
Satu bulan telah berlalu, setelah melewati mediasi yang gagal untuk menyatukan warna dan Arsya kembali karena itulah yang warna inginkan akhirnya di persidangan selanjutnya warnah dan arsya sah berpisah baik secara hukum maupun agama. Arsya menyerah pada akhirnya walaupun sempat bersitegang tetap mempertahankan rumah tangganya.
Sekarang, disini lah warna dan anak anak nya di kampung halaman, di tempat warna di lahir kan. Satu hari setelah perceraian ia memutuskan pulang kampung terlebih dahulu untuk menenangkan hati dan jiwa bersama keluarga besar nya. Sekarang Attar sudah pintar berbicara, Zahira sudah memasuki 5 bulan , dan Akbar tahun depan ia akan sekolah.
Warna menghirup nafas panjang di tepi sungai, ia mengenang masa kecilnya yang indah bersama teman teman kecil nya dulu, bahagia tanpa kecewa sedih bahkan menangis. Ia tersenyum dan seperti nya sedang berterimakasih kepada dirinya sendiri karena sudah sekuat ini.
" Alhamdulillah , semuanya sudah selesai dengan baik walaupun memakan waktu yang cukup lama dan sedikit drama dari mas Arsya " gumam warna mengingat kejadian satu hari sebelum hari mediasi perceraiannya dengan Arsya.
Flashback on
Malam sebelum mediasi
" Akbar , Attar dengarin mama baik baik ya nak , besok mama ada keperluan lagi berhubung tante Sari ngak ada disini, jadi Akbar Attar dan Zahira besok di rumah dulu ya bersama bunda nya Kinara dan Shasha " ucap warna karena tak mungkin ia mengajak anak anak nya, warna tentu tak mau terukir dalam memori anak anak nya hal hal yang bersangkutan dengan pengadilan agama apa lagi masalah perceraian, bukankah nanti itu bisa saja jadi masa lalu nya yang kelam.
" Akbar besok bisa ngak bantu mama, Akbar bantu mama jaga adik adik ya, nurut sama bundanya Kinara dan Shasha , kalau semua nya selesai mama cepat pulang kok" ucap warna kepada Akbar
"siap ma, perintah dilaksanakan" ucap Akbar sambil memberi hormat kepada mama nya
"anak pintar,makasih sayang ku" jawab warna
Tok tok tok bunyi pintu di ketuk, warna membuka pintu di ikuti oleh Akbar
"Papa" ucap Akbar setelah pintu terbuka
"hai sayang, papa kangen kalian apa kabar Akbar dan Attar anak tampan papa " ucap Arsya dari luar pintu besi teralis karena warna tak membuka pintu tersebut
"kami bahagia bersama mama kok yah, kalau ayah kangen sama Akbar kenapa papa ngak datang waktu Akbar ulang tahun kemarin " ucap Akbar sedih tapi kesal
__ADS_1
"maafkan papa sayang, kemarin papa keluar kota untuk kerja " jawab Arsya berbohong
"memang nya papa tahu kapan Akbar ulang tahun " tanya Akbar, dan Arsya terdiam sejenak
"mmm ya tau lah masak ngak tahu anak papa ulang tahun hari apa" ucap Arsya
"emang kapan pa" tanya Akbar
"mmm hari hari..." Arsya terbata bata
" papa aja ngak tahu kapan ulang tahun Akbar masak sekarang papa bilang kangen, ayah Surya aja sampai beli beli kue untuk ulang tahun Akbar bahkan oma ,bang Niko dan dek Chika aja datang kemarin" ucap Akbar menjelaskan hari ulang tahunnya, tentu Arsya terkejut dan bertanya tanya siapa mereka dan sebenarnya warna juga sedikit kaget karena tak menyangka Akbar sampai menceritakan hal sedetil itu .
"Ayah Surya , siapa dia , oooo begini rupanya cara main mu warna ternyata kau ada main dengan pengacara mu sendiri pantasan saja kau begitu sangat mau bercerai dengan ku warna, atau jangan jangan kalian memang sudah lama main di belakang ku ya " Arsya dengan wajah bengis nya
"jangan kau sama kan aku dengan dirimu mas, kita berbeda kita tak sama , aku punya harga diri dan aku takut atas Tuhan ku berbeda dengan mu " warna sambil menunjuk Arsya
"Kalau begitu buktikan ucapan mu itu benar, kalau memang kalian tidak ada main di belakang ku" ucap Arsya
"Kalau kalian tidak ada main di belakang ku, ayok kita buka lembaran baru demi anak anak kita, kita lupakan masa lalu yang pahit aku mohon kepada mu warna, beri aku kesempatan sekali lagi" ucap Arsya seraya mengiba
" sudah berapa kali aku bilang mas apa pun yang terjadi aku tetap akan melanjutkan perceraian ku dengan mu , keputusan ku tetap berpisah mas Arsya " jawab warna tegas
" baiklah warna kalau itu yang kau mau, aku lebih baik mati dari pada harus berpisah dengan mu dan anak anak" Arsya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya , warna terkejut melihat bayg** Arsya mengeluarkan sebotol bayg**
"mau apa kamu mas Arsya, jangan gila kamu " ucap warna sedikit takut
"sekarang kamu pilih melihat aku mati atau kita kembali bersama " ucap Arsya, melihat yang di lakukan Arsya ,warna baru sadar ada Akbar yang juga melihat semua itu
__ADS_1
"Akbar sayang, sekarang sudah malam , kamu mau ngak ajak dek Attar ke kamar sebentar lagi mama nyusul, dan tutup pintu rapat rapat ya nak, Akbabolehr ngak buka pintu sebelum mama masuk ke dalam kamar " ucap warna ,dan di jawab anggukan oleh Akbar
"kamu memang sudah gila mas Arsya, dengan sengaja kau pertontonkan ketidak waras mu kepada anak anak mu" ucap warna bengis
" iya aku sudah gila karena kamu warna, jadi ayo kita kembali seperti dulu lagi kalau tidak aku akan meminum racun ini biarlah aku mati di hadapan mu" ucap Arsya dengan membuka baygon tersebut
"jangan gila mas Arsya ,pikirkan masa depan mu jangan mati dengan cara bodoh begini meskipun sebenarnya kau memang bodoh" ucap warna agak takut
"gimana ini kalau mas Arsya mati gimana di depan aku pula lagi, apa yang harus ku lakukan aku tidak mau berkasus baru lagi kalau ia benar benar meminum racun tersebut" ucap warna dalam hati
bersamaan dengan itu Arsya juga bergumam dalam hati ", gimana kalau warna membiarkan saya meminum ini ya, bisa kacau ini"
"pergilah dari sini mas Arsya , aku tidak akan menghalang halangi mu untuk berjumpa dengan anak anak mu nanti , jadi aku mohon berfikir lah secara jernih" ucap warna
"tidak warna, aku tidak mau pergi jika harus aku pergi dari kalian lebih baik aku pergi untuk selamanya lamanya " ucap Arsya makin mendekatkan botol racun tersebut ke mulut nya, warna panik dan langsung meminta tolong dari pintu rumah nya
"Tolong tolong tolong buk pak, tolong saya mas Arsya mau bunuh diri" teriak warna tentu tak berselang berapa detik para tetangga berkumpul ramai di depan rumah warna
"kenapa kak" ucap bunda Shasha kaget
"ini bund, mas Arsya mau bunuh diri dia mau minum racun" ucap warna takut
"ha' bunuh diri" ucap para tetangga serentak .
Bersambung ke episode selanjutnya..
author langsung ngetik episode selanjutnya kok..hehhehe
__ADS_1
author mintak like vote dan commentnya ya ..
terimakasih ❤️🙏