
Dika Berdiskusi Dulu Dengan Nek Imah Dan Maya Sebelum Menghadiri Rapat Pemegang Saham.
Mendengar kabar dari Jessy, Dika langsung memberitahukan untuk menunggunya di kantor untuk mendengar apa yang di suruh pilih oleh Dika. Dika ingin tau apa yang diinginkan Maya supaya Dika tau apa yang akan di putuskannya nanti di rapat pemegang saham hari ini.
Nek Imah yang sekilas mendengar obrolan Dika dan Jessy di telpon pun jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa menunggu lagi Nek Imah langsung menanyakannya pada Dika.
"Kamu kenapa Dik? Kok kayaknya tegang gitu? Tadi telpon dari Jessy ya?"Tanya Nek Imah
"Iya Nek. Ada masalah sedikit di kantor. Nenek tau kan gadis yang bernama Maya yang pernah Dika ceritain ke nenek. Sekarang kan dia bekerja di kantor kita atas rekomendasi Dika. Sekarang Maya terkena masalah lagi karena Dika. Dika jadi merasa bersalah Nek."Cerita Dika
"Maya? Gadis yang kamu bilang mirip kakak mu Celyn ya? Memangnya kenapa dengan dia?"
"Ada yang memfitnah dia nek. Mereka memfoto kami saat di mobil. Waktu itu kan Dika mengajak Maya pulang bareng dari kantor karena mau menjenguk mamanya. Tadinya sih Maya menolak takut digosipin yang nggak nggak. Tapi Dika memaksa dan akhirnya Maya mau ikut Dika pulang bersama."Dika menceritakan awal cerita masalah mereka.
"Terus? Memangnya salah pulang sama?"
"Pulang sama nya sih nggak salah Nek. Tapi yang Dika lakukan saat di mobil sama Maya. Itu yang buat orang salah paham karena ada yang memfoto kejadian itu dan membuat pemikiran negatif tentang foto itu."
"Maksud kamu apa? Nenek nggak nangkap omongan kamu."
"Gini nek. Kan sewaktu Maya dan Dika di mobil, Dika spontan ingin memasangkan seat belt pada Maya karena dia tak kunjung memakainya ntah karena dia lupa atau memang nggak tau. Nenek kan tau saat memasangkan itu ke tubuh Maya secara otomatis kan Dika jadi dekat banget sama Maya. Seakan-akan Dika sama Maya itu lagi ciuman nek di mobil. Dan saat kejadiaan itu, ada yang memfotonya Nek. Kayak gini fotonya. Nenek lihat deh."Dika pun menunjukkan foto yang dikirimkan Jessy padanya.
"Ya ampun Dika. Pantas saja lah. Nenek saja kalo ngeliat ini pasti berpikir yang nggak nggak. Untungnya nenek kenal dan tau siapa kamu walaupun kamu belum menceritakan hal tadi pada nenek."
"Karena masalah ini, banyak investor dan pemegang saham yang komplain katanya Dika merusak citra kantor dengan melakukan hal tak senonoh pada karyawan sendiri. Apalagi karyawan itu hanyalah OG di kantor. Mereka menuntut agar OG itu dikeluarkan dari kantor alias dipecat Nek. Dika kan nggak tega. Secara bukan Maya yang salah. Menurut nenek apa yang harus Dika lakukan? Dika bingung Nek. Dika memang harus membantu Maya."
"Kamu berani sumpah kan kalo kamu nggak ngapa-ngapain sama gadis itu?"
"Iya Nek. Dika berani bersumpah demi apapun."
"Baiklah. Begini nenek kasi ide sama kamu."
"Apa itu Nek?"Tanya Dika dengan antusias.
"Kalo nanti saat pemegang saham itu kekeh ingin memecat Maya kamu pecat dia saja."
__ADS_1
"Dika nggak tega nek. Kan Dika sudah bilang kalo Maya itu tumpuan keluarganya. Kalo dia dipecat bagaimana dengan hidup mereka nantinya?"Dika memotong omongan Nek Imah.
"Ya ampun Dika. Nenek belum selesai ngomong kamu sudah main potong saja."
"Hehehe maaf Nek..!!"Dika menggaruk kepalanya yang nggak gatal.
"Maksud nenek gini. Kamu kan ada berikan nenek sebuah cafe untuk nenek urus supaya nenek nggak bosan di rumah saat kamu sibuk bekerja."
"Terus Nek?"
"Kamu bilang dia juga kan pernah bekerja di cafe sebelum sama kamu."
"Iya Nek."
"Kamu pecat saja dia jadi OG kantor kamu. Lalu nenek akan memperkerjakan dia di cafe itu. Dia lah yang akan memantau cafe itu menggantikan nenek. Dia nanti yang akan melaporkan penjualan cafe. Nenek hanya akan menerima laporan dari dia tapi sesekali nenek akan mengecek laporannya langsung dilapangan. Soalnya kalo nenek tiap hari ke cafe nenek sudah nggak kuat lagi. Nenek kan sudah tua Dika."
"Nenek yakin? Apa nenek bisa percaya pada Maya?"Dika meyakinkan neneknya.
"Kalo orang tidak diberi kesempatan mana bisa kita tau apakah orang itu bisa dipercaya atau tidak. Bisa kerja atau tidak. Benerkan? Lagian kalo pun cafe itu merugi kamu, Celyn atau Dinar kan bisa menyuntikkan modal lagi ke sana. Anggap saja kalian memberi kesempatan bagi pegawai cafe itu untuk bekerja dan menggantungkan hidupnya di cafe itu. Tapi selama ini cafe nggak pernah rugi walaupun cafe juga tidak terlalu ramai. Paling tidak menutupi biaya operasional kantor dengan untung yang tak banyak."
"Nah itu dia Dika. Mana tau dengan kedatangan Maya yang masih muda dan energik cafe kita bisa berkembang."
"Iya Nek. Dika mengerti sekarang. Baiklah, Dika sekarang tau apa yang akan Dika lakukan. Makasih ya Nek. Dika sayang banget sama nenek."Dika memeluk Nek Imah karena telah memberinya pencerahan.
"Sama-sama sayang."Nek Imah pun membalas pelukan cucunya itu.
Dengan semangat empat lima bagai hendak semangat para pahlawan saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Dika pun berjalan menuju mobilnya dan pergi ke kantor untuk menghadapi rapat pemegang saham.
Setengah jam perjalanan Dika menuju kantor. Akhirnya Dika sudah sampai di kantor. Saat masuk ke kantor, banyak karyawan nya yang berbisik-bisik di sana. Dika tak memperdulikannya. Dia langsung naik ke lantai sepuluh menuju ruangannya.
"Kamu sudah datang Dik?"Tanya Jessy.
"Baru saja. Apa para pemegang saham sudah datang?"
"Mereka sudah berada di ruang meeting Dik. Masuklah ke sana."Suruh Jessy.
__ADS_1
"Nanti saja. Tolong panggilkan Maya dulu ya Jessy."
"Baiklah Dika."
Jessy pun memanggil Maya atas perintah dari Dika. Maya yang dipanggil segera datang dan masuk ke dalam ruangan Dika karena Jessy sudah memberitahunya bahwa Dika lah yang memanggilnya.
"Siang Pak Dika."
"Masuk May. Duduk dulu".
"Terima kasih Pak Dika."Maya pun langsung duduk di sana.
"Maya maafkan saya karena saya kamu jadi terkena masalah ini."Dika menyesali keadaan yang terjadi sekarang.
"Nggak apa-apa Pak. Maya ngerti kok."
"Kamu tenang saja, saya akan mencari siapa dalang dari kejadian ini. Saya tidak akan tinggal diam dan membiarkan semua ini akan terulang lagi."
"Maya nggak perduli siapa orangnya Pak. Maya hanya minta Pak Dika tidak memecat Maya. Maya butuh banget pekerjaan ini untuk kelanjutan hidup kami."
"Kalo soal itu saya minta maaf. Mereka pasti akan mendesak saya untuk memecat kamu May. Tapi kamu tenang saja. Saya sudah berbicara pada nenek saya. Dan dia bilang dia mau kamu bekerja di cafenya dia sebagai asistennya. Kamu hanya bertugas mengawasi cafe dan melaporkan hasil penjualan pada nenek setiap harinya. Apa kamu mau menerimanya?"
"Baiklah Pak. Saya mau menerimanya. Saya tidak pernah memilih milih pekerjaan. Asalkan pekerjaan itu halal."
"Bagus Maya. Sekarang kamu beresin barang-barang kamu. Nanti sehabis rapat pemegang saham saya antar kamu menemui nenek."
"Tapi pak. Kalo saya keluar, nama saya akan tetap buruk dong. Maya nggak mau itu terjadi."
"Kamu tenang saja. Saya yang akan mengurus semuanya."
"Makasih kalo gitu Pak."
"Sekarang kamu keluar dan lakukan apa yang saya suruh tadi dan tunggu saya di pantry. Nanti kita akan langsung pergi."Suruh Dika.
"Siap Pak."Maya menjawab singkat.
__ADS_1
Setelah itu Maya keluar dari ruangan Dika. Dika memandangi Maya sampai bayangannya tak terlihat lagi dan menarik nafas dalam lalu membuangnya. Dika bersiap menghadapi rapat pemegang saham kali ini.