Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 30


__ADS_3

Maya Dikenalkan Dengan Nek Imah.


Dika dan Maya menuju rumah Dika. Dika ingin mengenalkan Maya kepada Nek Imah. Sepanjang perjalanan Maya hanya diam seribu bahasa. Dia masih sedih karena harus dipecat dengan cara seperti itu padahal sama sekali Maya tidak bersalah. Tapi sebagai orang kecil hanya dapat menerima keputusan yang dibuat orang yang berderajat tinggi. Maya ikhlas menerima semua keputusan itu.


"Kamu kok diam aja May? Kamu marah karena aku nggak bisa mempertahankan kamu di kantor itu?"Tanya Dika memecah lamunan Maya di mobil itu.


"Nggak kok mas. Maya nggak marah. Maya malah berterima kasih karena mas selalu membela Maya dan memikirkan bagaimana nasib Maya selanjutnya. Padahal kita baru saling mengenal. Tapi mas selalu dan selalu membantu Maya."Kata Maya.


"Dulu, aku juga pernah di bawah May. Orangtua saya meninggal saat saya berumur 6 tahun. Kami harus hidup bertiga. Saya dan kedua kakak saya May. Untung saja papa saya semasa hidupnya banyak menolong orang lain jadi saat dia meninggal ada beberapa orang yang membantu kami dan menemani kami bertiga sampai dewasa. Salah satunya adalah nenek saya yang mau kita temui sekarang."Cerita Dika pada Maya.


"Masa sih mas?"Maya nggaj percaya


"Iya. Saat itu kami bertiga bersama nenek hidup bersama. Kak Celyn kakak pertamanya Dika menjadi tulang punggung keluarga kami. Dia bekerja sebagai kasir minimarket. Dan kamu tau sendiri gajinya kisaran berapa. Kami makan hanya dua kali sehari paling banyak dan hanya dengan lauk kerupuk atau garam. Yang penting sekolahku berjalan sesuai waktunya."Jelas Dika.


"Trus kenapa mas bisa sampai seperti ini? Sekarang kan mas sudah jadi pengusaha muda yang sangat kaya. Gimana ceritanya?"


"Panjang sekali May ceritanya. Nanti pelan-pelan akan mas ceritakan sama kamu."Kata Dika pada Maya.


"Maaf ya mas. Maya jadi kepo urusan pribadinya mas. Hehehe..!!"Maya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Iya nggak apa-apa. Sedikit banyak kan mas sudah tau keluarga kamu. Jadi mas pun akan menceritakan semuanya pada waktunya."Jelas Dika.


"Nggak apa-apa kok. Lagian kita kan belum ada hubungan apapun. Jadi mas nggak ada kewajiban untuk menjelaskan kehidupan pribadi mas ke Maya."


"Aku tuh pengennya kamu jadi pacar atau istri aku May. Kamu kok polos banget sih. Masa gitu aja kamu nggak ngerti sih May? Bingung deh..!!"Batin Dika.


"Hehehe.. Iya juga ya. Kalo gitu kita punya hubungan aja May. Gimana? Apa kamu mau?"Dika menembak Maya.


"Maksud mas apa? Maya nggak ngerti?"Maya terkejut dengan pernyataan Dika yang tiba-tiba.


"Aduh.. Apaan sih aku? Masa bisa keceplosan gitu sih? Belum saatnya Dika. Lagian waktunya pun nggak tepat."Batin Dika.


"Bukan apa-apa Maya. Maaf tadi mas asal ngomong saja. Mas mau kita berteman biar nggak kaku kayak gini."Dika ngeles.


"Yaahh.. Kirain mas Dika ngajak aku pacaran. Apaan sih Maya. Mimpi kok di siang bolong. Dia memang perhatian sama kamu tapi belum tentu dia suka sama kamu. Bisa aja dia cuma anggap kamu teman saja nggak lebih dan kebaikannya selama ini sama kamu karena memang Dika orangnya baik. Maya sadar..!! Jangan baper dan mengharap ketinggian." Gumam Maya dalam hatinya.


"Kita kan memang sudah berteman mas. Tenang saja."Maya berusaha bersikap biasa.

__ADS_1


"Iya juga ya..!!"Dika tersenyum dipaksakan.


"Maksud aku teman hidup Maya. Bukan teman biasa seperti ini. Tapi ya sudahlah mungkin memang harus secara perlahan sama kamu. Aku akan menunggunya May. Aku akan menunggu sampai kamu sadar kalo aku sudah menyukai kamu dari pertama kita ketemu dulu.";Gumam Dika.


Setelah itu Dika kembali fokus menyetir mobilnya agar cepat sampai ke rumah mereka. Dika ingin langsung mengenalkan Maya pada Nek Imah. Dika ingin mengetahui pendapat Nek Imah tentang Maya.


Tak lama kemudian, Dika dan Maya pun sampai di rumah Dika. Dika pun langsung membantu Maya keluar dari mobil.


"May, barang kamu biar di mobil saja. Biar nggak capek bolak balik mengangkatnya. Kan kamu bisa jadi kecapekan."Kata Dika.


"Iya mas."Maya mengikuti omongan Dika.


Maya dan Dika pun berjalan masuk ke rumah itu.


****Tok.. Tok.. Tok..****


Asisten rumah tangga Dika membukakan pintu buat Dika.


"Eh.. Tuan Dika. Silahkan masuk tuan."Sapa ART itu.


"Nenek mana ya bi? Dika pengen ketemu"Tanya Dika.


"Tolong panggilkan ya bi. Habis itu tolong buatkan minum buat tamu saya dan nenek."Suruh Dika.


"Siap tuan."


Asisten rumah tangga itu pun segera pergi memanggil Nek Imah di kamarnya. Dika ingin mengenalkan Maya pada nek Imah.


"Kamu duduk dulu ya May. Nenek lagi dipanggil sama bibi itu. Sebentar lagi dia pasti akan datang."Suruh Dika pada Maya.


"Iya mas."


Dika dan Maya pun duduk di sofa itu. Mereka menunggu kedatangan Nek Imah. Tak lama kemudian nek Imah pun datang dan menghampiri Dika dan Maya.


"Kamu udah pulang sayang??"Sapa Nek Imah pada Dika yang ada di sana.


Dika spontan berdiri dan membantu neneknya berjalan ke arahnya dan membantunya untuk duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Ini yang namanya Maya ya Dik?"Tanya Nek Imah.


"Iya Nek."Kata Dika singkat. "May, kenalin ini nenek saya namanya Nek Imah."Lanjutnya.


Maya dan Nek Imah pun saling berkenalan.


"Saya Maya Nek..!!"Maya mencium tangannya Nek Imah.


"Kamu cantik ya sayang. Umur kamu berapa?"Tanya Nek Imah lembut.


"Umur saya dua puluh tahun nek."Jawab Maya sopan.


"Dika sudah menjelaskan garis besarnya kan May? Mulai besok kamu bantu nenek ya di cafe. Sebenarnya cafe itu dikasi oleh Dika untuk mengisi waktu saat Dika dinas keluar kota bahkan keluar negeri. Tapi beberapa tahun nenek menjalankan kayaknya cafenya nggak ada kemajuan. Mungkin karena nenek sudah tua kali ya. Jadi nenek nggak berminat bisnis lagi. Selama ini Dika dan kedua kakaknya selalu menyuntikkan dana ke cafe itu agar bisa tetap bertahan. Mendengar kamu pernah pengalaman di cafe nenek minta Dika agar kamu mau membantu nenek. Walaupun masalah kamu di kantor itu tidak ada."Jelas nenek menutupi bahwa Dika lah yang sengaja meminta pekerjaan itu pada Nek Imah.


"Tapi pengalaman Maya kan cuma jadi pelayan Nek. Bukan bagian pengembangan cafe."Kata Maya.


"Setidaknya kan kamu tau apa yang diinginkan tamu. Kamu tau hal-hal yang lagi ngetrend saat ini dan hal apa yang dapat menarik pengunjung agar mau makan atau nongkrong di cafe itu."Nek Imah berkata seperti itu pada Maya.


"Nenek benar sih. Maya memang tau apa yang paling diinginkan customer Nek. Tapi karena Maya cuma pelayan rendahan Maya nggak bisa berbuat apa-apa di cafe tempat Maya bekerja dulu."Maya mengakui.


"Kalo gitu nanti di cafenya nenek kamu bisa menuangkan ide-ide kamu ke dalamnya. Supaya cafe nenek bisa maju."Saran Nek Imah.


"Baiklah kalo gitu Nek."Jawab Maya semangat.


"Besok kamu nenek jemput ya. Dika besok mau kan mengantar nenek dan Maya ke cafe?"Nek Imah pura-pura bertanya.


"Iya Nek. Tapi kita berangkat pagi ya. Dika ada meeting saat jam makan siang."Usul Dika.


"Baiklah. Maya kami jemput kamu jam delapan pagi. Kamu sudah harus siap ya. Biar kita langsung berangkat."Suruh Nek Imah.


"Siap laksanakan Nek..!!"Maya semangat.


"Hahaha..!!"Mereka semua pun tertawa mendengar perkataan Maya.


Lalu mereka bertiga pun terlihat bercerita di rumah itu. Nek Imah sepertinya nyaman sekali bicara dengan Maya. Dika memperhatikan kedua wanita itu berbicara dengan serunya sehingga melupakan kehadiran Dika di sana.


Karena dicuekin, Dika pun pergi ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan dirinya. Dika merasa gerah dan kepanasan dari tadi. Setelah mandi Dika pun kembali bergabung dengan Nenek dan Maya.

__ADS_1


Jam pun sudah menunjukkan jam tujuh malam. Nek Imah mengajak Maya dan Dika makan malam sebelum Maya pulang ke rumahnya di antar oleh Dika.


__ADS_2