Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 40


__ADS_3

Milea Melabrak Maya Di Cafe Tempat Dia Kerja.


"Silahkan masuk Pak Ricko dan Mbak Milea. Pak Dika menyuruh kalian masuk. Beliau juga berpesan jika hendak bertemu tolong ditelpon dulu supaya jadwal Pak Dika yang lain tidak berantakan. Soalnya setengah jam lagi Pak Dika harus pergi meeting dengan klien lain."Ucap Jessy.


"Ceile.. Songong banget nih sekretaris. Mentang-mentang sahabatnya boss gayanya selangit udah kayak pemilik perusahaan saja. Awas lu ya kalo sampai aku jadi menikah dengan Dika nggak ada ampun lu gue pecat." Gumam Milea.


"Makasih bu Jessy. Maafkan kami ya. Lain kali kami pasti akan menelpon Pak Dika dulu sebelum datang ke sini. Kami janji akan sebentar saja. Ada urusan mendadak dan urgent yang harus saya diskusikan dengan Pak Dika."Jelas Papa Milea.


"Iya Pak. Silahkan masuk. Maaf kalo saya agak tidak sopan. Saya hanya mengingatkan bapak dan mbaknya saja. Dalam berbisnis pun ada etika. Kita harus profesional."Kata Jessy ketus.


"Tidak apa-apa bu Jessy. Saya tau bu Jessy hanya menjalankan pekerjaan bu Jessy dengan baik."Ucap Papa Milea basa basi.


"Terima kasih atas pengertiannya Pak. Silahkan masuk."Jessy mempersilahkan keduanya masuk.


Setelah Milea dan papanya sudah berada di ruangan Dika, Jessy pun menutup pintu ruangan Dika lalu kembali bekerja di mejanya.


"Selamat pagi menjelang siang Pak Dika."Sapa Pak Ricko.


"Selamat pagi menjelang siang Pak Ricko. Silahkan duduk."Sapa Dika balik.


"Makasih Pak."Pak Ricko dan Milea pun duduk di sofa ruangan itu.


"Ada apa Pak Ricko datang kemari? Setau saya kita tak punya janji ketemu hari ini."Tanya Dika.


"Maaf Pak Dika saya ada masalah yang harus dibahas dengan Pak Dika."Ucap Pak Ricko.


Pak Ricko lalu membuka laptop yang dia bawa untuk menanyakan apa yang harus ditanyakan dengan Dika. Dika menjawab dan menjelaskan apa yang pak Ricko butuhkan dengan cepat karena dia ada meeting sebentar lagi.


Sekitar dua puluh menit akhirnya Pak Ricko sudah menanyakan apa yang dia perlukan.


"Gimana Pak Ricko, apa ada lagi yang bapak ingin tanyakan pada saya? Saya buru-buru soalnya. Ada meeting lain sebentar lagi."Kata Dika.


"Ada mas Dika. Saya ingin bertanya sesuatu pada mas Dika."Potong Milea.


"Ada apa mbak Milea? Apa ada yang kurang paham lagi menurut anda?"


"Saya tidak paham dengan cerita-cerita orang lain terutama cerita karyawan di sini."


"Maksudnya? to the point saja mbak. Saya buru-buru."Kata Dika.


"Saya mau bertanya, apa mas benar bertunangan dengan gadis mantan Office Girl itu?"Tanya Milea.


"Oo itu..!! Iya berita itu memang benar mbak. Saya sudah bertunangan dengan Maya dan akan menikahinya tiga bulan lagi."Jawab Dika.


"Oo begitu ya..!!"Milea lemas.


"Nanti kalo undangannya sudah selesai nanti saya berikan ke mbak satu undangan. Nanti mbak Milea dan Pak Ricko datang ya ke pernikahan kami."Ucap Dika tanpa merasa bersalah.


"Iya mas Dika. Saya akan usahakan datang kalo nggak sibuk ya mas."


"Oke terserah mbak Milea saja. Ya sudah, kalo tidak ada yang ingin ditanyakan lagi saya mau pamit pergi ya. Saya ada meeting lain sekarang."Ucap Dika undur diri.


Dika berjalan menuju meja kerjanya. Dia merapikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas kerjanya. Dia bersiap-siap pergi meeting saat ini. Melihat Dika membereskan barangnya, Pak Ricko dan Milea tau diri dan permisi balik ke kantor pada Dika lalu keluar dari ruangan Dika.


"Syukurlah mereka keluar. Mereka nggak tau kalo aku tuh ada janji makan siang di cafe bareng Maya. Sudah hampir jam dua belas gini, takutnya Maya lama menungguku di cafe." Kata Dika dalam hati sambil melihat jam tangannya.


Dika pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dan hendak keluar kantor. Saat membuka pintu, Jessy menghadang Dika.


"Mau kemana loe?"Tanya Jessy.


"Mau makan siang bareng Maya Jes..!! Maaf ya aku buru-buru."Ucap Dika setengah berlari.


"Eehhh.. Elu belum berikan penjelasan padaku tentang Maya."Teriak Jessy

__ADS_1


"Nanti saja ya habis jam makan siang."Dika menjawab pertanyaan Jessy sambil masuk ke dalam lift dan turun ke lobby.


"Dasar ya anak itu. Kalo udah jatuh cinta sahabatnya sendiri terlupakan. Tapi bagus deh kalo dia sudah menemukan cinta nya sendiri. Aku senang sekali apalagi melihat dia senang dan semangat kayak gitu. Semoga hubungan kalian sampai kakek nenek ya sahabatku..!!" Batin Jessy.


Di parkiran Milea sebel banget sama Maya karena dia tidak mendengarkan ancamannya untuk tak mendekati Dika karena Dika hanyalah miliknya seorang. Sementara Dika yang tak melihat adanya Milea di sana pergi saja membawa mobilnya dan melajukan mobilnya ke cafenya Maya.


"Mau kemana tuh Dika? Aku curiga kalo Dika itu bukan mau meeting tapi mau ketemu sama gembel itu. Lebih baik aku ngikutin dia aja deh." Batin Milea.


Milea pun melajukan mobilnya mengejar mobil Dika yang ada di depan mobilnya. Milea seperti mengenal jalan yang mereka tuju ini.


"Loh, ini kan jalan menuju tempat kerja gembel itu. Bener dugaanku. Sialan..!!"Umpat Milea sambil membanting setir mobilnya


Dika pun sampai di cafe tersebut. Maya menyambutnya dengan senyuman.


"Maaf ya mas, tadi mas ada meeting mendadak. jadinya telat kesininya."Kata Dika.


"Nggak apa-apa mas. Santai aja ya. Yuk kita langsung makan aja. Maya yakin mas pasti sudah laparkan?"Ajak Maya.


"Issh seneng banget deh diperhatiin sama kamu. Sekarang kamu udah berani nggak malu-malu nunjukin perhatian kamu sama mas."Dika mencubit hidung Maya.


"Idih mas. Buat malu aja. Ayok makan."


"Ya udah ayok calon istriku."Dika menggombal.


Milea yang melihat kemesraan Dika dan Maya geram sekali menahan amarahnya. Milea tidak terima dikalahkan oleh gembel seperti Maya. Menurut Milea itu menjatuhkan harga dirinya. Milea pun menunggu sampai Dika selesai makan dan pergi dari cafe itu.


Satu jam sudah Milea menunggu. Akhirnya jam makan siang pun selesai. Dika melihat jam tangannya dan pamitan pada Maya.


"May, mas balik ke kantor dulu ya. Banyak kerjaan yang harus mas kerjain di kantor. Nanti malam mas jemput kamu. Jangan pulang sebelum mas datang ya."Ucap Dika.


"Siap mas"Balas Maya penuh semangat dan akhirnya mereka tertawa berdua.


Setelah mengantarkan Dika keluar cafe, Maya pun kembali masuk. Milea tak memberi jeda. Dia memegang bahu Maya hendak bicara dan mempermalukannya di sana.


Maya terkejut melihat keberadaan Milea di cafe itu. Maya langsung heran kenapa dia di sini.


"Mbak Milea?"Maya heran melihatnya di sana.


...............Prakkk.. Prakkk.. Prakk.................


Tiga tamparan mendarat di pipi Maya. Maya yang masih belum siap tak sempat menangkap tangan Milea sehingga dia harus menerima tamparan ini.


"Kenapa mbak tampar saya? Apa salah saya?"Tanya Maya dengan suara meninggi.


"Ini buat kamu sebagai pelajaran buat kamu karena telah mengabaikan ancaman saya."Teriak Milea lagi.


"Apa maksud mbak??"Maya melawan.


"Saya kan sudah peringatkan kamu jangan pernah mendekati Dika. Dia itu milik saya seorang. Tak ada yang berhak memilikinya selain saya sendiri. Tapi kamu tak mendengar omongan kamu. Jadi saya memberi kamu pelajaran agar kamu tau rasa."Balas Milea.


Dika yang mengingat kunci mobilnya ketinggalan di meja tempat dia makan tadi pun kembali ke dalam cafe. Dika heran kenapa banyak orang berkerumun di sana.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ramai seperti ini." Dika bertanya dalam hati.


Dika masuk ke dalam cafe itu melihat Maya sedang di marahi oleh seorang perempuan. Dika juga mendengar namanya pun disebut-sebut dalam pertengkaran kedua perempuan itu. Dika tidak langsung mendekatinya, dia mendengar dulu apa yang sedang mereka ributkan.


"Siapa yang bilang mas Dika itu milik mbak? Memangnya pernah mas Dika mengutarakan perasaannya sama mbak atau menerima perasaan mbak? Kan nggak ada mbak. Mbak sendiri yang kepedean mengclaim bahwa mas Dika itu milik mbak. Nyadar mbak. Mbak kayak perempuan murahan yang ingin merebut milik orang lain. Mbak boleh kaya, mbak boleh berpendidikan tinggi tapi mbak nggak punya akhlak sedikitpun. Mbak kesini hanya mempermalukan diri mbak saja."Maya mengutarakan semua yang ada di hatinya


Tak kuat mendengar perkataan Maya, Milea yang semakin marah ingin menampar Maya kembali.


"Kurang ajar"Tangan Milea melayang hendak menampar Maya.


Maya yang melihat Milea hendak menamparnya, Maya menutup matanya. Lama dia menutup mata tapi tangan Milea tak kunjung sampai di wajahnya. Maya pun membuka matanya.

__ADS_1


"Jangan pernah menampar calon istri saya dengan tangan kotor kamu? Siapa kamu? Saya nggak pernah menjadi milik kamu? Kenapa kamu kepedean seperti itu dan mempermalukan calon istri saya?"Dika berkata seperti itu sambil menahan tangan Milea.


"Mas Dika..!! Kenapa kamu balik lagi?"Tanya Maya heran.


"Tadi kunci mobil mas ketinggalan. Jadi mas balik lagi mau ambil kunci. Trus mas lihat rame- rame di sini dan melihat Milea mau menampar kamu dan mempermalukan kamu seolah kamu merebut mas dari dia. Kamu nggak apa-apa kan sayang?"Dika memandang Milea dengan mata layas.


"Maya nggak apa-apa mas."Maya menenangkan Dika yang terlihat sangat marah.


"Kalian semua yang ada di sini denger ya. Maya ini adalah tunangan saya. Dan mbak ini cuma anak dari rekan bisnis saya. Saya nggak punya hubungan apa-apa dengan dia. Wajar kalo saya baik dan sopan pada semua klien saya tapi tak berarti saya menyukai mereka. Mbak ini aja yang kepedean."Jelas Dika kepada semua orang yang ada di sana.


"Mas Dika..!!"Milea marah dipermalukan seperti itu.


"Dan kamu mbak Milea. Tolong jangan menyakiti dan mempermalukan calon istri saya. Saya nggak akan membiarkan kalo sampai Maya ini terluka sedikitpun. Jika itu terjadi kamu akan saya laporkan ke kantor polisi dan semua dana yang sudah saya suntikkan ke perusahaan anda akan saya tarik kembali dan semua perjanjian kerja sama kita batal."Ancam Dika.


"Maafin saya mas. Jangan cabut dana yang sudah ada di perusahaan papaku mas. Aku mengaku salah. Maafin aku. Aku cuma menyukai mas Dika dari pandangan pertama dan tak terima mas tidak memandang aku sedikitpun malah menyukai gembel ini. Gitu aja kok mas."Jelas Milea memohon pada Dika.


"Terserah saya dong mau suka sama siapa? Bukan urusan kamu juga. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja saja tidak lebih. Baik, untuk sekarang kamu saya maafkan. Tapi tidak untuk lain kali. Sekarang kamu pulang sana. Saya nggak mau kejadian itu terulang."Kata Dika tegas.


"Baik mas..!!"Milea berbalik lalu pergi meninggalkan cafe itu.


"Hhuuuuuhhhhh..." Seru semua pengunjung cafe.


"Makanya jadi cewek jangan sok kecantikan dan sok kaya deh. Malu kan jadinya."Ledek pengunjung cewek 1.


"Biar tau rasa tuh cewek."Kata pengunjung cewek 2


Mendengar semua penghinaan yang dilontarkan pengunjung cafe, Milea mempercepat langkahnya sambil merundukkan kepalanya. Milea secepatnya menuju mobilnya dan segera pergi menjauh dari cafe itu.


Seperginya Milea, Dika melihat Maya. Dia mengecek apakah Maya baik-baik saja atau nggak.


"Udah mas. Maya nggak apa-apa kok. Mas balik ke kantor saja ya. Nih kunci mobilnya"Maya menyuruh Dika dan meyakinkan Dika kalo dia tidak kenapa-kenapa.


"Kamu yakin sayang?"Dika perhatian.


"Yakin mas. Maya nggak apa-apa. Kembalilah bekerja."Ucap Maya


"Ya sudah. Kalo gitu mas pergi dulu ya. Hati-hati ya lain kali sayang. Jangan mau diinjak-injak gitu. Kamu harus melawan kalo kamu nggak salah."Saran Dika.


"Iya sayang. Udah balik kerja sana. Maya juga mau kerja. Dah sayang..!!"Ucap Maya.


"Cium dulu dong di sini."Dika menunjuk ke arah pipinya.


"Malu sayang banyak orang".Maya melihat sekelilingnya.


Dengan malu-malu Maya pun memberanikan diri mencium pipinya Dika.


"Ciieeee... Mesra banget..!! Mau dong di cium..!!"Ledek pengunjung cafe.


"Eitss nggak boleh. Maya hanya milikku seorang. Tak boleh macam-macam."Ancam Dika.


"Haahahahah...!!!" Seluruh pengunjung cafe tertawa.


"Ihh mas malu-maluin aja. Kita jadi di ledekin kan. Udah deh mas balik ke kantor sana."Maya pura-pura ngambek.


"Iya deh iya. Maaf ya sayang..!! Abis mas suka kalo kamu cemberut gini. Mas gemes soalnya. Hahahaha..!!"Ledek Dika.


"Maaaasssss...!!!!"Teriak Maya.


"Iya May. Oke deh. Mas pergi sekarang juga daripada kamu tambah marah. Bye sayang. I love you full..!!"Ucap Dika.


"I love you too mas..!!"Jawab Maya malu-malu.


Dika pun akhirnya mengalah dan meninggalkan cafe itu. Dia berjalan menuju mobilnya dan menjalankan mobil itu keluar cafe dan pergi dari sana menuju kantornya.

__ADS_1


Seperginya Dika, Maya pun berjalan menunduk menuju ruangannya. Maya merasa sangat malu hari ini. Malu karena perbuatan Milea yang tiba-tiba datang marah - marah dan menamparnya dan malu karena bermesraaan di depan banyak orang karena ulah Dika. Tapi Maya bahagia. Dia semakin yakin kalo Dika benar-benar mencintainya dan memantapkan dan meyakinkan dirinya sendiri kalo menikah dengan Dika adalah keputusan yang terbaik dan tepat.


__ADS_2