
Dika Balik Lagi Ke Rumah Maya
Setelah kepergian Dika dari rumah Maya, Mamanya Maya mendekati anaknya yang sedang terbaring di tempat tidurnya untuk mengistirahatkan kakinya.
"Maya, kamu nggak apa-apa?"Tanya Mama Maya penuh perhatian.
"Nggak apa-apa kok ma. Tadi kata dokter Maya hanya perlu minum antibotik untuk obat yang diminum dan anti septik untuk di buat di bagian tubuh Maya yang luka."Cerita Maya.
"Syukurlah kalo begitu. Kalo kamu nggak kenapa-napa mama jadi tenang Maya."Ucap mama Maya.
"Iya ma. Makasih ya sudah perhatian sama Maya."Kata Maya.
"Seharusnya mama yang harus berterima kasih sama kamu May, karena sejak papa kalian meninggal kamu selalu membantu mama mencari uang untuk kebutuhan hidup kita walaupun kamu waktu itu masih sekolah."Kata Mama Maya.
"Itu sudah kewajiban Maya bu sebagai anak untuk membantu meringankan beban orangtuanya. Jadi mama nggak perlu pake nggak enak segala. Kayak sama siapa saja. Maya kan anaknya ibu."Maya mengatakan hal itu pada mamanya.
"Iya. Nggak apa-apa Maya. Gimana pun mama akan berterima kasih pada kamu kok. Oh iya, kamu sudah makan? Biar mama ambilin makan siang buat kamu. Kan kamu harus minum obat supaya kaki kamu cepat sembuh."Jawab mama Maya.
"Iya ma. Makasih ya ma. Kebetulan memang Maya belum makan karena kaki Maya ini."Ucap Maya.
"Ya sudah mama ambilin ya. Tunggu di sini, jangan kemana-mana."Perintah mama Maya.
"Ya ampun ma. Memangnya Maya mau kemana? Jalan saja Maya kesusahan."Kata Maya.
"Hehehe.. Iya juga ya. Ya sudah kalo gitu."Mama Maya hendak berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Mama Maya tiba-tiba oyong saat hendak berdiri. Pandangannya kabur dan langsung terjatuh ke lantai di samping tempat tidurnya Maya itu. Maya panik dan berusaha berdiri dan turun dari tempat tidurnya itu.
"Mama.. Mama.. Mama kenapa?"Teriak Maya panik melihat mamanya tergeletak di lantai.
"Tolong.. Tolong.. Tolong..!!" Teriak Maya
Beberapa menit Maya berteriak minta tolong tak ada yang mendengarnya. Lalu Maya berusaha menggerakkan kakinya untuk minta tolong di depan pintu rumah. Maya takut karena dia ada di dalam kamar teriakan Maya tak ada yang mendengarnya.
Di sisi lain, saat Dika sedang menyetir mobil teringat kalo handphonenya tertinggal di rumah Maya. Dika ingat saat dia memapah Maya ke tempat tidur, Dika meletakkan handphonenya di pinggir meja tempat tidurnya Maya tapi Dika lupa mengambilnya kembali.
"Aduh handphone ku ketinggalan lagi. Balik lagi nggak ya? Gimana ya? Kalo balik kerjaan ku jadi terbengkalai semua. Tapi kalo nggak diambil di handphone itu banyak nomor-nomor penting untuk perusahaannya. Udah ahh, aku ambil saja. Toh belum jauh ini deh." Batin Dika saat dia menyetir mobilnya.
__ADS_1
Secepat kilat Dika memutar balikkan mobilnya. Dika kembali mengarahkan mobilnya ke arah rumah Maya. Untung saja, Dika belum jauh dari rumah Maya. Hanya kira-kira sepuluh menitan lah dari rumahnya Maya.
Sesampainya di rumah Maya, Dika melihat Maya yang menangis sambil teriak minta tolong. Maya terduduk di lantai karena kakinya memang tak kuat berdiri dan berjalan. Tadi saja Maya ngesot dari kamar ke depan pintu rumah itu.
"Ya ampun mbak Maya. Mbak Maya kenapa? Kenapa nggak di dalam saja?"Dika langsung berlari saat keluar dari mobilnya melihat Maya dalam keadaan seperti itu.
"Tolong saya mas. Tolong..!!"Kata Maya terbata-bata
"Mau saya tolong apa mbak? Apa kaki mbak sakit lagi?"Dika bertanya panik juga.
"Bukan saya tapi mama. Tolong mama di kamar."Maya memohon pada Dika.
"Ada apa dengan tante mbak?"Dika semakin panik.
"Mama pingsan di kamar. Tolong bawa mama ke rumah sakit."Teriak Maya histeris.
"Baik mbak. Sebentar."Dika pun membantu Maya duduk dulu lalu berlari ke kamarnya Maya.
Setelah Maya duduk tenang, Dika pun berlari ke kamar. Dika memang melihat mamanya Maya tergeletak di sana. Dika pun mencari posisi enak untuk membantu mamanya Maya berdiri dan memapahnya ke mobil agar bisa di bawah ke rumah sakit.
Mama Maya masih pingsan. Dengan terseok-seok dan kesusahan Dika membantu mama Maya agar dapat berjalan dan di bawa ke mobilnya. Dika meletakkan mama Maya di bangku belakang mobilnya. Lalu berlari lagi ke arah Maya.
"Saya ingin ikut. Tapi saya nggak enak mas jadi susah mengurusi saya dan mama saya di rumah sakit."Jelas Maya.
"Nggak susah kok. Nanti sesampainya di rumah sakit, saya saja turun dan meminta suster dan perawat menolong mamanya mbak dulu baru setelah itu saya balik lagi membawa kursi roda dan menjemput mbak. Soalnya kalo mbak nggak ikut saya bingung kalo disuruh mengisi data pasien. Saya kan nggak tau. Ini kali pertama kita ketemu. Jadi, mbak dibutuhkan di sana."Jelas Dika.
"Ya sudah mas. Tolong bantu saya masuk ke mobil. Supaya mama bisa segera di tolong."Kata Maya.
"Baik mbak."Jawab Dika singkat.
Dengan ligat Dika membantu memapah Maya. Dika tidak begitu kesusahan memapah Maya karena selain badan Maya itu bisa dibilang kurus, Maya juga sadar jadi bisa membantu menggerakkan kakinya yang satu lagi. Tak berapa lama pun Maya sudah di bantu Dika untuk duduk di depan di sampingnya sedangkan mama Maya ditidurkan di bangku belakang.
"Kita jalan sekarang ya mbak."Dika memberi aba-aba..
"Iya mas."Maya menjawab singkat.
Dalam keadaan panik, Dika menarik nafas panjang lalu membuangnya agar dia sedikit tenang lalu Dika fokus menyetir mobil dengan kecepatan penuh agar bisa cepat sampai ke rumah sakit terdekat dari rumah itu. Dika sengaja tak melihat Maya yang sedang panik karena takut konsentrasinya terganggu melihat kepanikan Maya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Dika akhirnya sampai ke rumah sakit terdekat. Sesuai perkataannya tadi, Dika keluar dari mobil meminta bantuan para suster untuk membantu menangani mamanya Maya. Semua suster dan perawat membantunya mengurus mama Maya dan langsung membawanya ke IGD agar segera di tangani.
Lalu Dika melihat ada kursi roda yang diperuntukkan untuk pasien nganggur di dekat tempatnya berdiri. Dika pun mengambil kursi roda itu dan membantu Maya keluar dari mobil dan didudukkan di kursi itu agar Maya nggak kesusahan saat dia berada di rumah sakit itu.
Dika membantu mendorong kursi roda itu ke depan ruang IGD. Maya terlihat sangat cemas saat menunggu dokter yang memeriksa mamabya keluar dan mengatakan bagaimana sebenarnya keadaan mamanya di dalam.
Lima belas menit sudah mama Maya ditangani di dalam ruang IGD itu, Maya semakin takut dan panik mamanya kenapa-kenapa. Soalnya memang selama ini mamanya Maya penyakitan. Lalu dokter di ruang IGD keluar dari ruangan itu. Maya dibantu Dika mendekati dokter yang memeriksa mamanya itu.
"Gimana keadaan mama saya dok? Apa dia baik-baik saja?"Tanya Maya panik.
"Mbak siapanya pasien?"Dokter bertanya balik.
"Saya anak kandungnya dokter. Gimana keadaan mama saya."Maya bertanya lagi.
"Saya melihat penyakit mama anda sudah tergolong lama. Apa mbak tidak pernah membawa mama nya mbak berobat?"Dokter mengatakan pada Maya.
"Saya hanya membawa mama ke puskesmas dok. Saya tidak punya uang untuk berobat ke rumah sakit. Keadaan ekonomi kami tidak mendukung untuk membawa mama ke rumah sakit."Maya berkata jujur.
"Ada radang di paru-parunya mbak. Saya takut kalo nggak di operasi, ibu anda kemungkinan besar tidak selamat mbak."Ucap dokter itu.
"Lakukan saja dok yang terbaik untuk menyembuhkan tante tersebut."Dika berkata seperti itu saat melihat Maya panik karena dia sama sekali nggak punya uang.
"Tapi mas. Biaya operasi mama pasti mahal sekali mas. Saya nggak punya uang sebanyak itu."Maya mengatakan pada Dika.
"Pake uang saya dulu. Kalo mbak nggak mau saya kasi cuma-cuma mbak bisa menganggap ini hutang dan dapat membayarnya kapan pun mbak punya uang."Ucap Dika meyakinkan Dika.
"Baiklah mas. Anggap saja saya hutang. Setelah saya sembuh, saya akan bekerja keras untuk mengumpulkan uang dan membayarnya."Janji Maya.
"Terserah mbak saja. Yang penting mamanya mbak selamat."Ucap Dika
"Bagaimana mbak?"Tanya Dokter menunggu keputusan Maya.
"Baiklah dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan mama saya."Kata Maya singkat.
"Baiklah mbak. Silahkan urus administrasinya di sana agar segera dilakukan operasinya."Jelas dokter.
"Iya dok. Saya yang akan mengurus biaya operasinya. Silahkan persiapkan operasi untuk ibu itu"Kata Dika mantap.
__ADS_1
"Baik mas. kalo gitu saya akan mempersiapkan segalanya."Ucap dokter itu.
Setelah itu dokter pun berlalu dari depan Maya dan Dika. Sementara itu, Dika mendorong kursi roda Maya ke arah kasir rumah sakit dan mengurus semua tagihan yang harus dibayar agar operasi bisa segera dilakukan.