Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga

Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga
Bab 56. Sidang pertama dan kedatangan Arsya


__ADS_3

Disinilah warna sekarang, di depan pengadilan agama setalah melakukan sidang pertama bersama Surya dan bunda Kinara yang menemani karena Kinara lagi di rumah nya Surya bersama mama dan papa nya Surya , anak anak warna bersama adiknya Sari yang datang dari kampung demi untuk membantu sang kaka dalam mengurus perceraian nya.


Sidang pertama berjalan dengan lancar, namun karena tergugat (Arsya) hadir dalam persidangan dan tetap kukuh untuk mempertahankan rumah tangga nya pada sidang kali ini, hakim tidak dapat memutus kan cerai pada Arsya dan warna, tapi melalui mediasi atau perdamaian terlebih dahulu.


" Ayok kita makan siang dulu mam" ajak shindy, yang di jawab anggukan oleh warna


selang berapa menit sampai la mereka di sebuah restoran.


"oke mari kita makan, laper nya" ucap Surya


"kenapa sih harus pakai pakai mediasi segala, kenapa ngak langsung tokok palu, alias cerai gitu, kan gampang, ngak buang buang waktu aku dan aku juga ngak sabaran lagi mau memulai dan mau menata masa depan ku bersama anak anak ku, meskipun aku belum tahu apa rencana ku selanjutnya" ucap warna kesal


" Ya Allah mam, sabar mam sabar, selama ini mam sabar lo , masak nunggu sebentar aja ngak sabar sih mam" jawab bunda Kinara


"lagian ya mam, prosedur nya emang harus begini mam, ngak bisa langsung gitu gitu aja kali mam" sambung bunda Kinara


"prosedur prosedur, emang tahu apa kamu mengenai proses perceraian di pengadilan haha" ucap Surya mengejek


"hmm ini ni satu, meskipun aku bukan lulusan hukum kayak mas Surya yang pintar ini, tapi maaf ya aku juga tahu kali secara garis besar proses perceraian tersebut huu" balas warna , sedan kan warna geleng geleng kepala melihat kelakukan adik kakak sepupu ini.


"tapi benar tu di bilang Shindy na, sabar semuanya butuh proses" tutur Surya ke warna


"iya mas , makasih ya mas Surya " jawab warna dan di jawab dengan anggukan dan senyum oleh Surya .


.


.


.

__ADS_1


.


Dua jam kemudian mereka sampai di rumah.


"makasih ya mas, makasih bund, untuk semua nya" warna sambil turun di atas mobil


"oke sama sama" ucap mereka barengan


"Assalamualaikum" ucap warna mamasuki rumah


"waalaikumsalam mbak, udah pulang mbak, gimana mbak lancar?" tanya sari


"lancar dek, tapi entah berapa tahap lagi tokok palu cerai nya, oo iya anak anak tidur" ucap warna


"iya kak tidur, hmmm mbak, aku mau nanya boleh ngak" tanya sari


"nanya apa dek?" ucap warna


"iya dek, jadi ceritanya mereka manggil ayah ke mas Surya itu, pengacara yang bantu mbak, sepupunya bunda Kinara, mereka banyak membantu mbak dek, bunda Shasha pun banyak membantu mbak" ucap warna terharu


"Alhamdulillah mbak, mbak di kelilingi banyak orang baik dan tulus" ucap sari


"iya dek, Alhamdulillah, ya udah dek mbak mandi dulu gerah banget soalnya" jawab warna


"oke mbak" jawab sari sambil menekan telfon nya mungkin menelfon suami nya yang lagi luar kota urusan pekerjaan selama 2 minggu, makanya sari bisa leluasa nemanin warna disini , berhubung sari masih punya anak satu orang, jadi ngak ribet jika di bawa ikut ke rumah warna.


Belum sampai warna ke pintu kamar mandi, dengar pintu di ketuk ketuk .


tok tok tok Assalamualaikum

__ADS_1


"waalaikumsalam" jawab sari membuka pintu, sari menunjukkan muka kesal setalah pintu terbuka


"hmm untuk apa lagi mas datang kesini, dan ada perlu apa ya" ucap sari ke tamu yang datang , dan tak lain tamu nya adalah calon mantan suami nya warna Arsya


" kau tak punya hak, bertanya seperti itu kepada ku" ucap Arsya kesal


" OOO sekarang mas Arsya mau bicaha hak hak ya oke, sekarang aku mau bertanya ke pada mu mas Arsya yang terhomat, apa HAK anda mas Arsya, apa hak anda menyakiti kaka kandung saya beserta melukai hati keponakan keponakan saya , apa hak anda melakukan itu semuanya, bukan kah kewajiban anda membahagiakan mereka ha'" ucap sari tak kalah keras


" hmmm selama ini saya menjalankan kewajiban saya , kalau kamu tidak percaya tanya langsung saja ke kaka kamu warna " ucap Arsya bangga


"kewajiban mana yang kau jalani mas Arsya, hmm apa kewajiban mu memberi aku seorang madu saat aku hamil anak ke tiga dari mu, atau kewajiban mu yang tak bisa hidup dengan satu wanita, kewajiban yang mana mas Arsya " ucap warna dari belakang Sari


"bagaimana aku tidak mencari wanita lain warna, coba kau ingat bagaimana dirimu saat kau hamil, bagaimana penampilan mu, bagaimana pelayanan mu terhadap ku, bagaimana waktu kau untuk ku, di tambah lagi kau yang sering berpergian, mungkin di saat hamil Attar aku masih bisa menahan dan mentoleransi semua keadaan mu, tapi .." ucap Arsya di potong warna


" hmmm laki laki macam apa yang aku nikahi dahulu, ternyata aku salah besar menilai mu, sungguh aku tak menyangka kebodohan ku sebesar ini, mas Arsya yang terhormat bagaimana mungkin aku bisa memperhatikan penampilan ku sesempurna seperti dahulu, saat anak pertama mu memintak nasi, di saat itu pula anak kedua mu nangis mau minum susu, di tambah lagi mual , badan ngak enak an karena efek kehamilan anak ke tiga dari mu apa kau pernah berfikir sampai kesana, pasti tidak pernah bukan, karena kamu tak punya hati sebagai ayah dan sebagai suami, kamu hanya laki laki pengecut yang tahu enak nya saja , bukan kah begitu mas Arsya ?" ucap Arsya , sebelum Arsya menyelesaikan pembicaraan nya


"disaat itu, selain penampilan ku yang tak ku hiraukan, apa pernah aku tak menghiraukan kebutuhan mu mas Arsya, bagaimana pun kesibukan mengurus anak anak, membereskan pekerjaan rumah, apa pernah kau memakai baju kusut baik di rumah maupun pergi kerja, apa pernah kau tidak sarapan sebelum kerja, atau apa pernah kau kekurangan makanan karena aku tidak masak mas? tidak itulah jawaban mas, aku begitu mengabdi terhadap mu mas Arsya, ku relakan semuanya demi kamu mas, kamu dan anak anak prioritas pertama ku mas, sampai sampai aku lupa terhadap keadaan diri ku sendiri" ucap warna histeris karena tak sanggup menahan beban lagi karena saking kesal nya terhadap Arsya


"Sekarang pergi kau dari sini ,pergi dari rumah ku ini mas Arsya " warna teriak sekuat kuat nya tanpa ia sadari para tetangga nya keluar dan mendengarkan semua yang warna ocehkan tadi .


" ya Allah, pantasan saja warna sangat kurus sekarang , ternyata selalu makan hati sama si Arsya "


"memang lelaki tak tau di untung, udah ngak punya duit, wanita tak cukup satu"


" kau akan menyesal Arsya "


"kurang ajar kali si Arsya, tega mengkhianati istri saat hamil"


"pantas saja Akbar pernah bilang papanya jahat"

__ADS_1


itulah ocehan ocehan para tetangga Arsya , dan masih banyak lagi, Arsya hanya mematung karena malu di dekat pintu


__ADS_2