
Akad nikah yang khusuk pun telah selesai di lakukan. Setelah ikrar pernikahan yang sudah di katakan oleh Dika dengan satu tarikan nafas, akhirnya Dika dan Maya sekarang resmi menjadi suami istri. Mereka sudah sah di mata agama daj hukum yang berlaku.
Maya pun menyalam tangan Dika untuk pertama kalinya dalam status sebagai seorang istri. Maya sangat terharu dan tanpa sadar meneteskan air mata.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa menangis? Kamu sedih ya?"Tanya Dika.
"Nggak mas. Maya bahagia. Sangat bahagia malah mas."Maya meyakinkan Dika.
"Kalau bahagia kenapa menangis?"Dika pun heran.
"Maya terharu mas. Maya sekarang sudah berstatus sebagai istri. Maya ..."Maya tak sanggup melanjutkan kata-katanya
"Baiklah nggak usah diperpanjang May. Yang terpenting kamu menangis karena bahagia kan. Bukan karena sedih. Itu saja sudah cukup buat mas. Tapi ini adalah air mata pertama dan terakhir yang mas lihat dari kamu ya. Setelah ini mas akan mengisi hari-hari kehidupan pernikahan kita dengan kebahagiaan, tawa dan keceriaan. Walau itu tidak mungkin karena setiap orang, setiap keluarga pasti ada masalah tersendiri. Tapi mas janji akan selalu ada buat kamu. Mas selalu menemani kamu melewati semuanya bersama dengan kamu. Sampai semua masalah itu akan menjadi kebahagiaan buat kita setelahnya."Ucap Dika dengan yakin.
"Iya mas. Maya percaya semua yang mas katakan. Mari kita mulai kebahagiaan pernikahan kita pada hari ini. Maya juga janji akan menemani mas saat susah dan senang, dalam sakit dan sehat dan dalam suka dan duka selamanya mas. Kita takkan pernah berpisah kecuali oleh kematian."Janji Maya sebagai istri Dika.
"Terima kasih ya May. Ya sudah ayo kita mulai sungkeman pada orangtua kita. Mereka sudah menunggu."Ajak Dika.
"Iya mas." Maya pun segera menyeka air matanya dan mengikuti pergerakan suaminya itu.
Mengikuti adat Jawa, pernikahan selalu di mulai dengan sungkeman kepada orang tua untuk meminta restu dan doa-doa agar mereka langgeng sampai kakek nenek. Dika dan Maya pun melakukannya. Mereka memulai dari Nek Imah selaku perwakilan orangtua Dika, lalu ke om Anwar lalu ke kakak-kakak Dika. Baru akhirnya ke mamanya Maya. Saat sungkeman dengan mamanya, tangis Maya pecah. Maya terharu sekali semua hal ini bisa terjadi padanya . Maya senang akhirnya dia bisa menemukan kebahagiaannya. Maya berjanji akan berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya dengan sekuat tenaga.
Mama Maya pun memeluk Maya dengan erat. Mereka menangis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya pelukan mereka saja yang semakin kencang. Beberapa menit mereka seperti itu, hingga mama mulai mengendurkan pelukannya dan membersihkan air mata putri nya itu perlahan agar make-up nya tidak luntur.
"Sekarang kamu sudah jadi seorang istri Nak. Berlakulah sebagaimana mestinya ya. Mama selalu berdoa yang terbaik untukmu selamanya. Mama sayang kamu Maya."Ucap mama Maya
"Iya ma. Maya akan ingat semua pesan mama tadi. Mama juga harus selalu sehat untuk menemani Maya melewati kehidupan ini. Maya masih butuh mama untuk tempat berbagi cerita."Ucap Maya.
__ADS_1
"Dika, jaga Maya baik-baik ya. Sekarang tanggung jawab mama atas Maya sudah berpindah pada kamu. Jaga dan sayangilah dia seperti kamu menjaga dan menyayangi dirimu sendiri. Jangan pernah kasar apalagi KDRT pada Maya ya Dika. Mama juga sudah menganggap kamu sebagai anak mama dan menyayangimu sama seperti mama menyayangi Maya. Mama titip Maya sama kamu ya. Doa mama selalu yang terbaik buat kalian dan cepat dapat momongan."Doa mama Maya pada Dika.
"Makasih ma. Dika akan menjaga Maya dengan segenap hati, jiwa dan raga. Dika janji ma."Dika berkata dengan tegas.
"Makasih Dika."Mama Maya pun memeluk Dika dan Maya sebentar lalu melepasnya.
Setelah acara sungkeman, Maya dan Dika berjalan menuju pelaminan dan duduk di sana. Pada saat ini hanya keluarga dekat dan beberapa kolega yang datang. Karena undangan untuk umum diperuntukkan ke semua kalangan pada resepsi malam hari.
Maya dan Dika pun menyalami satu per satu tamu yang datang pada saat ini. Beberapa tamu pun sudah ada yang sedang menikmati makanan yang sudah di sediakan. Termasuk Dani dan Milea.
Dani mendekati tempat yang menyediakan makanan. Dia hendak makan. Saat hendak memilih sebuah menu tangannya bertabrakan dengan tangan lainnya saat hendak mengambil sendok.
"Maaf.. Maaf.. Kamu duluan saja. Lady's first." Dani mengalah memberikan kesempatan untuk orang itu mengambil menu duluan tanpa melihat siapa orangnya. Yang jelas dilihat dari tangannya sudah pasti itu adalah tangan perempuan
"Kamu saja duluan"Jawab Milea tanpa melihat juga.
"Milea"
"Mas Dani"
Keduanya memanggil bersamaan saat mata mereka saling melihat.
"Sejak kapan mas Dani di Indonesia? Kok nggak ngabarin sih?"Tanya Milea langsung
"Mas baru seminggu di sini. Mas ada urusan di sini sebentar. Salah satunya menghadiri pernikahan Dika." Jelas Dani.
"Mas ada hubungan apa dengan Dika?" Tanya Milea.
__ADS_1
"Dia adik angkatku." Jawa Dani.
"Oh ya? Ternyata dunia ini sempit ya." Kata Milea
"Memangnya kamu kenal juga dengan Dika?"Tanya Dani.
"Kenal dong. Kalo nggak kan aku nggak bakalan diundang di sini. Lebih tepatnya papaku sih yang diundang. Aku ngikut aja."Jelas Milea.
"Ooo papa kamu partner bisnisnya Dika ya?"Tanya Dani lagi.
"Iya mas."
"Ooo pantes lah."
Sambil bicara Dani dan Milea selesai mengambil makanan. Dani mengajak Milea duduk di pojok yang agak sepi supaya mereka enak makan sambil cerita.
Saat Milea dan Dani makan berdua di pojokan banyak yang memperhatikan mereka. Terutama Rocky papa Milea dan Pak Anwar. Sedari tadi mata kedua orangtua itu tak lepas dari sosok Dani dan Milea.
"Siapa laki-laki itu? Sepertinya dia memakai seragam keluarga ini? Kenapa bisa dekat dengan Milea ya? Mereka ada hubungan apa?"Tanya Pak Rocky dalam hatinya memperhatikan anak gadisnya itu.
"Mudah-mudahan dia mendapat laki-laki kaya minimal seperti Dika lah. Jangan sampai dia mendapat laki-laki nggak jelas asal usul nya. Mau jadi apa hidupku kedepannya" Batin Pak Rocky.
Lain pikiran Pak Rocky , lain juga pikiran Pak Anwar.
"Siapa gadis itu? Kenapa bisa dekat dengan Dani? Apa mereka sudah pernah kenal sebelumnya ya? Tapi kok saya merasa gadis itu serasa ada yang mengganjal di hatiku.Ahh.. Mudah-mudahan hanya perasaanku saja."Batin Pak Anwar juga.
Sementara Dani dan Milea yang dipandangi dari tadi tidak merasa sama sekali. Mereka tetap melanjutkan makannya sambil bercerita dengan senangnya.
__ADS_1