
Dika Pamitan Pada Pak Anwar Sebelum Kembali Ke Indonesia...
Dua bulan sudah Dika di Amerika. Semua pekerjaan untuk membantu bangkitnya kembali perusahaan Pak Anwar pun sudah menampakkan hasil yang cukup significant. Dani dan Dika senang dan merasa usaha mereka tidak sia-sia.
Kesehatan Pak Anwar pun berangsur-angsur membaik. Pak Anwar sudah bisa duduk di kursi roda. Walau pun belum bisa berjalan lagi karena faktor usia yang sudah tak muda lagi, akan tetapi Pak Anwar sudah jauh lebih baik dari kondisi pertama kali Dika sampai di Amerika.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Dika pun pulang ke apartemen tempat dia tinggal selama di rumah sakit. Dika hendak membereskan barang-barangnya karena lusa dia akan kembali ke Indonesia untuk melangsungkan pernikahannya dengan Maya.
Saat hendak memasukkan barang-barangnya, Dika tiba-tiba berhenti karena memikirkan sesuatu.
"Sepertinya besok aku mau ke rumahnya Om Anwar deh. Lebih baik aku pamitan langsung pada om Anwar. Kan nggak enak kalo aku hanya menitip pesan pada Mas Dani untuk menyampaikan pada Om Anwar tentang kepulanganku ke Indonesia. Iya benar. Besok aku ke rumah Om Anwar aja deh sebelum berangkat lusa. Kebetulan besok aku kan nggak ada kegiatan apa-apa. Sekalian besok sehabis menjenguk Om Anwar aku belanja oleh-oleh sedikit deh untuk oleh-oleh buat keluarga tersayangku dan kalo ada aku beliin deh souvenir untuk pernikahanku nanti." Pikir Dika dalam hati merencanakan apa yang akan dilakukannya besok hari.
Setelah puas dan yakin akan rencananya yang akan dilakukan Dika besok, Dika pun kembali fokus menyusun barang-barangnya ke koper yang akan dia bawa pulang ke Indonesia dengan penuh semangat agar semuanya cepat selesai. Setelah itu, Dika pun mandi dan tidur untuk melepaskan lelahnya setelah seharian bekerja lalu mengemas barang bawaanmya.
*****Keesokan Harinya*****
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi waktu setempat. Tak sengaja Dika bangun kesiangan. Walau alarm di atas meja samping tempat tidurnya sudah berbunyi sedari tadi, tak sedikitpun bisa membangunkan Dika yang tertidur pulas.
Hingga saat sinar matahari menunjukkan sinarnya dan menyilaukan mata Dika lewat celah jendela kamarnya. Dika mencoba membuat dirinya sadar dari tidurnya walau dengan agak berat. Saat Dika menguap dan merentangkan tangannya untuk meringankan badannya. Tanpa sengaja matanya melihat arah jam wekernya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Astaga..!! Udah jam delapan aja nih. Kok tumben banget sih aku bangunnya kesiangan. Oalah.. Aku harus cepat nih supaya semua rencana aku hari ini berjalan sebagaimana mestinya." Pikir Dika dalam hati.
Dika pun bergegas bersiap-siap mandi lalu mengoleskan dua lembar roti dengan selai coklat dan membuat kopi sebagai menu sarapannya kali ini. Dia seperti terburu-buru melakukan semuanya. Hingga akhirnya Dika pun selesai. Dia keluar dari apartemennya dan menuju parkiran lalu melajukan mobilnya ke arah rumah Pak Anwar. Dika berpikir akan ke sana sampai jam makan siang. Dika ingin makan siang bersama dengan Pak Anwar sebelum dirinya pulang.
Untungnya jarak apartemen Dika tidak jauh dari rumah Pak Anwar. Tak berapa lama, Dika pun sampai di rumah Pak Anwar. Dika keluar dari mobil dan mengetuk pintu rumah Pak Anwar.
***Tok.. Tok.. Tok..*** (Terdengar ketukan pintu Dika di rumah Pak Anwar)
Pembantu rumah Pak Anwar pun membuka rumah itu saat mendengar ada yang mengetuknya. Sekedar mengingatkan semua yang tinggal dan bekerja di rumah Pak Anwar diharuskan memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar mereka.Walaupun tak semua pembantu atau pekerja pak Anwar orang Indonesia. Malah kebanyakan orang Amerika asli lah yang bekerja di sana.
__ADS_1
"Selamat Pagi Pak Dika..!!"Sapa pembantu Pak Anwar saat melihat kedatangan Dika.
"Selamat pagi mbak. Om Anwar ada kan?"Tanya Dika.
"Ada Pak. Pak Anwar sedang bersama Pak Dani di ruangan kerjanya."Jelas pembantu itu.
"Boleh saya masuk dan langsung ke ruangan kerja beliau?"Tanya Dika sopan.
"Tentu bisa Pak. Silahkan. Mari saya antarkan ke sana."
"Terima kasih mbak."Dika pun menurut.
Dika mengikuti langkah kaki pembantu itu menuju ruang kerjanya Pak Anwar. Pembantu itu mengetuk pintu sebelum membuka pintu ruangan Pak Anwar dan dipersilahkan masuk oleh Pak Anwar.
"Ada apa bu?"Tanya Pak Anwar melihat kedatangan pembantunya ke ruang kerja itu.
"Tentu saja."Kata Pak Anwar. "Masuk Dik. Nggak usah sungkan-sungkan."Lanjut Pak Anwar melihat Dika menjulurkan kepalanya saat mengecek keadaan di ruangan itu.
"Iya om. Makasih."Dika pun berjalan masuk ke dalam.
"Tolong buatkan minum ya bu buat tamu saya dan antar kesini."Suruh Pak Anwar.
"Baik Pak akan saya laksanakan."Pembantu itu dengan sigap langsung keluar dari ruangan itu.
Pembantu itu pun pergi dan membiarkan Pak Anwar, Dani dan Dika di ruangan itu.
"Duduk Dika.!!"Suruh Pak Anwar.
"Makasih om."Dika langsung duduk di kursi kosong dekat mereka.
__ADS_1
"Barusan saya dengar dari Dani kamu mau pulang ke Indonesia besok ya?"Tanya Pak Anwar memulai pembicaraan.
"Iya om. Pernikahan saya tinggal sepuluh hari lagi. Saya benar-benar harus pulang dulu. Semua pekerjaan sudah saya serah terima pada mas Dani."Jelas Dika.
"Iya saya tau Dika. Dani tadi sudah mengatakannya pada saya."Kata Pak Anwar.
"Baguslah kalo begitu. Gimana kabar om? Apa sudah membaik? Kalo bisa Dika ingin om Anwar hadir di pernikahan Dika dan Maya ya om."Tanya Dika sopan.
"Kabar saya sudah baikan. Ini semua berkat bantuan kamu Dika. Makasih banyak ya karena sudah membantu om melewati semua ini. Om banyak berhutang budi sama kamu. Jangan khawatir, om pasti akan datang ke Indonesia dan menghadiri pernikahan kamu. Om akan memakai pesawat jet om agar om bisa pergi dengan nyaman ke sana."Ucap Pak Anwar.
"Makasih banyak om. Kedatangan om sangat berarti buat Dika. Dika sudah menganggap om papa Dika sendiri. Dulu om sangat banyak membantu Dika. Dika hanya membalas budi atas kebaikan om selama ini pada keluarga Dika."Ucap Dika sungkan.
"Ya sudah nggak perlu saling mengucap terima kasih lagi. Kita akan menjadi saudara sekarang dan sampai selamanya."
"Terima kasih banyak om. Sekalian Dika mau pamit ya. Besok Dika akan pulang ke Indonesia. Jaga kesehatan om di sini ya. Jangan pikirkan masalah pekerjaan dulu. Om pentingkan kesehatan om dulu ya, jangan berpikir macam-macam."Kata Dika.
"Baiklah Dika. Kirim salam ya sama kedua kakakmu dan suaminya juga pada Nek Imah dan calon istri kamu. Om sudah kangen sekali pada keluarga om yang ada di Indonesia."
"Rumah kami akan selalu terbuka untuk kedatangan Om di rumah kami."
"Om tau kok Dika. Om sangat menyayangi kalian bertiga."
Dika dan om Anwar pun berpelukan. Terlihat om Anwar memang sangat menyayangi Dika selayaknya anaknya.
"Kamu hati-hati di jalan ya."Kata Pak Anwar sambil mengelus punggung Dika.
"Iya om. Makasih."Dika mempererat pelukannya
Dani yang melihat kedekatan kedua orang itu pun sangat merasa terharu. Dani tersenyum melihat mereka berdua.
__ADS_1