
Akbar dan Attar sudah tidur, sekarang Arsya duduk di ruang tamu, entah apa yang ia pikirkan. Tak lama setelah itu warna keluar kamar anak anak.
"anak anak sudah tidur dek" tanya Arsya ke warna
"sudah mas", warna melangkah mau mengambil minum
"dek mas mau bicara, bisa kita duduk dulu" tutur Arsya
"oke mas" warna duduk berhadapan Arsya "sekalian aja nanti kan tanda tangan nya " tutur dalam hati
"dek , mas sudah menalak indah , dan sekarang mas mau berubah, mas mau kita seperti dulu lagi mas, mau rindu suasana rumah yang dulu dek " kata Arsya sendu
"kenapa baru sekarang mas, kenapa tidak awal awal kamu menyadari, penyesalan mu pun tidak mengobati luka yang telah kau torehkan mas ", tutur warna dalam hati
"kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya ke kak Yuli, Sisil dan pak Andi ayah nya Shasha " ucap Arsya . Karena Arsya tidak tahu menahu mengenai Vidio yang di kirim Sisil ke warna .
"iya aku percaya " jawab warna , Arsya tersenyum bahagia mendengar ucapan warna .
"Tapi untuk seperti dulu lagi, aku butuh waktu mas, tidak mudah mengembalikan kepercayaan ku padamu mas, mungkin aku bisa memaafkan mu dalam waktu dekat, tapi goresan luka ini tidak akan hilang mas, mungkin akan ku ingat sampai mati walaupun aku ingin menghilangkan luka ini dalam ingatan ku " ucap warna membuat senyum di pipi Arsya hilang.
"mas ngerti dek, dan mas akan berusaha sekuat mungkin, untuk mendapatkan kepercayaan mu lagi dek" ucap Akbar, dan warna tersenyum manis sedikit paksaan.
"Sebentar mas" ucap warna masuk dalam kamar anak anak. Tidak sampai satu menit warna keluar dengan membawa sebuah map dan tersenyum sinis menghadap ke Arsya .
__ADS_1
"apa itu dek" tanya Arsya
"sebentar ya mas aku keluarkan dulu", ucap warna senyum
" Mas Arsya, kamu tahu dan sudah menyadari semua perbuatan kamu kan mas? begitu banyak sakit yang kau berikan mas? " jawab warna
" Sakit nya hati ku kau hianati saat ku hamil anak mu mas, ya di saat aku hamil tua kau menikah dengan wanita lain mas " Sambung warna
" kepada anak anak ku Akbar dan Attar, apa kau tahu mas apa dampak dari perbuatan mu mas? bagaimana mental merekaaa terutama Akbar? dia tidak tahu menahu bagaimana ayah nya bisa berubah dalam sekejap" Sambung warna tampah membiarkan Arsya berbicara
" Yang biasa nya kau limpahkan di dengan kasih sayang mu, tapi kemarin apa yang kau lakukan, jangan kan kasih sayang, kau menanyakan dia aja tidak mas, kau pergi pagi pulang tengah malam mas" sambung warna lagi
"jangankan kau ajak dia jalan jalan mas seperti biasa walau hanya sekeliling komplek , mengajak dia bermain dalam rumah saja kau tak bisa mas " ucap warna sinis menghadap ke Arsya
"syukur memiliki tetangga yang baik, mungkin sudah di kirim tuhan untuk membantu kami, sehingga kami tidak mati kelapaaraan " sambung warna menahan tangis, karena mengingat masa itu
" bahkan kandungan ku sudah masuk delapan bulan , tidak pernah kau bertanya mas, bagaimana keadaan ku, kehamilan ku, aku cuma minta uang untuk USG pun kau bilang ngak ad duit kan mas " ucap warna parau
"dan.." ..
"sudah dek , sudah, maafkan kesalahan mas yang sudah sudah, mas mohon maafkan mas" potong Arsya dengan menangis.
"mintak ampun la kepada Tuhan mas" balas warna
__ADS_1
"iya dek, mas akan lakukan apapun itu demi mempertahankan rumah tangga kita, demi Adek dan anak anak kita " ucap Arsya , dan di balas dengan senyuman oleh warna
"tanda tangani ini mas, untuk saat ini cukup kamu tanda tangani ini " ucap warna memberikan berkas itu ke Arsya
"berkas apa ini dek" tangan Arsya gemetaran mengambil berkas tersebut
"bukak saja " ucap warna dengan senyum
mata Arsya tak berkedip , dan fokus membuka berkas tersebut...
Taraaaaaaaaaa berkas apaan yaaaaa?????
.
.
.
hallo semuanya..
maaf ya masih banyak yang typo..
mohon dukungan like dan vote nya..
__ADS_1
terimakasih 🙏😍