
Hari Pertama Maya Kerja Di Cafe Milik Nek Imah.
Sesuai janji mereka, Maya sudah bersiap siap dan menunggu Nek Imah dan Dika menjemputnya di rumahnya. Dika memang sudah tau rumahnya Maya jadi nggak perlu waktu lama untuk menanyakan alamat Maya di mana.
Nek Imah melihat Dika cucunya itu begitu semangat akan menjemput Maya.
"Aku yakin Dika ini suka pada Maya. Aku bisa melihat dari tatapan matanya saat melihat Maya. Aku juga bisa merasakan gerak gerik Dika saat bersama Maya. Aku pasti akan mendekatkan Maya dengan Dika dan kalo bisa sampai ke jenjang pernikahan. Supaya nanti apabila Tuhan memanggilku aku dapat bertemu kedua orangtua mereka dan mengatakan pada mereka bahwa ketiga anak mereka yang dulu mereka tinggalkan sejak kecil telah menemukan kebahagiaan mereka sendiri bersama pasangan masing-masing. Ini adalah sebagai balas budiku pada kedua orangtua mereka ini."Gumam Nek Imah dalam hati.
"Semangat banget kamu pagi ini Dika? Mentang-mentang mau jemput sang dambaan hati ya?"Ledek Nek Imah.
"Ahh nenek!! Nggak gitu ahh! Dika biasa aja kok."Dika ngeles.
"Apanya yang biasa? Tuh muka yang biasanya di tekuk karena permasalahan kantor atau pekerjaan sekarang senyam senyum nggak jelas nggak berhenti sejak kita berangkat tadi. Apa coba namanya itu?"
"Ihh nenek. Dika stress nenek komplain. Nenek bilang Dika jangan stress nanti cepat tua dan keriput kayak nenek. Sekarang Dika senyum terus nenek malah ngeledekin Dika. Jadi Dika harus bagaimana sih nenekku sayang."Dika berkata begitu lembut pada neneknya.
"Ya biasa aja dong sayang. Kamu suka ya sama Maya? Kalo kamu memang suka biar langsung nenek lamarkan sekarang deh di depan mamanya. Agar kamu dan Maya segera menikah dan cicit nenek bertambah."Kata Nek Imah.
"Ya elah nenek. Kok main langsung lamar sih? Dika kan belum memastikan gimana perasaan Maya sama Dika. Kalo Dika ditolak gimana? Malu dong nek. Mau di tarok di mana wajah kegantengan Dika ini?"
"Hahaha... Tarok di saku nenek aja. Kayaknya muat kok.!!"Ledek Nek Imah.
"Nenek ngeledekin Dika mulu deh..!! Dika kan malu nek."
"Berarti benarkan dugaan nenek? Kamu suka kan sama Maya? Ayo jujur sama nenek..!!"Pinta nek Imah agar Dika jujur.
"Iya deh nek. Dika jujur. Dika suka sama Maya. Dika seperti melihat sosok kak Celyn pada diri Maya. Dia itu dewasa dan mandiri padahal usianya masih sangat muda. Bahkan lebih muda dari Dika nek."Dika akhirnya jujur mengenai perasaannya pada Nek Imah.
"Nenek saranin Dika. Kamu jangan melihat wanita itu karena dia mirip dengan kakak kamu. Semua orang diciptakan dengan watak yang berbeda. Kamu seharusnya menyukai kepribadian atau sifatnya bukan menyukainya karena mirip kakak kamu."Saran Nek Imah.
"Itukan pada awalnya Nek. Sekarang Dika menyukai Maya karena kepribadiannya yang dewasa dan karena kemandiriannya. Dika suka perempuan tangguh seperti itu bukan perempuan yang manja dan sombong Nek. Dika maunya perempuan yang suka sama Dika itu melihat Dika dengan apa adanya Dika bukan karena ada apanya atau pun karena Dika kaya dan banyak uang sehingga dapat dimanfaatin Nek."Jelas Dika.
"Bagus kalo kamu punya kriteria perempuan kayak gitu. Nenek bangga sama kamu Dika."
"Makasih ya Nek."
"Oh ya, apa rumahnya Maya masih jauh?"Tanya Nek Imah.
"Nggak Nek. Itu dia rumahnya. Itu tuh yang catnya warna kuning."Tunjuk Dika
__ADS_1
"Nenek mau ikutan turun atau tunggu di sini saja?"Tanya Dika.
"Nenek di sini aja ya. Nanti kapan-kapan nenek akan masuk ke rumah Maya berkenalan dengan orangtuanya dan melamar Maya buat kamu."
"Ahh nenek dari tadi omongannya lamar lamar terus. Nenek dah pengen banget ya Dika nikah?"Dika protes.
"Iya Dika. Nenek takut umur nenek nggak panjang lagi. Nenek ingin kamu menikah sebelum Tuhan memanggil nenek menghadapNya."
"Udah ahh. Nggak usah ngomong kayak gitu. Dika masuk dulu ya Nek. Dika sebentar kok, cuma panggil Maya lalu kita langsung ke cafe."Dika izin pada neneknya.
"Iya sayang. Pergilah jemput Maya ke dalam"Kata Nek Imah singkat.
Dika pun langsung mengetok rumah Maya. Tanpa basa basi Maya pun keluar dari rumahnya karena sudah tau siapa yang datang ke rumah itu.
"Kamu sudah siap Maya?"Tanya Dika.
"Sudah mas. Maya sudah dari tadi menunggu mas dan nenek di sini."
"Ya sudah kalo gitu ayo kita pergi. Nenek sudah menunggu di mobil." Ajak Dika.
Dika dan Maya pun segera masuk ke mobil. Mereka nggak mau Nek Imah menunggu di mobil terlalu lama.
Tak lama kemudian, mereka pun sampailah ke cafe tersebut. Dika , Nek Imah dan Maya turun dari mobil. Mereka bertiga masuk ke dalam cafe. Pak Roni manager cafe tersebut melihat kedatangan bos mereka pun langsung mendekati nek Imah dan menyambutnya.
"Selamat pagi bu. Selamat pagi Pak."Sapa Pak Roni.
"Selamat pagi Pak Roni"Balas Nek Imah.
"Ada apa bu? Tumben pagi-pagi datang ke sini? Ada yang perlu saya bantu?"Tanya Pak Roni sopan.
"Saya ingin bicara pada kalian semua. Cepat kumpulkan semua karyawan ke sini. Mumpung cafe pun belum buka."Suruh Nek Imah.
"Baik bu"
Pak Roni pun memanggil semua untuk berkumpul dan meeting di sana. Kurang dari sepuluh menit seluruh karyawan pun sudah berkumpul.
"Selamat pagi semuanya..!!"Sapa Nek Imah.
"Selamat pagi bu!"Jawab semuanya.
__ADS_1
"Maafkan saya pagi-pagi sudah datang ke sini dan mengganggu pekerjaan kalian."
"Nggak apa-apa bu"
"Perkenalkan ini adalah cucu saya Dika dan ini adalah pacarnya Maya namanya."Nek Imah memperkenalkan Dika dan Maya di hadapan karyawan lain
"Apa? Pacar? Maksud nenek ini aku pacaran sama mas Dika? Kayaknya nenek sudah salah paham nih. Aku biarin dulu deh. Nanti setelah ini aku akan jelasin kalo aku sama mas Dika nggak ada hubungan apa-apa." Batin Maya.
"Maksud kedatangan saya ke sini hari ini adalah saya ingin mengumumkan kalo mulai hari ini urusan cafe saya serahkan pada Maya. Dia akan menjadi wakil saya di sini untuk menjalankan cafe. Saya sudah tua. Sudah tidak sanggup lagi bekerja. Biarlah kalian saja yang masih muda dan kuat yang bekerja. Saya akan istirahat di rumah saja. Tapi sekali seminggu saya akan datang dan mengecek keadaan cafe."Ucap Nek Imah.
"Iya bu."
"Ayo Maya perkenalkan diri kamu pada semuanya." Suruh Nek Imah.
Maya pun melangkah maju dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Halo semua selamat pagi. Nama saya Maya. Mulai hari ini dan seterusnya saya akan mengurus cafe ini bersama kalian semua. Mari kita bekerja sama untuk memajukan cafe ini. Kita tunjukkan pada nenek kalo kita bisa bekerja tanpa harus diawasi. Dan kita tau apa tugas dan kewajiban kita sebagai karyawan. Nggak perlu sungkan pada saya. Jika ada yang kurang atau komplenan dari tamu, saya harap kalian memberitahu saya dan kita akan mencari solusi yang terbaik untuk masalah apapun yang datang"Kata Maya sebagai permulaan.
"Wah cocok juga dia jadi pimpinan. Sepertinya dia punya jiwa kepimpinan tinggi."Batin Dika.
"Kayaknya Maya ini orangnya pintar. Dia bisa beradaptasi dengan karyawan lainnya. Sepertinya pilihan Dika tidak salah. tapi walau begitu aku akan tetap mengawasi Maya dan lainnya."Gumam Nek Imah.
"Gimana semua? Apa ada yang mau ditanyakan?"Ucap Nek Imah.
"Tidak bu..!!"
"Baiklah Maya. Nenek percayakan cafe ini sama kamu. Tolong jaga kepercayaan nenek ya."Ucap Nek Imah.
"Iya Nek. Pasti."Jawab Maya yakin.
"Kalo begitu kalian semua boleh bubar dan melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing. Selamat bekerja ya semua."Ucap Nek Imah.
"Iya bu.!"Jawab mereka serentak lalu bubar barisan.
Setelah itu Nek Imah mengajak Maya berkeliling cafe sekalian menjelaskan job desk yang akan dilakukan Maya di sana. Nek Imah menjelaskannya sedetail mungkin agar Maya mengerti. Dika mengikuti kemana langkah Maya dan Nek Imah berada.
Tak lama kemudian , Dika pun pamit pulang pada neneknya karena Dika akan ada meeting sebentat lagi. Dika berjanji akan menjemput Nek Imah lagi ke cafe dan mengantarnya pulang setelah meetingnya selesai.
Dika pun langsung pergi dan menjalankan mobilnya ke tempat dia akan meeting saat ini.
__ADS_1