
Pertemuan Dika Kembali Dengan Maya.
Maya yang baru di pecat oleh manager cafe itu pun membereskan barang-barangnya. Dia hendak membawa semua barang pribadi yang ada di lokernya ke rumah dengan perasaan sedih. Maya bukan sedih karena dipecat tapi dia sedih sekaligus bingung akan kemana dia kerja berikutnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Maya pergi keluar dari cafe tersebut membawa barang-barangnya masih dengan mata nanar akibat air mata nya yang berkumpul di pelupuk matanya menahan tangis. Pandangan matanya pun kabur karena air matanya itu. Tanpa sengaja dia menabrak seorang tamu yang hendak makan di cafe itu..
****Gubraakkkkk....****
Maya menabrak seorang laki-laki. Semua barang bawaan Maya jatuh berantakan saat menabrak orang itu. Semua mata pun tertuju pada Maya dan orang tersebut.
"Maaf mas.. Maaf.."Maya meminta maaf pada orang yang dia tabrak sambil mengumpulkan barang-barangnya yang tercerai berai karena jatuh tadi tanpa melihat siapa yang dia tabrak.
"Maafin saya juga mbak. Saya buru-buru."Sapa pria itu juga tanpa melihat Maya.
Mereka berdua sibuk memunguti barang masing-masing tanpa saling melihat. Selesai menyusun barang masing-masing mereka pun berdiri dan saling memandang satu sama lain.
"Loh.. Maya..!!"Dika pun baru menyadari siapa yang dia tabrak.
"Mas Dika..!!"Maya pun terkejut.
"Kamu sudah kerja balik ya Maya? Gimana keadaan tante? Apa dia sudah sembuh?"Tanya Dika akhirnya.
"Mama sudah pulang dari rumah sakit mas kemaren. Dia belum terlalu sehat tapi dokter sudah mengizinkan mama pulang"Jelas Maya
"Loh bukannya tante harus dirawat minimal seminggu lagi?"Dika heran.
"Kok mas bisa tau??"Maya heran.
"Uuppsss..!! Aku salah ngomong nih. Gengsi dong aku kalo aku bilang aku selalu memantau perkembangan kesehatan mamanya walaupun aku nggak pernah menjenguknya di rumah sakit." Batin Dika.
Dika menyadari kalo dia salah ngomong. Selama ini memang dia tidak pernah datang ke rumah sakit tapi Dika selalu memantau keadaan mama Maya di rumah sakit melalui dokternya. Dika selalu menanyakannya via telpon dengan dokter yang merawat mama Maya.
"Ooo itu, saat aku ke rumah sakit bareng Satria, aku bertemu sebentar sama dokter menanyakan kabar mama kamu. Dokter menjelaskan seperti itu."Dika ngeles.
__ADS_1
"Ooo begitu..!!"Maya mengangguk mengerti.
"Lalu kamu sendiri ngapain di sini. Trus itu barang-barang apa? Kenapa kamu nggak kerja di dalam?"Tanya Dika bertubi-tubi.
"Aku di pecat mas karena nggak masuk kerja selama seminggu tanpa pemberitahuan."Ucap Maya lemas.
"Ya ampun..!! Memangnya kamu nggak ngomong gitu kalo mama kamu sakit atau gimana. Mana tau manager kamu ngerti."Dika prihatin
"Udah mas. Tapi dia nggak mau tau. Katanya Maya bohong. Mas kan sudah pernah ketemu orangnya. Dia nggak mau menerima alasan apapun. Menurutnya alasan itu adalah bohong."Jelas Maya.
"Kamu mau mas yang ke sana dan menjelaskan padanya?"Dika menawarkan diri.
"Nggak perlu mas. Maya nggak mau lagi kerja di sini. Atasan Maya terlalu tak manusiawi. Maya nggak suka."
"Trus kamu mau kerja di mana kalo gitu?"
"Maya pun belum tau mas. Besok Maya akan cari kerja. Kerja apapun Maya mau deh, asal bisa menghasilkan uang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga Maya."
"Oo gitu. Kalo boleh tau kamu lulusan apa? Maaf kalo kamu tersinggung."
"Kamu bisa komputer atau sejenisnya?"Tanya Dika.
"Bisa mas. Sewaktu SMA kan Maya pernah belajar komputer. Setidaknya Maya bisa memakai Microsoft Office."Jawab Maya.
"Oo gitu. Kalo begitu besok kamu datang ke kantorku. Ini kartu namaku. Kamu cari aku saja atau sekretaris saya yang namanya Jessy."Dika menyerahkan kartu namanya.
Maya menerima kartu nama dari Dika. Dia melihat nama yang tertera di kartu nama itu.
"Andika Prasetya?? Namanya itu ya. Loh kok kayaknya aku pernah baca kartu nama seperti ini ya? Tapi di mana aku lupa. Oh iya, ini kan kartu nama yang sama persis yang di berikan mbak kasir kemaren." Batin Maya
"Ini nama mas ya?"Kata Maya.
"Iya benar. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Ini kan kartu nama yang Maya dapat dari rumah sakit kemaren. Jadi mas yang membayar semua biaya perawatan mama?"
"Iya Maya. Kan kamu nggak bisa membayarnya. Maaf, bukan maksudku merendahkan kamu. Tapi, aku hanya kasian melihat tante yang kesakitan karena tak menerima pengobatan yang seharusnya karena terkendala di uang."
"Nggak apa-apa mas. Maya akan menganggapnya sebagai hutang. Nanti Maya bayar kalo Maya sudah kerja di kantornya mas."
"Jangan dipikirkan masalah itu. Kamu bisa membayarnya kapan saja kamu mau. Aku ikhlas membantu kamu tanpa pamrih apapun."Dika menegaskan.
"Oh iya, kasir rumah sakit kemaren mengembalikan kelebihan uang mas yang lima juta rupiah pada Maya. Tapi uangnya Maya lupa bawa. Besok saja ya Maya kembaliin ke mas saat datang ke kantor mas."
"Nggak perlu dikembalikan. Buat kamu saja. Itu uang jaga-jaga manatau mama kamu butuh sesuatu yang mendesak."
"Tapi mas, uang itu kebanyakan untuk Maya. Maya takut nggak bisa membayar hutang pada mas kalo kebanyakan."Kata Maya.
"Untuk yang lima juta itu anggap saja pemberian dari aku. Tanpa ada embel-embel hutang. Aku kan memberikan untuk tante dan bukan untuk kamu. Jadi jangan menolak atau mengembalikan uang itu"Dika berkata tegas.
"Tapi mas...!!"
"Nggak ada tapi-tapian. Cukup terima dan jangan protes. Sekarang aku ada meeting sama klien di dalam cafe ini. Kamu pulang dulu, besok kita bicarakan mengenai pekerjaan kamu di kantorku. Aku tunggu kedatanganmu jam delapan pagi besok. Jangan telat ya."Dika menyuruh Maya.
"Ya sudah deh mas. Sekali lagi Maya ucapkan makasih banyak ya. Padahal kita baru saling kenal tapi mas sudah banyak sekali menolong Maya."Maya berkata dengan penuh kesungguhan.
"Nggak perlu berterima kasih. Sebagai sesama manusia kita harus saling tolong menolong May. Jangan sungkan begitu."
"Nggak semua mas. Buktinya manager Maya itu. Dia sangat memandang rendah orang kecil seperti Maya ini."Kata Maya.
"Nggak perlu dipikirin. Kehidupan itu seperti roda Maya. Nggak selamanya dia diatas atau kamu di bawah. Bisa jadi suatu saat terjadi yang sebaliknya. Jadi jangan berkecil hati dan tetaplah semangat menjalani hidup ini."Dika memberi kata-kata penyemangat
"Baiklah mas. Kalo gitu Maya pulang dulu. Selamat meeting mas. Besok Maya pasti datang ke kantornya mas tepat waktu."
"Oke. Aku tunggu kamu besok pagi."Jawab Dika singkat
"Siap mas."
__ADS_1
Akhirnya Dika pun masuk ke dalam karena dia harus meeting sedangkan Maya pulang ke rumahnya dengan membawa barang pribadi miliknya. Mereka pun berpisah di sana.