Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 6


__ADS_3

Dika Mengantar Maya Pulang Dan Berkenalan Dengan Mamanya Maya.


Maya sedang di periksa oleh dokter saat ini. Dika menunggu dengan sabar saat Maya di periksa oleh dokter. Setelah beberapa menit dokter pun selesai memeriksa Maya. Lalu Dika menanyakan dokter tentang hasil pemeriksaan Maya setelah dokter duduk di kursinya.


"Gimana dok hasil pemeriksaan teman saya? Bagaimana keadaannya? Apa lukanya parah?"Tanya Dika bertubi tubi.


Maya di bantu suster turun dari ranjang periksa dan berjalan ke arah Dika yang sedang menunggunya dan berbicara dengan dokter yang memeriksanya tadi.


"Pelan-pelan mbak..!!"Dika mencoba membantu Maya untuk duduk di kursi tersebut.


"Makasih mas."Maya bertindak sopan seraya duduk di kursi itu.


"Gimana dok keadaan teman saya ini?"Tanya Dika mengulangi pertanyaan yang belum sempat di jawab dokter itu.


"Keadaan pasien baik-baik saja. Tidak ada luka dalam kok. Dia hanya sedikit tergores saja. Diberikan antiseptik saja sudah sembuh. Cuma kakinya memang tak boleh banyak gerak dulu ya. Harus istirahat beberapa hari"Ucap dokter pada Dika.


"Syukurlah dok. Soalnya saya ngerasa sakit banget kakinya."Kata Maya.


"Nggak apa-apa kok. Kaki ibu tadi sakit karena ibu tidak segera mengobatinya tadi. Jadi lukanya sempat mengeras dan sakit kalo digerakkan."Jawab dokter itu.


"Oo gitu ya dok. Maklum lah dok saya harus bekerja jadi saya paksakan untuk masuk kerja. Saya kira tadi kakiku nggak terlalu sakit jadi dapat dipaksakan untuk bergerak."Kata Maya.


"Saya tau pekerjaan itu penting untuk kehidupan. Tapi kesehatan itu lebih penting lagi untuk memulai pekerjaan."Jawab dokter tersebut.


"Maaf dok."Maya menjawab singkat.


"Ini saya ada meresepkan obat antibiotik dan antiseptik buat ibu. Tolong ditebus ya obatnya."Suruh dokter.


"Iya dok. Nanti saya tebus obatnya."Kata Dika sekaligus mengambil resep yang dituliskan dokter itu.


"Ya sudah kami permisi pulang dulu ya."Kata Maya pamit pada dokter.


"Silahkan bu. Silahkan Pak. Saya doakan lukanya cepat sembuh ya."Ucap dokter.


"Makasih ya dokter."Kata dokter.


Dika dan Maya bangkit dari tempat duduknya. Dika membantu memapah Maya berjalan karena Dika melihat Maya sangat kesusahan bergerak karena kakinya itu.


Dika membawa Maya keluar dari ruangan dokter itu. Lalu mendudukkannya di lobby rumah sakit sementara Dika menyelesaikan pembayaran dan menebus obat yang harus diminum oleh Maya nantinya. Maya hanya menurut saja dan tak banyak berkata-kata.


Beberapa menit Maya menunggu Dika untuk menyelesaikan pembayaran dan menebus obatnya, mereka pun akhirnya pulang. Dika memapah Maya berjalan dengan sabarnya sampai ke parkiran tempat Dika menyimpan mobilnya.


Sesampainya di mobil Dika menjalankan mobilnya mengantar Maya pulang.

__ADS_1


"Dimana rumahnya mbak?"Tanya Dika.


"Jalan Manggis No.2"Ucap Maya singkat sambil sesekali meringis menahan sakit di kakinya itu.


"Baiklah."Jawab Dika singkat


"Terima kasih ya mas sudah baik sama saya."Kata Maya.


"Ini kan kesalahan saya juga mbak Maya."Jawab Dika.


Sesaat kemudian, mereka pun berdiam saja. Maya tertidur karena obat yang disuntikkan dokter tadi pada Maya. Sepertinya obat tersebut sudah bekerja pada diri Maya.


Dika memperhatikan Maya yang sedang tertidur. Dia melihat wajahnya yang sepertinya menanggung banyak sekali beban di pundaknya. Dika melihat Maya seperti kakaknya Celyn dulu saat Celyn menanggung semua kehidupan mereka dengan gaji pas-pasan sebagai kasir minimarket. Tapi Celyn tetap tegar dan kuat sehingga kehidupan mereka sedikit demi sedikit mulai berubah walaupun banyak rintangan yang harus mereka hadapi dengan sangat sabar dan kuat.


Lama Dika memandangi Maya apalagi saat lampu merah sedang menyala di depannya. Lalu Dika mengalihkan kembali pandangannya ke depan dan mulai fokus lagi mengemudikan mobilnya ke arah rumah Maya yang sudah diberitahukan oleh Maya.


Tak lama kemudian, Dika pun sudah sampai di rumah Maya. Dika pun membangunkan Maya yang sedari tadi tidur di sebelahnya.


"Mbak Maya.. Mbak Maya.. Ayo bangun. Kita sudah sampai di rumah."Kata Dika seraya menggoyang-goyangkan tubuh Maya agar dia bangun.


"Hmmm.. Dah sampai ya?? Kok nggak terasa ya? Apa saya tertidur sangat pulas?"Tanya Maya.


"Benar mbak. Mbak Maya tidur sangat nyenyak. Sampai-sampai mbak mendengkur tidurnya di situ."Kata Dika menambah nambahi.


"Saya nggak pernah kok mendengkur?"Ucap Maya malu.


Maya tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia hanya terdiam dan malu. Mungkin memang benar Maya mendengkur pikirnya. Karena Maya memang sangat lelah siang dan malam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jadi memang selama ini dia kurang istirahat.


"Saya turun ya mas."Jawab Dika.


"Sebentar. Sebentar saya turun dulu. Saya akan membantu mbak turun."Dika sangat perhatian pada Maya.


Maya menunggu Dika turun dan membantunya. Dika memapah Maya lagi dengan kesabaran yang tinggi. Dika pun mengetok pintu rumah itu.


"Jangan diketok mas. Ini kuncinya."Maya memberikan kunci rumahnya pada Dika.


"Memangnya nggak ada orang ya di rumah kamu?"Tanya Dika heran.


"Ada kok. Mama saya di dalam. Tapi dia sedang sakit. Dia nggak sanggup berjalan untuk membukakan pintu ini untuk kami. Biasanya kami punya kunci masing-masing supaya tak merepotkan mama."Cerita Maya.


"Kami?"Dika bertanya heran.


"Iya. Kami. Saya dan adikku yang masih sekolah."Jawab Maya.

__ADS_1


"Wah orang ini benar-benar seperti kak Celyn. Semakin menarik saja." Batin Dika.


"Jadi kalian tinggal berempat?"Tanya Dika lagi.


"Bukan mas. Kami bertiga saja. Saya, adik saya dan mama. Papa saya kan sudah meninggal. Kan saya sudah bilang tadi"Kata Maya.


"Oh ya. Maaf mungkin saya nggak terlalu memperhatikannya."Dika mengakui kesalahannya.


"Nggak apa-apa mas."Jawab Maya.


"Ya sudah ayo saya bantu mbak masuk ke dalam rumah biar mbak bisa istirahat."Dika membuka pintu rumah dengan kunci yang diberikan Maya padanya.


Maya pun masuk ke rumah di bantu oleh Dika. Mendengar ada orang yang masuk rumah, mama Maya pun berusaha bangkit berdiri dan berjalan melihat siapa yang datang sambil terbatuk-batuk.


"Kamu sudah pulang Maya? Kok tumben?Apa kamu sakit?"Tanya mama Maya.


"Maya nggak apa-apa kok ma. Mama istirahat saja"Kata Maya.


"Kamu yakin? Tapi kok kayaknya kaki kamu sakit ya pake di papah gitu. Oh iya ini siapa Maya?"Tanya mama Maya bertubi-tubi sambil batuk batuk.


"Nggak apa-apa ma. Tadi Maya terjatuh. Trus di tolong sama mas ini dan di bawa ke dokter."Jelas Maya.


"Bentar ya bu saya antar mbak Maya nya ke kamar dulu. Berat soalnya."Dika menginterupsi obrolan ibu dan anak itu.


"Oh iya maaf nak. Silahkan.. Silahkan."Mama Maya pun diam dan membiarkan Dika membantunya ke kamar.


Mama nya Maya berjalan pelan sambil batuk-batuk ke dalam kamar Maya untuk memastikan keadaan anaknya baik-baik saja. Dika mendengar batuknya mama Maya. Dika pun bertanya.


"Loh tante sakit? Sudah berobat?"Tanya Dika perhatian.


"Nggak apa-apa Nak. Tante sudah minum obat warung kok. Yang tante khawatirin tuh Maya. Tante nggak apa-apa."Ucap Mama Maya.


"Tante yakin nggak apa-apa?"Dika memperjelas.


"Iya tante nggak apa-apa."Ucap Mama Maya.


"Kalo gitu saya pulang dulu tante. Ntar sore saya balik lagi tante bawain makanan buat kalian. Mbak Maya kan sakit nggak mungkin dia memasak. apalagi tante yang sakit juga."Ucap Dika.


"Nggak perlu repot-repot nak."Ucap mama Maya.


"Nggak repot kok tante. Kalo gitu saya pergi dulu ya. saya mau kerja lagi."Ucap Dika.


"Makasih mas."Kata Maya lemah.

__ADS_1


"Sama-sama mbak."Dika menjawab singkat.


Tanpa menunggu lagi Dika pun langsung bergerak ke arah pintu keluar masuk rumah itu lalu naik ke mobilnya. Dika ingin pergi ke kantor dan mengurus pekerjaannya dengan cepat dan balik lagi ke rumah itu setelah pulang kerja nanti untuk membantu mereka.


__ADS_2