Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 33


__ADS_3

Milea Melakukan Rencananya Mencelakai Maya.


Milea memperhatikan semua gerak gerik Maya dari tadi. Dia menunggu di dalam mobilnya sampai jam pulang kerja Maya selesai di cafe itu. Milea menunggu keadaan cafe sepi sehingga tak ada saksi dan bukti Milea mencelakai Maya nantinya.


Jam di tangan Milea sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Milea yang parkir agak jauh pun melihat seluruh pengunjung cafe dan para karyawan pun sudah pulang.


Maya pun mempersiapkan barang-barangnya agar dia dapat pulang ke rumahnya.


"Udah jam segini. Besok pagi sebelum ke cafe aja deh aku ke rumah nenek dan mas Dika. Udah malam gini pasti nenek pun sudah tidur. Nggak enak kalo Maya datang dan mengganggu tidurnya nenek itu."Batin Maya.


Maya pun membawa tasnya dan laporan keuangan yang sudah dia siapkan sedari tadi pulang supaya besok dia bisa langsung ke rumah nek Imah sebelum ke cafe.


Maya melihat cafe dan jalanan sudah sepi. Hanya tinggal dia sendiri yang ada di seputaran jalan itu. Maya pun berjalan menuju halte bus yang tak terlu jauh dari sana.


Melihat Maya sudah keluar dari cafe dan sedang berjalan sendirian ke halte bus di sana. Milea pun mau menjalankan rencananya. Milea ingin memberi peringatan pada Maya yang tak kunjung menjauhi Dika malah semakin dekat saja dengannya.


Maya yang sedang berjalan sendiri merasa kalo dirinya diikuti seseorang dari belakang. Milea menunggu sampai dia yakin nggak ada orang lagi di sana lalu mencoba mencelakai Hilda.


Setelah memastikan keadaan aman dan Maya hanya tinggal sendirian di jalan itu, Milea pun menjalankan mobilnya dan menginjak gas agar menyenggolkan mobilnya pada Maya.


***** Brrukkk...!****


Milea berhasil menyenggol tubuh Maya dengan mobilnya. Maya pun terjatuh dan kesakitan di pinggir jalan itu. Untungnya Maya tidak banyak terluka. Hanya tangan dan lutut kakinya saja yang lecet karena tercium aspal saat jatuh tadi.


Melihat Maya terjatuh di sana, Milea pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Maya yang masih terduduk di pinggir trotoar itu.


"Hahaha... Gimana cewek gembel..!! Sakit???"Tanya Milea sinis.


"Milea??"Kata Maya sambil meringis kesakitan.


"Iya ini gue. Apa elu masih mengenal gue?"


"Kenapa kamu melakukan ini sama aku? Apa salahku?"Tanya Maya.


"Hahaha.. Jangan belagak nggak tau deh. Elu kan udah gue peringati jangan dekati calon suami gue. Kenapa elu masih gatal saja sama dia? Cari dong cowok selevel sama elu yang sama gembelnya dengan elu."

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti."


"Jangan belagak pilon deh. Elu udah berhasil gue keluarin dari kantor supaya jauh dari calon suami gue ehh sekarang malah makin dekat sama dia."


"Maksud kamu mas Dika?"


"Ya iyalah emang siapa lagi?"Tanya Milea dengan suara meninggi.


"Aku nggak ngerebut mas Dika dari siapapun. Dika kan masih single. Dia nggak punya hubungan apapun dengan siapapun. Jadi aku merasa nggak merasa salah sama sekali."


"Kurang ajar. Dasar cewek gembel sialan. Elu bermimpi ya jadi cinderella dalam semalam ya? Jangan mimpi deh. Dika itu milik gue dan nggak ada yang boleh ngemilikin dia selain gue."


"Kamu yang mimpi..!! Aku tak pernah mendekati Dika. Keadaan lah yang membuat kita jadi dekat."Ucap Maya.


"Hahahah... Benar benar cewek gembel nggak tau diri."Milea marah dan hendak menampar Maya.


Secepat kilat Maya menangkap tangan Milea yang hendak menamparnya. Maya pun mencoba berdiri dan menghempaskan tangan Milea dengan kasar.


"Beraninya elu ngelawan gue. Udah bosan hidup ya?"Milea semakin emosi.


"Kita lihat aja nanti. Apa elu sanggup melawab gue. Elu dengan kemiskinan elu yang menyedihkan itu. Gue pastikan elu pasti akan dikeluarkan dari cafe itu sama seperti gue berhasil menendang elu dari perusahaannya Dika waktu itu."Milea keceplosan


"Jadi, kamu yang merekayasa foto itu dan menyebarkannya di medsos? Kurang ajar kamu. Percuma saja kamu mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi dan kaya tapi jalan pikiran kamu sangat dangkal dan tak punya perasaan."


"Hahahaha... Ngapain gue memikirkan perasaan elu? Emangnya elu siapa? Sudah seharusnya gembel kayak elu tuh dipijak -pijak kayak gini. Gembel kayak elu tuh harusnya dibinasakan dari muka bumi ini. Bikin semak aja."


"Ingat Milea, diatas langit masih ada langit. Roda kehidupan akan selalu berputar. Nggak selamanya kamu itu kaya dan berada di atas. Bisa jadi besok besok kita bertukar tempat. Kamu yang berada di bawah. Jadi aku sarankan agar kamu tidak kelewat sombong. Allah mendengar doa hambaNya yang teraniaya."


"Hahahha... Nggak mungkin. Gue tuh udah ditakdirkan kaya seumur hidup. Nggak mungkin lah gue bakalan jadi gembel kayak elu. Jangan bermimpi."


"Kita nggak tau apa yang terjadi di masa depan Milea. Jangan terlalu sombong."Maya mengingatkan.


"Hahahhaa... Udah ahh malas ngomong sama gembel kayak elu. Buang-buang waktu gue yang sangat berharga saja. Bye gembel..!! Selamat menikmati penderitaan seumur hidup elu ya..!! Dan ingat jangan dekati mas Dika kalo elu nggak mau gue bertindak lebih jauh dari ini."Milea memperingatkan Maya sebelum pergi dari sana.


Milea pun mendorong Maya hingga dia jatuh kembali di pinggir trotoar itu. Milea pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Maya yang masih terduduk di samping trotoar itu.

__ADS_1


Seperginya Milea, Maya berusaha untuk berdiri. Dia mencoba terus untuk berdiri tapi susah sekali. Hingga akhirnya, saat Maya hendak berdiri ada orang yang membantunya berdiri.


"Makasih mas..!!"Kata Hilda spontan tanpa melihat orang yang menolongnya.


Setelah berdiri, Maya membersihkan tangan dan kakinya yang lecet itu dari debu-debu jalanan yang menempel lalu melihat siapa orang yang menolongnya barusan.


"Kamu nggak apa-apa May?"Tanya Dika.


"Mas Dika??"Maya terkejut melihat kehadiran Dika di sana.


"Iya ini aku May. Kamu kenapa bisa jatuh dan terluka gini? Kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Ayo kita ke rumah sakit May..!!"Dika khawatir.


"Maya nggak apa-apa mas. Tadi Maya jalan trus kesandung batu jadi Maya terjatuh."Jelas Maya bohong.


"Nggak mungkin aku bilang kalo aku dicelakai oleh Milea mas. Walaupun memang benar tapi aku nggak akan ngomong apapun."Batin Maya.


"Ya sudah kalo gitu mas antar pulang ya..!!"Ajak Dika.


"Nggak usah mas. Nanti ngerepotin mas."


"Mas kan memang datang mau ngejemput kamu May."


"Kenapa mas? Kok tumben?"


"Mas ingat kamu tadi bilang mau kerumah. Tapi mas lihat jam sudah jam sepuluh kamu nggak datang-datang jadi mas susulin ke sini. Mas takut kamu kenapa-kenapa kalo jalan sendiri ke rumahnya mas."Jelas Dika.


"Iya tadi Maya ngerjain laporannya sampai lupa waktu ternyata sudah malam. Jadi Maya memutuskan besok saja mengantar laporannya ke rumah nenek sebelum Maya ke cafe. Tapi karena nggak ada ojek yang lewat Maya berjalan ke halte mana tau ada taxi atau ojek yang lewat tapi Maya malah terjatuh mas. Untung mas tolongin Maya."Kata Maya.


"Ya sudah mas antar pulang aja. Biar kita obatin lukanya di rumah kamu. Udah malam gini. Nggak baik anak gadis pulang malam sendirian."Ucap Dika perhatian.


"Wah mas Dika perhatian sekali sih. Aku kok jadi senang gini ya."Batin Maya.


"Iya mas. Ayo kita pulang."Ajak Maya.


Maya pun masuk ke mobilnya Dika dibantuin Dika. Maya berjalan tertatih karena kakinya yang perih karena jatuh tadi. Dika membukakan pintu mobil dan membantu Maya masuk ke dalam.

__ADS_1


Setelah Maya masuk dan duduk tenang, Dika pun menjalankan mobilnya dan mengantar Maya pulang ke rumahnya secepat mungkin supaya Maya bisa mengobati lukanya.


__ADS_2