
Seminggu Kemudian.
Hari berganti hari, mama Maya semakin sehat. Walaupun masih sering merasa sakit di luka bekas operasinya, mama Maya pun sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Mereka sudah seminggu lebih di rumah sakit. Maya merasa senang mama nya akan keluar dari rumah sakit. Tapi Maya pun bingung gimana caranya dia membayar tagihan rumah sakit.
"Wah senangnya mama sudah bisa pulang ya..!!"Maya menyembunyikan rasa khawatirnya pada mamanya
"Iya mama senang. Karena kalo kelamaan di rumah sakit biayanya akan tambah besar. Kita nggak sanggup membayarnya."
"Mama nggak perlu memikirkan itu. Biar urusan pembayaran menjadi urusan Maya. Mama tinggal terima beres saja ya."
"Nggak mungkin mama nggak mikirin biayanya May. Mama tau dengan gaji kamu dari cafe mana mungkin sanggup membiayai pengobatan mama. Untuk makan, sekolah dan kehidupan sehari-hari saja sudah pas-pasan." Batin Mama Maya.
"Oh iya May, mama lihat seminggu ini kamu terus di rumah sakit. Apa kamu nggak kerja?"Mama Maya Curiga.
"Maya sudah minta izin ma. Jadi mama tenang saja. Mungkin besok Maya akan masuk kerja lagi setelah mama sudah di rumah."
"Ya ampun, aku sampai lupa minta izin pada manager cafe. Aduh gimana ya? Apa aku akan dipecat kalo gini? Susah soalnya mencari kerjaan lain dalam waktu cepat. Padahal uang di tanganku sudah menipis. Paling cukup untuk makan seadanya dua minggu ini. Itupun kalo nggak ada biaya tak terduga. Belum lagi biaya rumah sakit yang mungkin tak sedikit. Aduh pusing banget kepalaku kayak mau pecah memikirkan semuanya." Batin Maya.
"Ooo gitu. Ya sudah. Mama cuma khawatir kamu dipecat karena menjaga mama di sini."
"Tenang ma. Kalo pun di pecat, Maya akan cari kerjaan baru. Yang terpenting bagi Maya adalah kesehatan Mama. Uang bisa Maya cari. Maya masih punya dua kaki dan dua tangan untuk bekerja. Kalo memang rezeki nggak akan kemana ma."Kata Maya Sok bijak.
"Baiklah Maya. Terima kasih karena sudah memperhatikan mama."
"Maya permisi dulu ya ma. Maya mau mengurus administrasi rumah sakit ini dulu."
"Iya Maya."Jawab mama Maya singkat.
__ADS_1
"Tuhan, bantu Maya dong. Bantu Maya supaya ada keajaiban yang turun agar biaya rumah sakitnya nggak mahal supaya Maya bisa membayarnya dan bisa membawa mama pulang ke rumah."Batin Maya sambil berjalan ke arah ruang adminstrasi rumah sakit tersebut.
Sesampainya di sana, Maya pun menanyakan tentang pembayaran rumah sakit yang harus Maya selesaikan.
"Mbak, saya mau mengurus biaya rawat ibu saya? Ibu saya bernama ibu Maryam mbak."
"Sebentar mbak saya cek dulu."
"Iya mbak."
Maya pun menunggu pegawai bagian administrasi itu alias kasir rumah sakit. Maya menunggu dengan harap-harap cemas.
"Gimana mbak? Berapa lagi yang harus saya bayarkan?"Tanya Maya agak khawatir.
"Pasien atas nama ibu Maryam sudah dibayar biaya pengobatannya. Bahkan obat-obatan ibu sampai satu bulan ke depan pun sudah di bayarkan. Mbak tinggal mengambilnya di apotek rumah sakit. Saya akan memberi pengantarnya agar petugas apotik memberikan obat itu pada mbak tanpa membayar Di sini juga masih sisa uang lima juta rupiah lagi. Kami akan mengembalikannya pada mbak."
"Saya juga nggak kenal mbak. Beliau hanya memberi saya kartu nama ini agar saat mbak bertanya siapa dia, mbak bisa datang ke alamat yang ada di kartu nama ini untuk menemui dia." Pegawai itu memberikan kartu nama, uang lima juta rupiah dan surat pengantar pembelian obat-obatan ibunya selama satu bulan penuh.
Maya yang masih heran dan terkejut menerima semua yang diberikan kasir rumah sakit itu. Dengan penasaran Maya membaca nama yang ada di kartu nama tersebut.
"Andika Prasetya. Siapa ya dia? Apa mungkin ini nama lengkap mas Dika? Ahh tak mungkin. Mana mungkin dia melakukan semua ini padaku dan keluargaku. Baik sekali dia. Padahal kami baru saja kenal. Tapi kalo bukan mas Dika, aku kan nggak punya kenalan orang kaya lainnya. Ahh ya sudahlah, besok saja aku ke kantornya di alamat ini dan memastikan siapa orangnya. Yang penting sekarang aku mau mengambil obat mama dulu lalu membelikan makanan untuk kami dengan uang ini. Uangnya aku pakai saja dulu, nanti aku akan mengembalikannya pada orang itu kalo sudah punya uang." Batin Maya panjang lebar.
"Ya sudah makasih ya mbak. Saya mau ke apotik dulu menemus obat mama dulu lalu kami bisa pulang ke rumah secepatnya "
"Sama-sama mbak. Semoga ibu Maryam lekas sembuh mbak."
"Makasih doanya mbak."
__ADS_1
Maya pun meninggalkan tempat kasir rumah sakit itu. Dia berjalan ke apotek menyerahkan surat pengantar dari kasir tadi agar dapat mendapatkan obat mamanya secara gratis untuk satu bulan lalu kembali ke ruang rawat mamanya.
Mamanya Maya pun merasa senang melihat kedatangan putrinya di ruangan itu.
"Kamu kemana saja nak? Kok lama banget? Apa kamu memohon keringanan biaya rumah sakit dulu ya makanya kamu jadi lama. Maafin mama ya karena sudah merepotkan kamu terus."Mama Maya terus ngerocos merasa bersalah.
"Mama apa sih? Maya nggak repot kok. Maya lama kan karena harus menebus obat mama dulu. Di apotek rumah sakit ini harus antri jadi lama."Maya menunjukkan plastik berisi obat-obatan mamanya.
"Banyak sekali obatnya? Kamu dapat uang dari mana membeli obat itu? Kan harganya pasti mahal Maya."
"Nggak tahu ma. Tadi Maya ke kasir mengurus pembayaran rumah sakit mama. Ternyata semua sudah dibayarkan. Kasir itu juga memberitahu semua sudah dibayar termasuk obat ini. Malah ada sisanya uang lima juta rupiah yang dia kembalikan ke Maya."Jelas Maya sambil menunjukkan obat-obatan dalam plastik dan uang lima juta yang ada di tas nya
"Siapa orang yang baik itu? Apa kamu kenal?"
"Maya juga nggak yakin ma. Tapi Maya rasa, orang yang membayar semua ini adalah mas Dika deh. Mama masih ingatkan orang yang mengantar Maya pulang ke rumah kemaren sebelum mama pingsan dan orang yang sudah membawa mama ke rumah sakit dan meminjamkan Maya uang untuk operasi mama."Jelas Maya.
"Kenapa kamu nggak yakin itu dia?"
"Kasir rumah sakit tadi memberikan kartu nama. Secara Maya masih baru mengenalnya, Maya nggak tau nama lengkapnya itu atau bukan."Maya memberi kartu nama itu pada mamanya.
"Mungkin saja memang dia May. Besok sepulang kerja kamu temuin saja dia. Tapi sebelum itu kamu telpon dulu ajak janji ketemuan. Kamu berterima kasih padanya dan janji akan mengembalikan semua uangnya yang sudah terpakai oleh kita"Suruh mama Maya.
"Iya ma. Rencana Maya memang begitu."
"Ya sudah kita pulang sekarang Maya. Mama rindu sama kamar mama. Di sini mama bosan."Ajak mama Maya.
"Ayo ma..!!"Maya pun membantu mamanya duduk di kursi roda rumah sakit untuk mengantarnya sampai ke pintu rumah sakit karena mama Maya belum kuat untuk berjalan.
__ADS_1
Setelah di lobby, Maya memesan taxi online untuk mereka pakai pulang ke rumah. Tak lama kemudian taxi online mereka datang. Mereka langsung naik dan langsung melaju menuju rumah mereka. Karena menurut Maya seenak apapun ruang rawat mamanya jauh lebih enak di rawat di rumah sendiri bersama dengan keluarga terdekat.