Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 13


__ADS_3

Dika Dan Satria Menjenguk Mamanya Maya.


Setelah sarapan bersama keluarganya Dika dan Satria pamitan pada semua yang ada di sana. Dika dan Satria memiliki agenda padat berdua seharian ini. Satria yang diajak oleh om nya itu pun ikut saja dengan senang hati malah sangat semangat sekali. Itulah yang diinginkannya selama ini. Satria ingin bersama om nya yang bernama Dika itu.


"Nek, kak Dinar, kak Celyn dan mas Dimas kita pergi dulu ya sekarang. Dika takut kemalaman pulangnya kalo lama pergi. Dika dan Satria punya banyak sekali acara yang sudah di list Satria kemaren malam sebelum tidur. Dika akan menemaninya seharian hari ini"Dika menjelaskan pada keluargaƱya.


"Hati-hati ya Dika bawa Satrianya. Kamu harus extra hati-hati menjaganya. Satria itu orangnya sangat aktif. Kamu harus memperhatikan gerak geriknya ya."Ucap Nek Imah.


"Satria, ingat ya jangan nakal. Jangan ngerepotin om Dika. Dan satu lagi jangan beli mainan kebanyakan. Mainan kamu masih banyak yang bagus-bagus di rumah. Oke sayang."Celyn mengingatkan anaknya itu.


"Iya mama bawel. Satria akan baik-baik saja sih. Tenang saja. Satria kan anak penurut dan nggak nakal. Iya kan om Dika."Satria meminta dukungan Dika.


"Iya kak. Satria anak baik kok. Dika sayang banget sama dia."Kata Dika.


"Makanya punya anak dong Dika. Biar ada yang temenin Satria kalo kalian jalan-jalan gini biar jadi rame."Saran Dinar seraya meledeknya.


"Yee kak Dinar. Gimana mau punya anak? Nikah aja belum."Dika manyun.


"Ya nikah dong. Apa kamu belum siap?"Dinar menambahkan lagi.


"Ya ampun kak. Apa kakak tau Dika sudah mempersiapkan semuanya. Dika sudah tau butik yang bagus untuk memesan baju pengantin, sudah tau dimana catering yang enak, sudah tau dimana gedung yang bagus untuk resepsinya. Cuma satu saja yang kurang"Jelas Dika.


"Apa yang kurang?"Tanya Celyn penasaran.


"Yang kurang itu hanya satu. Dika belum tau siapa yang bakalan Dika nikahin. Abis Dika belum punya pacar sih. Hahahahah..!!"Dika meledek kedua kakaknya. Nek Imah dan Dimas hanya menggeleng mendengar omongan Dika yang seakan serius tadi.


"Dika...!!"Panggil Dinar dan Celyn geram.


"Hahahaha...!!"Dika hanya tertawa dan meninggalkan keluarganya itu bersama dengan Satria dalam keadaan kesal akan kata-katanya tadi.

__ADS_1


Satria melihat kekesalan di wajah mama dan tante nya itu. Satria juga ikutan tertawa melihat mama dan tantenya dikerjain sama om nya itu. Satria terlihat membela Dika seakan Satria senang mama dan tantenya dikerjain Dika.


"Om lihat tuh muka mama dan tante. Kayaknya mereka marah deh sama om"Satria melaporkan apa yang dilihatnya.


"Biarin saja Dika. Abisnya mereka maksa om nikah terus. Om kan masih mau main sama kamu Satria. Bolehkan?"Cerita Dika pada Satria.


"Ya boleh dong om. Boleh banget malah. Satria malah senang om mau main sama Satria."Satria senang om nya itu lebih suka main dengannya.


"Ya sudah, yuk kita berangkat. Kita ke rumah sakit dulu jenguk mama nya teman om yang sakit ya baru kita pergi main."Jelas Dika.


"Siap om. Satria akan mengikuti om kemana pun om membawa Satria."Ucap Satria pada Dika.


"Anak pintar. Ayo kita segera pergi."Dika mengajak keponakannya itu naik ke mobil Dika.


Dika menjalankan mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Satria duduk di bangku depan di samping om nya itu duduk. Satria dengan sigap memakai seat belt nya tanpa di suruh seakan dia sudah sering duduk di bangku depan.


Dika dan Satria pun berjalan ke arah ruang rawat yang dibilang oleh suster tadi. Sebelum ke rumah sakit tadi, Dika sempat membeli beberapa cemilan dan dan buah untuk dimakan Maya dan adiknya saat menjaga ibunya di sana. Kaki Maya pun sudah mulai enakan tidak sesakit kemaren. Maya sudah tak menggunakan kursi roda rumah sakit itu.


"Selamat pagi Maya."Sapa Dika saat Dika masuk ke ruangan itu bersama dengan Satria.


"Eh mas Dika. Selamat pagi juga mas. Kok pagi-pagi sudah kemari? Memangnya mas nggak kerja?"Tanya Maya.


"Nggak Maya. Inikan hari Sabtu. Saya libur kerjanya."Jawab Dika.


"Wah enak ya. Kalo di cafe saya bekerja sih, semua hari sama nggak ada istilah libur."Jelas Maya.


"Nggak apa-apa dong Maya. Namanya juga kerja. Mencari nafkah. Dulu kakakku saat bekerja di minimarket juga gitu."Jelas Dika.


"Ini siapa mas? Ganteng banget."Tanya Maya menanyakan Satria.

__ADS_1


"Ooo.. Ini anak kakakku. Namanya Satria. Ayo Satria perkenalin diri kamu sama tante Maya temannya om."Suruh Dika.


"Wah, tante cantik juga ya. Mirip sama mama aku. Pantesan saja om Dika tadi bilang kalo temannya itu mirip mama. Perkenalkan tante. Nama aku Satria. Senang berkenalan dengan tante cantik. Tante pacarnya om Dika ya?"Satria dengan polosnya ngomongnya.


"Satria..!!"Hardik Dika.


"Uppss..!! Maaf om keceplosan."Satria pun spontan menutup mulutnya.


"Nggak apa-apa mas. Perkenalkan sayang nama tante Maya. Senang deh punya anak kayak kamu. Udah pintar, ramah, sopan pula. Mama kamu pasti bangga sama kamu."Puji Maya.


"Pastinya dong tante. Dimana lagi bisa dapat anak kayak Satria gini. Seperti sebuah paket lengkap."Satria menyombongkan diri.


"Hahhaha..!!"Dika dan Maya hanya tertawa melihat kelakuan Satria.


"Oh iya Maya, Gimana keadaan tante? Apa dia sudah baikan? Apa kata dokter?"Tanya Dika.


"Kata dokter sih, kita hanya menunggu gimana keadaan mama dua hari ini. Kalo mama stabil berarti mama sudah sembuh dan dapat di rawat jalan di rumah."Jelas Dika.


"Loh kenapa rawat jalan? Nggak lebih baik di rawat di rumah sakit dulu sampai benar-benar sembuh total?"Tanya Dika


"Nggak ahh mas Dika. Saya nggak sanggup membayar biaya perawatannya. Apalagi di ruangan VIP gini. Memang sih kata dokter, biaya ruangan ini sudah termasuk di biaya operasi kemaren. Tapi kan mungkin itu cuma untuk biaya rawat tiga hari. Selanjutnya kan Maya nggak tau mas."Jelas Maya.


"Ternyata dokter itu menepati janjinya dengan tak mengatakan pada Maya kalo aku yang membayarkan biaya rumah sakitnya. Hahaha..!!" Batin Dika.


"Nggak perlu dipikirin deh Maya. Yang terpenting mama kamu sehat dan bisa beraktivitas sebagaimana biasanya."Jelas Dika.


"Iya sih mas."Jawab Maya singkat


Dika menyerahkan sarapan yang Dika bawa untuk Maya. Dika menyuruh Maya untuk sarapan. Dika dan Satria menunggunya di sana sampai Maya selesai sarapan.

__ADS_1


__ADS_2