Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga

Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga
Bab 47 Main di teras rumah


__ADS_3

"Akbar mau nya main mobil mobilan dan robot robotan itu kemarin, sewaktu papa menolak ajakan Akbar, akbar mau seperti kawan kawan Akbar lainya, yang selalu main bersama ayah mereka bukan seperti Akbar" ucap akbar sendu


"iya sayang, maafkan papa ya nak, kemarin itu papa sibuk sekali, jadi Akbar mintak mama bukak kan pintunya untuk papa terlebih dahulu, setelah itu baru kita main lama lama nak, sampai Akbar puas, papa janji nak, papa janji" Arsya merayu


" Akbar memang ingin sekali bermain dengan papa, tapi sepertinya mamah sama papa lagi kelahi, lebih baik Akbar masuk kamar saja, Akbar main sendiri saja, kasihan mama , Akbar takut mama sedih dan menangis lagi seperti kemarin kemarin , dan mama juga sering nangis kalau lagi cerita sama bunda Kinara dan bunda Shasha " Ucap Akbar dalam hati, karena memang Akbar mengetahui dan melihat dari jauh warna sering menangis, apa lagi ketika warna sedang bersama dua bunda tersebut, tanpa mereka sadari Akbar mengetahui warna menangis.


"Akbar sayang, Akbar mau main sama papa nak?" ucap warna melihat Akbar sedih, karena warna tahu anak nya rindu bermain sama papa nya


"kasihan anak ku, korban dari semua ini, aku ngak mau jadi ibu yang egois, tidak yang namanya mantan anak bukan" kata warna dalam hati sambil berjalan mendekati Akbar


"Akbar mau main sama papa? kalau Akbar mau main sama papa , ngak apa kok nak" ucap warna mengusap muka anak nya


"akhirnya luluh juga si warna , anak anak senjata ku yang ampuh" ucap Arsya dalam hati


" Ngak apa apa mah, mama ngak marah?" tanya Akbar lembut


"ngak apa nak, tapi untuk sekarang akbar sama papa main robot robot dan mobil mobilnya di LUAR dulu ya nak, Akbar mainya di teras rumah aja , ngak apa kan nak?" tanya warna hati hati

__ADS_1


"ngak apa kok mah, malahan Akbar senang main di depan rumah, adem udaranya" Akbar girang


"ha' main di luar sini, sama aja bohong dong, berarti aku juga ngak boleh masuk dong, ah sial" ucap Arsya dalam hati


"eh kok main di luar sudah malam, kita main dalam rumah aja nak, udah malam lo dek, nanti Akbar masuk angin , angin malam ngak sehat" ucap Arsya merayu masuk ke dalam rumah


"kamu mau main sama Akbar atau ngak mas, kalau ngak mau pergi dari sini, tapi kalau ikhlas dan niat dari hati mu main sama Akbar, main di luar saja sampai pukul 09 malam aja, setelah itu silakan pergi dari sini" ucap warna tegas


"Sial ini si warna" umpat Arsya


Sekarang Akbar dan papanya Arsya sedang bermain di luar rumah, warna memperhatikan dari dalam rumah. Warna terharu melihat tawa anak nya, karena sudah lama ia tak melihat anak nya sebahagia itu dalam bermain.


"Mama lupa nak, kapan kamu main seperti itu dengan papa mu, selalu la bahagia nak, meskipun nanti papah dan mama mu ini tak bersama lagi" ucap warna dalam hati


" Semoga yang ku lakukan ini benar adanya, aku memang sedang mengurus perceraian ku dengan mas Arsya , tapi aku juga ngak mau egois , aku ngak mau menghalangi anak anak bermain dengan ayah nya sendiri" gumam warna pada dirinya sendiri. Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan 21.00 WIB


"Akbar , nak ayok masuk lagi, udah malam nak, saat nya tidur sayang, supaya besok Akbar bangunya pagi" panggil warna

__ADS_1


"oke mamah" ucap Akbar


"papah makasih ya udah temenin aku main, Akbar senang banget, Akbar masuk dulu ya pah" pamit Akbar, sambil menyalami tanyanya Arsya


"dadaaa papah" Akbar melambaikan tangan nya , begitupun dengan Arsya.


"terimakasih sudah meluangkan waktu mu yang berharga demi bermain dengan Akbar mas, sekarang mas boleh pergi dari sini, lagian kami juga mau istirahat lagi" ucap warna sambil mengunci pintu


"tapi dek kemana saya mau pergi, sedangkan " ucap Arsya


"Pergilah ke tempat yang biasanya kamu datangi mas, ketempat yang setiap kali kamu datangi tapi kamu selalu bilang ke luar kota kepada ku, pergilah kesana, atau mungkin pergilah ke pak satpam mu, Tantu ia akan setia menunggu mu mas, dan satu lagi mas aku mintak sama kamu, tolong jangan perumit perceraian kita mas, tolong hargai keputusan ku, karena apa pun yang kamu lakukan aku tetap pada keputusan ku mas, lagi pula kamu sendiri yang memilih jalan ini kan mas, sekarang pergilah " ucap warna sambil menutup semua pintu, dan tak menghiraukan lagi suara suara yang di balik pintu tentu suara nya Arsya manggil manggil warna .


"Saatnya aku istirahat , hmmm melelapkan tubuh yang lelah, hmm udah diam aja, mungkin mas Arsya udah pergi , syukur deh" ucap warna setelah melaksanakan sholat.


Terimakasih yang telah mampir di Aku di madu saat hamil anak ke tiga. Terimakasih juga yang telah like dan vote serta yang telah memberi hadiah.


🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2