Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga

Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga
Bab 51 perang mulut


__ADS_3

"Bukan rumah ini bang Roki tapi hanya separoh rumah ini, mungkin bang Roki lupa dan akan saya ingatkan kembali karena separoh rumah ini juga di beli dengan duit ayah saya, hadiah untuk saya , untuk cucu cucu nya itulah kata ayah saya dahulu " ucap warna tegas melawan perkataan Roki, mendengar itu wajah Roki memerah


"Ya sudah serahkan ke Arsya yang separoh itu, jual saja rumah ini dan hasilnya bisa di bagi dua , bukan kah adil begitu" balas Roki dengan sinis


" Seperti apa adil itu bang Roki? Apa seperti ketika mas Arsya meninggalkan saya untuk berselingkuh dalam keadaan hamil besar serta menjaga dua anak yang masih kecil? Atau ketika mas Arsya berbohong pergi keluar kota padahal dia bersenang-senang dengan wanitanya sedangkan kami disini susah untuk cari makan, bersyukur kami masih mempunyai tetangga hingga mereka tidak membiarkan kami mati kelaparan, apa seperti bang Roki?" ucap warna tegas


" Saya sangat menghargai dan menghormati bang Roki sebagai Abang ipar saya, tapi maaf jika menyangkut hak dan untuk masa depan anak saya, saya tidak bisa tinggal diam" Sambung warna , membuat wajah Roki tambah memerah


" Iya saya tahu , adik saya melakukan kesalahan yang tidak bisa di maafkan tapi kamu terlalu serakah warna dengan mengambil seluruhnya dari Arsya , apa kau tidak malu? sampai sampai motor pun kau sita" jawab Roki keras


"Serakah mana dengan mas Arsya yang tidak pernah cukup satu wanita di dalam hidup nya ? kenapa aku harus malu, yang seharusnya malu itu orang yang membelah kesalahan , dan mas Arsya yang seharusnya nya malu, hidup pas pas san mau punya istri dua pula, pemikiran macam apa itu? ngak malu sama Tuhan? " ucap warna juga tak kalah keras


"lagi pula asal kamu tahu bang Roki, mas Arsya sendiri yang menyerahkan semuanya itu kepada anak anak nya melalui surat perjanjian ini"ucap warna , sambil meletakkan surat perjanjian ke atas tangan Roki, dan Roki membaca surat tersebut dengan seksama


"Surat apa apa an ini (sambil membuang surat tersebut ke lantai, kau benar benar ..." ucap Riko terputus menyampaikan pendapatnya karena terpotong oleh papa nya sendiri


" Roki cukup" hardik papahnya


"Jangan karena kamu terlalu menyayangi adik mu, mata hati kamu di butakan oleh kesalahan

__ADS_1


yang telah di lakukan Arsya nak" ucap papa nya tenang


"Lagian asal kamu tahu bang Roki, rumah ini bukan hak saya, tapi hak anak anak saya, ini tabungan mereka, ini rumah mereka , tiga orang anak mas Arsya , apa mereka tidak pantas mendapatkan rumah ini? satu lagi bang Roki ,motor yang saya ambil, itu hak saya, karena saya membeli Motor tersebut dengan menjual perhiasan saya hasil dari pekerjaan saya sebelum menikah dengan mas Arsya, sudah jelas bukan itu punya saya, dan satu lagu saya mengambil duit di buku tabungan tersebut, karena itu juga hak anak saya bukan hak wanita yang di tiduri oleh mas Arsya sewaktu saya menggerebek mereka. Karena saya tidak yakin papah mereka masih mau bertanggung jawab terhadap Akbar , Attar , dan Zahira, sekarang apa lagi yang kamu pertanyakan dan yang kamu permasalahkan? ucap warna tegas


"Tapi..." Roki


"sudah lah Roki, ayok pulang, tunggu papa di mobil" ucap papanya tegas , dengan jengkel Roki masuk dalam mobil .


" nak, maafkan Arsya ya, maafkan Roki, maafkan papa yang sudah gagal mendidik anak anak", ucap papa mertua warna tulus


"kakekkkkk" Panggil Akbar dari kamar tidur, sambil berlari dan memeluk kakek nya


"cucu kakek yang ganteng, yang Sholeh sudah bangun? " tanya kakek nya Akbar


"Kakek harus pulang sayang, kasihan sapi sapi kakek ngak ada yang jagain," ucap kakeknya Arsya sedih


"adik adik Arsya masih tidur ya" tanya sang kakek


"iya kek" jawab Akbar

__ADS_1


" Akbar, Akbar adalah anak laki-laki pertama, Akbar yang harus melindungi adik adik Akbar serta mama Akbar, jadi Akbar harus jadi anak pintar dan kuat" ucap kakek menasehati Akbar


"iya kek" jawab Akbar


"sekarang kakek pulang dulu ya cucu kakek yang pintar, ingat pesan kakek lindungi mama dan adik adik mu", ucap kakek sambil meletakkan amplop di tangan Akbar


"ngak usah pah, untuk papa aja, kami masih...." ucap warna


"jangan di tolak nak, ini adalah sesuatu dari seorang kakek untuk cucu nya, Akbar nanti ini (sambil memegang amplop yang tadi) di bagi tiga ya bersama adik adik Akbar" ucap kakek Akbar


"iya kek, makasih kek" ucap Akbar sambil bersalaman dan kakek mencium cucu nya


"makasih ya pah, makasih telah berkunjung pah" ucap warna sambil menyalami mertuanya


" walaupun nanti kalian berpisah, kalau ada waktu tengok jua lah orang tua ini , kadang orang tua ini bukanya tak mau ingin melihat cucu, tapi badan yang tak sanggup lagi bepergian jauh " ucap kakek Akbar dengan mata yang mendung


"iya pah, papa jangan kwatir, anak anak tidak akan pernah lupa kakek mereka, serta selalu ingat di mana kakeknya tinggal" ucap warna dengan mata yang berembun.


Terimakasih semuanya..

__ADS_1


terimakasih supportnya..


like nya ,vote dan hadiah nya ..


__ADS_2