
Akhirnya Berkas Pemindahnamaan Di Tanda tangani.
Beberapa hari sudah Dani di Indonesia. Semua urusan yang berhubungan dengan balik nama perusahaan sudah selesai dilakukan. Dani pun meminta Dika, Celyn dan suaminya, Dinar dan suaminya datang ke kantor Dika untuk menandatangani berkas yang sudah di persiapkan Dani. Dani ingin semuanya selesai secepatnya agar dia bisa kembali ke Amerika dan menemani Pak Anwar di sana mengurus perusahaan beliau di sana.
Setelah pemberitahuan dari Dani semuanya pun berkumpul. Mereka akan mengadakan meeting saat ini di kantornya Dika.
"Selamat pagi semuanya. Maaf karena saya sudah mengganggu pekerjaan kalian semua yang ada di sini. Saya tau kalo kalian semua sibuk."Sapa Dani.
"Nggak apa-apa bro Dani. Kita selalu siap kok kapanpun kamu memanggil kita."Ucap Dimas yang sudah kompak dengan Dani semenjak kejadian dulu saat Dimas punya masalah dengan Pak Nugroho.
"Iya Pak nggak apa-apa kok."Ucap Dika dan Nicko.
"Terima kasih sebelumnya atas perhatian kalian semua. Sebagaimana yang pernah saya katakan sebelumnya atas suruhan Pak Anwar selaku big boss perusahaan yang kita kelola ini bahwa beliau ingin memindahnamakan perusahaan dengan beberapa cabang menurut bidangnya masing-masing. Semua sudah selesai saya persiapkan. Saya meminta kalian semua di sini untuk menandatangani surat pemindahannya. Dan ada juga surat perjanjian di dalamnya, bahwa Ada berapa persen keuntungan yang harus di berikan kepada Pak Anwar sebagaimana biasanya."Jelas Dani.
"Baiklah Pak..!!"Ucap Dika, Dimas dan Nicko.
"Penandatanganan ini disaksikan oleh team pengacara perusahaan ini dan dipastikan tidak akan ada kecurangan atau dirugikan."
"Kami percaya sama kamu Dani. Kesetiaan kamu pada om Anwar tak bisa dipungkiri lagi."
"Iya benar bro."
"Terima kasih semuanya. Silahkan tanda tangani semuanya. Khusus hak bu Celyn dan bu Dinar saya buat dua tanda tangan yakni tanda tangan Celyn dan Dinar dan dibubuhkan tanda tangan suami masing-masing di sebelahnya."Ucap Dani.
"Baiklah."
Dika, Dinar, Celyn beserta Dimas dan Nicko menandatangani semuanya.
"Terima kasih atas kerja samanya. Kalian semua adalah orang kepercayaan Pak Anwar. Pak Anwar akan sangat senang kalo perusahaannya di urus oleh tenaga muda yang cerdas dan berbakat seperti kalian ini."Ucap Dani.
__ADS_1
"Sama-sama mas Dani. Terima kasih juga telah percaya pada kami."Celyn berkata lembut.
"Iya Celyn."
Setelah selesai penandatanganan itu, team pengacara pun keluar dari ruangan itu. Mereka akan melegalkan surat tersebut dan akan selesai dalam waktu dua hari. Semua dilakukan dengan serba cepat.
Sekarang tinggallah Dani, Dika, Dimas, Dinar, Celyn dan Nicko. Dani ingin bicara secara pribadi dengan mereka tanpa adanya kehadiran siapapun.
"Pak Dika. Saya mau bertanya. Apa Pak Dika yakin akan pergi ke Amerika dengan saya dan membantu Pak Anwar mengurus perusahaan di sana?"Dani bertanya tegas.
"Iya. Saya berkata sungguh-sungguh. Saya ingin membantu Om Anwar untuk membalas budi baiknya pada kami selama ini."Ucap Dika lantang.
"Pak Anwar bilang jangan terlalu memaksakan kalo memang tak bisa. Beliau pun tau kalo Pak Dika akan menikah. Apa bapak yakin?"Tanya Dani meyakinkan.
"Iya. Saya yakin. Saya juga sudah berkonsultasi dengan calon istri saya. Katanya dia setuju. Dan tak menutup kemungkinan nantinya saya dan istri saya sementara waktu tinggal di Amerika sampai kondusi perusahaan om Anwar benar-benar siap untuk ditinggal."
"Kamu beneran mau ke Amerika Dik?"Tanya Celyn.
"Tapi ingat Dika, kamu harus tetap jaga diri dan jaga kesehatan ya di sana. Dan jangan lupa menghubungi kakak atau nenek setiap hari. Biar kami tau gimana keadaan kamu."Pesan Celyn.
"Idihh kakak. Dika aja belum pergi kok malah banyak pesannya. Hahaha.."
"Namanya kakak khawatir Dik. Ya wajar dong"Kata Celyn.
"Oh ya kapan kita berangkat Pak Dani?"Tanya Dika.
"Dalam minggu ini. Paling 3 atau 4 hari lagi. Kita naik pesawat pribadi Pak Anwar saja biar cepat. Saya juga ke sini naik itu."Kata Dani.
"Cepat juga ya Pak. Tapi ya sudah nggak apa-apa. Lebih cepat lebih baik. Saya akan membereskan semua yang saya perlukan di sana."Ucap Dika semangat.
__ADS_1
"Baiklah kalo begitu saya mau pamit dulu. Badan saya sakit semua rasanya seperti mau remuk tulangnya. Saya mau istirahat dulu dua hari ini sebelum kita berangkat."
"Apa nggak sebaiknya jalan-jalan Pak? Kan capek kerja mulu. Selama ini Pak Dani nginap di hotel ya? Kenapa nggak di rumah kami saja. Banyak kamar tamu nya kok. Dan semuanya kosong. Daripada Pak Dani nggak punya teman ngobrol di hotel."Dika menawarkan.
"Nggak apa-apa. Saya nggak suka merepotkan. Lebih baik saya di hotel."
"Mau saya temani putar-putar Jakarta bro?"Tanya Dimas.
"Ide yang bagus tuh puter-puter Jakarta dulu biar refreshing dikit nih kepala. Oh ya, mending ngajak gadis yang kemaren aja. Kan dia sudah janji mau menemaniku kemanapun saat aku nggak sibuk. Mumpung sekarang aku libur aku coba ahh nanti telpon dia dan janjian ketemu di mana. Biar aku ada temannya jalan-jalan." Batin Dani merencanakan mengajak gadis yang ditemuinya di pinggir pantai sedang menangis dua hari lalu yang tak lain adalah Milea.
Melihat Dani tak merespon omongannya dan melihat Dani seakan bengong, Dimas pun mengibaskan jarinya di depan mata Dani untuk menyadarkannya
"Mau nggak bro..??"Tanya Dimas lagi.
"Ehh. Anu.. Nggak perlu bro. Aku ada teman baru di sini. Aku bakal pergi bareng dia aja. Nggak enak ngerepotin kamu."Ucap Dani yang sudah tersadar tiba-tiba ngomong informal juga.
"Mau keluar bareng cewek ya?"Ledek Dimas.
"Ehmmm iya bro..!!"Dani menjawab malu-malu.
"Hahahaha..!! Ya sudah. Have fun ya bro..!!"
"Makasih banyak. Ya sudah aku balik hotel dulu ya. Mau istirahat sebentar baru langsung pergi deh."Ucap Dani santai.
"Ya sudah mas. Hati-hati ya. Jangan mudah ketipu sama cewek ya. Terkadang cewek itu berbahaya. Suka sekali mengincar pria dewasa dan mapan."Celyn mengingatkan.
"Iya Celyn. Tenang saja."
Dani pun akhirnya pergi keluar kantor itu dan kembali ke hotel. Dani menyetir mobil kantor sendiri yang diberikan Dika untuk melancarkan transportasi Dani kemana-mana.
__ADS_1
"Mendingan aku telpon Milea dulu kali ya. Manatau dia ada janji. Tapi mudah-mudahan di nggak ada acara hari ini dan besok supaya bisa menemani aku di saat libur. Jarang-jarang soalnya aku libur. Ya gitu aja deh. Mending aku telpon sekarang." Batin Dani sambil menyetir mobil itu.
Dani pun mengambil handphonenya dan menelpon Milea.