
"mah kita ngak balek ke rumah kita lagi?" tanya Akbar lagi menemani warna yang sedang memasak untuk makan malam
"mmm pulang dong nak, masak iya ngak pulang tapi untuk sekarang kita berlibur di kampung kakek dulu " jawab warna sambil memasak
"kapan mah, Akbar sudah rindu Kinara, Shasha , bang Niko kak Chika apa lagi ayah surya," tutur Akbar antusias
"hmmmm sabar dulu ya nak, ngak lama lagi kita pulang ke kota ya" jawab warna
Disini lain Surya dan kedua anak nya lagi berada di rumah bunda nya Kinara .
"bund, mama warna kapan pulang nya ya lama kali" tanya Niko ke bunda Kinara
"iya bunda, Chika udah rindu banget mau di suapin mama" ungkap Chika
"bentar lagi sabar aja dulu, tapi sebelum mama warna pulang bunda yang suapin Chika dulu mau ngak?" tanya shindy
"mau bunda " jawab Chika
" hemm anak anak aja bisa menilai mas , masak iya mas ngak ada rasa apa gitu" tanya shindy ke Surya
" rasa apa? dia baru bercerai lo dek masak iya dia langsung mau nikah sama mas mu ini" jawab Surya
"ha' emang siapa yang suruh mas nikahin dia secepat kilat mas, ngak tahan lagi emang nya mas?" ledek shindy
" ngak lo maksud mas itu ..."
"ya itu mas heheheh iya mas aku ngerti , maksud aku jangan ajak nikah langsung lo mas, kan bisa pendekatan dulu keg atau apa gitu lo mas, berteman baik dulu hingga teman hidup kelak" tutur shindy memotong pembicaraan Surya
"itu ku kirim pesan ke handphone mas ya, alamat di kampung nya mbak warna mana tau anak anak kebelet kangen banget, langsung bisa gooo ke kampung nya, kan ngak jauh amat kampung dia dari kota mas masih satu provinsi pun mas", ucap shindy tersenyum kepada Surya
"kamu itu ya shind, ngeledek orang nomor satu tiada duanya , hebat kamu luar biasa" jawab Surya
Di dunia lain Arsya sedang menikmati dunia baru nya bersama Wati di sebuah kafe
__ADS_1
"jadi kapan mau nikahin aku mas", tanya Wati kepada Arsya
"sabar dulu sayang, perusahaan tempat mas bekerja lagi banyak masalah ini, gaji bulan ini aja belum keluar mana mas mau beli motor lagi, meskipun motor seken " ucap Arsya mengeluh
"terus kalau gaji mas belum keluar, yang bayar ini semua siapa" tanya Wati melihat makanan di atas meja
"pakai uang kamu la sayang, untuk sekarang boro boro aku bisa bayar makanan ini beli rokok sebungkus aja aku ngutang di kedai sebelah kos ku" Surya curhat
"kamu ini mas, udah cerai sama warna kok malah kere banget sih mas, masak setiap keluar aku selalu yang bayar" ucap Wati kesal
"nanti aku ganti sayang setalah semuanya normal, sekarang aku benar benar bingung" jawab Arsya
"kalau gini caranya lebih baik aku cari yang jauh lebih mapan , mas Arsya wajah si oke tapi dompet kosong, dulu sih iya banyak duit tapi setelah bercerai kere banget" ucap Wati dalam hati
Di tempat lain warna dan pak Samsu beserta saudara saudara mereka lagi berkumpul di ruang tamu .
"jadi gimana na, apa ngak sebaik nya kamu menetap saja di kampung , rumah di kota bisa jadi aset tabungan anak anak mu" ucap ayah
"Iyah mbak, benar kata ayah " ucap Aryo adik laki laki warna
" jadi usaha apa nanti yang akan kamu lakukan sedangkan mengurus 3 anak kamu udah kerepotan nak" ucap ayah warna
"nanti selain warna tetap jualan online , warna juga akan buka usaha catering yah , sebelum catering warna maju warna akan membuat kue sambal dan lain sebagainya warna akan titip ke setiap warung dulu yah" ucap warna yakin
"dan rencana nya warna juga akan membeli baju baju harian yah untuk di jualin ke ibuk ibuk perumahan jadi ibuk ibuk tersebut bisa lihat langsung barangnya ke rumah yah" sambung warna
" itu kan butuh modal yang lumayan mbak, belum lagi nanti barang nya numpuk ngak laku gimna " ucap sari agak ragu
"yang penting usaha dek, berdoa dan hasilnya serahkan ke yang maha kuasa dan masalah modal Alhamdulillah mbak masih ada tabungan di bank" ucap warna
"dari kapan mbak punya rekening bank, asyik udah gaul lagi nih mbak tertua aku " ucap Bagas
"heheh semenjak mbak mengambil uang dari buku tabungan mas Arsya sebelum penggerebekan itu, lumayan 10 jutaan heheh" ucap warna sumringah
__ADS_1
"itu baru keren " ucap sari
"apa tidak baik kamu mengolah apa yang bagian kamu nak, seperti adik adik mu telah mengolah bagiannya masing masing" ucap ayah berdiri dan melihat keluar
" yah aku janji akan mengolah kebun yang bagian ku , untuk masa depan anak anak ku, tapi jujur yah aku ngak bisa meninggalkan rumah di kota yah, dan rasanya terlalu berat meninggalkan rumah tersebut meskipun di akhiri dengan drama yang pahit yah" ucap warna sedih
"memangnya kenapa kau tak mau tinggal di kampung ini warna, apa karena kata kata ku semalam " ucap bulek katini datang tiba tiba .
"kamu sakit hati karena ku bilang menyusahkan ayah mu dengan tiga anak mu" sambung bulek nya warna
"ngak bulek warna ngak sakit hati kok, meskipun bulek tidak ngomong seperti itu warna akan tetap melanjutkan hidup di kota bulek" ucap warna
"Dengarkan aku nak, hidup ini sangat berat dan kejam apa lagi dengan menjadi janda mempunyai tiga anak, bulek sudah merasakan kepahitan hidup itu , dan bulek berdoa supaya kamu dan ketiga anak anak mu tidak pernah merasa kan apa yang bulek rasakan dulu" ucap bulek katini mengingat masa lalu nya saat menghidupkan empat orang anak tanpa suami, karena suami bulek katini meninggal karena kecelakaan kerja di kebun sawit
"bulek " ucap warna menangis memeluk bulek nya
"jangan menangis warna , ini lah hidup nak kamu tahu dulu ayah dan ibumu la yang selalu membantu bulek, ayah mu sering mengantarkan satu karung beras ke rumah bulek karena ibu mu tak kuat mengangkat beras tersebut , tapi rupanya ada mata jahat dan mulut racun yang bertebaran di kampung ini, kamu tahu nak apa yang mereka bicarakan " tanya bulek
" Katini tega merebut suami adiknya sendiri, janda gatal , hati hati ada janda gatal di kampung kita yang rela menyakiti hati adiknya sendiri demi kebahagiaan nya sendiri, dan banyak lagi kata kata yang menyakiti hati bulek saat itu nak" sambung bulek katini
" bulek harap kamu paham mengapa bulek menceritakan semuanya ini ke kamu na, supaya kamu tahu nak menjadi janda tidak la mudah, FITNAH bisa datang dari mana saja, jadi sebelum itu semua terjadi hindari fitnah serta omongan orang itu jauh lebih baik nak" ucap bulek memegang kadua lengan warna
"iya bulek, warna paham terimakasih bulek " ucap warna memeluk bulek nya lagi.
Peluk pelukan usai setelah mendengar bunyi mobil berhenti di depan rumah warna , ayah warna keluar untuk memastikan
"maaf pak cari siapa ya" ucap pak Samsu karena memang beliau tidak mengenal siapa yang datang
"saya Su.." Sebelum Surya menyelesaikan omongan nya Chika keluar dari mobil dan berteriak
"Mama warna ....." ucap Chika turun dari mobil yang kebetulan warna juga baru melewati pintu
"Mama" ucap keluarga warna terkecuali sari karena sudah mengetahui cerita nya..
__ADS_1
terimakasih suport nya..
jangan lupa like dan vote ya..