Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga

Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga
Bab 44 Mas Arsya datang ke rumah


__ADS_3

"satu lagi mas, aku bukan bodoh seperti yang kau kira , dan tidak mungkin aku menyimpan hal yang penting di kandang harimau (menunjuk Arsya) sampai jumpa di pengadilan " ucap warna sambil melangkah kan kaki nya keluar.


"dek tunggu, maafkan aku, aku mohon " Arsya memegang tangan warna sebelum keluar dari pintu , warna tetap melanjutkan langkahnya. Hingga di depan pintu Arsya bersujud


"aku mohon beri kesempatan aku sekali lagi dek, aku aku benar benar akan berubah " ucap Arsya sambil bersujud


"hmmm sudah sangat terlambat mas Arsya, bahkan walaupun kamu nangis darah sekali pun, aku tetap pada keputusan ku, kita tetap berpisah" ucap warna melangkah cepat, namun Arsya tetap mengejar hingga sampai loby hotel, tentu tanpa rasa malu, walaupun banyak pengunjung yang melihat, sampai Arsya melupakan satu hal.


" Apa kamu benar benar sudah kehilangan akal sehat mu mas , sampai sampai kamu tidak ada rasa malu " ucap warna sambil menggelengkan kepala, dan Arsya seperti nya bingung dengan arah pembicaraan warna


"tu lihat ke bawah" warna sambil melirik boxer Arsya, karena tanpa Arsya sadari dari tadi ia cuma memakai celana boxer tentu jadi bahan tawa oleh pengunjung hotel yang melihat.


"Astaga" ucap Arsya sambil menutup barang berharga nya dengan kedua telapak tangan lalu berlari ke kamar hotel.


Sekarang warna sudah berada di dalam mobil bersama dengan lainnya.


"sekarang langkah apa yang akan Kaka lakukan lagi ", tanya bunda Shasha


"Menemui mas Surya bund, dan mengajukan perceraian " ucap warna tegas dan percaya diri


"kira kira mas Surya kapan ya ada waktu bunda ?" tanya warna ke bunda Kinara


"kapan saja ada kok waktu nya untuk mam, ehh maksud ku untuk klien nya, bukanya kemarin udah ada no handphone mas Surya sama mam, Memang mam ngak ada konsultasi atau apa gitu hehehe" kata bunda Kinara

__ADS_1


"ngak bund, karena kemarin kan bukti nya belum lengkap, karena sekarang sudah lengkap, jadi aku mau secepatnya semua ini selsai bund" ucap warna , dan di jawab dengan anggukan oleh semua orang yang berada di dalam mobil .


"Nanti mas Surya nya di telfon aja dulu mam, dan ceritakan lewat handphone aja dulu, baru atur pertemuan, siap kan berkas yang di butuhkan untuk mengajukan perceraian di pengadilan biar proses nya cepat " ucap bunda Kinara


"iya mam, makasih ya semuanya udah bantu saya, maaf merepotkan pak Andy dan pak Dicki (ayah nya Kinara) " tutur warna


"tidak apa apa kak" jawab duo ayah kompak


Sekarang warna sudah berada dalam kamar anak anak sudah makan dan sekarang lagi istrahat. Warna mengambil Tas besar dan membuka lemari .


"lebih baik aku masukan semua baju baju mas Arsya di dalam tas ini, untuk apa juga toh, tak ada yang membutuhkan" ucap warna sendiri, dan meninggalkan berapa helai baju dalam lemari, karena ketika waktu anak anak nya merindukan ayah nya, baju baju ini bisa mengobati rindu mereka. Karena konon katanya, kalau anak anak merindukan ayah mereka yang lagi tak bersama mereka, menyelimuti atau memakai baju ayah nya bisa mengobati rindu.


Warna mengambil handphone miliknya, lalu menghubungi Surya , tentu warna menceritakan kejadian hari ini tanpa luput sedikit pun dan besok siang jadwal pertemuan mereka sekaligus pengajuan perceraian ke pengadilan.


Tok tok tok


"hmm suara mas Arsya ini, kebetulan sekali" ucap nya pada diri sendiri


"ya Waalaikumsalam " jawab warna membuka pintu tapi tidak dengan pintu teralisnya yang masih dikunci


"izinkan mas masuk dek, mas mohon, mas ngak tahu mau kemana lagi dek, beri mas satu kesempatan lagi dek, mas tidak akan menyia-nyiakan lagi dek, mas mohon dek" ucap Arsya dengan tangisan


" hmmm ngak perlu nangis nangis mas, ngak butuh, tunggu surat panggilan dari pengadilan saja mas, aku harap mas koperatif , supaya semuanya cepat selesai, aku juga mau bahagia dengan anak anak , jadi biar kan kami bahagia dengan jalan yang kami pilih" ucap warna tegas

__ADS_1


"kamu ngak sayang sama anak anak dek, kamu rela anak anak hidup tanpa ayah, tanpa orang tua yang lengkap" tanya Arsya dengan nada mengiba


" Aku sangat menyayangi dan mencintai anak ku, ini semua ku lakukan demi anak anak ku, bagaimana mungkin anak anakku akan bahagia jika mereka hidup dengan kedua orangtuanya yang tidak lagi harmonis, bagaimana bisa anak anak akan hidup tenang damai sedangkan ayah nya penuh dengan kebohongan, bagaimana bisa anak anak hidup merasa nyaman jika salah seorang dari orang tua nya pelaku penghianat , dan salah satu dari orang tua nya tertekan bathin dan tidak bahagia" ucap warna tegas


"anak anak akan bahagia jika dia melihat ibu dan ayah nya bahagia mas, walaupun tidak lagi bersama, bagaimana bisa saya membuat anak anak bahagia jika saya tinggal bersama kamu tidak bahagia mas, bukankah sebelum membahagiakan mereka aku juga harus bahagia terlebih dahulu mas" sambung warna dengan ucapan yang jelas


"dan saya ingin kita bercerai mas, itu yang akan membuat kami bahagia mas, begitu pun sebaliknya mas juga akan bahagia karena ini adalah pilihan mu mas, bukan kah ini jalan yang kau pilih mas? jadi aku mohon jangan di persulit perceraian kita esok , ikuti saja mas, paling tidak lakukan itu untuk anak anak mu" ujar warna lembut tapi tegas


"Baiklah dek, saya akan mengabulkan permintaan kamu, saya tidak akan mempersulit perceraian kita, tapi paling tidak kembalikan motor yang kamu ambil serta uang yang kamu tarik dari buku tabungan saya, dan masalah rumah ini , ini rumah kita berdua , dan mari kita bagi dua" ucap Arsya tak kalah tegas , karena memang motor yang di pakai oleh Arsya setiap hari nya untuk bekerja juga di angkut paksa oleh warna, Warna membawa motor tersebut dengan mobil pick up tentu dengan bantuan pak Andy dan pak Dicki , sekarang motor tersebut aman di dalam rumah warna .


" Ha ha ha ha ngomong apa sich kamu mas, apa kamu lupa surat perjanjian yang kita sepakati mas, dan itu di atas materai , apa kamu lupa, masak iya kamu lupa mas, bukan kah kamu pernah membakar surat itu meskipun duplikat nya sich hehehe " ucap warna meledek Arsya


"Mas Arsya yang terhormat, dengarkan ini baik baik , pertama Rumah ini adalah hak anak anak kita yaitu Akbar Attar dan Zahira tentu untuk masa depan nya, kamu lupa sekolah itu mahal Lo, paling tidak ini adalah tabungan mereka ber tiga, kedua motor, apa kamu lupa mas Arsya motor itu , sejarah motor itu, apa kau lupa , aku menjual seluruh perhiasan ku, hasil tabungan ku semasa kerja sebelum aku menikah dengan mu untuk membeli motor tersebut, dan yang ke tiga masalah uang yang saya tarik , yang saya ambil dari buku tabungan, itu adalah jatah anak anak , anggap saja itu uang bulanan anak anak selama berapa bulan kedepannya, karena saya tidak yakin kamu akan memenuhi kebutuhan ketiga anak anak mu" ucap warna tegas


"tapi kamu tidak sopan berbuat sedemikian sama saya warna, kamu masih istri saya, kamu masih berkewajiban menghormati saya, jadi saya pintak kembalikan yang kau ambil, paling tidak sebagian dari uang itu" ucap Arsya keras


"No no no, OOO iya ada sich untuk kamu mas, sebenarnya ini tidak ada dalam surat perjanjian tapi saya tidak membutuhkan itu, lebih baik saya kasih saja ke kamu mas Arsya, tunggu sebentar ya mas , saya ambil dulu" warna berjalan ke kamar dan membawa tas besar yang berisi kain Arsya .


"ini mas" sambil membuka pintu dan meletakkan tas besar tersebut di depan Arsya , lalu warna menutup pintu besi Kembali...


Alhamdulillah..


terimakasih untuk semua nya yang sudah mampir..

__ADS_1


terimakasih atas like dan vote nya..


🙏❤️


__ADS_2