Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 14


__ADS_3

Dika Dan Satria Bermain Seharian.


Dika dan Satria saat ini masih di rumah sakit. Mereka menunggui Maya dan menjaga mamanya Maya selagi Maya sedang sarapan. Dika dan Satria kompak sekali di sana. Mereka memperhatikan Maya yang sedang makan di sana. Satria mendekatkan dirinya pada Dika dan membisikkan sesuatu pada Dika.


"Om, lihat deh tante Maya saat makan, dia tetap cantikkan? Om nggak suka sama tante Maya itu? Kan lumayan om, kalo om sama tante Maya, nggak malu maluin deh di bawa saat om ke pesta dari pada kosong nggak punya gandengan kan ga bagus om. Disangkanya om nggak laku."Bisik Satria pelan di telinga Dika.


"Husshhh!!! Ngomong apa sih kamu Satria. Tante Maya sih memang cantik tapi mana mungkin om langsung mengajaknya supaya jadi pacarnya om. Mau tarok di mana muka om ini kalo dia nolak om"Bisik Dika pada Satria.


"Apa om mau Satria bantuin ngomong?"Bisik Satria lagi.


"Anak kecil tau apa sih?"Dika agak kesal dengan kekepoan keponakannya itu.


"Hahahaha.. Om menganggap Satria anak kecil. Mau Satria buktiin kalo Satria bisa."Tantang Satria.


"Jangan dong Satria. Nanti tante Maya berpikir om itu cemen. Nggak berani ngomong sendiri."Kata Satria.


Satria dan Dika terus bisik-bisik dan melihat ke arah Maya. Di sisi lain Maya yang sedang makan merasa dirinya sedang dibicarain sama kedua manusia yang ada di depannya itu memberanikan diri bertanya setelah makannya selesai. Karena menurut Maya, kalo makan itu nggak boleh ngomong.


Maya pun berjalan hendak membuang bungkus makanannya di tong sampah di dekat pintu kamar mandi kamar itu, lalu Maya pun mendekati Satria dan Dika yang duduk di dekat mama nya.


"Kalian ngomongin apa sih dari tadi? Aku lihat mas Dika dan Satria bisik -bisik seraya memandang ke arah ku dari tadi. Ada apa?"Tanya Maya.


"Gini tante.. Om Dika....!!!"Satria membekap mulut Satria untuk mencegah Satria mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Dika.


"Maaf Maya. Satria cuma mau bilang, dari tadi Satria membujuk aku untuk secepatnya ke mall. Dia mau ke arena permainan sekaligus mau mencari mainan yang aku janjikan untuk dibelikan padanya. Tapi aku bilang, tunggu kamu selesai makan saja baru ngomong. Makanya kita bisik-bisik sambil melihat ke arah kamu."Jelas Dika pada Maya.


Satria yang mendengar perkataan Dika hanyalah sesuatu yang mengalihkan perkataannya pada Maya pun memelototi om nya itu. Dika pun langsung membalas memelototin Satria keponakannya itu. Satria pun akhirnya mengalah dan diam.

__ADS_1


"Yang om Dika katakan benar tante. Satria memang sudah nggak sabaran pengen jalan-jalan sama om Dika. Maaf ya tante."Satria menjelaskan.


Maya memperhatikan kedua orang yang baru dikenalnya itu bergantian. Maya memang tidak mau mengambil pusing kalaupun Dika dan Satria hendak pergi dari rumah sakit itu. Maya merasa bukan kewajiban Dika juga untuk menjaga mamanya itu.


"Ya sudah mas nggak apa-apa kalo kalian mau pulang dan jalan-jalan ke mall. Kasian juga Satria. Nggak baik anak-anak berada lama-lama di rumah sakit. Kan kata orang rumah sakit banyak virus yang dapat terkena pada anak sekecil Satria."


"Kamu nggak apa-apa kami tinggal sendirian di sini May? Kamu berani kan?"


"Berani dong mas. Kan dari kemaren malam Maya sendirian mas. Tapi bentar lagi Adit pasti datang ke sini kok menemani aku menjaga mama di sini."Maya meyakinkan Dika.


"Baiklah kalo begitu. Nanti kalo ada apa-apa telpon aku saja ya. Kamu tau kan nomor telponnya mas?"


"Iya mas. Aku tahu."Maya menjawab singkat.


"Ya sudah. Ayo Satria salim sama tantenya dulu supaya kita langsung pergi ke mall ke tempat yang kamu inginkan."


"Tante kami pergi dulu ya. Maaf kalo Satria mengajak om Dika pergi sama Satria jadi tante nggak bisa berduaan sama tante di sini."Lanjut Satria.


"Satria..!!"Dika memanggil dengan geram.


Mendengar omongan Satria tadi, Maya pun malu karena di ledek Satria. Nggak tau kenapa sejak Maya ditolong beberapa kali oleh Dika, ada suatu perasaan yang Maya sendiri nggak tau apa yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang saat dengan Dika. Maya hanya diam saja tak menanggapi omongan Satria.


Dika yang memperhatikan reaksi Maya yang diam saja pun langsung mengajak Satria keluar ruangan itu.


"Maafin Satria ya Maya. Dia masih kecil jadi suka ngomong sembarangan saja."


"Nggak apa-apa kok. Santai saja mas. Aku nggak ambil hati kok omongannya Satria."Kata Maya ngeles.

__ADS_1


"Ya sudah bagus May. Kami langsung pergi ya. Telpon aku kalo ada yang kamu butuh sesuatu. Jangan sungkan"Dika mengingatkannya lagi.


Maya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Satria dan Dika pun akhirnya pergi dari tempat itu meninggalkan Maya sendirian di ruang rawat mamanya untuk merawat dan menemani mamanya di sana.


Satria dan Dika pun berjalan ke luar dari rumah sakit menuju parkiran. Mereka akan mengambil mobil yang mereka parkirkan di sana. Lalu Dika dan Satria masuk ke dalam mobil. Mereka akan pergi ke mall yang Satria mau.


Tanpa menunggu lagi, Dika melajukan mobilnya ke arah mall itu. Satria merasa sangat semangat mengingat tujuan mereka. Satria bersenandung di sepanjang perjalanan mereka. Dika yang sesekali meliriknya pun tersenyum senang pada Satria. Dika tak menyangka keponakannya yang dulu masih bayi sudah tumbuh menjadi anak yang manis dan bijak sekali.


Sesampainya di mall itu, Dika langsung mengajak Satria ke arena permainan di lokasi mall itu. Dika membelikan tiket masuk berupa kartu agar Satria bisa bermain sepuasnya di sana. Satria memainkan semua permainan yang ada di sana dengan hati yang gembira.


Sehabis dari situ, Dika mengajak Satria ke toko mainan di area mall tersebut. Satria kalap melihat semua mainan yang berjejer di sana. Satria ingin sekali memiliki semua jenis mainan yang ada di sana.


"Wahh.. Mainannya banyak sekali om. Satria boleh nggak membeli semuanya."Pinta Satria pada Dika.


"Satria ingat pesan mama kan? Jangan terlalu banyak beli mainan. Kan mainan Satria di rumah masih banyak yang bagus. Pilih saja beberapa mainan yang belum kamu punya dan yang kamu suka. Nanti om belikan."


"Iya juga ya om. Mama pasti marah kalo Satria mengambil banyak mainan."


"Tuh tau. Ya sudah. Pilih beberapa saja ya."


"Baiklah om. Yang penting Satria dapat mainan baru."Satria mengalah.


Satria memilih tiga mainan yang paling dia suka di toko itu. Dika hanya menggeleng kepala melihat cara Satria dengan teliti mainan mana yang harus di pilihnya supaya tak menyesal saat sudah sampai di rumah.


Beberapa jam kemudian, Satria sudah puas berjalan kesana kemari di mall itu. Mereka juga sudah membeli es krim untuk di makan oleh mereka. Setelah jam sudah menunjukkan jam tiga sore, Dika pun mengajak Satria pulang. Satria yang memang sudah puas bermain pun mau di ajak pulang om nya itu.


Dika pun melajukan mobilnya ke arah rumah. Satria yang kelelahan tertidur di tempat duduknya. Dika pun senang bisa memanjakan satu-satunya keponakannya itu. Keponakan yang sangat dia sayangi.

__ADS_1


__ADS_2