
Hari ini merupakan hari yang panjang namun menyenangkan. Mereka banyak menghabiskan waktu cerita, tertawa, bercanda dan masih banyak lagi yang mereka lakukan. Tanpa sadar hari pun sudah hampir jam sepuluh malam. Maya pun tersadar.
"Ekhem... Maaf semua..!!"Maya membuat semua orang tiba-tiba memperhatikannya.
"Kenapa sayang?" Dika yang pertama kali membalas kode yang diberikan Maya.
"Maaf mas. Maaf mbak. Maaf om. Maaf nek. Bukan maksud Maya ingin memotong pembicaraan kalian. Tapi Maya mau minta izin pulang. Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Maya nggak enak sama mama kalau pulangnya terlalu malam. Lagian nggak enak dilihat tetangga." Maya bicara hati-hati takut mereka yang ada di tersinggung ataupun sakit hati..
"Ya ampun. Nenek sampai lupa Nak. Kita keasyikan ngobrol dari tadi sampai nggak sadar kalau kamu harus pulang ya."Nenek Imah meminta maaf pada Maya.
"Nggak apa-apa Nek. Maya juga ngerti kok kalau keluarga sudah ketemu ada saja yang dibicarakan. Maya juga senang ikut gabung cerita sama semua orang di sini."Maya berkata jujur dari hati.
"Om pun senang dengan kamu Maya. Kamu sepertinya punya kemiripan dengan Cellyn kakaknya Dika. Mandiri, baik hati, sopan, ramah dan ceria tapi tidak lebay. Om suka dengan sifat kamu. Om tahu itu sifat asli kamu bukan kamuflase atau dibuat-buat."Om Anwar menilai Maya saat ini.
"Wah makasih om. Kuping Maya jadi naik nih dipuji sama om."Maya bercanda.
"Nggak apa-apa kalau naik May. Nanti pasti ada orang yang mencuri kesempatan memegang kuping kamu dengan alasan untuk membantu kamu menurunkan kuping"Ledek Dani.
"Siapa mas?"Maya dengan polosnya bertanya.
"Siapa lagi May. Kalau bukan calon suami kamu tercinta itu. Yang bucinnya selangit."Ledek Dani lagi sambil melihat Dika.
"Nggak apa-apa bucin mas. Daripada punya julukan jomblo akut. Wueekkk..!!"Dika menjulurkan lidah membalas ledekan Dani.
"Jomblo jomblo gini tapi tetap High Quality Jomblo loh. Banyak yang antri di belakang mas."Dani membanggakan dirinya
"Mau high quality jomblo atau apapun itu tetap saja judulnya Jomblo. Alias nggak punya pasangan. Alias nggak laku mas. Lagian Dika nggak ngeliat ada yang antri di belakang mas. Soalnya kan di belakang mas Dani sekarang kan cuma sofa single. Sama kayak mas Dani."Ledek Dika lagi.
__ADS_1
"Maksud mas itu bukan yang sekarang dibelakang mas loh. Maksud mas kan cewek-cewek yang mau sama mas itu banyak. Cuma mas Dani saja yang belum siap berkomitmen."Elak Dani.
"Sampai zaman batu berubah jadi lembek juga nggak akan siap-siap sih mas. Kita harus memberanikan diri untuk siap menghadapi kehidupan ini."Kata Dika dengan gaya sok puitis.
"Baiklah. Mas akan coba buka hati dan pikiran. Tapi ada syaratnya."Dani mengajukan syarat pada Dika.
"Ya elah mas. Yang mau mencoba untuk buka hati kan mas. Maksud Dika yang untung kan mas juga. Masa harus bersyarat sih. Seperti kata judul lagu aja Cinta itu tak bersyarat. Masak mas yang mau punya cinta harus mengajukan syarat sih."Protes Dika.
"Tapi berhubung Dika ini orangnya baik hati. Dika akan coba memenuhi syarat yang mas bilang. Dika kasian kalau mas Dani akan jadi jomblo seumur hidup. Ya udah katakan syaratnya." Setelah ngomong panjang lebar kali tinggi Dika pun membolehkan Dani mengatakan syarat itu.
"Siapapun perempuan yang mas pilih kalian harus setuju. Tidak ada penolakan apalagi pembantaian . Bagaimana? Kalian setuju?"Dani menunggu jawaban semuanya. Mereka serentak mengangguk setuju.
"Itu aja syaratnya mas?"Dika nggak habis pikir dengan Dani.
"Itukan cuma syarat pertama Dika. Sabar napa, mas kan perlu mengambil nafas dulu sebelum mulai syarat yang kedua."
"Oke. Baiklah. Dika dengarin lagi." Dika mulai serius lagi.
"Berarti cuma aku yang harus memenuhinya?" Dani pun mengangguk.
"Katakan mas. Apa itu?"Dika langsung mengatakan itu.
"Nanti mas minta kamu temanin mas melamar gadis itu ya. Mas grogi soalnya Kalau bawa Pak Anwar kan mas malu udah gede malah ditemani. Mau sama Dimas dan Nicko takutnya malah gadis itu menyukai mereka. Mas jadi tersingkir. Jadi mending sama kamu aja. Lebih pas."Dani berkata dengan makna ambigu.
"Tunggu mas. Dari sederetan kata yang mas bilang tadi, secara tak langsung mas bilang hanya Maya saja yang tertarik sama Dika yang lain nggak gitukan? Berarti secara tak kasat mata mas bilang kalau Dika itu mukanya pas-pasan tidak seperti mas Dimas dan Mas Nicko. Iya kan mas?"Dika menganalisis satu persatu omongan Dani tadi.
Dani hanya tertawa terbahak-bahak. Tadi memang syarat kedua itu hanya main-main saja. Hanya untuk meledek Dika saja. Dalam pikiran Dani, bahwa mendealkan sebuah proyek yang susah saja bisa, masa untuk menaklukkan hati seorang gadis saja susah. Imposible.
__ADS_1
"Dika kok tau aja sih. Maafin mas. Mas hanya mengatakan yang sebenarnya. Walaupun berat kita harus menerima kenyataan yang ada dentan lapang dada. Hahaha..!!" Tawa Dani semakin menggema. Alhasil Dika asli merengut kesal.
"Dani...!!"Panggil Pak Anwar
"Iya Pak. Maaf. Saya nggak akan melakukannya lagi. Janji deh Pak."
"Baiklah. Saya percaya pada kamu Dan."Pak Anwar berkata sewajarnya.
"Mas Dika gimana? Ayo kita pulang. Semakin lama semakin larut."Maya mengingatkan Dika.
"Baiklah sayang. Ayo kita pergii dan pulang ke rumah kamu sebelum mama kamu marah. Padahal sebenarnya mereka pun sedang berbeda pendapat akan suatu waktu"Ajak Dika.
"Oma, om, mbak dan lainnya yang ada di sini, Maya pulang dulu. Sampai ketemu dilain waktu ya. Semangat terus oma dan opa"Maya pamitan lagi pada kedua tetua yang ada di sana dan menyalam para orangtua itu.
"Hati-hati Nak."Maya menyalam tangan Nek Imah.
"Dan kamu, antar Maya sampai rumah jangan sampai lecet sedikitpun."Lanjut Nek Imah lagi.
"Iya Nek."
Semua orang di situ pun menunduk karena perbuatan Maya. Maya menyalami semua orang yang ada di situ.
"Sampai jumpa semunya. Saya akan pulang dulu. Besok kalau ada waktu Maya datang lagi ya ma."Izin Maya terakhir kali.
"Hati - hati ya Nak Dika."Ucap om Anwar.
"Iya sudah pasti panggil om"Jawab Dika dengan mudah.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lagi, Dika dan Maya bergerak . Dika langsung mengajak Maya keluar agar besok bisa mengerjakan yang lainnya.
Dika dan Maya melangkahkan kakinya ke arah pintu. Lalu tak lama kemudia Dika menyuruh Maya tak terlalu capek apalagi mencegahnya. Dika pun mengantarkan Maya sampai ke rumahnya dengan selamat.