
Dika Membagi Oleh -Oleh Dari Amerika Kepada Kedua Kakak dan Nek Imah.
Sepulang dari rumah Maya, perasaan Dika sangat senang. Seperti mendapat undian bernilai puluhan milyar saja. Dika tak hanya melepas rindu pada Maya saja. Tapi juga dengan keluarga Maya yang sudah Dika anggap seperti keluarganya sendiri sekarang.
Sesampainya di rumah Nek Imah melihat wajah Dika pun hanya senyam senyum sendiri. Nek Imah merasa kalo dia pernah muda juga jadi dia mengerti apa yang Dika rasakan.
"Cie.. Cie.. Kelihatannya ada yang pulang bawa bunga di mana-mana nih?"Ledek Nek Imah.
"Iihhh.. apaan sih Nek? Ngeledekin Dika mulu??"Dika malu-malu.
"Hahaha.. Habisnya kamu sih pulang dari rumah Maya tuh muka kayaknya nggak berhenti senyum. Kayaknya bahagia banget ya?"
"Iya Nek. Dika seneeenggg banget. Soalnya nenek kan tau sendiri Dika udah berbulan-bulan nggak ketemu sama Maya. Jadi sekali ketemu, Dika sangat senang Nek."Cerita Dika.
"Saking senangnya sampai lupa ya kabarin kedua kakak kamu tentang kepulangan kamu ya?"Nek Imah nyindir Dika.
"Astaga Nek..!! Iya Dika bener-bener lupa Nek. Dika hubungin mereka dulu ya. Bentar Nek."Dika menepuk jidatnya mengetahui kekhilafannya dan spontan mengambil handphonenya dari saku untuk menelepon kedua kakaknya itu.
"Kamu mau ngapain Dika?"Nek Imah melihat kehebohan Dika.
"Ya mau telpon kak Celyn dan Kak Dinar dong Nek. Kan Dika bawa oleh-oleh buat mereka. Termasuk buat Satria jagoan kecil kesayangan Dika."Dika menjelaskan.
"Nggak perlu. Nenek sudah menelpon mereka tadi sore. Besok mereka mau datang ke sini. Mereka mau mendengar cerita kamu tentang keadaan Pak Anwar dan apa yang sebenarnya terjadi di sana."Nek Imah memberitahukan pada Dika.
"Syukurlah nenek sudah menelpon kak Celyn dan kak Dinar. Memang banyak yang ingin Dika ceritakan pada mereka semua. Tapi karena kerinduan Dika sama Maya, Dika hampir saja melupakannya."Dika menggaruk kepalanya yang tak gatal pertanda Dika malu akan sikapnya.
"Hahhaha.. Nenek maklum kok. Kan nenek juga pernah muda Dika. Nenek tau kalo sedang jatuh cinta dunia seakan milik berdua orang lain seperti dilupakan. Iyakan?"Ledek Nek Imah lagi.
"Nggak gitu kok Nek..!! Dika masih ingat kok sama nenek dan kedua kakak Dika yang cantik-cantik. Kalian yang terpenting di dalam hidup Dika kok. Nggak akan tergantikan oleh siapapun termasuk Maya Nek."Dika menenangkan neneknya seraya memeluk neneknya itu dengan manja.
"Iya deh. Nenek percaya sama kamu. Ya udah, gih sana pergi tidur. Kamu kan pasti masih capek kan? Oh ya, besok kamu langsung masuk kerja?"Kata Nek Imah.
"Nggak Nek. Besok Dika masih di rumah kok. Lusa Dika baru kembali kerja. Dika mau istirahat sejenak. Sekalian melepas rindu sama nenek ku tersayang ini."Ucap Dika.
"Ya udah gih sana tidur. Besok kita ngobrol lagi. Lagian nenek juga udah ngantuk banget nih."Nek Imah mengakhiri obrolan mereka.
"Iya Nek. Selamat malam ya Nek. Mimpi indah ya."Dika memberikan pelukan selamat malam buat Nek Imah sebelum beranjak pergi ke kamarnya.
"Selamat malam sayang..!!"Nek Imah melepaskan pelukan Dika lalu masuk ke kamarnya
Nek Imah dan Dika berpisah di ruang tamu saat itu dan beranjak ke kamar masing-masing. Mereka ingin mengakhiri hari ini dengan tidur di tempat tidur masing-masing.
Keesokan Harinya..
***Tok.. Tok.. Tok..****
Terdengar suara orang mengetuk pintu di pagi hari ini. Nek Imah yang baru selesai mandi pun mendengarnya.
"Duh.. Si bibi mana sih? Kok ada yang mengetuk pintu nggak dibukain sih?"Nek Imah ngedumel sendiri di dalam kamar.
Merasa belum ada yang membukakan pintu rumah, Nek Imah pun terburu-buru menyisir rambutnya lalu keluar dari kamar untuk membukakan pintu rumah tersebut.
****Tok.. Tok.. Tok...***
__ADS_1
Terdengar suara ketukan semakin kencang karena lama tak dibukakan pintunya.
"Sebentar..!! Sebentar..!!"Nek Imah tergopoh-gopoh ke arah pintu.
Akhirnya Nek Imah sampai di depan pintu. Nek Imah membuka pintu dan melihat pembantu di rumah itu pulang membawa belanjaan. Sepertinya dia baru saja pulang belanja.
"Iihhh Nek.. Lama banget bukain pintunya?" Protes Celyn.
"Iya nih Nek. Tanganku sampai pegal ngetok pintunya"Dinar menimpali.
"Memangnya bibi kemana Nek?"Celyn bertanya lagi.
"Tuh orangnya baru sampai rumah juga."Nek Imah menunjuk ke arah pembantu mereka yang kerepotan membawa belanjaan.
Sontak Dinar dan Celyn serentak melihat ke arah yang ditunjuk Nek Imah. Mereka melihat pembantu rumah itu membawa keranjang belanjaan berjalan ke arah mereka.
"Aduhh.. Maaf ya nyonya.. Maaf Non.. Tadi saya ke pasar dulu. Takut kehabisan barang-barangnya. Saya juga nggak tau kalo nona berdua mau datang sepagi ini. Sekali lagi maaf ya non. Maaf ya nyonya..!!"Pembantu rumah itu merasa bersalah pada Celyn, Dinar dan Nek Imah.
"Iya bi. Maaf kami datang ke sini kepagian. Tadi abis mengantar Satria ke TK nya aku langsung menjemput Dinar ke rumahnya dan pergi ke sini tanpa memberitahu."Celyn merasa bersalah melihat pembantunya itu.
"Ya udah nggak apa-apa kok. Ayo masuk deh."Ajak Nek Imah. "Bi, kamu masuk aja ya ke dalam. Lanjutin kerjaannya bibi."Suruh Nek Imah.
"Iya nyonya. Permisi non. Saya masuk ke dalam ya..!!"Pembantu rumah itu berkata sopan lalu masuk ke dalam rumah itu dan melanjutkan pekerjaannya.
"Ayo masuk. Kok malah diam aja sambil memandangi bibi masuk sih?"Ucap Nek Imah memecah kebengongan Dinar dan Celyn.
"Eh iya Nek. Ayo..!!"Dinar dan Celyn menjawab serentak.
Nek Imah, Celyn dan Dinar akhirnya masuk ke rumah dan berjalan ke ruang tamu. Mereka pun duduk di sana bertiga.
"Masih tidur Celyn. Mungkin dia masih capek karena baru pulang dari Amerika."Jawab Nek Imah.
"Kasian juga sih Dika. Sebentar lagi mau menikah tapi disibukkan dengan pekerjaan. Tapi mau gimana lagi? Mungkin itu sudah menjadi kewajibannya menggantikan kedua kakaknya yang sudah punya keluarga baru yang harus di urus."Celyn menyesali keadaan sekarang ini.
"Nggak usah disesali Celyn. Toh Dika nya fine aja."Nek Imah menghibur Celyn.
"Iya sih Nek..!!"Celyn pun mulai melupakan kesedihannya.
Pembantu rumah itu memberikan ketiga wanita itu minum untuk menemani mereka ngobrol. Nek Imah, Celyn dan Dinar ngobrol seru di ruang tamu tersebut.
Di lain tempat, Dika yang mendengar ada orang yang sedang ngobrol seru terbangun dari tidurnya. Dika terganggu oleh suara-suara yang tak asing lagi di telinganya. Dika pun duduk di atas kasurnya untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Kayak suara kak Celyn dan kak Dinar deh."Dika berkata dalam hatinya.
Dika pun kembali meyakinkan dirinya sendiri apa benar yang dia dengar. Akhirnya Dika yakin kalo itu suara kedua kakaknya sedang ngobrol dengan Nek Imah.
"Wah pagi banget mereka datangnya??"Pikir Dika lagi.
Setelah kesadarannya telah penuh, Dika membuka koper bawaannya dan mengambil oleh-oleh yang akan dia berikan untuk kedua kakaknya beserta keluarga masing-masing dan buat Nek Imah.
Dika memilah-milah barang bawaannya itu. Dika memasukkan ke dalam paper bag yang berbeda oleh-oleh tersebut berdasarkan keluarga masing-masing agar tak tertukar.
"Oke siap. Sekarang aku mandi dulu dan menemui mereka di bawah. Kangen juga sama kedua kakakku itu."Dika berencana dalam hatinya dan mulai bergerak ke kamar mandi dan mandi di sana.
__ADS_1
Setelah merasa sudah cukup rapi untuk bertemu kakaknya, Dika mengambil paper bag tersebut dan membawanya keluar kamar. Dika pun turun dan berjalan ke arah ruang tamu tempat mereka bertiga ngobrol.
Saat Dika menuruni tangga rumah itu, tanpa sengaja anak mata Celyn melihat sosok Dika berjalan ke arah mereka.
"Dika..!! Kamu udah bangun??"Tanya Celyn pada Dika yang sudah semakin dekat dengan mereka.
"Udah kak. Siapa yang nggak terbangun mendengar kalian cekikikan bertiga sambil ngobrol di sini. Kayaknya seru banget. Apa memang gitu ya kalo perempuan ngumpul?"Ledek Dika.
"Maaf ya Dika..!! Maklum lah kita kan sekarang udah jarang ketemu nenek dan sekalinya ketemu ya gitu ada aja yang diobrolin. Dari hal yang penting sampai hal yang sama sekali nggak ada faedahnya."Celyn berkata pada Dika sembari menggaruk kepalanya yang nggak gatal.
"Dasar cewek..!!"Keluh Dika. "Oh ya kesayangan Dika nggak dibawa kak?"Lanjut Dika.
"Satria maksud kamu ya?"Celyn mengerti apa yang dicari Dika.
"Iya dong kak. Siapa lagi."Kata Dika sesekali melirik kanan kiri di sekitar ruangan itu.
Karena tak melihat sosok yang dicarinya Dika pun memanggilnya.
"Satria.. Satria.. Dimana kamu sayang?"Panggil Dika.
Mendengar suara om nya memanggil namanya Satria pun berlari dengan kakinya yang kecil menuju arah suara om yang paling di sayanginya itu.
"Ommm Dikkaaa...."Satria pun menghambur ke pelukan Dika.
"Satria sayang.. Kamu kemana aja sih? Om kangen tau..!!"Dika menggendong Satria yang sudah memeluknya.
"Idih om.. Kan om yang pergi ntah kemana. Kok malah Satria sih yang om tanya. Harusnya Satria dong yang tanya sama om. Gimana sih.??"Satria menjawab dengan polosnya.
"Hahahhaa...!!!"Sontak Nek Imah, Dinar dan Celyn tertawa barengan mendengar perkataan Satria pada om nya itu.
"Hehehe.. Maaf ya Satria. Om ke Amerika ada urusan bisnis. Ini om udah pulang. Kamu kangen ya sama om Dika?"Dika mempererat pelukannya pada Satria sembari mengelus rambut Satria tanda sayangnya.
"Iya kangen dong om. Satria nggak ada teman mainnya. Nggak seru."Satria menjawab dengan polosnya. "Tapi om..!!"Satria terhenti berkata.
"Tapi apa Satria?"Tanya Dika.
"Oleh-olehnya buat Satria mana? Om pasti bawa kan?"Tanya Satria.
"Satria.. Kamu itu kangennya sama om Dika atau oleh-olehnya sih??"Tanya Dika gemes mencubit pipi Satria.
"Dua-duanya sih om..!!"Jawab Satria malu-malu.
"Iya nih Dik, oleh-oleh buat kita mana?"Celetuk Dinar yang sedang duduk santai di sana.
"Tuh ada kok kak. Dika titipin sama bibi pas turun tadi."Kata Dika.
"Asyikk...!!!"Satria kesenangan.
"Hahahha..!!"Seisi rumah itu tertawa mendengar jawaban polosnya Satria.
Dika pun memanggil bibi untuk membawa paper bag titipan Dika tadi ke ruang tamu tempat keluarganya duduk dan bercerita.
Setelah itu Dika membagikan masing-masing paper bag yang berisi oleh-oleh dari negri paman sam itu.
__ADS_1
Celyn, Dinar, Nek Imah terutama Satria sangat senang dengan barang yang di berikan oleh Dika kepada mereka. Senyum tersungging di wajah keempat orang yang paling disayangi Dika seumur hidupnya. Dika pun puas karena barang yang dibelinya disukai oleh mereka. Dika memandangi satu persatu wajah keluarganya itu dengan hati yang teduh dan damai.