Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 9


__ADS_3

Dika Di Telpon Nek Imah.


Beberapa menit Dika menelpon klien penting kantornya. Dika minta maaf dan menjelaskan segala yang terjadi padanya hari ini yang membuatnya menunda meeting penting antara mereka. Untungnya sang client itu mengerti dan memaafkan Dika. Jadi Dika nggak perlu khawatir, kerja sama antara perusahaannya dan client itu tetap berlangsung. Dika pun lega lalu menutup telponnya dengan wajah lega karena segala sesuatunya teratasi.


"Untunglah semua nggak apa-apa. Benar kata Nek Imah. Kita jangan takut kehilangan sesuatu karena menolong orang karena mata Tuhan ada di segala penjuru memperhatikan umatNya dan tak akan pernah sekalipun Dia meninggalkan dan membuat hambaNya kekurangan apapun. "Batin Dika setelah menutup telponnya dengan penuh rasa syukur.


Setelah selesai menelpon, Dika kembali ke Maya dan adiknya yang masih menunggu operasi mamanya yang tak kunjung selesai padahal sudah hampir dua jam. Dika melihat kekhawatiran yang tersirat di wajah Maya dan adiknya itu. Dika pernah di posisi seperti itu, saat Celyn kakaknya harus koma tiga hari setelah operasi pasca melahirkan anaknya yang prematur karena permasalahan kakaknya dengan bisa dibilang selingkuhan kakak iparnya yang bernama Dimas.


"Gimana operasinya tante May? Belum selesai ya?"Tanya Dika pada Maya saat melihat lampu ruang operasi itu masih menyala.


"Iya mas. Belum selesai dari tadi. Maya sampai bingung nih. Takut mama kenapa-kenapa di dalam."Curhat Maya pada Dika.


"Sabar Maya. Kamu berdoa saja yang banyak supaya mama kamu keluar dari dalam ruang operasi itu dalam keadaan hidup dan tak kenapa-kenapa. Jangan panik dan khawatir. Serahkan semuanya kepadaNya. Karena Dialah yang menetapkan segalanya terjadi pada umatNya."Dika ceramah di depan Maya.


Maya tak terlalu mendengar apa yang dikatakan oleh Dika. Maya masih larut dalam kesedihan dan ketakutannya. Dia takut akan kehilangan mamanya. Dia takut sendirian di dunia ini. Tak ada lagi temannya curhat dan mencurahkan semua perasaannya seperti selama ini Maya lakukan. Maya hanya berdoa dalam hati nya agar Tuhan memberikan mamanya kesempatan hidup lebih lama lagi bersama dengan mereka.


Tak lama kemudian, tepatnya sudah jam enam sore, akhirnya operasi mama Maya pun selesai dilakukan. Lampu ruang operasi pun dimatikan. Mereka langsung melihat itu dan menunggu dokter keluar pas di depan pintu ruang operasi itu.


"Bagaimana keadaan mama saya, dok? Mama baik-baik saja kan Dok?"Tanya Maya bertubi-tubi.


"Mama nya mbak baik-baik saja kok mbak. Mbak tenang saja. Operasinya berhasil. Untung saja kita tidak terlambat mengobatinya. Sedikit lagi saja lebih lama untuk mengoperasi mama nya mbak kemungkinan besar kita akan kehilangan beliau."Jelas dokter.


"Tapi sekarang mama baik-baik saja kan dok?"Giliran Adit yang panik bertanya pada dokter.


"Iya mas. Mama kalian baik-baik saja. Cuma sekarang masih dalam pengaruh obat penenang jadi masih belum sadar."Jelas dokter lagi.


"Huffttt... Syukurlah..!! Boleh kami menjenguk mama Dok?"Tanya Maya pada dokter.


"Sebentar lagi ya mbak. Pasien akan dikeluarkan dari ruanh operasi dan di pindahkan ke ruang rawat. Mbak mau mamanya di buat di kelas berapa?"Tanya dokter pada Maya.


"Kelas tiga saja dok. Saya nggak punya cukup uang kalo mama di rawat di kelas I atau VIP."Kata Maya tertunduk.


Melihat hal itu pada Maya, Dika pun bergerak dan membantu Maya bicara pada dokter itu. Dika mengajak dokter sedikit menjauh dari Maya agar bisa tenang bicara tanpa sepengetahuan Maya.


"Taruh di ruang VIP saja dok. Nanti saya yang bayar. Tapi jangan bilang sama mbak itu. Bilang saja itu sudah termasuk dalam biaya operasi tadi."Bisik Dika pada dokter itu.


"Iya mas..!! Saya akan diam-diam saja kok."Kata Dokter itu.


Lalu dokter itu pun pergi dan memberitahukan kepada suster untuk membawa mama Maya ke ruang VIP untuk di rawat di sana. Setelah kepergian dokter, Maya pun menanyakan apa yang Dika bicarakan pada dokter itu sampai bisik-bisik segala.

__ADS_1


"Mas, ngomong apa sama dokter itu?"Tanya Maya pada Dika.


"Nggak ngomong apa-apa kok."Dika berdalih.


"Yakin mas?"Tanya Maya.


"Iya loh Maya. Kok nggak percayaan sih sama aku? Mang tampang aku ini tampak seperti pembohong?"Dika menyuruh Maya melihat muka Dika.


"Nggak sih. Tampang mas itu seperti orang baik. Justru itu aku curiga pasti mas melakukan sesuatu lagi untuk membantuku."Ucap Maya curiga.


"Ya ampun Maya..!! Kok orang berbuat baik kok dimarahin sih?"Tanya Dika santai.


"Bukan gitu mas. Kalo mas baik sama aku, hutangku jadi semakin banyak sama mas. Takut nggak bisa bayar mas."Kata Maya jujur.


"Untuk saat ini nggak perlu dipikirkan. Yang penting mama kamu sembuh dan...."Dika tidak melanjutkan omongannya karena handphone nya berbunyi. Dika melihat panggilan dari neneknya Nek Imah. Dika pun mengangkatnya.


"Hallo Nek..!!"Jawab Dika langsung.


"Hallo sayang, kamu di mana? Kok belum pulang ke rumah?"Tanya Nek Imah.


"Dika ada di rumah sakit Nek..!!"Ucap Dika santai tapi tak begitu tanggapan Nek Imah padanya. Nek Imah panik mendengar kata rumah sakit.


"Uppss tenang nek. Dika nggak kenapa-kenapa kok."Kata Dika sambil menjauhkan telinganya dari telpon karena biasanya kalo Nek Imah cemas seringkali mengeluarkan suara cempreng seperti panci bocor.


Maya yang melihat dan mendengar apa yang dikatakan neneknya Dika tersenyum dan geleng geleng kepala.


"Hhahaha.. Ternyata cowok sekeren itu rupanya cucu kesayangan nenek. Lihat saja mendengar kata rumah sakit saja neneknya sudah kebakaran jenggot." Batin Maya meledek Dika.


"Trus kenapa kamu di rumah sakit kalo nggak kenapa-kenapa?"Tanya Nek Imah lagi di telpon.


"Dika nganter mama nya teman Dika ke rumah sakit Nek. Tadi dia pingsan jadi Dika spontan membawanya ke rumah sakit."Kata Dika.


"Teman kamu itu cewek atau cowok. Sudah tua atau masih muda?"Tanya Nek Imah kepo.


"Cewek nek. Masih muda. Lebih muda dari Dika."Jawab Dika malas.


"Oh iya? Cantik nggak? Dia teman gimana? Setau nenek teman kamu cuma Jessy. Itupun dia sudah berkeluarga."Tanya Nek Imah semakin penasaran.


"Lumayan deh nek. Udah ahh.. Kok nanya nya jadi itu? Nenek kepo banget. Teman cewek Dika kan banyak nek."Kata Dika.

__ADS_1


"Nenek kenal siapa kamu Dika. Kamu itu jarang bisa kompak sama orang apalagi cewek. Kamu kan orangnya pendiam banget. Didekatin cewek kamu langsung ngacir..!!"Ledek Nek Imah.


"Hahahhaaa...!!" Tawa Maya dan Adit pecah mendengar perkataan Nek Imah di telpon.


"Yah nenek..!! Kenapa bongkar rahasia sih. Pake toak lagi ngomongnya. Tuh kan, Dika jadi di ledekin."Rajuk Dika.


"Maaf..!! Maaf..!! Nenek spontan saja. Kalo suara nenek kan sudah biasa sekencang ini."Kata Nek Imah.


Maya dan Adit pura-pura buang muka saat Dika melihat mereka tertawa tadi. Dika jadi malu.


"Udah deh Nek. Kira-kira sejam atau dua jam lagi Dika pulang Nek. Jangan di telpon lagi. Dika malu nek. Abis nenek buat Dika malu sih."Kata Dika pada nek Imah.


"Iya deh dika. Maafin nenek ya."Jawab Nek Imah.


"Oke nenekku sayang. Bye..!!"Dika menutup telponnya tanpa menunggu jawaban lain dari nenek karena suara nek Imah yang sedikit membuat Dika kehilangan muka di depan Maya dan adiknya itu.


Maya dan Adit masih terlihat menahan tawanya mendengar telpon Dika dan neneknya. Setelah menutup telponnya, Dika pun mendekati Maya lagi.


"Maya, maaf ya. Aku pulang dulu. Besok aku balik lagi deh. Kamu dan Adit bisa mengurusnya sendiri kan?"Tanya Dika sekalian pamitan pada Maya.


"Iya mas. Maya kan ada Adit. Kami bisa mengurus mama berdua saja. Kasian tuh neneknya teriak-teriak karena mas nggak pulang."Ledek Maya yang sudah nggak bisa menahannya lagi.


"Astaga. Maaf ya. Nenek memang suka gitu. Dia pikir aku tuh masih bocah usia 6 tahun sama saat dia pertama kali bertemu denganku dulu saat kedua orangtuaku meninggal. Dia sangat takut kalo aku terluka atau sakit."Curhat Dika.


"Jadi kedua orangtua mas sudah meninggal?"Tanya Maya heran.


"Sudah. Meninggal karena kecelakaan sekitar dua puluh tahun yang lalu. Saat aku dan kedua kakakku masih sangat kecil."Jelas Dika.


"Maaf ya mas. Maya nggak tau."Maya merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok. Lagian kejadian itu sudah lama. Nggak perlu di ingat-ingat lagi."Dika pasrah dengan keadaan dan sudah melupakannya.


"Iya mas."Jawab Maya singkat.


"Ya sudah mas, pulang dulu ya. Mas doakan mama nya kalian baik-baik saja. Adit kamu jaga kakak kamu ya. Kamu kan anak laki-laki. Kamu harus bisa melindungi keluarga kamu."Kata Dika.


"Iya mas. Walaupun Adit nggak tau mas siapa, tapi Dika yakin mas orang baik."Kata Adit.


"Makasih atas pujiannya ya Adit..!!"Kata Dika.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban lagi, Dika pun bergerak pulang ke rumahnya supaya neneknya tidak menelpon lagi dan membuat malu dirinya. Dika pun segera berjalan ke mobilnya dan membawa mobilnya pulang ke rumahnya secepat mungkin.


__ADS_2