Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 53


__ADS_3

Maya Menangis Melihat Dika Pertama Kali Setelah Pulang Dari Amerika.


Setelah Dika dan Nek Imah selesai sarapan, Nek Imah mengajak Dika bicara santai.


"Dika, kamu sehat kan Nak?"Tanya Nek Imah.


"Dika sehat kok Nek. Nggak perlu mengkhawatirkan Dika Neķ."Jawab Dika.


"Kalo kamu sehat kenapa nggak ngabarin nenek ataupun Maya. Apa kamu tau kalo Maya sangat mengkhawatirkan keadaan kamu di sana?"Ucap Nek Imah.


"Maafin Dika ya Nek. Dika nggak bermaksud seperti itu sebenarnya. Dika sangat merindukan kalian semua terutama nenek dan Maya. Tapi kalo Dika menelpon kalian apalagi mendengar suara ataupun melihat wajah kalian dengan video call, kangennya Dika semakin memuncak Nek. Dika takutnya jadi nekad dan balik ke sini tanpa pikir panjang lagi. Padahal pekerjaan Dika di sana belum selesai."Jelas Dika.


"Benerkan dugaan nenek. Nenek sudah duga pasti seperti itu."Nek Imah berkata pada Dika.


"Maksud nenek apa?"Tanya Dika.


"Maksud nenek itu kan gini. Kemaren siang kan nenek ke cafe. Nenek ingin mengajak Maya keluar agar dia tak terlalu memikirkan kamu. Nah, pas nenek ke sana, Maya itu terlihat murung sekali seperti ada masalah yang menimpanya. Nenek coba bujuk Maya untuk menceritakan apa yang terjadi, akhirnya Maya pun bercerita pada nenek kalo dia khawatir sama kamu karena sudah hampir dua minggu kamu tak menghubungi atau memberi kabar padanya. Maya pun menelpon kamu tak mau mengangkat telponnya. Maya hampir saja berpikir kamu menghindarinya agar kalian tidak jadi menikah."Cerita Nek Imah.


"Astaga..!! Kenapa Maya sampai berpikir sejauh itu ya Nek?"Tanya Dika.


"Mungkin Maya belum terlalu mengenal kamu Dika. Untungnya nenek menjelaskan apa yang kamu bilang tadi. Jadi Maya sedikit tenang dan menyingkirkan semua pikiran buruknya pada kamu."Jelas Nek Imah.


"Makasih ya Nek..!! Nenek sudah membantu Dika menjelaskan keadaannya pada Maya. Kalo nggak Dika nggak tau apa yang akan dipikirkan Maya lagi pada Dika. Bisa-bisa semua pikiran terburuk yang bisa dipikirkannya melintas bebas di kepala Maya."Dika merasa bersyukur mempunyai Nek Imah yang sangat mengenalnya luar dalam.


"Sama-sama Dika. Nenek hanya ingin yang terbaik buat ketiga cucu nenek. Hanya kalian bertigalah keluarga yang nenek punya. Nenek ingin melihat kalian bahagia bersama orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian sebelum nenek dipanggil yang maha kuasa."Ucap Nek Imah.

__ADS_1


"Nenek jangan ngomong gitu ahh. Nenek pasti punya umur panjang. Dika yakin itu."Dika menghibur Nek Imah.


"Jangan bilang seperti itu. Umur manusia tidak ada yang tahu. Buktinya saja bu Farida mamanya Dimas sudah duluan meninggalkan kita walaupun usianya jauh di bawah nenek. Kamu juga tau kedua orangtua kalian pun begitu dan lagi Rani kakak angkat kalian pun mendahului nenek. Mengingat itu, nenek ingin sebelum nenek meninggal kalian sudah bahagia dan punya rumah tangga masing-masing."Ucap Nek Imah lagi.


"Iya Nek. Dika tahu. Tapi tolong jangan ngomong gitu lagi ya Nek. Kita jalani saja hari-hari kita dengan penuh kebahagiaan."Pinta Dika.


"Iya Dika. Nah, sekarang kamu istirahat. Nanti sore kamu temui Maya di cafe dan jelaskan semuanya supaya Maya tak salah paham lagi."Perintah Nek Imah.


"Siap Nek."Kata Dika mantap.


Setelah itu, Dika pamit sama Nek Imah untuk pergi ke kamarnya untuk istirahat. Dia memang berencana menemui Maya untuk melepas kerinduannya pada calon istrinya itu. Tapi Dika istirahat dulu untuk memulihkan tenanganya.


*****Pukul 5 Sore*****


Sebelum tidur, Dika sudah menyetel jam wekernya pukul lima sore. Dika ingin bertemu dengan calon istrinya segera. Saat pukul lima sore, jam wekernya Dika pun berbunyi. Dika terbangun dari tidurnya. Dia mematikan wekernya lalu langsung pergi mandi segera. Dika ingin bersiap-siap dan berpenampilan rapi agar terlihat tampan saat menemui pujaan hatinya. Setelah Dika merasa yakin dirinya sudah keren, Dika langsung keluar dari kamar dan membawa kunci mobilnya.


"Iya Nek. Dika mau ke cafe menemui Maya. Dika kangen banget sama Maya."Jawab Dika.


"Kamu nggak makan dulu?"Tanya Dika.


"Ntar aja Nek. Nanti Dika mau makan bareng sama Maya Nek."


"Oo gitu. Ya sudah. Kamu hati-hati ya di jalan."Pesan Nek Imah.


"Iya Nek. Makasih ya. Dika pamit dulu."Ucap Dika sambil mencium telapak tangan Nek Imah.

__ADS_1


Setelah pamitan Dika keluar dari rumah menuju garasi mobil untuk mengambil mobilnya dari sana agar dia bisa pergi ke cafe tempat Maya bekerja.


Dika mengendarai mobilnya menuju cafe Maya. Dika menyetir dengan perasaan senang karena sebentar lagi Dika akan ketemu dengan Maya setelah dua bulan tak bertemu dengan Maya.


Tak lama kemudian, Dika pun sampai di cafe itu. Dika langsung melihat Maya di cafe itu sedang mengecek pekerjaan karyawan cafe lainnya. Dika tak langsung turun dari mobil, Dika memperhatikan Maya dari mobil. Dika ingin melihat Maya yang sedang sibuk bekerja. Hingga tanpa di sadari mata mereka saling beradu.


"Apa itu mas Dika ya? Tapi kayaknya bukan deh. Mas Dika kan di Amerika. Gimana ceritanya mas Dika sampai di sini. Aduh, kok bisa sampai segitunya ya aku. Karena aku sangat merindukan sampai-sampai aku seperti melihat mas Dika di dalam mobil itu." Gumam Maya sambil menggosok-gosokkan matanya.


Setelah itu, Maya melihat tak ada lagi bayangan Dika yang dia lihat tadi. Dia pun menggosokkan matanya lagi.


"Tuh kan benar. Aku hanya berkhayal melihat mas Dika. Buktinya sekarang udah nggak ada lagi orangnya." Monolog Maya pelan.


Tiba-tiba Dika muncul di depan Maya tanpa Maya sadari.


"Apa kabar sayang?"Tanya Dika.


"Mas Dika? Ahh nggak mungkin. Mas Dika kan masih di Amerika. Aku berkhayal lagi. Mending aku cuci muka saja ahh biar sadar."Ucap Maya seperti ngomong sendiri dan belum sadar yang dia temui memang Dika yang asli.


"Eitss.. Mau kemana? Kamu nggak mengkhayal kok sayang. Ini memang aku. Ini calon suamimu Dika. Kalo nggak yakin coba pegang wajah aku ini nyata atau nggak."Dika berusaha meyakinkan Maya.


Spontan Maya memegang wajahnya Dika lalu menamparnya. Dika pun mengaduh karena perbuatan Maya barusan. Setelah itu, Maya mencubit dirinya sendiri. Maya merasa kesakitan. Akhirnya dia sadar kalo dia nggak berkhayal.


"Mas Dika? Ini beneran kamu kan??"Tanya Maya meyakinkan lagi.


"Iya ini aku Dika. Kamu masih belum percaya?"Tanya Dika.

__ADS_1


Maya menangis melihat Dika. Maya menangis sambil memukul dadanya Dika. Dika yang melihat hal itu menarik Maya agar mendekat kepelukannya. Dika mencoba menenangkan Maya yang sedang menangis sambil menggiringnya masuk ke ruang kerja Maya agar Maya bisa menangis di dalam ruangan itu tanpa menggangu tamu yang sedari tadi lalu lalang sambil menoleh ke arah Maya.


__ADS_2