Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 61. Pertemuan Antar Keluarga


__ADS_3

Disepanjang jalan Dika, Dani, om Anwar dan Maya saling ngobrol. Mereka melepas kerinduan satu sama lain.


"Dika sampai dimana persiapan pernikahan kamu dengan Nak Maya?"Om Anwar membahas pernikahan Dika dengan Maya.


"Menurut penjelasan Maya dan kedua kakak Dika yakni kak Cellyn dan Kak Dinar persiapannya sudah 90% om. Hanya tinggal finishing dan kesiapan mental saja om. Yang lainnya sudah aman. Kak Cellyn dan kak Dinar banyak membantu Dika dan Maya dalam mengurus pernikahan kami. Apalagi saat Dika kemaren ke Amerika saat perusahaan om dalam masalah dan tak sempat mengurus apapun kedua kakak Dika itu sangat tanggap membantu Dika om. Dika bangga punya dua orang kakak sebaik mereka. Mereka berdua selalu ada di saat Dika membutuhkannya. Walaupun sekarang mereka sibuk dengan keluarganya masing-masing tapi tetap menyempatkan diri untuk membantu Dika juga secara bergantian menemani nenek di rumah."Jelas Dika membanggakan kedua kakaknya itu.


"Iya om, selama mas Dika pergi, mbak Cellyn dan mbak Dinar serta suami-suami mereka sangat membantu Maya mempersiapkan segalanya sendiri tanpa mas Dika. Mereka berdua sangat baik. Maya sangat beruntung punya dua kakak ipar yang baik seperti itu."Maya menceritakannya dengan senyuman yang merekah.


"Om sudah tau Maya. Cellyn dan Dinar adalah dua orang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Mereka dari dulu sadar kalau mereka hanya bertiga di dunia ini. Mereka selalu bahu membahu menghadapi semua masalah yang ada. Ditambah lagi ada Nek Imah sebagai pengayom dan penasehat bagi mereka bertiga semakin membuat keluarga mereka sangat harmonis. Itu yang membuat om sangat bangga kepada mereka bertiga. Sedangkan anak om saja tidak seperti itu. Mereka lebih senang dan lebih memikirkan dunia mereka sendiri tanpa peduli akan keluarganya. Sedangkan saat om sakit saja dan perusahaan om sempat goyang mereka seakan tak peduli. Padahal mereka tidak sadar kalau tidak ada perusahaan yang om bangun di Amerika ini atas bantuan almarhum ayahnya Dika, mereka tak akan bisa hidup mewah dan berkecukupan. Dengan kata lain, mereka bisa hidup dengan kaki sendiri itu dengan modal yang om hasilkan pada perusahaan ini."Curhat om Anwar.


"Tenang om. Masih ada Dika dan mas Dani. Kami siap setiap saat kapan saja om butuh kami."Dika meyakinkan Pak Anwar yang wajahnya seketika berubah sedih saat mengingat kedua putranya yang begitu cuek dan tidak perhatiannya sama dia.


"Iya Pak. Masih ada Dani kok. Selamanya Dani akan membantu bapak. Tenang saja."Dani juga ikut-ikutan menenangkan Pak Anwar.


"Terima kasih buat kamu Dika. Dan juga buat kamu Dani. Kalian selalu ada di saat om membutuhkan kalian di sisi om."Pak Anwar pun terharu.


"Tapi ingat ya. Terutama kamu Dani. Jangan karena keinginanmu membantu saya. Kehidupan pribadimu tak kau pikirkan. Saya minta kamu mulai memikirkan pernikahan. Carilah waktu untuk mengenal seorang gadis. Dan menikahlah dengannya saat kamu sudah merasa cocok. Jangan khawatir, saya akan membiayai semua keperluan yang akan kamu keluarkan saat kamu menikah nanti. Dan akan memberikan sebuah hadiah besar yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya sebagai tanda terima kasihku padamu yang telah sangat setia pada saya selama ini."Pak Anwar meyakinkan Dani.


"Jadi kalau mas Dani saja yang menikah baru dapat hadiah om? Trus apa kabar dengan Dika om? Dika minggu depan akan menikah. Apa Dika akan mendapatkan hadiah pernikahan dari om?"Dika berkata seolah-olah dia sedang minta permen karena takut tak kebagian karena semua diberikan pada Dani.

__ADS_1


"Hahahha.. Tenang saja Dika. Om sudah mempersiapkan hadiah yang akan om berikan padamu di hari pernikahanmu besok."Pak Anwar menenangkan Dika.


"Yee... Makasih ya om. Dika kan jadi semangat nikah dong kalo gini."Ucap Dika keceplosan.


"Ooo.. Jadi kalau nggak ada hadiah dari om Anwar, mas Dika nggak semangat menikah dengan Maya hah???"Maya menarik kuping Dika di hadapan om Anwar dan Dani yang masih ada di dalam mobil itu.


"Maaf sayang. Bukan itu maksudku. Kamu jangan salah paham."Bujuk Dika.


"Apanya yang salah paham mas? Kan ucapan mas tadi sudah jelas kalau mas Dika semangat menikah dengan Maya karena mengharap hadiah yang akan om Amwar berikan ke mas. Iyakan?"Maya menyimpulkan sendiri sesuai dengan hasil pikirannya.


"Bukan gitu maksud mas Dika, May. Sabar dulu. Maksud mas kan, mas Dika memang senang dapat hadiah dari om Anwar. Tapi hadiah terindah yang Tuhan berikan pada mas itu adalah kamu. Tak ada yang lain."Dika membujuk Maya.


"Nggak sayang. Mas nggak ada niatan seperti itu. Sumpah deh "Dika membuat tanda peace ke arah Maya agar dapat dimaafkan oleh Maya calon istrinya itu.


"Mas yakin?"Tanya Maya lagi.


"Ya yakin dong sayang. Mas kan nggak pernah bohong sama kamu. Semua mas katakan itu jujur dari hati yang paling dalam sedalam samudera."Bujuk Dika lagi.


Melihat kedua calon pengantin tersebut berkelahi untuk hal yang mereka kira tak penting itu, om Anwar dan Dani hanya senyam senyum saja.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil yang mereka berempat tumpangi masuk ke halaman rumah. Mereka berempat turun dari mobil


"Ayo masuk om dan mas Davi, kakek sudah menunggu didalam kamarnya yang begitu lama. Sehingga pasangan suami istri itu pun pisah." Maya hanya mengangguk tanda dia mengerti.


"Baiklah mas Dika. Saya dan Anwar sudah mengemban tugas di luar kota dan dapat menjaga ketentraman orang. Kasian orangnya. Sudah saatnya mereka harus Sudah saatnya mereka harus berpapasan dengan orang lain. Tidak bolah hanya menyendiri. Saya harus bisa mengandalkan tubuhku saat aku benar_benar malu.


"Baiklah. Apa kata mas saja. Maya akan menuruti apa yang akan terjadi selama itu tidak merugikan bunda sama sekali.


Sesampainya di rumah Dika, Maya hanya melambaikan tangan dan menyalam Nenek, kakak Celyn dan kakak Dinar." Mereka pun tidak menolak perlakuan dari Maya. Maya menyalam tangan kedua kakak Dika itu bahkan sama sekalin tidak beruntung.


"Selamat datang Pak Anwar digubuk kami ini"Sapa Nek Imah.


"Terima kasih Nek. Saya senang sekali bisa hadir di sini dan berkumpul kepada semua keluarga kita Nek." Kata Maya


"Baiklah. Terima kasih atas sambutannya Ibu Imah. Saya senang sekali saya bisa diterima di sini."Kata Pak Anwar.


"Bapak adalah orang yang dianggap ayah oleh cucu-cucu saya. Pasti saya dengan senang hati menyambut bapak."Ucap Nek Imah.


Nek Imah pun duduk beserta dengan ketiga cucu dan cucu menantunya. Mereka berkumpul bercengkrama layaknya keluarga.

__ADS_1


__ADS_2