
Maya Akhirnya Bisa Bicara Dengan Dika Setelah Dua Minggu Bekerja Di Kantor Dika.
Milea yang malu karena bajunya basah tersiram air oleh Maya, menyimpan dendam padanya.
"Dasar gembel sialan. Seenaknya aja dia nyiram air ke baju gue. Memangnya dia pikir dia itu siapa? Kalo aja Dika nggak di situ dan ini kantor gue sudah pasti gue akan pecat dia saat ini juga. Ini lagi Dika pake belain tuh cewek lagi. Sebel deh." Milea ngedumel sendiri saat berjalan ke arah mobilnya dan mengganti bajunya yang basah.
Setelah mengganti bajunya dan memperbaiki make up nya agar tetap terlihat cantik dan menarik di hadapan Dika untuk menarik perhatian Dika, Milea pun kembali ke dalam kantor itu dan naik ke lantai sepuluh tempat ruangan Dika berada.
Tanpa rasa malu sedikitpun, walau banyak yang berbisik-bisik saat melihatnya, Milea tetap mendongakkan kepalanya dan membusungkan dadanya seakan tak ada yang terjadi padanya. Dengan langkah santai dia pun berjalan. Seakan dia berjalan di cat walk sambil memamerkan keindahan tubuhnya.
Sampai di lantai sepuluh Milea pun, langsung masuk ke ruangan Dika tanpa memperdulikan ada Jessy yang berada di depan ruangan Dika. Milea melangkah seakan dialah pimpinan perusahaan di sini. Dengan pede nya dia masuk ruangan itu, saat papanya Milea dan Dika membicarakan bisnis baru mereka.
"Isshh tuh orang sombong banget. Gayanya selangit. Padahal dia cuma putri seorang pengusaha yang hampir bangkrut. Memangnya dia kira aku nggak tau apa. Gini-gini aku update soal pengusaha-pengusaha di dunia ini apalagi di Indonesia. Aku senang tuh si Maya nyiram dia pake air. Aku yakin Maya sengaja melakukannya. Pasti perempuan sombong itu membuatnya kesal."Batin Jessy mengumpat Milea.
"Maaf ya, saya agak lama."Milea berkata pada Dika dan papanya yang ada di ruangan itu.
"Kamu sudah ganti baju, sayang?"Tanya Pak Ricko papanya Milea.
"Sudah pa. Sebel banget ngeliat OG itu. Buat aku repot aja harus ganti baju segala karena kecerobohan dia."Omel Milea.
"Dia nggak sengaja Milea."Dika membela Maya.
"Kok mas Dika malah ngebelain dia sih? Kan sudah jelas-jelas dia salah kenapa masih dibiarin kerja sih? Harusnya mas pecat dia supaya dia nggak mengulangi kesalahan yang sama dengan tamu yang lain."Milea bersikeras agar Dika memecat Maya.
"Bukan ngebelain Maya. Di satu sisi dia itu karyawan saya. Dan saya sangat menghargai mereka. Tidak mungkin karena kesalahan kecil saya langsung pecat dia."Jelas Dika.
"Tapi mas..!!"Ucapan Milea terputus karena dicegah papanya.
"Sudah.. Sudah Milea. Kita tamu di sini. Kita nggak boleh mengatur apapun atau mengubah peraturan apapun di sini."Papa Milea memberi kode agar Milea berhenti mempermasalahkan masalah yang nggak penting.
Tak berapa lama ruangan Dika di ketok oleh Maya. Dia datang membawakan minuman untuk tamunya Dika. Memang sudah tugas Maya untuk memberikan minum bagi tamu yang berkunjung ke kantor Dika.
Melihat Maya masuk ke ruangan itu, Milea berpikir sesuatu yang jahat untuk mengerjai Maya.
__ADS_1
"Wah, kebetulan nih cewek masuk ke sini. Gue kerjain loe biar kapok. Biar loe nggak main-main sama gue." Batin Milea.
Saat Maya hendak lewat di depan Milea, Maya sekilas melihat Milea akan membuat kaki Maya tersandung. Untung saja Maya sigap dan tak ada kejadian apapun yang terjadi padanya malah kaki Milea yang tersandung kaki meja yang membuat mata kakinya sakit. Maya tersenyum melihat kejadian itu.
"Sialan..!! Tuh cewek beruntung banget sih bisa bebas dari kaki gue. Sekarang malah kaki gue yang sakit terkena kaki meja. Bukan rasa sakitnya yang membuatku kesal tapi rasa malu pada Dika. Gue malah ngebuat diri gue terlihat bodoh di depan Dika. Dan sialnya lagi si gembel tadi malah ketawa ngeledekin gue."Batin Milea semakin membenci Maya.
Setelah selesai mengantarkan minuman, Maya pun pergi keluar ruangan itu. Sebelum pergi, Maya sempat melirik wajah Milea yang kesal karena rencananya gagal. Milea yang melihatnya tersenyum semakin membuat kekesalan Milea memuncak dan membelalakkan matanya melihat Maya. Maya pun hanya menjulurkan lidahnya tanda dia menang.
Dika yang melihat hal itu hanya tersenyum dan pura-pura nggak tau. Dika merasa lucu saat Maya dan Milea saling membalas satu sama lain.
Terlihat sekali Milea raut wajahnya berubah atas kejadian itu. Tapi Dika tidak menghiraukannya. Dika dan papanya Milea tetap meneruskan pembicaraan bisnis mereka sampai selesai tanpa memperdulikan perasaan Milea.
Tak lama kemudian, pembicaraan mereka pun selesai. Ricko dan Dika saling bersalaman tanda semuanya telah selesai. Pak Ricko pun menarik tangan Milea yang nggak fokus dari tadi agar Milea dapat menyalam Dika untuk izin keluar dari ruangan itu.
Setelah Dika mengizinkan, Pak Ricko dan Milea pun keluar dari ruangan itu. Dan pergi dari kantor itu menuju kantor mereka.
Melihat Milea dan papanya pergi, Maya masuk ke ruangannya Dika. Maya ingin mengambil gelas kotor bekas minuman mereka. Saat Maya masuk, Dika pun memanggil Maya dan mengajaknya bicara.
"Gimana pekerjaan kamu di sini May? Apa kamu betah kerja di sini?"Tanya Dika di awal pembicaraan.
"Bagus deh kalo kamu betah kerja di sini. Mas senang dengarnya. Maaf kalo selama kamu di sini, baru kali ini mas bisa bicara sama kamu. Soalnya mas sibuk banget akhir-akhir ini."Ucap Dika.
"Nggak apa-apa mas. Maya ngerti kok. Dan Maya juga lihat sendiri kesibukan mas sehari-hari."
"Terima kasih atas pengertian kamu ya Maya!"Dika lega.
"Oh iya mas, maafin Maya ya"
"Maaf soal apa Maya?"Tanya Dika.
"Maaf soal kejadian tersiramnya tamu mas tadi. Maya ngaku Maya memang sengaja melakukannya."Maya jujur pada Dika.
"Kenapa kamu melakukannya?"Tanya Dika.
__ADS_1
"Tadi, saat Maya mau ke pantri, Maya mendengar dia dan papanya merencanakan sesuatu yang buruk sama mas. Maya dengar papanya nyuruh perempuan itu untuk merayu mas agar mau menikah dengannya. Dan mas mau di manfaatin. Tadi Maya dengar perusahaan Bapak tadi hampir bangkrut. Mereka nggak mau hidup miskin. Jadi, dia ingin mas menikahi anaknya sehingga mereka bisa menguasai harta mas."Jelas Maya.
"Oh iya? Makasih Maya atas infonya. Mas akan hati-hati sama mereka."Dika berkata.
"Harus mas. Maya nggak mau orang sebaik mas dimanfaatin oleh orang jahat seperti itu. Maya nggak tega mas."Maya keceplosan.
"Kamu nggak tega mas disakitin?"Dika mengulangi perkataan Maya.
"Uppss..!! apa sih yang sudah aku bilang. Bodoh banget aku sampai keceplosan gitu. Maya.. Maya.. Bodoh banget deh. Tengsin deh jadinya kalo gini."Batin Maya menyadari perkataannya.
"Iya mas. Maya kan karyawan mas. Nggak tega lah melihat boss nya mau di manfaatin orang lain"Maya ngeles
"Isshh Dika..!! Kok langsung baper sih dengar Maya bilang nggak tega sama kamu. Dia kan hanya anggap kamu bossnya. Nggak lebih." Batin Dika.
"O ya sudah nggak apa-apa. Kalo kamu sudah selesai kamu boleh keluar dari sini. Mas mau lanjut kerja lagi."Dika menyuruh Maya keluar agar tidak ketauhan dia malu.
"Baik Mas. Maya keluar dulu"Kata Maya singkat.
Maya pun melangkahkan kakinya keluar. Baru beberapa langkah Dika pun memanggil Maya.
"Maya..!!"Panggil Dika memberanikan diri.
"Ya mas..!!"Maya membalikkan badannya.
"Nanti sepulang kantor, kamu tunggu mas ya. Kita pulang bareng. Mas antar kamu pulang sekalian mas mau lihat keadaan mama kamu."Dika mengajak Maya.
"Nggak perlu repot-repot mas. Maya bisa pulang sendiri. Lagian nggak enak dilihat karyawan yang lain kalo mas seorang pemilik perusahaan pulang sama dengan seorang Office girl seperti Maya"
"Cuek aja Maya. Kan kita nggak ngelakuin kesalahan apapun. Lagian mas kan cuma mau menjenguk mama kamu. Nggak perlu khawatirkan apapun."Kata Dika.
"Mas yakin?"Tanya Maya.
"Yakin dong. Kamu santai saja ya. Nanti kamu tunggu saya di pantri sepulang kerja."
__ADS_1
"Baiklah kalo begitu mas."Maya menyetujui keinginan Dika.
Setelah itu, Maya pun keluar dari ruangan Dika dan menyelesaikan semua pekerjaannya supaya cepat selesai tepat waktunya.