
Serangkaian acara pernikahan telah selesai dilaksanakan. Banyak acara yang dirangkai sedemikian rupa oleh Dika dan kedua kakaknya. Banyak tamu dan kolega bisnis Dika yang turut hadir dalam pesta itu. Sampai-sampai Maya dan Dika lama sekali berdiri menyalam para tamu yang datang memberi ucapan selamat kepada mereka.
"Kamu lelah ya sayang. Duduk saja dulu." Dika membisikkannya ke telinga Maya saat itu.
"Iya lumayan mas. Nggak enak ahh kalau duduk. Tuh liat antrian orang yang mau menyalam kita. Panjang mas. Kalau saya duduk mereka kelamaan juga antrinya. Nggak enak ahh."Bisik Maya ke telinga Dika.
"Iya juga ya. Kalau begitu tahan sebentar ya sayang. Nanti abis ini mas pijatin deh kakinya bisa sembuh."Goda Dika nakal.
"Ihh mas. Belum selesai acara udah mau goda Maya aja. Malu tuh didengar dan dilihat tamu yang datang."Wajah Maya sudah memerah kayak tomat karena ada beberapa tamu yang mendengar omongan Dika tadi.
"Biarin aja. Toh kamu kan sudah sah jadi istri mas. Sudah sah secara hukum dan agama. Jadi nggak ada yang boleh ngelarang-larang mas dong. Iyakan Pak?"Tanya Dika pada tamu yang hendak menyalam Dika dan Maya.
"Iya mbak Maya. Tenang aja. Mas Dika mainnya nggak kasar kok. Kan Mas Dika itu orang yang paling lembut."Goda sang tamu sambil mengedipkan mata pada Dika. Maya semakin malu melihat tamu yang ada di depannya.
Nek Imah yang berada di samping Dika menyenggol tangannya memberinya kode agar tak menggoda Maya di depan banyak orang.
"Apa sih nek. Kok main senggal senggol tangan Dika sih?"Ucap Dika pura-pura marah pada Nek Imah.
"Kamu itu ya, jahilnya nggak berubah. Nggak ngeliat waktu dan tempat. Lihat tuh wajah Maya sudah merah karena malu. Ini bukannya kasian malah makin dikerjain. Dasar suami nggak ada akhlak."Nek Imah memarahi Dika.
Beberapa tamu yang mendengar perkataan nek Imah spontan tertawa. Bagaimana tidak, seorang Dika CEO di beberapa perusahaan bisa dimarahi oleh seorang nenek. Iya sih memang mereka tahu itu neneknya Dika. Tapi melihat saat Dika dimarahi adalah sesuatu yang sangat langka. Jadi mereka pun tertawa dengan ekspresi wajah Dika.
"Issh nenek. Jangan marahi Dika di depan para tamu dong. Kan pamor Dika jadi berkurang. Apa kata dunia gitu Nek. Dika sang CEO terkenal diam saja dimarahi seorang nenek karena menjahili istrinya di pelaminan. Iihh.. Mau ditarok di mana muka Dika, Nek?"Dika seolah-olah merajuk.
"Tarok di dalam tas nenek aja. Biar nenek lipat-lipat trus nenek masukkan ke dalam bagian terdalam tasnya nenek supaya wajah kamu nggak perlu kelihatan. Gimana? Mau?"Beberapa tamu tertawa mendengar debat antara nek Imah dan Dika. Tanpa sadar pun Maya ikut tertawa puas nek Imah membalas kejahilan Dika padanya.
"Ya kali wajah Dika dilipat-lipat Nek. Memangnya wajah Dika terbuat dari kertas makanya bisa dilipat-lipat gitu?"Protes Dika.
__ADS_1
"Mungkin sih. Nenek belum tau wajah kamu terbuat dari apa. Kamu mau kita lakukan riset dilaboratorium untuk mengecek wajah kamu terbuat dari apa? Ayok. Nenek dengan senang hati menemani kamu." Maya tak sanggup lagi menahan tawanya. Maya pun tertawa terbahak-bahak.
Dika menoleh ke sebelahnya mendengar suara tawa Maya yang begitu kencang terdengar.
"Kamu menertawai mas ya sayang. Kok tega?"Kini Dika pura-pura merajuk pada Maya.
"Salah mas sendiri. Kan mas yang duluan menjahili Maya. Untuk ada dewi penyelamat Maya yang selalu siap sedia membela Maya kapanpun dan dimanapun. I love you full nek."Maya tak memperdulikan suaminya itu sudah mengeluarkan ekspresi kesal.
"Ya udah deh iya. Mas minta maaf ya karena udah ngejahilin kamu tadi. Abis mas senang melihat ekspresi wajah kamu saat malu-malu kayak tadi. Menggemaskan banget."Ucap Dika santai.
"Tuh kan mulai lagi. Nek, Dika ngejahilin Maya lagi." Maya mengadu pada Nek Imah.
"Dika jangan ganggu istri kamu. Lihat tuh para tamu memperhatikan kamu dari tadi."Nek Imah mengingatkan.
"Maaf Nek. Iya iya Dika diam aja deh. Nggak jahil lagi."Dika pun mengalah.
"Udah mas Dika. Kasian istrinya. Mending nanti aja pas berduaan. Biar cepat dapat Dika Junior."Ledek tamu yang satu.
"Jangan diambil hati mbak Maya. Mas Dika pasti cuma bercanda kok."Ucap tamu kedua.
"Tuh lihat kan Dika tamu-tamu jadi ikut ngeledekin kalian berdua."Nek Imah memarahi Dika.
"Maaf Nek."
Dika pun kembali fokus menyalami tamu yang tersisa. Dua jam kemudian akhirnya barisan tamu yang hendak menyalam pun sedikit demi sedikit sudah kembali ke kursi tamu dimana tadinya mereka duduk.
Tanpa menunggu lagi, Dika dan Maya pun duduk dan beristirahat. Mereka mengambil nafas dan melemaskan otot tangan dan kakinya yang capek berdiri dan menyalami para tamu.
__ADS_1
"Nih diminum dulu sayang. Supaya perasaan kamu lega."Dika menyerahkan segelas orange juice untuk Maya. Maya pun mengambil dan langsung menghabiskan segelas besar orange juice yang diberikan Dika tadi dalam satu sedotan saja.
"Haus banget ya sayang?"Dika memandang gelas kosong itu.
"Iya mas. Maya haus banget karena kebanyakan senyum, bibir Maya kering. Untung mas berikan orange juice tadi. Setidaknya bisa melegakan dahaga dan membasahi bibir mas."Jelas Maya.
"Ya baiklah sayang. Asal kamu bahagia mas akan mengiyakan saja apa yang kamu bilang."Dika memegang tangan Maya dan mennggenggam tangannya Maya.
"Seumur hidup mas akan menggenggam tangan kamu seperti ini. Nggak akan pernah mas lepaskan hingga maut memisahkan kita sayang. Mas janji itu."Janji Dika pada Maya
"Makasih mas. Telah mau menjadi suami Maya dan selamanya menjadi sandaran hidup Maya ke depannya. Maya janji nggak akan melepaskan genggaman tangan mas selamanya ".
"Makasih ya sayang " Ucap Dika terharu mendengar kata-kata Maya barusan.
Dua jam kemudian pesta resepsi pun berakhir. Banyak tamu dan undangan pun sudah pada berpulangan ke rumah mereka masing-masing. Hanya tinggal Pak Anwar, Nek Imah, kedua kakak Dika beserta keluarganya dan juga orangtua Maya dan adiknya. Mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama yang merupakan bonus dari paket pernikahan ini.
"Dika, sekarang kamu sudah jadi suami. Kamu harus jadi contoh dan imam bagi istri dan anak kamu kelak ya."Nasehat Pak Anwar
"Iya om makasih."
"Ini om ada hadiah pernikahan buat kamu dan Maya."Pak Anwar menyerahkan sebuah amplop pada Dika dan Maya.
"Apa ini om?" Tanya Dika.
"Buka saja biar kamu tau."Ucap Pak Anwar santai.
Dika pun membuka amplop itu satu persatu dan membacanya.
__ADS_1
"Wow tiket pesawat dan akomodasi bulan madu di Maldives. Beneran nih om."Pak Anwar mengangguk. Dika benar-benar senang mendapat hadiah itu.