Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga

Aku Dimadu Saat Hamil Anak Ke Tiga
Bab 62. Masih flashback on bayg**


__ADS_3

"ha' bunuh diri" ucap tetangga serentak .


"iya dari pada saya harus berpisah dengan anak anak saya, bercerai dengan warna lebih baik saya mati dan meminum racun ini, saya benar benar ingin berubah dan bertaubat jadi saya mohon kepada bapak bapak dan ibuk ibuk disini tolong bilang ke warna untuk memberi saya kesempatan sekali lagi, saya ingin berubah" ucap Arsya terduduk dan menangis tentu sambil memegang racun yang ia pegangi.


"saya tidak yakin Arsya bisa berubah, mana bisa anjing berhenti makan taik"


"kasihan juga sih Arsya kayaknya beneran mau berubah itu"


"alah yakin itu"


"pilihan yang sulit untuk warna "


"ngak akan berubah itu, saya dengar dengar sudah berulang kali tuh si Arsya selingkuh"


masih banyak lagi kicauan para tetangga , namun tak dihiraukan oleh Arsya . Namun yang aneh nya pak Diki suaminya bunda Kinara malah ikut jongkok dekat Arsya duduk


"ayah ayah ngapain juga ikut dia duduk" tanya bunda Kinara heran dan tepuk jidat, tapi di jawab geleng geleng oleh pak Diki


"apaan sich yah geleng geleng ayo berdiri nanti ketularan dia lagi" ucap bunda Kinara kesal melihat laku suaminya


" Arsya silakan berdiri, saya akan membantu mu untuk kembali ke pada warna" ucap pak Diki yang membuat orang orang disana terkejut apa lagi istrinya shindy dan warna


"ayah apa apa an sih udah tau kan kelakuan dia gimana, mau bela laki laki penghianat ayah ha' mentang mentang sama laki laki gitu ha' " ucap bunda Kinara marah dengan tangan di pinggang, tapi tidak di tanggapin oleh pak Diki, dia hanya meletakkan jari telunjuk di hidungnya dengan artian diam terlebih dahulu

__ADS_1


"makasih pak Diki, memang laki laki sejati yang mengerti saya " sanjung Arsya


"ya ya, baiklah pak Arsya anda ingin kembali kan bersama mbak warna , sekarang buktikan saja kalau anda bersungguh sungguh dengan ucapan anda" kata pak Diki serius


"maksud pak Diki" tanya Arsya tak mengerti


"anda minum saja cairan yang di botol itu, lagian saya yakin anda tidak semudah itu meninggal , paling nanti anda sekarat terlebih dahulu dengan begitu anda membuktikan keseriusan anda ingin berubah kepada mbak warna " jawab Diki santai, membuat orang yang disana membelalakkan mata tak percaya dengan omongan pak Diki


"aduh pak Diki nanti kalau dia meninggal disini dengan cara begini, perumahan kita bisa Angker " ucap pak Andy merinding


"sialan pak Diki, sama saja dia menjebak saya, apa dia sudah tahu ya" gumam Arsya dalam hati


" ayo di minum saya pak Arsya, sini saya bantu" ucap Diki mengambil botol tersebut membuat orang orang disana tambah terkejut


"iya pak Andi, buang saja itu racun dan usir aja mas Arsya dari sini" ucap warna yang sudah keluar dari tadi dari rumah nya


"hmmm tidak usah kwatir, ini saya minum kan" pak Diki memaksa Arsya minum cairan tersebut tapi Arsya mengelak dan cairan tersebut bahkan membasahi mukanya Arsya


"hahaha hahaha kenapa ngak di minum saja pak Arsya, kan cuma air putih biasa isinya hahahaha hahha jangan membodohi kami dengan hal hal yang seperti ini lagi , sekarang pergi la dari sini secepatnya mengganggu waktu istirahat orang saja" ucap Diki kepada Arsya .


"huuu huuu huuu huuuu" sorak para tetangga heboh


"racunnya air minum kirain original hahaha" ucap yang lain

__ADS_1


"kenal mental si kawan" ucap bapak yang lain


"brengsek kalian semua" ucap Arsya sambil meninggalkan tempat tersebut


"pergi sana jauh jauh jangan kembali lagi" ucap ibuk yang lain


"tapi ngomong-ngomong pak Diki hebat juga bisa tahu itu bukan original hehehe" ucap pak Andy


"hahah saya heran saja kenapa bayg** tersebut tidak berbau seperti biasanya, makanya untuk memastikan nya saya rela juga jongkok ikut bersama si Arsya dan mencium aroma dari botol tersebut ternyata benar bahkan secuil bau bayg** aja tidak ada yang tersisa" ucap pak Diki tertawa


" terimakasih bapak bapak ibuk ibuk dan saya mohon maaf sekali karena sudah mengganggu waktu istirahat nya, sungguh saya tidak tahu kalau yang di botol itu cuma air putih biasa" ucap warna merasa bersalah


"ngak apa warna, sudah sepatutnya tetangga saling membantu " ucap ibuk mur.


Flashback off


Semenjak kejadian tersebut Arsya tidak pernah lagi datang ke rumah warna , bahkan disaat mediasi dia tidak terlalu bersikeras mempertahankan rumah tangganya hingga akhirnya mediasi berjalan dengan yang warna mau. persidangan selanjutnya warna dan Arsya sudah sah bercerai dan sudah tokok palu.


Terimakasih telah mampir..


jangan lupa kasih like vote nya ya..


🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2