
Pertemuan Dengan Keluarga.
Saat ini Dika sedang di dalam pesawat menuju ke Indonesia. Ada perasaan senang menyelimuti hati Dika mengetahui dirinya akan segera bertemu dengan keluarga tercintanya terutama dengan Maya calon istrinya. Dika sudah sangat merindukan semua keluarganya di Indonesia.
Di sisi lain, seperti adanya kontak batin, Maya yang sedang bekerja hari ini merasa sangat malas. Sudah hampir dua minggu Dika tidak memberinya kabar. Maya merindukan Dika calon suaminya itu tapi tak tahu harus menanyakan pada siapa tentang kabar Dika. Sering sekali Maya menanyakan kabar Dika pada Nek Imah ataupun kedua kakaknya Dika saat mereka bertemu mempersiapkan pernikahannya dengan Dika yang tinggal dalam hitungan hari saja. Akan tetapi keluarganya Dika pun tidak mengetahui kabar Dika. Saking sibuknya Dika memang jarang menghubungi keluarganya di Indonesia. Dika takut kalo dirinya menghubungi keluarganya rasa rindu dan ingin pulang memuncak di hati dan pikirannya yang pastinya akan dapat merusak konsentrasi Dika saat bekerja dan ingin langsung terbang pulang ke tanah hampir.
Hampir semua persiapan sudah selesai dilakukan. Hanya tinggal menunggu undangan di ambil dua hari lagi ditambah dengan fitting baju pengantin dan baju seragam keluarga yang akan dipakai di hari pernikahan nanti.
"Mas Dika..!! Gimana ya kabar kamu? Kenapa kamu seperti hilang di telan bumi ini sih? Apa kamu nggak mau melanjutkan rencana pernikahan kita? kalo memang seperti itu kenapa tidak bilang dari awal saja saat semua persiapan pernikahan hampir selesai. Mungkin aku yang mimpi ketinggian. Mana mungkin seorang pengusaha muda, sukses dan ternama seperti mas Dika mau menikah dengan saya yang hanyalah seorang pelayan restoran rendahan. Ya Allah, aku ikhlas kalo memang pernikahanku harus batal tapi aku mohon berilah kesehatan dan keselamatan untuk mas Dika dan keluarganya. Biar bagaimanapun mas Dika sudah banyak membantu aku dan keluargaku melewati beberapa kesulitan di hidup kami. Aku sangat berhutang budi pada mas Dika. Walaupun aku tak berjodoh dengan mas Dika aku ikhlas asalkan mas Dika beroleh kebahagiaan sejati dalam hidupnya." Gumam dan doa Maya untuk Dika dalam hatinya.
Maya terlihat sangat sedih dan resah sehingga dia hanya berdiam diri di ruangannya tanpa melakukan apapun. Hingga sampai saat Nek Imah datang dan masuk ke ruangan kerja Maya dan memecah lamunan Maya.
"Maya..!! May.. Maya..!!"Panggil Nek Imah yang tak kunjung di dengar oleh Maya karena masih hanyut dalam lamunannya.
"Maya.. Maya..!!"Panggil Nek Imah lagi kali ini dengan menggoyang-goyangkan tubuh Maya.
Akhirnya Maya pun sadar dari lamunannya dan melihat sosok Nek Imah berada di depan matanya.
"Ya ampun.. Nenek..!! Sejak kapan nenek ada di sini?"Kata Maya saat dia sadar dari lamunannya.
"Cukup lama untuk melihat kamu melamun. Ada apa Maya? Apa yang kamu pikirkan?"Tanya Nek Imah.
"Nggak apa-apa kok Nek. Maya nggak kenapa-kenapa."Jawab Maya.
"Nggak apa-apa May. Cerita aja sama nenek. Walaupun kamu belum sah jadi istrinya Dika, kamu sudah nenek anggap cucu sendiri. Jadi kamu bisa bebas menyampaikan apa yang ada di pikiran kamu. Kita saling berbagi suka dan duka. Jangan pernah sungkan sama nenek."Ucap Nek Imah membujuk Maya agar mau cerita padanya.
__ADS_1
"Sebenarnya Maya kangen sama mas Dika. Sudah hampir dua minggu ini, mas Dika nggak ada kabar nek. Maya khawatir terjadi apa-apa pada mas Dika. Apa nenek juga nggak tau kabar tentang mas Dika?"Akhirnya Maya menceritakan kegundahan hatinya.
"Sebenarnya nenek pun merasa khawatir pada Dika. Tapi nenek tau kalo Dika tidak memberi kabar seperti itu, berarti dia itu sedang sangat merindukan kita. Dia bukan nggak mau mengangkat telpon dari kita atau memberitahu kabarnya pada kita tapi dia hanya nggak ingin rasa rindunya memuncak ke hatinya yang membuatnya tak konsentrasi bekerja dan hanya ingin pulang ke tanah airnya. Nenek yakin kok Dika pasti baik-baik saja di sana. Dika pasti sedang mencari waktu yang pas untuk bisa pulang dan berkumpul bersama dengan kita di sini."Jelas Nek Imah yang sangat mengetahui sifat Dika.
"Apa itu benar Nek?"Tanya Maya.
"Benar Maya. Nenek sudah membesarkan Dika dari kecil. Nenek sangat hafal sikap dan sifat Dika dengan sangat baik. Nenek yakin itulah yang pastinya dirasakan dan akan dilakuķan oleh Dika. Kamu jangan berfikir yang nggak nggak. Jangan pernah juga meragukan apapun yang pernah dikatakan atau dijanjikan Dika pada kamu Maya. Sudah pasti itu tidak akan terjadi."Jelas Nek Imah.
"Baiklah kalo gitu Nek. Maya akan berfikir positif dan tak akan mencurigai apapun Nek."Jawab Maya.
"Nah gitu dong May. Berpikirlah positif agar hidupmu bahagia."Saran Nek Imah.
"Makasih Nek."Maya memeluk Nek Imah dengan penuh kasih sayang.
"Iya Nek. Maya janji nggak bakalan sedih-sedih lagi."Ucap Maya.
*****Keesokan Harinya*****
....Tok.. Tok.. Tok.. (Dika mengetuk rumahnya saat hari masih menunjukkan pukul 07.30 pagi.)
"Bu Sum..!! Bu Sum.. Tolong lihat siapa yang ngetuk pintu pagi - pagi gini. Heran deh, masih pagi kok udah datang bertamu ke rumah orang sih?"Repetan Nek Imah saat ada yang mengetok pintu rumahnya saat masih pagi gini.
"Iya Bu. Bentar ya bu."Kata Bu Sum pembantu rumah keluarga Dika.
Bu Sum pun berjalan ke arah pintu rumah dan membuka pintu rumah itu. Bu Sum terkejut melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Den Dika??"Bu Sum terkejut.
"Sstttt... Jangan kencang-kencang. Saya mau memberi kejutan sama nenek."Perintah Dika.
"Iya den."Bu Sum menurut.
Setelah membuka pintu Bu Sum pun masuk ke dalam rumah lagi. Dia ingin melanjutkan pekerjaannya lagi. Tapi dia memutar dari pintu belakang agar Nek Imah tak melihatnya dan bertanya siapa yang datang.
Sambil jalan berjinjit, Dika berjalan ke arah Nek Imah ingin mengejutkannya. Setelah mendekat dengan Nek Imah, Dika menutup mata Nek Imah. Sontak Nek Imah terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Nek Imah menganalisa siapa kira-kira yang melakukan itu dari postur tubuh dan wangi parfumnya.
"Dika..?? Kamu Dika kan??"Nek Imah berhasil menebaknya.
"Yaa nenek..!! Kok langsung tau sih?? Nggak seru deh..!!"Dika melepaskan tangannya dari mata Nek Imah dengan sedikit manyun.
"Hahahaha... Maaf ya Dika kamu nggak bisa menipu nenek."Kata Nek Imah.
"Hahaha..!!"
"Kamu kok pulang nggak kabar-kabari sih?"Tanya Nek Imah.
"Dika kan mau memberikan surprise nek. Biar seru. Eh, ternyata gagal."Ucap Dika.
"Dasar anak nakal."Nek Imah memeluk Dika dengan penuh kasih dan kerinduan.
Setelah memeluk Dika, Nek Imah mengajak Dika sarapan karena Nek Imah yakin kalo Dika pasti belum makan karena baru dari perjalanan jauh.
__ADS_1