Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 57


__ADS_3

Pembicaraan Dika dan Keluarganya.


"Gimana kak? Apa kalian suka dengan oleh-oleh yang Dika bawa? Maaf ya cuma itu saja yang sempat Dika beli. Maklum di sana kan Dika sibuk dan banyak yang diurusi."Dika berkata memecah keheningan dan kegiatan yang sedang keluarganya lakukan.


"Ini juga sudah cukup Dika. Kami sudah puas dan senang kamu masih mengingat kedua kakakmu ini."Jawab Celyn asal masih terfokus melihat oleh-oleh miliknya.


"Pastilah Dika akan mengingat kak Celyn dan kak Dinar apapun yang terjadi. Kalian kan kedua kakak yang paling Dika sayangi kak."Dika bicara serius.


Mendengar ucapan Dika, Celyn sebagai kakak tertua sangat terharu. Celyn menghentikan kegiatannya mengagumi oleh-oleh yang dibeli Dika. Lalu bangkit berdiri berjalan menuju kursi tempat Dika duduk dan seketika memeluk Dika. Sontak Dika terkejut dibuatnya. Tak menyangka kalo kakaknya itu akan berbuat seperti itu. Dika pun membalas pelukan kakaknya itu.


Satria yang melihat mamanya memeluk Dika, tak mau kalah. Dia pun ikutan memeluk om nya itu dan berusaha menyingkirkan tangan Celyn dari tubuh Celyn. Yang menandakan bahwa Dika itu hanya milik Satria seorang.


"Ihh.. Satria apaan sih? Mama kan cuma mau peluk adik mama. Masa nggak boleh?"Protes Celyn pada Satria yang merusak kegiatan peluk memeluk mereka.


"Nggak boleh ma. Om Dika hanya milik Satria seorang. Nggak boleh ada yang pegang-pegang om Dika."Satria seakan berhak memiliki om nya itu dan menjadi hak miliknya sendiri.


"Nggak boleh gitu dong Satria. Om Dika itu milik kita bersama. Jangan dilarang dong mamanya peluk om Dika."Kata Nek Imah.


"Biarin oma buyut. Satria kan kangen sama om Dika. Biar Satria dulu yang peluk om Dika. Nanti setelah puas baru mama, tante maupun oma buyut boleh peluk om Dika."Protes Satria.


"Hahhaaha.. Udah ahh. Jangan berantam terus."Dika menengahi. "Satria sayang.. Sini om peluk. Kangen ya sama om?"Sambung Dika sambil meletakkan keponakannya itu dipangkuannya.


"Iya om."Satria pun bergelayut dipangkuan Dika dengan manjanya.


"Hahaha... Satria.. Satria..!!"Semua tertawa melihat tingkah manjanya Satria pada Dika.


Beberapa menit berlalu. Dika masih disibukkan dengan kemanjaan Satria. Dika menyayangi Satria dengan sangat tulus.


"Oh iya Dika..!!"Celyn tiba-tiba memecah keheningan yang terjadi.


"Ya kak. Ada apa?"Tanya Dika mendengar suara Celyn.


"Gimana keadaan om Anwar? Apa semuanya baik-baik di sana?"Tanya Celyn.

__ADS_1


"Om Anwar sudah mulai sehat kak. Urusan di sana pun sudah hampir selesai. Dika dibantu mas Dani membereskan segalanya. Kami berdua sudah mengembalikan kepercayaan para investor agar tidak menarik saham yang sudah mereka tanamkan di perusahaan om Anwar. Sehingga usaha om Anwar sedikit demi sedikit mulai membaik."Jelas Dika.


"Alhamdulillah..!!"Celyn lega mendengarnya.


"Trus kamu ada kasitau om Anwar kalo kamu akan menikah dalam waktu dekat ini?"Tanya Dinar.


"Ada dong kak. Masa hal bahagia kayak gitu nggak dikasitau sama om Anwar. Pasti dong aku kasitau."Jawab Dika mantap.


"Trus tanggapannya gimana?"Celyn penasaran.


"Om Anwar bilang dia akan datang ke Indonesia kalo nggak salah dua atau tiga hari sebelum hari pernikahannya Dika dengan Maya bersama dengan mas Dani."Jelas Dika.


"Wah.. Senangnya bisa ketemu dengan om Anwar lagi. Kakak kangen banget sama om Anwar."Celyn mengatakan kerinduannya pada Om Anwar pada Dika.


"Om Anwar juga katanya kangen sama kak Celyn, kak Dinar dan nenek."Jelas Dika.


"Satria nggak dikangenin ya om?? Hufftt.. Sedihnya."Satria tiba-tiba nimbrung omongan mereka.


"Kakek Anwar kan belum kenal sama Satria dan Satria sendiri pun nggak kenal dengan kakek Anwar. Tapi asal Satria tau, kakek Anwar banyak berjasa saat Satria masih di kandungannya mama. Karena kakek Anwar, Satria bisa lahir dengan selamat dan bisa sampai sebesar ini."Dika menjelaskan sedikit tentang Anwar pada Satria.


"Bener Satria. Ngapain sih om bohong. Kamu bisa tanya mama kamu dan semua orang yang ada di sini."Saran Dika.


Mendengar itu, Satria melayangkan pandangannya kepada setiap orang yang ada di sana. Mereka yang dipandangi pun masing-masing menganggukkan kepala pertanda membenarkan penjelasan Dika pada Satria.


"Hmmm... Jadi penasaran deh sama yang namanya kakek Anwar. Nanti kenalin Satria sama kakek Anwar ya om..!!"Pinta Satria.


"Siap Satria sayang."Jawab Dika seraya menaruh tangan di kepala seolah menghormat pada Satria.


Satria pun senang mendengar jawaban dari Dika. Berhubung Satria sudah puas memeluk Dika, Satria pun pergi ke tempat biasa dia bermain di rumah itu. Satria tak mau mengganggu percakapan para orangtua lagi. Dia pun mengalah dan pergi.


Seperginya Satria, Dika mulai membuka pembicaraan pada keluarganya itu.


"Udah sampai dimana kak persiapan pernikahan Dika?"Tanya Dika.

__ADS_1


"Loh, memangnya Maya nggak pernah kasitau kamu perkembangannya?"Celyn heran.


"Selama di Amerika, Dika jarang menelpon Maya, Dika hanya fokus bekerja."Ucap Dika.


"Tapi kan kamu ketemu Maya kan semalam? Apa dia nggak cerita?"Tanya Dinar.


"Nggak kak. Dika nggak membahas itu. Dika hanya memandangi wajahnya melepas kerinduan Dika padanya."Jelas Dika


"Hahahha.. Dasar bucin..!!"Celetuk Dinar


"Ishhh kakak kayak nggak pernah jatuh cinta deh. Wajarkan??"Dika tersipu malu.


"Iya nih Dinar. Wajar dong Dika kayak gitu. Secara Maya kan memang cinta pertamanya"Ucap Celyn.


"Hahaha.. Iya juga ya kak. Maaf Dinar lupa."Dinar pura-pura mengaku salah.


"Persiapannya sudah 90% selesai Dika. Tinggal fitting baju dan membagikan undangan saja. Semuanya sudah diurus oleh kedua kakakmu itu."Nek Imah menjelaskan.


"Woowww.. Terima kasih ya kakak-kakakku. Kalian memang perhatian banget dengan adik kalian ini."Kata Dika.


"Iya dong. Kan kamu adik laki-laki kita satu-satunya. Sudah seharusnya seperti itu."Jawab Celyn.


"Apapun itu. Makasih ya kak."


"Trus rencana kamu apa setelah menikah?"Tanya Celyn.


"Kemungkinan Dika dan Maya akan tinggal di Amerika. Masih banyak yang harus Dika kerjain di sana."Jelas Dika.


"Jadi kamu tinggalin nenek sendiri di sini?"Nek Imah protes.


"Ya nggak dong nek. Kalo nenek mau, nenek ikut Dika dan Maya ya. Sekalian biar Maya ada temannya di sana."Ucap Dika.


"Sebenarnya sih nenek suka di Indonesia saja. Tapi daripada nenek harus tinggal sendiri di sini. Nenek ikut dengan kamu saja kemana pun kamu pergi Dika."Ucap Nek Imah

__ADS_1


"Dika pun memang maunya begitu Nek."Dika memeluk nek Imah yang sangat dia sayangi sejak Dika masih kecil.


Sebenarnya Dika juga memang sangat berat jika harus jauh dari nek Imah dalam waktu yang lama.


__ADS_2