
"Kegiatan kamu sekarang apa Milea?"Tanya Dani sambil makan di sebelahnya.
"Aku nggak ada kegiatan apa-apa. Setelah kuliah papa menyuruhku bekerja di perusahaannya untuk belajar. Tapi aku nggak punya minat di bidang itu. Jadi malas mengerjakannya."Jelas Milea.
"Trus minat kamu sebenarnya di bagian apa Milea? Maksudku di bidang apa?"Tanya Dani.
"Sebenarnya aku tuh suka musik. Aku pengen jadi pianist terkenal dan mengadakan konser ke seluruh dunia. Tapi papa melarang. Katanya seorang pianis itu tidak menjanjikan. Tidak bisa kaya dengan cepat. Padahal aku suka banget."Curhat Milea.
"Sebenarnya pekerjaan apapun itu kalau ditekuni bisa menjadi orang sukses loh. Apalagi kamu kan masih muda pasti masih banyak kesempatan ke depan kalau kamu mau memulainya dari sekarang."Ucap Dani.
"Tapi kan mas semua itu butuh modal dan relasi. Aku nggak punya keduanya. Gimana caranya bisa memulainya. Tak ada juga yang mendukungku. Jadi jatuhnya malas mas."Cerita Milea.
"Kalau saya bantu mau? Saya sih nggak punya relasi dibidang musik tapi saya bisa mencarikan kamu sebuah tempat kursus yang bagus yang sering mengadakan event-event musik dan pastinya kalau kamu bagus kamu bisa terpilih untuk mewakilinya. Dan dari situlah nanti karier kamu jadi pianist dimulai. Gimana menurut kamu?"Dani menanyakan pendapat Milea.
"Tapi mas , Setahu saya di Indonesia ini kurang berkembang untuk dunia seni musik mas. Saya pernah mencaritahu sekilas."Jelas Milea.
"Gampang. Kalau memang di Indonesia nggak ada. Kita akan keluar negri. Atau kamu mau ikut saya ke Amerika? Saya rasa di sana kamu punya banyak kesempatan untuk berkembang. Tapi kalau kamu mau sih?"Dani menawarkan.
"Mau sih mas. Tapi papa pasti melarang. Lagian di sana kan Milea nggak punya keluarga, teman ataupun kerabat. Milea pun tak tahu seluk beluk negara itu. Pasti nanti Milea gagal mas."Milea patah semangat.
"Belum dicoba kok dah nyerah sih.. !! Coba dulu baru kita tahu hasilnya gimana. Jangan kalah sebelum bertanding. Lagian di negara itu kan ada mas. Kamu bisa anggap saya sebagai keluarga , teman atau kerabat kamu. Saya juga jadi tour guide kamu di sana dan memberitahukan seluk beluk negara itu. Jadi jangan takut. Cukup tekadkan dalam hati kalau kamu mau berhasil jadi pianist. Tuhan sendiri yang akan kasi jalan. Percaya deh sama saya.".
__ADS_1
"Tapi mas ,papa nggak akan mengizinkan anak gadisnya pergi ke luar negri dengan laki-laki yang belum dia kenal. Kita tinggal dan masih menerapkan budaya ketimuran mas. Adat istiadat masih kental di sini. Apa kata orang kalau aku ikut mas ke sana. Mereka sangka nanti Milea cewek kegatelan lagi mas. Milea nggak mau gitu ahh. Milea nggak mau dikata-katain yang aneh-aneh." Milea menyampaikan kegalauan hatinya.
"Benar juga sih. Orang tua mana yang mengizinkan anaknya pergi ke luar kota bahkan keluar negri tanpa ada status yang jelas. Mas sampai lupa karena kelamaan tinggal di luar negri. Maaf ya."Dani pun menyadari kesalahannya.
"Nah itu mas tau kan. Makanya saya galau mas. Kalau dibilang pengen Milea pengen banget malah tapi Milea juga harus tau diri mas."Milea pun mendesah.
"Iya sih. Kalau mas ajak kamu nikah biar ada status kan nggak mungkin. Kamu juga pasti nggak mau soalnya kita kan baru kenal."Milea mengangguk setuju pendapat Dani.
"Kalau mas bawa tanpa status pun nggak boleh. Nggak baik dan apa kata orang. Pak Anwar juga pasti nggak setuju mas berbuat seperti itu." Sambung Dani sambil mempelajari kondisi saat ini.
"Ya udahlah mas. Nggak perlu dipikirin buian urusan mas juga. Mungkin memang Milea nggak ditakdirkan jadi seorang pianist terkenal."Milea pun pasrah.
"Nggak. Nggak boleh gitu. Kamu harus yakin kamu bisa. Saya akan mengusahakan yang terbaik yang saya bisa untuk membantu kamu dan membukakan jalan buat kamu. Jangan khawatir. Serahkan semuanya sama mas ya. Kamu tinggal terima beres saja."Janji Dani.
"Nggak kok. Tenang aja. Mas kan punya banyak kenalan. Nanti mas tanyain satu satu ke mereka ya."
"Iya mas. Sebelumnya makasih ya mas karena mas udah baik banget sama Milea. Nggak disangka masih ada orang baik di dunia ini. Hahahaa."Milea terlihat sangat bahagia.
"Ngomong-ngomong mas berapa lama di Indonesia?" Milea tiba-tiba teringat.
"Kalau kerjaan di sini sudah selesai mungkin tiga minggu lagi. Soalnya Dika kan mau pergi bulan madu besok. Jadi akan menggantikannya selama Dika cuti menikah."
__ADS_1
"Berarti masih lama ya mas? Baguslah."Milea semangat.
"Kok malah bagus sih?"Dani mengernyitkan dahinya.
"Ya bagus dong mas. Dulu kan Milea pernah janji mau ajak mas puter puter Indonesia. Kalau mas masih lama di sini kita bisa buat schedule yang cocok biar nggak mengganggu jam kerja mas dan kita bisa tetap jalan-jalan. Lumayan kan Milea ada temannya tiga minggu ini."Ucap Milea penuh semangat.
"Iya ya benar juga. Mas baru ingat kamu ada janji itu sama saya. Kalau ingat itu, mas jadi teringat saat saat pertama kita bertemu. Saat itu mas salah sangka mengira kamu akan bunuh diri dengan berjalan tanpa arah ke tengah pantai. Mas kira kamu punya banyak beban sampai nggak sanggup untuk hidup lagi. Tapi untunglah sekarang kamu nggak gitu lagi. Kamu kelihatan lebih semangat dan ceria sekarang. Mas jadi senang."Cerita Dani mengingat pertemuan mereka pertama kali.
"Udah mas jangan diingat ingat lagi. Milea nggak ada niat bunuh diri kok waktu itu. Milea cuma lagi galau atas tekanan papa dan melangkahkan kaki begitu saja. Milea juga nggak sadar Milea malah berjalan ke tengah pantai waktu itu. Untung sih ada mas. Jadi Milea sadar tepat waktu."Milea pun mengingat kenangan mereka itiu
"Lain kali jangan melamun di dekat pantai takutnya ada penunggu pantai tertarik sama kamu dan mengajak kamu ikut sama dia kan jadi tambah buat pusing toh."Dani mengingatkan.
"Iya. Mas benar. Lain kali Milea nggak mengulanginya. Janji deh."
"Ya udah yuk kita kembali ke dalam pesta. Kayaknya kita udah kelamaan disini. Nanti mas dicariin sama yang lain."Ajak Dani.
"Iya mas. Ayo. Lain kali kita ketemu lagi ya. Sini nomor mas biar Milea save."Dani pun menyebutkan nomor handphone nya agar bisa di save oleh Milea.
"Itu nomorku ya mas."Milea memiscall Dani supaya Dani bisa menyimpan nomornya juga.
"Oke Milea makasih ya. Saya masuk dulu."Dani pamit.
__ADS_1
Milea pun menatap kepergian Dani. Ntah kenapa hatinya merasa nyaman saat bersama dengan Dani.