Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 60. Kedatangan Om Anwar dan Dani (Part 2)


__ADS_3

"Selamat datang om Anwar di Indonesia. Welcome back ditanah kelahiran om Anwar."Dika mendekat hendak memeluk Anwar yang duduk di kursi rodanya.


"Dika..!! Om kangen banget sama kamu dan kedua kakak kamu. Om juga kangen sekali dengan tanah kelahiran om, negri Indonesia tercinta ini." Om Anwar pun membalas pelukan Dika.


Beberapa menit mereka berpelukan. Mereka seakan lupa akan dua orang yang berada di dekat mereka. Seakan dunia ini hanya milik mereka berdua dan yang lain hanya ngontrak.


"Ekhem.. Permisi..!! Masih ada orang lain di sini."Dani berdeham mengingatkan kedua orang itu.


Pak Anwar dan Dika baru menyadari bahwa masih ada Dani dan Maya yang berdiri di situ memandang dan menunggu mereka berdua di situ.


"Eh, ada mas Dani rupanya?"Dika pura-pura tak melihat Dani.


"Emangnya segede ini nggak kelihatan ya Dika?" Dani pura-pura merajuk karena tak dilihat Dika.


"Maaf mas. Tadi yang kelihatan lebih dulu itu om Anwar. Mas jadi nggak kelihatan. Apa kabar mas?"Dika pun segera memeluk Dani juga agar dia tak semakin marah.


"Mas baik-baik saja Dika. Kamu sendiri? Gimana kabar calon pengantin ini?"


"Kabar Dika baik mas." Dika melepaskan pelukannya.


"Wah, makin cerah aja ya muka calon pengantin ini?"Ledek Dani.


"Mas bisa aja. Dika biasa aja kok"Dika merendah.


"Eh, Dika. Gadis cantik di sebelah kamu itu siapa?"Tanya Om Anwar menunjuk ke arah Maya.


"Eitss hampir lupa. Maaf semuanya. Perkenalkan ini calon istri Dika namanya Maya."Dika memperkenalkan Maya pada Om Anwar dan Dani.


"Sayang, perkenalkan ini om Anwar. Om Anwar ini sudah mas anggap sebagai orangtua mas sendiri. Sudah seperti ayahnya mas. Kan kamu tau sendiri sejak kecil mas sudah jadi yatim piatu."Dika memperkenalkan Maya pada om Anwar.


Maya pun langsung menyalam tangan om Anwar dengan sopan.

__ADS_1


"Saya Maya om."Maya memperkenalkan dirinya sendiri.


"Cantik. Sama kayak difotonya. Bahkan lebih cantik dari fotonya. Kamu pintar cari calon istri Nak."Om Anwar menyambut tangan Maya yang hendak mencium tangannya sebagai tanda hormat.


"Siapa dulu om. Dika..!!" Dika menyombongkan dirinya.


"Iya. Om bangga Dika. Kamu jangan kayak Dani. Umur sudah bangkotan tapi nggak nikah-nikah. Jangankan nikah punya pacar aja om nggak pernah lihat tuh. Om jadi takut deh." Om Anwar seakan curhat tapi tujuannya menyindir Dani.


"Pak Anwar takut apa? Pak Anwar takut saya tinggal ya?"Tanya Dani.


"Siapa yang takut kamu tinggal sih Dan. Saya takut kamu nggak laku-laku. Kasian kan jadi expired dan karatan. Padahal kalo dilihat-lihat kamu itu sebenarnya tampan, gagah dan keren. Pasti banyak yang suka sama kamu. Cuma kamu nya aja yang pemilih. Iyakan Maya? Menurut pandangan kamu gimana?"Om Anwar memancing Maya ngomong


"Eh.. Maya nggak tau om. Maya kan belum kenal mas Dani. Maya juga baru ini ngeliat mas Dani. Jadi Maya nggak bisa menilai mas Dani itu gimana."Jawab Maya terbata-bata tak menyangka akan ditanya pertanyaan seperti itu.


"Kalau nggak kenal, yuk kita kenalan?"Ucap Dani sedikit menggoda membuat Dika cemberut saat Dani meliriknya sebentar.


Maya berpikir sejenak dan melihat keadaan lalu mengulurkan tangannya pada Dani.


"Saya Dani."Dani memperkenalkan singkat dirinya


"Kamu sudah lama mengenal Dika, May?"Tanya Dani.


"Kurang lebih setahun mas."Maya mengingat sebentar lalu menyebutkan waktunya


"Ooo masih baru ya. Kok langsung mau diajak nikah sama Dika? Kalau ternyata Dika itu playboy dan pria nggak baik gimana? Kamu nggak takut?"Pancing Dani.


"Nggak mas. Saya nggak takut kok mas. Saya tahu, yakin dan percaya kalau mas Dika itu orang yang baik dan dapat dipercaya walau kami baru kenal. Selama setahun ini belum pernah saya melihat Mas Dika neko-neko. Dia selalu berjalan di jalan yang benar. Nggak pernah kasar ataupun main perempuan. Mas Dika pun tipe penyayang keluarga. Maya bisa lihat itu dari cara Mas Dika menyayangi kedua kakaknya dan Nek Imah. Karena itulah Maya suka dan yakin pada mas Dika."Maya banyak memuji Dika dan membuat Dika senyum sendiri dan besar kepala.


"Widih, sempurna banget lu Dika di mata Maya. Kamu harus jaga kepercayaan Maya ini jangan disia-siakan. Kamu sendiri nanti yang rugi." Nasehat Dani.


"Tenang saja mas. Dika pasti akan menjaga Maya seperti Dika menjaga diri Dika sendiri. Tak akan Dika biarkan Maya menangis atau terluka sedikitpun."Jawab Dika dengan yakin.

__ADS_1


"Cie..cie.. Jadi terharu. Mau dong jadi pacarnya kamu Dik. Biar bisa dijagain dan dilindungi terus."Ledek Dani.


"Mas Dani. Ngeledek mulu. Dika mana mau jadi pacarnya mas Dani. Memangnya Dika cowok apaan?"Dika menjawab dengan gaya ngondek.


"Iiihh geli ahh liat sikap kamu yang kayak gitu."Dani merinding melihatnya


"Kan tadi mas Dani yang pengen jadi pacarnya Dika. Iyakan mas?"Tanya Dika mendekat ke Dani seakan hendak menggoda Dani.


"Issh Dika. Jauh-jauh sana. Geli banget liat kamu gitu. Kamu nggak malu apa ada Maya di situ. Nggak malu memperlihatkan sisi lain diri kamu di depan Maya?"Dani mengibas-ngibaskan tangannya ke baju yang dipegangi Dika tadi.


"Kenapa malu? Maya kan calon istri Dika. Maya pasti ngerti. Iyakan sayang?"Tanya Dika lembut.


"Iya mas. Maya yakin mas nggak ngondek gitu kok. Mas Dika orangnya macho dan lelaki tulen."Jawab Maya yakin.


"Bagus. Itu baru namanya calon istri mas yang cantik, manis, pintar dan rajin menabung"Goda Dika.


"Mas jangan gitu ahh. Malu sama mas Dani dan om Anwar."Ucap Maya.


"Biarin aja. Toh om Anwar dan mas Dani sudah tau kalau kamu calon istri mas. Jadi nggak perlu malu lagi."Ucap Dika.


"Lihat tuh Pak Anwar, Dika anak kecil yang dulu suka nyelendot sama Pak Anwar sudah punya calon istri dan sebentar lagi nikah. Nggak terasa waktu cepat berlalu."Dani berkata pada pak Anwar.


"Bahkan sekarang dia pede mesra-mesraan di depan kita Pak. Sungguh terlalu."Dani memanas-manasi Pak Anwar.


"Dani. Kamu jangan sirik atau iri pada Dika. Kalau kamu mau kayak gitu juga, mending kamu cari pacar sana dan menikah secepatnya."Saran Pak Anwar.


Dika dan Maya tertawa melihat Dani diledek Pak Anwar. Sedangkan Dani hanya cemberut.


"Udah.. Udah mas jangan cemberut terus. Yuk kita pergi dari sini. Nek Imah sudah masak banyak di rumah. Ayo kita lanjutkan obrolan kita di rumah sambil makan"Ajak Dika.


"Ayo Dika."Pak Anwar langsung mengiyakan karena dia pun lapar. Dani hanya ikut saja.

__ADS_1


Akhirnya, Dika, Dani,Maya dan Pak Anwar berjalan keluar dari bandara dan naik ke mobil yang sudah di bawa oleh supirnya Dika saat pergi ke bandara.


__ADS_2