Anakku Bukan Anakku.

Anakku Bukan Anakku.
Bab 43


__ADS_3

Dimas Mengajak Dika Ngobrol Berdua.


Meeting tertutup antara Dani, Dimas, Dika dan Nicko pun akhirnya selesai. Dani langsung pergi dari kantor Dika dan kembali ke kantor pusat perusahaan tersebut. Karena team pengacara perusahaan memang ada di sana. Dani hendak mendiskusikan masalah ini kepada para pengacara perusahaan itu.


Sementara Nicko juga langsung kembali ke kantor Pak Nugroho. Semenjak Pak Nugroho pensiun dan pindah ke Singapura memang semua tanggung jawab perusahaan itu dserahkan kepada Nicko. Dan untungnya setelah Pak Nugroho berdamai kembali dengan Pak Anwar, perusahaan mereka sering bekerja sama terutama di bidang makanan dan minuman. Ya, keahlian Nicko memang di bisnis tersebut.


Lain halnya dengan Dimas. Setelah Dani dan Nicko pulang ke kantor masing-masing, Dimas masih duduk cantik di ruang meeting itu bersama dengan Dika. Dimas ingin menanyakan sesuatu dari hati ke hati dengan Dika.


"Loh mas nggak balik ke kantor?"Tanya Dika saat masih melihat Dimas tak beranjak dari tempat duduknya tadi.


"Bentar lagi Dika. Ada yang ingin mas bicarakan dulu padamu sebelum mas balik ke kantornya mas."Ucap Dimas.


"Ada apa mas? kok kek nya serius amat.?"Tanya Dika.


"Mas cuma mau tanya, apa kamu yakin atas keputusan kamu yang ingin ikut Dani ke Amerika membantu perusahaan Om Anwar di sana?"Dimas menyelidik.


"Benar mas. Kan nggak ada salahnya kita saling membantu. Mas ingat kan waktu kita susah dan mas punya masalah dengan Om Nugroho dan Kak Faira anaknya siapa yang nolong? Kan Om Anwar. Dika hanya ingin membalas budi saja mas. Om Anwar itu sudah banyak sekali membantu kita. Terutama keluarganya Dika mas. Dika yakin mas kalo tanpa bantuan om Anwar hidup kita nggak mungkin sekaya dan sebahagia ini mas. Sudah seharusnya Dika sebagai anak laki-laki satu-satunya membantu Om Anwar yang katanya lagi sakit dan membutuhkan uluran tangan kita mas sebagai keluarganya. Dika sudah menganggap om Anwar sebagai papa pengganti buat Dika."Jelas Dika.


"Kamu memang benar. Mas mengakui bahwa om Anwar sangat banyak berjasa dalam rumah tangga mas dan kakakmu Celyn. Mas juga sangat berterima kasih pada om Anwar. Tapi kan kamu tau sendiri kamu akan menikah tidak sampai tiga bulan lagi. Memangnya kamu nggak memikirkan perasaannya Maya saat tau calon suaminya akan pergi jauh ke Amerika dan meninggalkannya dan membiarkan Maya mengurus pernikahan kalian sendiri. Apa kamu tak bertanya dulu pada nek Imah?Dia orang yang sangat dekat denganmu. Pasti dia merindukanmu. Yang paling penting lagi adalah Satria. Satria seperti punya keterikatan batin dengan kamu. Pasti dia sedih kalo om nya pergi jauh."


"Mas nggak perlu memikirkan sejauh itu. Dika kenal nenek. Dia pasti bisa mengerti setelah aku mengatakan apa alasannya sehingga Dika memutuskan untuk ke Amerima. Dia pasti akan mengizinkan Dika pergi. Kalo Maya, dia itu orangnya cerdas dan baik mas. Maya tau kalo Dika ini orangnya sibuk. Dika yakin dengan sedikit bantuan kak Celyn dan nenek, persiapan pernikahan kami tetap akan sempurna sekali."Jelas Dika.


"Iya mas tau. Ya sudah mas akan menyerahkan semua keputusan ada di tanganmu. Mas yakin kamu pasti mengetahui yang terbaik buatmu dan Maya calon istri kamu. Tapi mas sarankan, kamu harus mengatakan secara terbuka pada Maya bahwa kamu akan ke Amerika mengurus perusahaan yang ada di sini."Saran Dimas.


"Iya mas sudah pasti. Dika pasti akan memberitahu segalanya pada Maya tanpa ada yang ditutup tutupj."Jelas Dika.


"Baiklah Dika.Mas sudah mendengar semuanya dari kamu. Mudah-mudahan apa yang aku rencanakan tercapai dengan baik tanpa kurang sesuatu apapun."

__ADS_1


"Iya mas. Dika hanya butuh doa saja. Karena segala sesuatu tanpa didasari oleh doa akan sia-sia dan tak berhasil."


"Kalo itu nggak usah diminta mas dan kakakmu pasti akan mendoakan yang terbaik terjadi buat kamu Dika."Kata Dimas.


"Makasih banyak ya mas. Mas Dimas memang kakak ipar aku yang paling mengerti akan aku mas."


"Seperti mas dulu punya masalah sama kakakmu mas selalu bercerita padamu. Mas pengen hal yang sama juga berlaku sama kamu Dika. Ceritakan saja apapun yang kamu rasakan sama mas. Mas akan berusaha mencari solusi buat kamu paling tidak mas bisa menjadi pendengar yang baik buat kamu."Ucap Dimas.


"Siap mas."Dika berkata cepat.


"Ya udah kalo gitu mas balik ke kantor ya. Masih banyak yang harus mas kerjakan di kantor."


"Iya mas silahkan. Hati-hati di jalan ya mas. Salam nanti sama kak Celyn dan Satria"Kata Dika.


"Siap Dika. Mas akan sampaikan salam kamu pada mereka jangan khawatir."


Dimas pun keluar juga dari kantor itu. Dia pun kembali ke kantornya. Sementara Dika juga kembali ke ruang kerjanya. Dika belum langsung bekerja. Dia masih melamun memikirkan bagaimana caranya dia akan menyampaikan hal tersebut pada Maya tanpa membuatnya marah.


Tiba-tiba Jessy masuk ke ruangan Dika ingin meminta tanda tangannya. Jessy melihat Dika melamun sampai tak menyadari keberadaannya di sana.


"Dik.. Dik.. Dik..!!"Panggil Jessy membangunkan lamunan Dika.


"Eh Jessy ada apa lu kemari?"


"Ada berkas yang harus lu tanda tangani."Jessy menyerahkan berkas itu pada Dika.


"Baiklah."Dika langsung menandatangani surat itu dan menyerahkannya lagi pada Jessy setelah selesai.

__ADS_1


"Ada apa Dik? Kok pagi-pagi udah ngelamun aja? Apa tadi hasil meeting kalian berempat? Kok gue rasa setelah meeting kamu jadi seperti itu? Wajahnya lu tuh kayak setrikaan belum di gosok aja."Ledek Jessy.


"Elu mah da-ada aja sih Jess..!!"


"Emang iya sih. Coba deh lu cerita lu itu kenapa?"


"Tadi kan Pak Dani meeting tuh sama kita bertiga. Pak Dani menyampaikan kalo Om Anwar sedang sakit di Amerika dan perusahaan mereka di sana goyang. Dan untuk melindungi hartanya, Om Anwar ingin membaliknamakan perusahaan mereka di sini atas nama kami bertiga yakni gue, kak Celyn dan kak Dinar yang diwakilkan oleh suami mereka."


"Trus masalahnya apa? Berarti enak dong. Perusahaan yang elu kelola sekarang adalah perusahaan elu sendiri."Tanggapan Jessy.


"Kalo masalah itu sih gue sedikit senang dong. Secara perusahaan gue kan nambah. Perusahaan asli milik gue yang gue dirikan ada dua ditambah perusahaan milik om Anwar. Gue memang menjadi pengusaha muda, tampan dan kaya raya."


"Ciihh.. Narsis banget sih elu. Trus masalahnya di mana Dika?"


"Gue kasian sama om Anwar. Rencananya gue pengen ke Amerika dan membantunya menjalankan perusahaannya di sana."


"Pak Anwat kan punya anak? kenapa nggak anaknya saja yang disuruh? Atau paling tidak Dani sebagai wakilnya di sana. Kenapa harus elu? Bukannya elu mau nikah?"Tanya Jessy.


"Pak Dani selalu diawasi rival bisnisnya om Anwar di sana. Jadi dia susah bergerak. Sementara om Anwar tak ingin anaknya terlibat karena mereka tak tau apa-apa. Selama ini kan anaknya kuliah di berbagai negara. Jadi hampir tak dikenal kliennya yang manapun."


"Kalo gitu di sana bahaya dong Dik? Ngapain kamu ke sana. Kasian Maya dan nenek kalo gitu."


"Nggaklah. Gue yakin nggak bahaya. Gue akan bertindak sebagai investor saja di sana. Gue akan menggunakan nama perusahaanku sendiri supaya nggak tercium rivalnya Om Anwar sekalian gue membantu menjalankan bisnisnya di sana."


"Gue nggak bisa berkata apa-apa Dik. Kalo itu mau lu pergilah. Tapi kamu harus pamitan dulu sama Maya. Jangan sampai dia ngerasa elu nggak serius sama dia dan dia jadi marah."Saran Jessy.


"Memang itu yang mau gue katakan sama dia. Doain ya Jess. Mudah-mudahan dia bisa menerima semua keadaan kami sekarang."

__ADS_1


"Amin."Jessy mendoakan.


__ADS_2