Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 54


__ADS_3

Dika Dan Maya Saling Melepaskan Kerinduan Setelah Berbulan-Bulan Tidak Bertemu.


Saat ini Dika dan Maya sedang ada di ruang kerja Maya. Maya menangis sejadinya di sana sambil memukul-mukul dada Dika. Dika hanya diam saja. Dika tak melawan sedikitpun. Dika membiarkan Maya memukulinya sepuasnya. Dika tau bahwa dirinya memang salah. Dika mencoba memeluk Maya setelah perasaannya longgar telah memukul Dika sambil menangis.


Beberapa menit kemudian Maya pun berhenti menangis. Dia mulai menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal habis menangis. Dika memeluk dan memukul-mukul bahu Maya dengan pelan penuh kasih sayang.


Melihat Maya sudah tenang, Dika pun melepas pelukannya pada Maya lalu menghadapkan wajah Maya ke depannya supaya mereka bisa saling bertatapan.


"Kamu sudah tenang sayang?"Tanya Dika.


"Iya mas. Maaf ya, Maya jadi terlihat cengengnya."Ucap Maya.


"Nggak apa-apa sayang. Malah mas suka cewek yang ada sifat cengeng dan manjanya. Nggak terlalu mandiri. Jadi mas rasanya dibutuhkan. Kalo kamu terlalu mandiri dan apapun bisa dilakukan sendiri mas jadi ngerasa nggak dibutuhkan sama kamu."Jelas Dika


"Iya mas. Makasih karena mas mengerti keadaannya Maya."Ucap Maya.


"Iya May. Mas juga mau minta maaf sama kamu Maya. Karena mas sudah membuat kamu khawatir dan berpikir nggak-nggak sama mas. Mas sudah mendengar semuanya dari nenek. Mas mengerti kenapa kamu bisa jadi berpikir seperti itu. Mas juga sebenarnya yang salah. Mas sama sekali nggak memberikan kamu kabar akhir-akhir ini. Semua itu mas lakukan karena mas sibuk mengerjakan semua pekerjaan mas yang penting supaya mas bisa secepatnya bertemu dengan kamu. Mas sangat merindukanmu May. Pengen rasanya mas pinjam pintu kemana saja milik doraemon supaya bisa setiap saat bisa datang menemui kamu sebentar-sebentar kapanpun mas merindukanmu. Tapi kan nggak mungkin. Pintu kemana saja doraemon kan cuma khayalan saja. Itu nggak nyata. Jadi mas nggak bisa pulang pergi sesuka mas. Itu juga membuat mas tersiksa Maya. Tersiksa karena kerinduan yang begitu mendalam ini tak bisa dikeluarkan karena jarak dan waktu memisahkan kita berdua. Sekali lagi mas minta maaf sebesar-besarnya ya sama kamu May. Kamu mau kan memaafkan mas mu ini?"Kata Dika panjang lebar.


"Sebenarnya Maya juga nggak marah kok sama mas Dika. Mas sadar siapa diri Maya. Maya merasa nggak pantas jadi istri mas. Jadi pikir Maya wajar kalo mas memang mau meninggalkan Maya dan membatalkan semua rencana pernikahan kita. Mungkin mas baru sadar sekarang tentang hal itu. Maya nggak bisa berbuat apapun kalo itu terjadi. Maya hanya bisa mendoakan kebahagiaan mas. Tapi memang nggak bisa dipungkiri hati Maya pasti akan sangat sakit karena Maya memang sangat mencintai mas Dika. Mas cinta pertamanya Maya. Maya belum pernah merasakan jatuh cinta sedalam ini pada orang lain. Maya benar-benar takut kalo harus kehilangan mas."Jelas Maya.

__ADS_1


"Nggak Maya. Mas nggak akan pernah meninggalkan kamu. Mas juga nggak pernah berpikir untuk membatalkan pernikahan kita yang sudah di depan mata. Itu hal yang sangat mustahil mas lakukan. Kamu nggak perlu takut May. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya. Tanamkan dalam hati dan pikiran kamu kalo mas itu hanya akan menikah dengan kamu. Mas hanya milik kamu seorang. Tak ada yang dapat menggantikan kamu dalam hati dan hidup nya mas."Ucap Dika serius.


"Makasih mas. Maya senang sekali mendengarnya. Terima kasih telah mencintai Maya dan menerima segala kekurangan yang Maya miliki mas."Maya terharu dan memeluk Dika lagi.


"Sama -sama sayang. Lain kali jangan pernah meragukan mas lagi ya apapun yang terjadi."Ucap Dika.


"Iya mas. Oh iya, kapan mas sampai ke Indonesia? Kok nggak kasitau Maya sih? Kan Maya bisa jemput mas Dika ke bandara naik odong-odong."Kata Maya.


"Hahahaha.. Masak sih jemput mas ke bandara naik odong-odong? Kapan nyampeknya kita? Mas tadi sampai pagi di Indonesia. Mas langsung ke rumah dan istirahat sebelum bertemu dengan kamu. Mas sengaja tak memberitahu kepada siapapun tentang kepulangan mas. Mas ingin memberikan surprise buat kalian."


"Dasar mas ini kebiasaan sekali sih. Udah kayak jaelangkung saja. Datang nggak dijemput pulang nggak diantar. Hahahaha..!!"Maya mencoba bercanda.


"Hahahaha.. Biarin..!! Ueekkk..!!"Maya menjulurkan lidahnya tanda mengejek Dika.


"Hahahaha.. !!"Maya dan Dika pun tertawa berdua.


"Gimana perasaan kamu sekarang Maya? Apa kamu sudah merasa enakan? Apa nggak sedih lagi?"Tanya Dika.


"Udah mendingan mas. Maya nggak sedih lagi. Maya sudah senang karena melihat mas sudah pulang dalam keadaan sehat dan tak kekurangan apapun sampai di depan Maya. Maya tenang karena mas pulang dengan selamat."Maya berkata dengan mimik penuh syukur.

__ADS_1


"Baguslah Maya. Jangan pernah nangis lagi ya. Mas janji tak akan pernah membiarkan air mata kamu jatuh tanpa seijin mas. Mas ingin sekali membuat kamu selalu senang dan selalu tertawa di setiap hari dan dalam kondisi apapun. Mas janji Maya."Dika berkata serius.


"Nggak perlu janji-janji seperti itu mas. Maya percaya kok kalo mas bilang apapun pada Maya. Maya yakin mas akan selalu berusaha melakukan apapun yang keluar dari mulut mas. Dan Maya sangat mempercayai hal itu."


"Makasih Maya. Mas memang nggak salah memilih kamu menjadi istri dan calon ibu dari anak-anak kita nantinya."


"Amin mas. Oh ya, mas sudah makan malam?"Tanya Maya.


"Belum Maya. Tadi sehabis bangun tidur mas langsung ke sini tanpa makan apapun. Mas ingin makan malam bersama dengan kamu sambil melepaskan kerinduan mas karena sudah tak bertemu dengan kamu selama berbulan-bulan ini."Kata Dika.


"Ya ampun mas. Kenapa nggak ngomong dari tadi. Kan Maya bisa pesankan makanan buat mas."Ucap Maya.


"Gimana mau bilang Maya. Waktu mas datang kamu sudah memukul-mukul mas kayak kesetanan gitu. Mas mana sempat ngomong sih."Dika pura-pura protes.


"Ya sudah. Maaf ya mas. Sekarang ayo kita makan. Maya pesankan menu kesukaan mas ya. Kita makan di sini aja."Ucap Maya.


"Siap calon istriku."Dika menjawab


Maya pun akhirnya menelpon pelayan agar menyiapkan dan mengantarkan menu yang biasa mereka berdua makan selama ini. Maya meminta mengantarkan makanannya ke ruang kerja Maya agar mereka berdua dapat makan dengan tenang di sana tanpa harus terganggu oleh lalu lalang tamu dan pelayan di cafe itu. Mereka makan sambil cerita semua yang terjadi selama mereka tak saling ketemu selama ini.

__ADS_1


__ADS_2