Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 16


__ADS_3

Maya Di Pecat.


Maya dan mamanya sudah keluar dari rumah sakit. Setelah mengurusi semua, Maya membawa mamanya ke rumah menggunakan taxi online yang dia pesankan via handphonenya.


Tak lama setelah sampai di rumah, Maya mengurusi segala keperluan mamanya di rumah. Mamanya memang belum bisa bergerak banyak karena luka bekas operasinya masih sering sakit. Sebenarnya mama Maya masih harus di rawat beberapa hari di rumah sakit tapi karena memaksa pulang karena takut Maya kesusahan membayar tagihan rumah sakit, Maya pun nggak bisa bilang apa-apa lagi.


"Maya, kamu sedang apa?"Mamanya memanggil saat Maya sedang melamun memikirkan cara ngomong ke manager nya besok.


"Nggak lagi ngapa-ngapain ma. Maya hanya sedang menyusun semua keperluan mama untuk besok."


"Kamu besok mau kerja ya? Gimana keadaan kaki kamu? Apa sudah tidak apa-apa?"Tanya mama Maya


"Kaki Maya sudah sembuh ma. Tidak terasa sakit lagi kok. Makanya itu besok Maya mau ke cafe. Maya mau mulai kerja lagi. Mama nggak apa-apa kan Maya tinggal di rumah sendirian besok?"


"Nggak apa-apa dong May. Mama sudah sehat. Mama bisa jalan sendiri kok. Yang penting kamu sudah masak supaya mama nggak susah besok kalo mama merasa lapar."


"Jangan khawatir ma. Sebelum Maya pergi, Maya pasti akan menyiapkan makanan dan minuman mama di kamar ini supaya mama nggak susah."


"Baiklah May. Makasih."


"Sama-sama Ma."Kata Maya.


"Maafin mama ya May, karena mama kamu nggak bisa lanjut kuliah dan mendapat kehidupan yang lebih layak dari sekarang. Kamu juga harus jadi kepala rumah tangga untuk kita. Belum lagi, karena operasi mama kamu harus berhutang banyak."


"Jangan ngomong gitu ma. Semua bukan salah mama kok. Semuanya sudah takdir ma. Kita harus menjalaninya dengan ikhlas. Sekarang nggak perlu pikirkan apapun lagi. Mama tidur saja dan istirahata dulu. Ini sudah malam. Maya pun mau tidur supaya besok Maya kerja nggak telat."Ucap Maya.


"Iya Nak. Selamat tidur ya sayang. Mama sangat menyayangi kamu dan adik kamu Adit."


"Maya tau kok ma. Sekarang tidurlah. Maya mau ke kamar Maya untuk tidur juga."


"Silahkan May."

__ADS_1


Maya pun keluar. Dia pergi ke kamarnya hendak istirahat di sana. Lama Maya mencoba untuk tidur tapi tak bisa juga. Maya sudah berguling ke kanan dan ke kiri tetap juga merasa gelisah.


"Aduh.. Kenapa aku nggak bisa tidur gini ya?? Apa karena aku khawatir tentang apa yang terjadi besok Jujur, aku memang takut manager cafe yang galak itu memarahiku. Tapi kalo cuma dimarahi sih, aku nggak peduli, dah biasa juga. Asalkan dia jangan memecat aku. Bisa gawat ini. Memang aku masih punya pegangan uang sedikit. Tapi itu nggak bisa untuk dipakai lama. Dan itu hanya untuk biaya makan dua minggu saja. Ada sih uang lima juta yang tadi dikembalikan mbak kasir tadi, tapi itu tak boleh aku pakai. Besok sepulang dari cafe aku bakalan mengembalikan uang itu pada orang yang di kartu nama tadi. Aku nggak enak sama dia." Batin Maya.


Maya pun memutuskan seperti itu. Karena susahnya tidur, Maya berusaha menutup matanya. Karena menurut Maya lama kelamaan pasti dia akan tertidur sendiri kalo matanya di tutup seperti itu. Dan benar saja, nggak sampai satu jam Maya pun tertidur pulas di tempat tidur empat kaki miliknya.


Keesokan paginya, Maya sudah bangun jam lima subuh. Maya sudah terbiasa seperti itu. Maya akan terbangun di jam yang sama walau semalam apapun dia tidur saat malamnya.


Saat subuh seperti itu, Maya sudah sibuk memasak makanan sederhana yang mereka biasa makan. Maya memang harus berhemat karen dia belum tau nasibnya akan gimana nantinya. Bisa jadi hari ini dia dipecat manager galaknya itu.


Setelah memasak, Maya mempersiapkan semua di meja makan. Maya dan Adit sarapan bersama di meja itu sementara mamanya makan sendirian di kamar. Walaupun dengan lauk sederhana, Maya dan keluarganya makan dengan lahap. Setelah itu, Maya membereskan semuanya lalu pamit dengan mamanya dan ikut dengan Adit agar di antar ke halte bus karena takut terlambat.


Untung hari ini angkot Maya cepat datang jadi dia pun bisa dengan cepat dan tak terlambat datang ke cafe.


Sesampainya di cafe, Maya langsung di panggil oleh managernya itu. Takut-takut, Maya pun pergi menemui manager itu.


"Aduh si galak itu memanggil lagi. Aku pasti deh di marahi sama dia. Tuhan, tolong Maya. Aku bersedia di marahi asal jangan di pecat. Mau makan apa keluarga Maya nanti." Batin Maya.


"Masuk..!!"Kata orang dari dalam ruangan itu


"Selamat pagi Pak."Sapa Maya takut-takut.


"Akhirnya kamu datang juga. Dari mana saja sih kamu? Dari tadi saya panggil kenapa baru datang sekarang?"


"Maaf Pak. Maya tadi sedang ada kerjaan. Jadi Maya mau selesaiin dulu baru ke sini."Ucap Maya tak berani memandang wajah manager nya itu


"Pandang wajah saya. Memangnya wajah saya ada di bawah? hahhh..!!"Bentak manager itu.


"Iya pak."Perlahan Maya mengangkat wajahnya dan melihat wajah manager itu. Terlihat sekali dia senang marah.


"Kamu kemana saja seminggu ini? Bukannya saya kasi izin kamu cuti cuma dua hari? Kenapa jadi seminggu? Emangnya kamu pikir cafe ini milik nenek moyangmu, jadi kamu bisa datang dan pergi sesukamu? Hahhh..!!"

__ADS_1


"Maaf Pak..!!"


Hanya itu yang bisa Maya bilang. Karena Maya sadar kesalahan yang dia perbuat pada manager itu.


"Maaf..!! Segampang itu??? Memangnya dengan kata maaf semuanya bisa selesai?


"Iya Pak. Sekali lagi maafkan Maya. Maya siap kok dihukum apa saja. Maya nggak datang karena Maya menemani mama Maya di rumah sakit. Dia sedang di operasi Pak."


"Operasi????"


"Iya pak. Mama Maya dioperasi minggu lalu. Maya nggak sempat bilang ke bapak karena sibuk mengurus mama."


"Wah... Wah.. Wah.. Hebat sekali kamu..!! Segitu sibuknyakah kamu sampai nggak bisa memberi kabar pada saya? Kamu tau nggak kalo kamu itu salah?"


"Maya tau pak kalo Maya salah. Maya terima semua hukuman yang bapak berikan pada Maya."Kata Maya.


"Kamu saya pecat. Tidak ada tolerir bagi karyawan saya yang tidak tau diuntung seperti kamu. Dikasi hati minta jantung. Kamu pikir saya percaya mama kamu dioperasi? Jangan harap Maya."Ucap Manager Maya.


"Pak. Tolong jangan pecat Maya. Maya nggak bohong Pak. Mama saya benar-benar sakit..!!"Maya memelas minta belas kasihan.


"Nggak ada kesempatan kedua bagi karyawan seperti kamu. Sekarang bereskan barang kamu dan pergi dari sini. Kamu saya pecat dengan tidak hormat dan tanpa pesangon apapun."Suara manager itu meninggi


"Tapi Pak..!!"


"Nggak ada tapi tapian. Sekarang juga kamu keluar dari sini. Sebelum saya panggilkan security untuk ngusir kamu dari sini."


Dengan sangat terpaksa Maya pun keluar dari ruangan manager itu. Maya menangis karena dia dipecat. Maya memang sudah memperkirakan hal tersebut. Tapi tetap saja Maya merasa sedih. Maya bingung dimana lagi dia akan bekerja saat ini. Sekarang sangat susah mencari pekerjaan lain. Dengan menangis, Maya pergi keruang loker tempat para karyawan menyimpan barang pribadi mereka. Maya memasukkan barangnya ke plastik dan menutup lokernya itu.


Beberapa teman sekerja Maya yang melihat itu berusaha menghibur Maya karena mereka sendiri tau manager nya itu nggak bisa dilawan kalo sedang marah. Bisa - bisa malah mereka ikutan dipecat kalo membela Maya. Beberapa teman Maya hanya memeluk Maya untuk menguatkan Maya dan memberinya semangat


Maya pun, berusaha tegar dan berhenti menangis agar dia bisa keluar dari cafe tanpa ada yang memperhatikannya sedang menangis seperti itu. Walaupun matanya masih nanar karena air mata yang dia tahan masih berkumpul di kelopak matanya dapat terlihat oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2