
Beberapa Bulan Kemudian..
Sudah hampir empat bulan Maya bekerja di cafe milik Nek Imah. Dia sangat rajin bekerja dan juga sangat displin. Sejak Maya kerja di cafe itu, Dika jadi sering datang kesana. Dika sengaja membuat janji temu meeting di cafe itu sebagai alasan agar bisa bertemu dengan Maya.
Tak beda juga siang ini. Dika datang ke cafe itu untuk meeting di sana.
"Hai Maya..!!"Sapa Dika saat sampai ke cafe.
"Eh mas Dika datang lagi. Mas mau meeting ya?"
"Iya Maya. Saya mau meeting di sini. Nggak apa-apa kan May?"
"Ya nggak apa-apa lah mas. Malah Maya senang. Dengan seringnya mas datang ke sini dengan membawa rekan-rekan bisnis mas membuat cafe jadi rame mas."Jawab Maya.
"Cafe rame kan bukan hanya karena mas sih May. Cafe rame karena usaha kamu. Kamu merubah cafe ini menjadi cafe gaul dan enak sebagai tempat nongkrong. Banyak anak-anak muda ngumpul di tempat ini hanya sekedar nongkrong. Lagian kata Pak Roni kamu juga turun tangan sendiri untuk memasak makanan dan katanya masakan kamu enak dan membuat banyak pengunjung cafe suka dan ketagihan dengan masakan kamu."
"Ahh mas bisa aja. Masakan Maya biasa aja kok. Masih kalah sama koki di sini."Maya merendah saat Dika memujinya.
"Hahaha.. Kamu ini..!! Selalu saja merendah..!!"
"Hahaha...!!"Maya hanya tertawa.
"Oh iya May, mas kesana dulu ya. Kolega mas sudah datang. Nanti kalo selesai meeting mas mau makan siang dan harus kamu ya yang masak."Ucap Dika.
"Siap mas.! Mas whatsapp Maya aja kalo mas sudah selesai meeting. Maya mau ke ruangan Maya dulu mengerjakan laporan keuangan penjualan minggu ini. Nanti sore Maya mau mengantarnya ke rumah mas. Maya mau ketemu sama nenek juga."
"Jadi kamu cuma mau ketemu sama nenek saja? Jadi sama mas nggak mau ketemu nih ceritanya?"Ledek Dika.
__ADS_1
"Ini kan kita sudah ketemu sih mas. Gimana sih."
"Hahaha iya juga ya. Oh ya May, Sabtu ini kamu mau nggak mas ajak keluar. Sehabis jam kerja aja. Sekalian ada yang mau mas bilang juga sama kamu. Dan itu sangat penting May."
"Kenapa nggak ngomong sekarang aja mas? Mumpung mas di sini."Tanya Maya.
"Ya nggak bisa dong May. Tempat ini banyak orang. Nggak nyaman ngobrolnya. Lagian mas ada meeting sebentar lagi. Mau ya..!! Please..!!"Dika memohon.
"Hari Sabtu ini ya mas? Ya sudah deh. Maya mau deh."
"Kok kayak terpaksa gitu sih Maya? Yang ikhlas dong jawabnya..!!"Suruh Dika.
"Iya mas. Maya mau jalan sama mas hari Sabtu ini."Kata Maya dengan lembut dan tersenyum.
"Nah gitu dong. Kan mas senang dengarnya. Mas jadi semangat kerja nih kalo gini."Kata Dika.
Tanpa mereka sadari, Milea melihat kemesraan Dika dan Maya di sana. Ternyata rekan bisnis yang sekarang mau meeting dengan Dika tersebut adalah Milea dan ayahnya.
"Isshh sebel banget. Dah capek-capek ngebuat tuh cewek di pecat eh malah dia semakin dekat sama mas Dika. Nih lagi mas Dika kok bisa sih dia nggak tertarik sama aku? Apa kurangnya aku coba? Udah cantik, manis, modis dan seksi. Beda jauh dari cewek gembel itu. Tapi kenapa malah cewek itu yang disukai dan dicintai sama mas Dika bukannya aku. Aku harus kasi cewek itu pelajaran lagi. Lihat saja nanti."Gumam Milea dalam hati saat melihat Dika dan Maya sangat mesra dan dekat.
Dika pun mendekat ke tempat duduk di mana Milea dan papanya itu berada. Mereka akan memulai meeting mereka hari ini. Milea selalu melancarkan aksinya untuk menggoda Dika.
Milea yang mengenakan mini dress dengan belahan dada yang sangat turun yang memperlihatkan keindahan kedua bola kristalnya yang menyempul di balik dress itu.
Milea sengaja sering menunduk di depan Dika agar kedua bola kristalnya terlihat oleh Dika. Dika yang menyadari itu sengaja tidak memperhatikan hal itu dan hanya fokus pada pekerjaan agar imannya kuat.
Melihat usahanya yang itu gagal, saat hendak mengambil proposal kerja yang ada di sampingnya, Milea sengaja memegang tangan Dika. Spontan Dika menarik tangannya agar terlepas dari tangan Milea.
__ADS_1
"Isshh nih cowok nggak normal kali ya. masa cewek seksi di sampingnya dianggurin sih. Apa dia nggak ngeliat penampilanku yang seksi ini. Masa dia sama sekali nggak tertarik sih?" Gumam Milea kesal.
Dika yang sudah mulai gelisah karena kelakuan Milea sangat berusaha untuk fokus. Dia mengalihkan perhatiannya dari Milea. Dika berusaha untuk tidak melihat ke arah Milea sama sekali.
"Aduh.. Nih cewek. Kayaknya sengaja banget deh mendekatkan tubuhnya dekat-dekat aku. Kayaknya dia memang merencanakan untuk menggoda aku. Ya Allah kuatkan imanku untuk menolak cobaan besar yang ada disampingku ini. Aku nggak pengen tergoda dengan wanita di sampingku ini. Tolong aku ya Allah..!!"Batin Dika minta pertolongan agar imannya dikuatkan.
Dika mempersingkat meeting yang sedang mereka lakukan siang ini. Dika sudah tidak bisa konsen lagi. Setelah meeting mereka pun berjabatan tangan tanda kepuasan yang mereka punya satu sama lain.
"Makasih ya Pak Dika. Anda memang hebat dan sangat berdedikasi tinggi. Senang berbisnis dengan anda ya Pak Dika."Kata papa Milea saat bersalaman dengan Dika.
"Iya Pak Ricko. Terima kasih atas pujiannya."
"Bagaimana kalo kita sekalian makan siang di sini aja Pak Dika. Kebetulan ini kan sudah waktunya makan siang dan sekarang kita ada di cafe kenapa nggak sekalian saja kita makan di sini bertiga."Ajak Pak Ricko papanya Milea.
"Maaf ya Pak Ricko, saya nggak ada maksud menolak tawaran bapak. Tapi saya sudah punya janji makan siang dengan orang lain Pak. Lain kali saja ya kita makan siang bareng."Dika menolak lembut.
"Mas mau makan siang sama pacarnya ya?"Milea nyeletuk.
"Iya mbak Milea. Saya sudah janjian makan sama pacar saya. Maaf ya mbak."Dika minta maaf pada Milea.
"Iya mas. Nggak apa-apa kok. Masih banyak waktu lagi kok."Kata Milea pura-pura mengalah.
"Kalo gitu saya permisi dulu Pak Ricko. Mbak Milea. Selamat siang."
Dika pun langsung pergi dari meja itu. Dika pergi ke toilet dulu sebelum menemui Maya di ruangan kerjanya. Milea mengikuti Dika untuk mencaritahu apa yang diduganya benar.
"Sial..!! Mas Dika benar-benar menemui cewek gembel itu. Awas kamu ya Maya. Aku nggak rela mas Dika jadi milik kamu. Mas Dika hanya akan menjadi milikku seorang." Gumam Milea dalam hati.
__ADS_1
Dengan kekesalan yang sangat besar, Milea dan papanya pergi dari cafe tersebut. Mereka pun kembali ke kantornya. Milea yang badmood mencari ide untuk menghancurkan hubungan Maya dan Dika sebelum mereka benar-benar menikah dan Milea kehilangan kesempatan untuk memiliki Dika seutuhnya.