
Maya Datang Ke Kantornya Dika.
Pagi ini Maya sudah bersiap-siap hendak pergi mencari pekerjaan. Maya sudah bilang sama mama nya kalo dia sudah di pecat karena Maya tidak masuk kerja seminggu karena menemani mamanya di rumah sakit. Mama Maya merasa sangat bersalah kepada anaknya itu.
Pagi ini Maya sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, mulai dari masak, mencuci baju sampai membersihkan setiap sudut rumah mereka. Maya melakukannya dengan cepat di samping karena sudah terbiasa dia pun memang hendak buru-buru pergi.
Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Maya memanggil adiknya Adit yang tak kunjung keluar pada sudah jam segitu.
"Adit.. Adit.. Udah jam berapa nih? Kamu nggak sekolah??"Panggil Maya.
Adit yang dipanggil pun keluar dari kamar. Adit masih baru bangun tidur. Digosok-gosoknya matanya sambil berjalan ke arah Maya kakaknya itu.
"Ada apa sih kak? Inikan masih pagi, kok udah teriak-teriak sih?"Jawab Adit malas.
"Memangnya kamu nggak sekolah Dit?"Tanya Maya.
"Sekolah kak. Tapi nanti jam sepuluh. Hari ini kan ujian mid semester sampai seminggu full. Nah Adit kebagian masuk di jadwal gelombang kedua yakni jam sebelas. Adit masih ngantuk kak semalaman belajar."Jelas Adit.
"Salah sendiri kamu nggak bilang sama kakak. Kakak kan nggak tau."Maya nggak mau di salahkan.
"Ya sudah. Memangnya kakak panggil Adit kenapa?"Tanya Adit.
"Tadinya kakak panggil kamu agar kamu sarapan biar nggak telat ke sekolah dan juga kakak mau minta tolong kamu anterin kakak ke depan. Biar kakak bisa nunggu angkot di sana."
"Oooo.. Memangnya kakak kerja? Kalo Adit nggak salah dengar kakak kan di pecat dari cafe itu."
"Kamu benar sih. Tapi kan kakak nggak bisa diam lama-lama. Kakak harus cari kerja baru biar kita bisa tetap makan."
"Oo gitu. Ya sudah. Adit antar kakak aja. Sarapannya ntar aja. Adit belum selera makan. Masih ngantuk."Kata Adit.
"Ya sudah. Kalo gitu kamu cuci muka dulu gih sana. Kakak mau antar makanan nya mama dulu ke kamar. Biar mama makan dan bisa minum obat. Lalu kamu anterin kakak."Titah Maya.
"Siap kak. Laksanakan..!!"Adit patuh.
__ADS_1
Maya hanya tersenyum melihat adiknya itu. Lalu Adit melakukan perintah kakaknya. Sementara itu, Maya mengantarkan sarapan mamanya dan membangunkan mamanya itu agar mamanya bisa makan sarapan dan meminum obatnya.
"Ma, ini sarapannya ya di makan. Abis itu minum obat. Sekalian Maya mau pamit ya. Maya mau cari kerjaan baru. Doain Maya ya ma. Supaya Maya bisa dapat kerjaan hari ini juga."Ucap Maya seraya meletakkan makanan mamanya di meja dekat tempat tidurnya dan membantu mamanya duduk agar dia bisa makan.
"Kamu mau pergi sepagi ini Maya?"
"Iya ma. Kan kalo lebih pagi pergi, rezeki nggak di patok ayam ma."Ucap Maya.
"Ya sudah kalo gitu hati - hati. Jangan terlalu memaksakan diri ya Maya. Doa mama selalu menyertaimu kok. Mudah-mudahan Allah memberikan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan kamu sebelumnya."Doa Mama Maya.
"Makasih ma doa nya. Maya sangat sayang sama mama. Kalo gitu Maya pergi sekarang ya. Jangan lupa sarapannya di makan dan obatnya di minum."Pesan Maya.
"Iya Maya. Mama juga sayang kamu."Kata mama Maya.
Maya pun menyalam mamanya yang ada di situ. Lalu pergi keluar dari kamar itu dan berjalan ke arah pintu depan rumah mereka. Adit sudah memanaskan sepeda motornya hendak mengantar Maya sesuai dengan permintaannya tadi.
Melihat Adit sudah standby di atas sepeda motornya dan siap mengantarnya, Maya pun menutup pintu rumah dan naik di atas sepeda motornya itu.
"Sudah siap kak?"Tanya Adit.
Adit pun langsung membawa kakaknya itu. Adit membonceng Maya sampai ke depan agar Maya bisa dapat angkot secepatnya.
Setelah itu Maya turun dan untungnya Maya langsung dapat angkot menuju alamat yang ada di kartu nama yang diberi Dika padanya. Maya pun langsung naik. Dia melihat jam di tangannya sudah hampir jam tujuh pagi. Maya pun mulai gelisah.
"Aduh.. Kok macet ya. Gimana nih? Apa aku bisa sampai tepat waktu kalo gini? Udah jam tujuh pagi lagi? Jarak dari sini ke sana masih jauh. Mudah-mudahan bisa terkejar deh. Memang sih aku sudah kenal sama mas Dika. Tapi kalo dia disuruh nunggu memangnya masih mau? Ya Allah mudah-mudahan aku nggak terlambat deh." Batin Maya.
Untungnya Maya sampai tepat waktu. Maya melihat jam di tangannya. Jam sudah menunjukkan jam 8 kurang 5 menit. Maya bergegas masuk ke dalam kantor tersebut.
Maya menanyakan kepada resepsionist yang ada di depan itu. Ada dua orang resepsionist yang bertugas di depan itu saat ini. Maya pun menghampirinya untuk bertanya.
"Maaf mbak. Saya mau bertemu dengan Pak Andika Prasetya. Apa Pak Andika nya ada?"Tanya Maya.
Dengan mata layas, resepsionis itu memandang Maya sebelah mata. Dia melihat Maya dari atas sampai ke bawah dengan pandangan merendahkan.
__ADS_1
"Maaf kamu siapa ya? Apa sudah punya janji ketemu dengan Pak Andika?"Jawab Resepsionis itu dengan nada sinis pada Maya.
"Sudah mbak. Kemaren Pak Andika sendiri yang menyuruh saya datang ke sini. Ini dia kasih saya kartu nama."Maya menunjukkan kartu nama itu.
"Alahh.. Palingan cuma orang ini mungut kartu nama ini jatuh ntah di mana. Mana mungkin orang kayak dia di suruh Pak Andika untuk datang menemuinya. Gayanya aja kayak gembel banget gini. Nggak banget deh pokoknya." Batin Resepsionist itu.
"Pak Andika belum datang. Silahkan kamu tunggu di sana dulu ya. Nanti kalo sudah datang saya kasitau."Ucap resepsionis itu ketus.
"Oo gitu. Kalo ibu Jessy nya ada? Kemaren Pak Andika bilang kalo dia belum ada, saya di suruh cari sekretarisnya yang bernama Ibu Jessy.!!"Kata Maya tak kenal menyerah.
"Wahh dia kenal ibu Jessy juga. Jangan-jangan benar yang dia bilang kalo dia memang sudah janjian sama Pak Andika." Batin Resepsionist itu lagi.
"Ya sudah sebentar saya telpon dulu ibu Jessy nya. Kamu tunggu di situ saja."
"Baik mbak."Jawab Maya singkat.
Resepsionis itu pun menelpon Jessy melalui interkom yang ada di sana. Dia menanyakan perihal tentang tamu yang bernama Maya tersebut pada Jessy. Setelah mendapat konfirmasi dari Jessy bahwa benar Maya memang sudah ada janji dengan Pak Andika, resepsionis itu pun lalu menyuruh Maya masuk ke dalam menemui Ibu Jessy tersebut.
"Mbak Maya..!"Panggil Resepsionist tersebut
"Iya mbak."Maya langsung menyahut cepat.
"Mbak, di suruh ibu Jessy naik ke ruangannya di lantai sepuluh. Mbak bisa naik lift itu yang langsung di hubungkan ke ruangan direksi."Resepsionis itu menunjukkan lift yang bisa Maya pakai.
"Terima kasih banyak ya mbak."Maya bersikap sopan.
"Sama-sama mbak. Silahkan naik. Ibu Jessy sudah menunggu."
"Iya mbak."Jawab Maya singkat.
Tak lama kemudian, Maya pun masuk ke dalam lift yang sudah di bukakan dan di pencetkan angka 10 nya agar Maya bisa langsung ke ruangan itu secepatnya. Dia ingin cepat sampai di sana.
"Mudah-mudahan aku di terima kerja deh. Nggak masalah mau jadi apa saja. Yang penting kerjaannya halal dan aku bisa memenuhi kebutuhan hidup kami dan membayar hutang pada Mas Dika secepatnya. Amin." Batin Maya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Maya pun sampai ke lantai sepuluh tersebut. Pintu lift pun terbuka sendiri dan Maya keluar dari sana.