Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 63. Pesan Pak Anwar


__ADS_3

Malam ini benar-benar malam keakraban keluarga Dika. Mereka menghabiskan waktu untuk bercengkrama satu sama lain. Banyak canda tawa terdengar di rumah itu saat ini. Mereka bercerita banyak hal. Baik itu hal yang serius atau hanya sekedar saling mengejek satu sama lain. Akan tetapi tak ada dari mereka yang sakit hati. Mereka sangat mengenal satu sama lain. Jadi tau bahwa diantar mereka tak ada sebenarnya yang berniat membuat sakit hati.


Setelah selesai makan malam, Dika dan keluarga lainnya termasuk Pak Anwar dan Dani kembali ke ruang tamu. Mereka hendak bercerita-cerita lagi yang sungguh tak ada bosannya. Sementara Celyn dan Maya membereskan meja makan itu. Lalu bergabung bersama keluarga yang lain.


"Sini duduk dekat om, Maya."Pinta Om Anwar.


Maya melihat ke arah Dika meminta izinnya Dika lewat tatapan mata. Dika pun menganggukkan kepala tanda tanda setuju lalu Maya bangkit dari tempatnya duduk sekarang lalu duduk di sebelah Pak Anwar.


"Nggak perlu takut Maya. Om nggak makan orang kok."Kata om Anwar mencairkan ketegangan di wajah Maya.


"Hahaha. Maaf om. Maya belum terbiasa."Maya berkata sejujurnya pada om Anwar.


"Iya nggak apa-apa. Wajar kok. Toh kita kan baru ini ketemu. Maksud om ini kan memang pertemuan pertama kita, wajar kalau kamu grogi. Ucap Om Anwar yang memaklumi sikap Maya.


"Makasih atas pengertiannya om."Maya tersenyum manis pada om Anwar.


"Gimana kabar keluarga kamu Nak. Gimana kabar mama dan papa kamu?"Om Anwar membuka pembicaraan


"Maya cuma punya mama dan seorang adik laki-laki om. Papa Maya udah nggak ada."Cerita Maya menjawab pertanyaan om Anwar.


"Oh maaf om nggak tau."Pak Anwar sedikit merasa nggak enak karena Pak Anwar secara tak langsung mengingatkan Maya akan kesedihannya kehilangan papanya.


"Nggak apa-apa om. Santai aja."Maya tetap berusaha tersenyum.


"Kamu tinggal sama mereka?"Om Anwar bertanya lagi


"Iya om. Maya masih tinggal bersama mereka. Nanti setelah Maya menikah baru Maya tinggal sama suami Maya. Dan kalau suami Maya mengizinkan, Maya ingin mereka tinggal sama Maya."Ucap Maya melirik Dika.

__ADS_1


Dika yang merasa ditanya secara tidak langsung menjawab Maya.


"Boleh kok. Mama dan adik kamu boleh tinggal bareng sama kita. Iya kan Nek? Biar nenek pun ada temannya saat kita nantinya pergi bekerja. Bukan begitu Nek?"Tanya Dika.


"Iya May, nenek nggak keberatan kok. Malah nenek senang. Jadi setiap hari ada yang menemani nenek ngobrol untuk mengisi waktu nenek sendiri. Semenjak Cellyn dan Dinar menikah, nenek sudah tidak punya teman lagi di rumah. Mereka kan sibuk mengurusi keluarnya. Sedangkan Dika selalu sibuk bekerja. Nenek jadi sendiri di rumah"Curhat Nek Imah.


"Maaf ya Nek."


"Maaf Nek."


"Maafkan kami Nek."


Cellyn, Dinar dan Dika secara bergantian meminta maaf pada Nek Imah. Karena mereka sibuk mengakibatkan neneknya itu harus kesepian. Mereka bertiga serempak memeluk Nek Imah.


"Iya. Sudah. Nggak apa-apa. Nenek bisa ngerti kok. Memang sudah kodrat orangtua kalau anak atau cucu mereka sudah menikah, otomatis mereka akan sibuk akan hidupnya dan meninggalkan orangtuanya "Nek Imah paham akan keadaannyam


Pak Anwar, Dani dan Maya terharu melihat kedekatan mereka. Lalu tersenyum penuh arti.


"Tuh dengar Maya. Dika dan bu Imah setuju kok kalau mama dan adik kamu tinggal bersama dengan kalian di sini."Ucapan Pak Anwar memecahkan lamunan semua orang yang hanyut dengan perasaan masing-masing


"Iya om. Maya senang mendengarnya. Maya juga pasti akan bahagia menjadi bagian dari keluarga yang saling menyayangi seperti ini."Maya berkata tanpa sadar.


"Udah pasti itu Maya. Kamu nggak akan pernah merasa sedih jika jadi bagian keluarga ini. Om sendiri saja sering merasa iri pada mereka. Rasa kekeluargaan mereka sangat dekat. Mereka bisa bahagia walau tanpa harta sedikitpun."Cerita om Anwar.


"Dulu saat saya menemukan ketiga anak sahabat saya ini, kehidupan mereka itu susah. Masuk akal sih, soalnya sahabat saya yang tak lain adalah ayahnya mereka itu meninggal karena kecelakaan saat mereka masih kecil. Sebanyak apapun harta yang ditinggalkan ayah mereka pasti akan habis. Karena masih kecil, mereka tidak mungkin bekerja. Untung ada bu Imah yang rela merawat dan membesarkan mereka walau tak punya hubungan darah sedikitpun. Walau kehidupan susah, makan pun hanya dua kali sehari dengan lauk sederhana agar besok mereka bisa makan lagi dan yang terpenting mereka bisa sekolah tapi tak pernah mereka mengeluh. Mereka menjalani hari-hari mereka dengan perasaan bahagia."Lanjut om Anwar cerita pada Maya.


"Jadi Keluarga Dika pernah merasa susah om?"Tanya Maya penasaran.

__ADS_1


"Iya Nak. Mereka pernah susah. Bahkan terlilit hutang pada rentenir. Untung pada awalnya ada Dimas yang sekarang jadi suami Cellyn membantu mereka keluar dari masalah keuangan untuk sementara. Walau Dimas bisa dibilang tidak terlalu kaya tapi sedikit membuat ekonomi keluarga ini sedikit meningkat."Jelas om Anwar sekaligus menceritakan awal mula Dimas menjadi suami Cellyn.


"Cobaan mereka tidak sampai disana saja. Masih ada yang lain."


"Apa om?"Maya pun penasaran


"Karena kegantengan Dimas, ada seorang perempuan yang tak lain adalah sepupunya Nicho suami Dinar sekarang. Perempuan itu tergila-gila pada Dimas. Dia melakukan segala macam cara untuk memisahkan Cellyn dan Dimas. Salah satunya ya dengan mendekatkan Nicho dengan Dinar supaya bisa masuk ke dalam keluarga ini dan menghancurkannya dari dalam. Untungnya Nicho jadi beneran cinta sama Dinar dan akhirnya mereka pun menikah. Melihat tak ada celah untuk memisahkan Cellyn dan Dimas walau sudah melakukan cara yang licik, akhirnya perempuan itu menyerah dan pindah ke Singapura. Di sana dia sudah punya keluarga dan bahagia juga "Jelas Pak Anwar lagi.


"Wah, kisah cinta mbak Cellyn dan mas Dimas nggak mudah ya. Sama halnya dengan kisah cinta mbak Dinar dan mas Nicko. Udah kayak di cerita novel saja om."Komentar Maya.


"Benar. Mirip cerita di novel tapi ini nyata dikehidupan mereka Maya."Tegas Pak Anwar.


"Iya om."


"Ada beberapa pesan om untuk Maya"Pak Anwar menarik nafas sebentar sebelum lanjut bicara.


"Apa om?"


"Yang pertama, jadilah orang yang baik yang suka membantu orang lain. Walaupun balasannya bukan melalui kamu, tapi bisa melalui anak-anak kamu. Mereka akan dibantu tanpa mereka sadari di saat mereka butuh."


"Iya om."


"Yang kedua, kalau kita saling mencintai sekuat apapun cobaan yang datang menghadang kalian harus saling percaya dan menghadapinya bersama. Supaya kalian tidak terpisahkan "Jelas om Anwar.


"Iya om. Super sekali pesan om hari ini. Maya akan mengingatnya "Balas Maya dengan antusias


Setelah itu, Pak Anwar melanjutkan cerita lagi sampai malam pun semakin larut.

__ADS_1


__ADS_2