Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 62. Keakraban Keluarga.


__ADS_3

Mereka bercengkrama, berbagi cerita dan tertawa bersama di ruang keluarga rumahnya Dika dan Nek Imah. Sedangkan Celyn ditemani oleh Maya sibuk mempersiapkan minuman dan aneka cemilan untuk menemani saat mereka bercerita.


"Duduk sini saja Maya. Celyn. Nggak usah sibuk begitu. Biar saja bibi yang ngerjain. Kalian kan keluarga juga. Nggak perlu repot-repot gitu."Panggil Nek Imah.


"Nggak apa-apa Nek. Kan sudah tugas Celyn sebagai anak perempuan dirumah ini. Ditambah lagi kan yang datang om Anwar. Orang yang Celyn anggap papa sendiri. Masak papa nya datang dari jauh apalagi dari negri orang Celyn akan diam saja. Nggak boleh itu Nek. Ini kesempatan Celyn dong menjamu tamu kehormatan kita."Jawab Celyn.


"Benar Nek. Mbak Celyn aja mau bergerak masa Maya hanya duduk manis. Nggak enak dong Nek."Maya pun menjawab kurang lebih sama dengan Celyn.


"Kalian berdua memang anak-anak rajin."Nek Imah memuji.


"Dinar juga rajin kok nek. Cuma karena Dinar baru saja melahirkan, Dinar agak kesusahan gerak. Jahitannya masih sakit Nek."Dinar pun tak kalah pengen juga dipuji Nek Imah


"Iya. Iya. Cucu nenek semua kan rajin-rajin, pintar dan baik hati lagi. Nenek sangat bangga punya cucu seperti kalian."Ucap Nek Imah jujur.


"Iya om juga tahu kalau kalian memang anak-anak manis dan baik hati."Om Anwar ikutan memuji.


"Om bisa saja puji kita. Kita kan jadi malu."Celyn memang dari dulu adalah orang yang pemalu pun mukanya jadi memerah seperti tomat.


"Issh kamu kebiasaan deh Celyn. Gampang banget malu. Nggak berubah dari dulu. Untung udah punya suami. Kalau nggak saya embat juga jadi istri saya."Canda Dani yang membuat muka Dimas suaminya Celyn sedikit murung.


"Eitss jangan langsung marah dong Dimas. Sayakan hanya bercanda. Jangan diambil hati. Mana mungkin saya suka sama adik sendiri."Dani meralat ucapannya tadi karena sikap Dimas yang cemburuan itu langsung kelihatan.


"Iya mas Dimas. Mas Dani kan cuma bercanda. Celyn hanya milik mas Dimas seorang. Sekarang dan sampai selamanya."Celyn membujuk suaminya dengan gaya manjanya. Akhirnya Dimas pun luluh dan memeluk istri cantiknya itu.

__ADS_1


"Ekhem.. Ekhemm.. Perhatian. Perhatian. Dimohon agar orang yang ingin bermesraan lihat-lihat tempat. Tolong hargai perasaan para jomblo yang ada disini."Dani meledek Dimas dan Celyn


"Maaf mas Dani. Disini yang jomblo kan cuma mas Dani. Berarti peringatan tadi untuk menghargai perasaan mas Dani dong." Maya dengan polosnya menjawab pernyataan Dani tadi.


Semua orang disana memandangi Dani dan Maya akhirnya tertawa terbahak-bahak kecuali Dani sendiri. Karena dialah yang menjadi bahan bullyan kali ini. Dani spontan cemberut. Mukanya ditekuk.


"Maya salah ngomong ya mas? Kok mukanya jadi cemberut gitu?"Maya dengan polosnya bertanya lagi.


"Dika.. Ketemu dimana sih calon istri yang polos gini? Masih ada cadangannya nggak? Kalau ada mas mau dong satu. Soalnya mas gemes banget ngeliatnya. Mau mas cubit, mas takut giliran kamu yang cemburu sama kayak Dimas tadi." Ucap Dani pada Dika.


"Maaf seribu maaf mas. Maya itu limited edition. Jadi tak ada duplikatnya. Kalau mas mau cari sendiri ya mas. Dika doakan semoga mas ketemu dengan gadis yang sedikit mirip lah dengan Maya."Doa Dika untuk Dani.


"Kok miripnya hanya sedikit sih Dika?"Tanya Dani bingung.


"Ya harus sedikit lah miripnya mas. Kalau banyak kemiripannya nanti kita bisa tertukar. Bingung kan kalau kejadiannya kayak gitu."Ucap Dika.


"Mas Dani. Dika bilang kan jangan mirip. Kalau bisa beda jauh secara fisik tapi sama secara sifat. Maksud Dika yang sifatnya baik dan lembut seperti Maya mas. Tapi wajahnya harus beda."Dika pun ngotot.


"Nggak mau ahh. Kita kan sehati, sepikiran, sebangsa dan setanah air sudah sepantasnya kita punya hal yang sama atau mirip. Biar lucu."Dani membahas hal yang benar-benar nggak penting.


"Mas Dani.. Dika nggak mau."Dika pun cemberut.


Dani puas menjahili adik angkatnya itu. Dia pun tertawa puas. Tak menyangka sangat menyenangkan menjahili adiknya itu.

__ADS_1


"Hahahahaha..." Dani tertawa terbahak-bahak.


"Udah.. Udah.. Dika. Mas Dani. Udah cukup. Tolong deh jangan membahas hal yang nggak penting."Lerai Dinar.


"Iya nih mas Dani jahil banget sih ngejahilin adik kesayangan Celyn itu. Kalau dia nangis gimana. Kan kasian kalau Maya tau sifat aslinya yang kadang-kadang kayak anak-anak."Celyn yang awalnya memarahi Dani diawal tapi meledek adiknya di akhir kalimatnya.


"Hahahhaa..!!!"Dani dan Celyn kompak tertawa. Dika cemberut.


Melihat calon suaminya itu cemberut Maya pun membujuknya dan membelanya di depan siapa saja.


"Mas Dani jangan jahil dong sama mas Dika. Kasian kan. Gini - ginikan mas Dika ini kesayangannya Maya. Jangan diapa-apain dong. Nanti lecet mas."Dengan nada bercanda Maya membujuk Dika. Dika yang awalnya cemberut jadi tertawa juga.


"Hahhaha.. Ya ampun.. Ya ampun. Perutku sakit sekali dari tadi tertawa terus. Lucu-lucu banget keluarga ini."Dani tertawa terus hingga hampir guling-guling saking lucunya.


"Udah. Udah. Jangan saling ejek lagilah. Kasian. Mendingan kita ke meja makan yuk. Bi Aida sudah memberikan kode kalau makanannya telah selesai di masak dan disajikan."Ucap Nek Imah.


"Iya. Sebenarnya pas di bandara tadi saya sudah lapar sekali. Tapi ntah kenapa sesampainya di sini dan berbicara membuat lapar saya hilang karena capek tertawa."


"Yuk kita makan saja dulu Abis itu kita lanjut lagi pembicaraan kita saat ini. Tapi harus dengan nada serius."Titah Pak Anwar.


"Ya udah yuk kita makan dulu. Nanti kita lanjut lagi nostalgianya "Ucap Pak Anwar.


Celyn, Dinar, Maya dan yang lainnya pun mengikuti Nek Imah. Dia sudah mempersiapkan semua makanan yang akan disajikan. Dan Nek Imah berharap makanannya tidak pernah ditolak oleh Pak Anwar. Secara kan Pak Anwar itu nggak pernah menolak apapun yang dikatakan anakmu itu."Pak Anwar menyebutnya dalam hati.

__ADS_1


Tak lama kemudian orang orang itu pun berjalan menuju samping meja makan yang sudah banyak aneka makan yang sudah dimasak dan disediakan Nek Imah.


Mereka semua langsung mengambil posisi masing-masing. Mereka pun langsung duduk menunggu sang tuan rumah yakni Dika. Setelah lama menyuruh Dika untuk memulai makan. Mereka sangat kompak pada hari ini. Banyak canda tawa yang selalu muncul.


__ADS_2