi tabung sendiri dok??." pertanyaan Gunawan membuat dokter Rama memandang ke arah Widia yang kini tengah duduk di samping sang suami.


"Maaf tuan sebelum menjawab pertanyaan anda, jika saya boleh bertanya, sebenarnya apa yang menjadi alasan anda sampai melakukan proses bayi tabung, apa istri anda memiliki masalah atau semacamnya pada rahim beliau??." pertanyaan itu membuat Gunawan diam seperti enggan menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.


"Baiklah tuan, jika anda merasa kurang nyaman dengan pertanyaan dari saya, maka anda tidak perlu menjawabnya. namun begitu sebagai tim dokter yang akan membantu anda dalam melakukan proses bayi tabung, kami juga harus kembali melakukan pemeriksaan menyeluruh pada istri Anda, untuk memastikan bahwa istri anda tidak memiliki penyakit atau semacamnya." tegas dokter Rama lalu Gunawan pun mengangguk setuju.


Tim dokter yang di pimpin oleh Dr Beni mulai melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Widia dan hasilnya mengatakan jika wanita itu bebas dari penyakit apapun atau lebih tepatnya di nyatakan rahimnya sehat. begitu pun dengan Gunawan yang di nyatakan sehat oleh dokter, berdasarkan hasil pemeriksaan.


Setelah memberikan penjelasan panjang kali lebar dokter kemudian meminta Gunawan untuk memberikan sampel sperm* miliknya besok, karena akan di lakukan proses pematangan sel Sperm* sebelum menyatukan sel Sperm* yang telah matang tersebut pada sel Ovum.


Usai melakukan beberapa proses bayi tabung hari ini baik Gunawan maupun Widia kembali ke rumah. dan rencananya akan kembali lagi besok, untuk mengantarkan sampel sperm* miliknya yang akan di butuhkan dalam proses bayi tabung tersebut.


***


Keesokan harinya sebelum hendak kembali ke rumah sakit, Gunawan nampak mondar mandir di kamar seraya memegang sebuah wadah untuk menampung sperm* miliknya.


Jujur yang mengganggu pikiran Gunawan saat adalah cara dia menghasilkan sperm* yang akan di gunakan dalam proses bayi tabung tersebut.


Sebelumnya Pria itu pasti akan selalu menyebut nama mendiang istrinya, kala melakukan Onan* di saat hasratnya tiba tiba muncul. namun kali ini Gunawan seperti merasa bersalah pada mendiang istrinya, karena yakin akan kembali menyebutkan nama mendiang istrinya saat melakukan itu, sementara sperm* itu akan di gunakan pada Widia yang akan melakukan proses bayi tabung.


Gunawan nampak memijat keningnya, saat kepalanya mulai berdenyut.


Tidak ingin kepalanya semakin berdenyut akibat perasaan bersalah yang kini ada di benaknya, Gunawan pun segera beranjak menuju ruang kerjanya. pria itu berniat melakukan kegiatannya di sana, sebab ruang kerjanya pun tersedia sebuah kamar mandi dengan fasilitas lengkap.


Setibanya di ruang kerjanya Gunawan segera berlalu ke kamar mandi, sebelum memastikan jika pintu ruang kerjanya tersebut terkunci.


Yang membuat pria itu heran serta bingung, saat ia hendak melakukan kegiatannya tersebut wajah yang melintas di pikirannya bukanlah wajah mendiang istrinya, Rahma, melainkan wajah Widia yang kini terlintas di benak serta pikiran pria itu. apalagi pagi tadi pria itu tidak sengaja melihat tubuh Widia yang hanya di balut sebuah handuk, sehingga memperlihatkan bagian dari tubuh wanita itu yang nampak putih bersih.


Wajah serta tubuh ***** nan menggoda milik Widia terus melintas di pikiran serta benak Gunawan saat melakukan kegiatan panasnya. sampai ketika pria itu sampai pada titik *******, pria itu tak sadar sampai nama yang keluar dari bibirnya adalah nama Widia.

__ADS_1


"Arght,,, Widia." erang Gunawan, sampai dengan beberapa saat kemudian barulah pria itu sadar jika yang ada di pikiran, benak serta mulutnya bukanlah nama mendiang istri melainkan nama wanita yang belum lama ini dinikahinya.


"Ya Tuhan, apa yang telah terjadi padaku, kenapa wanita itu terus menari nari di dalam benak serta pikiranku?? apa aku sudah gila, ini pertama kalinya aku bisa melakukan kegiatan panas dengan membayangkan tubuh wanita selain almarhumah istriku." Gunawan nampak terduduk di closed saat menyadari semua itu.


__ADS_2