
Seminggu kemudian, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini adalah hari pernikahan Dika dan Maya. Semua persiapan sudah selesai dilakukan. Hanya tinggal menunggu di Hari H yakni janji ikrar pernikahan mereka dilakukan.
Sejak kemaren malam, Maya dan keluarganya sudah menginap di hotel tempat akad nikah dan resepsinya akan dilangsungkan. Tidak tanggung - tanggung Dika memesan dua lantai kamar hotel itu untuk menampung keluarga dan rekan bisnis Dika yang berasal dari luar kota. Dika sengaja memberikan pelayanan khusus bagi kerabat dan rekan bisnis mereka yang berasal dari kota lain untuk menginap di sana agar tidak terlalu capek harus pulang pergi di hari yang sama.
Dika memesan 1 lantai khusus untuk keluarga dekatnya seperti Celyn dan keluarganya, Dinar dan keluarganya, Om Anwar dan Dani juga tak lupa untuk Nek Imah. Beserta Maya dan keluarganya.
Maya diberikan kamar tersendiri untuk persiapan dirinya untuk di make up dan berganti pakaian nanti. Oh iya, tersedia juga kamar untuk perias salon dan anggota butik yang mengurusi semua perlengkapan yang dipakai oleh Maya hari ini. Dika ingin calon istrinya itu menjadi pengantin tercantik tahun ini di Indonesia. Walaupun pada dasarnya Maya memang sudah cantik.
Dini hari pukul empat pagi, kamar Maya sudah diketuk oleh penata riasnya untuk membantunya berdandan. Maya yang tidak bisa tidur dari semalam membukakan pintu kamarnya agar mereka dapat masuk ke dalam.
"Pagi mbak. Maaf kami pagi-pagi kami sudah membangunkan mbak Maya. Eh, tapi kelihatannya pun mbak Maya pasti nggak bisa tidur kan?"Sapa salah satu penata rias yang bernama Santi.
"Pagi mbak. Iya saya nggak bisa tidur. Jantung saya deg degan terus dari semalam. Nggak tahu kenapa."Curhat Maya.
"Oo itu sih wajar mbak. Biasa memang kalau calon pengantin itu selalu degdegan memikirkan pernikahannya. Saya juga dulu begitu mbak."Sekarang gantian Santi yang curhat.
"Hahaha.. Berarti semua orang yang mau menikah merasakannya ya mbak?"Maya menyimpulkan begitu.
"Kayaknya sih iya mbak. Banyak calon pengantin yang saya rias mengatakan seperti itu juga. Hmm.. Derita seorang calon pengantin."Drama penata rias dan Maya dipagi hari.
Maya hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Santi anggota penata riasnya itu.
"Ehh maaf mbak saya jadi banyak cerita nggak jelas."Santi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nggak apa-apa mbak. Santai saja."Ucap Maya.
"Ya udah mbak. Sekarang mbak mandi dulu ya. Biar bisa kita rias sekarang."Pinta Santi.
__ADS_1
"Baiklah mbak. Tunggu di sini sebentar ya." Maya pun masuk ke dalam kamar mandi yang ada dikamarnya. Dia membersihkan tubuhnya dengan cepat supaya Santi tidak kelamaan menunggunya.
Beberapa menit kemudian Maya keluar dari kamar mandi menggunakan kimono mandi dibadannya dan handuk dililit dikepalanya. Dia sengaja mencuci rambutnya supaya rambutnya tidak gatal karena nanti akan banyak memakai hairspray dan sanggul pengantin yang lumayan berat. Maklum saja mereka akan memakai adat Jawa dengan banyak hiasan kepala yang akan diletakkan dikepalanya.
"Mbak sudah selesai mandinya?"Santi langsung bertanya saat Maya sudah keluar dari kamar mandi.
"Sudah. Saya sudah segar. Ayo kita mulai."Ajak Maya.
"Wah... Semangat banget nih calon pengantin."Ledek Santi.
"Ahh mbak bisa saja."Maya pun tersipu malu.
"Hahaha..." Seisi kamar itu pun tertawa terbahak-bahak.
Santi dan timnya pun mulai mendandani Maya. Ada yang bertugas di bagian penata rambut. Ada yang bertugas dibagian penata rias wajahnya. Semua bertindak sesuai bagian masing-masing. Maya hanya pasrah dan semangat didandani oleh mereka.
"Belum terlalu lama mbak. Saya kenal mas Dika kurang dari satu tahun saja. Tapi saya sudah merasa cocok dengan dia. Mas Dika orangnya sangat baik. Dia baik tidak hanya pada saya tapi pada mama dan adik saya. Dan walaupun dia kaya, mas Dika tidak sombong malah sangat low profile. Begitu juga dengan kedua kakaknya dan neneknya. Mereka mau menerima saya yang bisa dibilang orang yang tidak punya apa-apa. Saya sangat beruntung bisa mengenal, menikah dengan mas Dika dan akan menjadi bagian dari keluarganya."Maya menceritakannya dengan wajah yang bersinar-sinar.
"Wahh.. Pengen deh jadi mbaknya. Hmmm.. Saya kapan ya dapat yang paket lengkap kayak mbaknya. Udah ganteng, mapan, sopan, baik hati dan punya keluarga yang tidak mementingkan status ekonomi."Secara tak sadar dia mengatakan itu pada Maya
"Lah.. Bukannya tadi kata mbak kalau mbak itu sudah menikah ya? Kok masih punya keinginan seperti itu?"Tanya Maya bingung.
"Oh iya mbak. Isshh kok saya tiba-tiba amnesia ya? Bisa lupa kalau saya sudah punya suami dan anak."Kata Santi menepuk jidatnya.
"Hahaha.. Mbak.. Mbak.. Kamu lucu banget sih..!!"Maya menggeleng-gelengkan kepalanya
Karena Maya tertawa terlalu kencang badannya jadi bergoncang keras membuat penata rambut dan penata riasnya berhenti sebentar sampai Maya berhenti tertawa.
__ADS_1
"Eh.. Maaf.. Maaf mbak. Saya kelepasan ketawanya."Maya pun mencoba menghentikan tawanya supaya mereka bisa lanjut merias Maya lagi.
"Ya udah mbak nggak apa-apa. Tapi habis ini jangan gerak lagi ya. Biar kita bisa cepat mengerjakannya."Ucap penata rambut Maya.
"Iya mbak. Saya akan diam saja deh."Maya pun menyerah.
Akhirnya Maya menepati janjinya. Selama tiga jam lebih dia dirias dia pun diam saja. Tak ngomong apapun. Maya hanya melihat cermin yang memantulkan wajahnya yang sedang dirias.
Tiga jam kemudian, rambut Maya sudah selesai di rias. Make up nya pun sudah dibuat setengah jadi. Karena mereka akan membiarkan Maya sarapan dulu sebelum menyelesaikan pekerjaannya.
Tak lama kemudian pelayan hotel mengantar sarapan untuk Maya dan beberapa orang di dalam kamar itu. Para periasnya pun hendak keluar dari kamar itu untuk makan di tempat lain.
"Eh.. Kalian mau kemana?"Maya heran penata riasnya pergi.
"Kami mau makan di kamar kami saja mbak. Nggak enak makan di sini"Ucap Santi mewakili teman-temannya.
"Udah di sini saja. Kalau kalian pergi saya makan sendiri dong. Sini aja. Temani saya makan ya."Bujuk Maya.
Santi memandang teman-temannya untuk menanyakan pendapat mereka dengan pandangan mata. Lalu mereka mengangguk pelan pada Santi
"Ya udah mbak. Kami makan di sini saja biar bisa hemat waktu."Santi memutuskan dan mengatakannya pada Maya.
"Nah gitu dong. Makasih mbak."Maya senang.
"Sama-sama mbak."Jawab Sinta.
"Ya udah mari kita makan."Maya memberi instruksi untuk mulai makan makanan masing-masing.
__ADS_1
Santi dan teman-temannya mengambil tempat masing-masing dan memakan sarapan mereka secepat mungkin agar bisa melanjutkan pekerjaan mereka lagi. Sama halnya dengan Maya. Dia makan dengan lahapnya.