
Dika Dan Satria Janjian Mau Menghabiskan Hari Berduaan.
Hari ini adalah hari Sabtu. Di hari Sabtu Dika biasanya tidak pergi ke kantor kecuali ada urusan yang mendadak dan penting sekali. Sama seperti hari ini Dika tidak ke kantor melainkan akan pergi ke rumah sakit sesuai janjinya pada Maya dan adiknya itu.
Saat ini mereka semua sedang sarapan. Merupakan hal yang sangat langkah mereka semua dapat sarapan bersama di satu meja yang sama mengingat kedua kakaknya Dika sudah punya keluarga dan rumah masing-masing yang membuat mereka susah bertemu satu sama lain.
"Dik, hari ini kamu mau kemana? Kok rapi banget. Perasaan kakak kan kamu nggak kerja hari Sabtu dan Minggu makanya kakak datang ke sini."Celyn memulai pembicaraan.
"Ooo Dika mau ke rumah sakit sebentar kak. Ada mamanya teman Dika yang sedang di rawat di sana. Semalam dia dioperasi kak."Jawab Dika.
"Wah.. Parah ya penyakitnya pake harus dioperasi segala?"Celyn penasaran.
"Awalnya sih nggak parah kak. Tapi karena dibiarkan terus hingga akhirnya jadi parah dan kalo nggak dioperasi mamanya bisa menghadap Yang Maha Kuasa."Jelas Dika.
"Om.. Om.. Menghadap Yang Maha Kuasa itu apa om?"Satria yang tak mengerti spontan bertanya pada Dika.
"Itu artinya meninggal sayang."Ucap Dika santai
"Oo meninggal. Kenapa nggak langsung di bilang meninggal saja sih om supaya kita semua bisa mengerti."Protes Satria.
"Di meja makan ini kan hanya kamu yang nggak tau artinya itu sayang. Makanya kamu harus lebih banyak belajar lagi ya."Saran Dika pada Satria.
"Iya deh om. Besok Satria suruh mama beli KBBI deh. Maukan ma?"Kata Satria.
"Loh, buat apa KBBI itu sayang?"Tanya Celyn heran.
"Ya buat Satria hapalin satu per satu kata yang ada di sana bersama dengan artinya. Supaya perbendaharaan kata Satria nggak sedikit ma."Jawab Satria polos.
"Hahahha..!!" Semua orang di situ tertawa melihat ulah lucu Satria
"Ya sudah nanti belinya sama om mau? Tapi memangnya kamu sudah bisa membaca?"Tanya Dika.
__ADS_1
"Bisa dong om. Satria..!!"Satria menyombongkan dirinya.
"Baiklah kalo begitu. Om senang dengarnya."Ucap Dika.
"Oh iya Dika, memang teman kamu yang mana yang mama nya sakit? Apa Jessy? Setau kakak kan teman kamu cuma Jessy."Celyn mengatakan yang dia tahu.
"Iya sih kak. Hahahha. Itu teman baru kenal kak. Kemaren Dika hampir menabrak cewek itu hingga dia terjatuh dan kaki dan tangannya luka karena terkejut sambil menghindari mobil Dika."Jelas Dika di permulaan.
"Cewek Dika? Masih muda?"Dinar kepo.
"Masih muda kak. Paling dua sampai tiga tahun di bawah umurnya Dika. Cewek itu namanya Maya. Dia mirip sekali dengan Kak Celyn."Cerita Dika.
"Mirip kakak? Masa?"Celyn nggak percaya.
"Mirip kak. Maya itu cuma tinggal bertiga di rumahnya. Maya punya ibu dan seorang adik laki-laki. Mereka hidup miskin sejak papanya meninggal dan ibunya pun sakit-sakitan. Maya lah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Walaupun dia masih muda dia tangguh seperti kak Celyn saat belum menikah dengan mas Dimas."Cerita Dika berapi-api saking semangatnya.
"Wah.. Kayaknya ada yang mulai jatuh cinta nih. Tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama."Ledek Dinar.
"Hahahhaha. Sekarang sih memang masih kagum Dika. Lama-lama bisa jadi cinta. Sama seperti mas sangat pertama kali mengenal kakak kalian Celyn. Kekaguman itu adalah benih-benih cinta."Ledek Dimas yang sedikit menceritakan tentang kenangannya dengan Celyn.
"Ya ampun mas Dimas. Kok ikut-ikutan kak Dinar sih ngeledek Dika."Dika pura-pura manyun.
"Kalian semua jangan meledek cucu kesayangan nenek dong. Kasian dia kan manyun karen di ledekin. Gantengnya jadi berkurang deh."Bela Nek Imah pada Dika.
"Iya. Jangan ledekin om nya Satria. Nggak boleh. Satria bakalan belain om Dika. Walaupun itu dari mama dan papa."Kata Satria membela om nya.
"Makasih ya Satria sayang. Kamu benar-benar pembela om deh. Om tambah sayang sama Satria. Sini sini om peluk deh."Kata Dika.
Satria pun menghentikan makannya lalu berlari ke pelukan Dika. Mereka semua yang ada di situ hanya tersenyum melihat kekompakan antara om dan keponakannya itu.
"Mama nggak dipeluk ya Satria?"Celyn pura-pura ngambek.
__ADS_1
"Untuk hari ini dan besok mama dipeluk papa saja ya. Satria mau peluk om Dika saja sampai puas. Kan jarang-jarang Satria bertemu dengan om Dika."Satria menjelaskan masih sambil memeluk Dika.
"Oo gitu ya Dika. Jadi khusus dua hari ini kita musuhan ya Satria?"Tanya Celyn.
"Nggak musuhan mama sayang. Satria mau menghabiskan dua hari ini sama om Dika. Besok-besok kan nggak bisa lagi. Kalo sama mama kan tiap hari bisa pelukan. Soalnya kita kan serumah ma."Jelas Satria sangat polos.
"Iya kak. Nggak apa-apa kok. Dika juga kangen sama Satria."Kata Dika.
"Kamu nggak kerepotan nanti?"Tanya Celyn.
"Ya nggak lah kak. Malah Dika senang ada mainan Dika dua hari ini."Ucap Dika santai.
"Mainan om? Om mau beliin Satria mainan? Mau om. Mau om. Ayo kita beli sekarang."Satria semangat mendengar kata mainan.
"Ya sudah. Habis makan kita ke rumah sakit dulu baru kita ke gramedia baru kamu bisa main apapun yang kamu mau lalu kita beli mainan apapun yang kamu mau. Pokoknya seharian ini hanya milik kita berdua Satria."Kata Dika pada Satria.
"Asyik..!! Bolehkan ma? Bolehkan pa?"Tanya Satria meminta izin sama papa dan mamanya
"Boleh dong. Tapi ada syaratnya."Ucap Celyn.
"Apa syaratnya ma?"Tanya Satria.
"Kamu jangan merepotkan om Dika dan jangan jauh-jauh dari Dika. Ingat ya. Jangan nakal."Celyn mengingatkan Satria.
"Siap bos. Satria nggak akan nakal kok. Hari ini Satria akan jadi anak terbaik dan termanis di dunia. Janji deh."Satria membuat dua jari ke atas tanda dia berjanji pada mamanya.
"Baiklah mama percaya sama kamu. Sekarang kamu habiskan makanan kamu supaya kamu punya tenaga nanti jalan bersama om Dika."Suruh Celyn.
"Siap bos mama."Satria menjawab singkat.
Satria dengan penuh semangat menghabiskan sarapannya. Lalu dia meminum susunya sebagai pelengkap sarapannya supaya Satria sehat dan kuat menghadapi hari ini. Dika yang melihatnya pun hanya tersenyum senang. Kecerian itu jarang sekali dilihatnya karena kesibukan Dika sehari-hari. Dika pun menghabiskan makanan nya dengan cepat agar bisa membawa Satria bersamanya seharian ini.
__ADS_1